Mari Mengenal Pemberita Injil di Tanö Niha

Berikut ini adalah cuplikan tulisan dari buku “Misionar dan Utusan Misi Jerman ke Nias (1865-2001)” mengenai E.L. Denninger. Artikel ini dikutip persis dari buku yang telah diterbitkan namun tanpa memuat foto dokumentasi karena keterbatasan ruangan ini.

Denninger pernah menerbitkan buku pelajaran sekolah khusus untuk Ono Niha pada tahun 1870, dimana buku ini layaknya sebagai buku pedoman mengenal abjad, belajar membaca dalam bahasa Nias. Judulnya: Nowi Huno Lihede, Hulo Niha, Eerste Schoolboekje, Batavia 1870. Semoga bermanfaat buat semua pembaca dan secara khusus bagi umat Kristen dari kepulauan Nias. (Noniawati Telaumbanua)

ERNST LUDWIG DENNINGER

Lahir(*) di Berlin, 04-12-1815 / Meninggal(+) di Batavia (Sekarang:Jakarta), 27-03-1876

Pekerjaan awal adalah pembersih cerobong asap. Setelah mengikuti pendidikan Seminar Misi RMG thn. 1844-1847, Denninger ditempatkan sebagai misionar. Foto Denninger sekeluarga sampai hari ini belum ditemukan atau diarsipkan, kendati pernah dicetak/diperbanyak.

Stasiun Misi: Gunungsitoli (1865-1876)

Kronologi :

Tgl. 29-09-1847 pemberkatan/pentahbisan

Tgl. 11-10-1847 menikah dengan

Sophie Jordan

*Kassel, 03-07-1816 / + Amsterdam, 18-01-1892

Oktober 1847 perjalanan sebagai utusan misi dimulai, dikirim ke Borneo.

1848-1851 tiba di stasiun Bintang-Borneo (sekarang Kalimantan)

1848-1859 pengenalan akan Denninger berupa surat-surat dan laporan kerja yang dikirim dari Borneo termasuk salinan perjalanan hidup Denninger (1848).

Stasiun Sihong + Maratowo 1851-1859

1852 berita dalam surat mengenai kesukaran yang dialami Denninger. Untuk menghindari serangan berdarah suku Dayak keluarga Denninger mengungsi menuju Semarang/Jawa. Kedua anaknya sebelumnya telah berada di sini.

1861-1865 Denninger menulis surat-surat dan laporannya dari Jawa dan Sumatera termasuk mengenai “ Der Ursprung der Malainu als solcher, in keiner Berührung mit den ursprüngliche Bewohnern von Sumatera” hal. 16, 1865.

1861-1865 dalam catatan administrasi RMG, tertulis secara resmi bahwa Denninger di Padang/ Sumatera. Di sinilah Denninger mulai berkenalan dengan suku yang “beda dengan yang pernah ditemui dan stasiun misi belum ada di daerah mereka ”, suku ini menetap di Padang karena berpindah dari pulau asal (Pulau Nias), dikenal sebagai “Ono Niha”. Denninger berhasil mengadakan kontak dengan orang Nias dan bersiap-siap menuju daerah asal suku ini.

1862 surat/berita yang dilaporkan Denninger tentang perjalanan Semarang-Padang.

Tanggal 30-09-1865 surat Denninger melaporkan pada Inspektor Misi Dr. Fabri bahwa dia telah tiba di Gunungsitoli-Nias tgl. 27-09-1865.1

1865-1875 di Stasiun Gunungsitoli/Nias

1866 sekolah pertama didirikan di sebuah rumah di Gunungsitoli dan Denninger mengajar di sana Tanggal 30-05-1867, Denninger menuliskan secara resmi, bahwa suku Nias belum memiliki tatanan baku tata bahasa (sebagaimana orang di luar Nias telah kenal baca-tulis yang berlaku di masa itu, red.), yang kemudian dalam salah satu suratnya Denninger mendeskripsikan konsonan dan vokal dalam bunyi bahasa Nias (diasumsikan saat itu dikenal sebagai bahasa Nias Utara-Gunungsitoli, red.) ke huruf latin, dan dengan pelafalan ujaran/dengar menurut orang Jerman saat itu.2

1870 Keluarnya terbitan Buku Sekolah (Erste Schoolboekje) ditulis oleh Denninger sebagai bahan pelajaran di sekolah bagi Hulo Niha. Sebelumnya Denninger memberitakan kesulitan untuk membuka sekolah dan menyediakan sarana pendidikan di Nias. Khusus pencetakan buku ini Denninger dibantu oleh seorang Belanda yang tinggal di Batavia, dia membantu pencetakan sekaligus mengurus pengiriman paket buku sejumlah 200 buah tersebut pada Denninger di Gunungsitoli.

1874 secara resmi terbitnya terjemahan Injil Lukas dalam bahasa Nias. Alkitab dalam bahasa Nias belum ada. Suku Nias tidak memiliki arsip tertulis, semua dalam bentuk lisan yang diceritakan secara turun- temurun. Diberitakan juga bahwa beberapa pemuda turut membantu.

Denninger dalam penerjemahan Injil Lukas dan Yohanes serta dalam memulai pelayanan anak di Gunungsitoli.

Terdapat laporan dan surat-surat yang dikirim dari Nias, berisikan :

1. Laporan mengenai percobaan pencetakan terjemahan Injil Lukas di dalam bahasa daerah Nias, terjemahan langsung oleh Denninger, 1874.

2. Termasuk juga di dalamnya pengajuan tawaran disain dan komentar dari Misionar Wilhem Thomas, 1875 tertanggal 30 Mei 1867(hal. 6, akte Arsip VEM No. 132 & 134)

3. Surat dari janda dan putri mendiang Denninger di tahun 1876-1881.

Setelah 1875 masa pensiun Denninger berlangsung di Batavia dan wafat di sana karena lama jatuh sakit.

Anak-anak :

1. Karoline, lahir tgl. 24-08-1848

2. Elias, lahir tgl. 01-01-1851

3. Lina

Narasumber:

1 Akte Denninger No. 92 (Archiv- und Museumsstiftung VEM-Wuppertal)

2 Akte Denninger No. 132 dan 134, Surat Tgl. 30-05-1867 hal. 6 (Archiv- und Museumsstiftung VEM-Wuppertal)

Komentari

Sheree Tomassen says:

Thank you for your information on Rev Ernst Ludwig Denninger and his wife Sophie. They are my Gr.Gr.grandparents and have been looking for information on birth dates and place of birth for quite some time.
My Gr.grandfather was Elias and his sister, Karoline who was also known as “Lina. I am not aware of any more children.

otomend says:

Saohagölö (Ibu) Ina Sara yang sangat kuhormati, atas penjelasan yang demikian sejuk di hati. Salam dari Jogjakarta Hadiningrat.

Yaahowu.

Ja semua ada indikasi kebenarannya, namun saya tidak bisa mencantumkan yang mana yang benar:
1.bagaimana kontak pertama dengan suku Ono Niha dimulai dan karena apa ? (ada dugaan melalui pembantu di rumahnya yang orang Nias, ada juga dugaan karena keracunan yang dialami Denninger, dll)
2.apakah seorang lelaki ataukah yang perempuan yang dibaptis pertama?

Hal-hal diatas saya tidak berkompeten memastikan, sebelum arsip asli sebenarnya terbaca dan diterjemahkan semuanya dengan baik, apalagi dengan keterbatas pengetahuan bahasa yang ada, apalagi gaya bahasa dan tulisan masa tersebut sulit untuk dipahami (bahasa Jerman dan bahasa Belanda).

Pemastian dan penulisan informasi demikian paling baik memang membutuhkan data yang akurat dan bukti ilmiah. Data pembanding yang tersebar banyak memastikan saya tidak mencantumkan bagian tersebut karena tidak ada kepastian informasi yang saya peroleh.

Terima kasih informasinya, ini sebagai catatan di kemudian hari untuk di kaji kembali dalam penulisan lanjutan, termasuk di dalamnya harapan-harapan bahwa akan ada yang menerjemahkan dan menuliskannya dalam bahasa yang kita mengerti.

Salam dari Karlsruhe.
Noni Telaumbanua

Otomend says:

Dari topik “Religion” itu kita kutip satu kalimat:
“Some of these migrants from Nias invited him to come and work on their island. In Padang, he baptised the first Niassan, a girl called Ara in 1863″.

Yang ingin dicerahkan adalah: menurut cerita tetua Nias yang beragama Kristen di Padang (kelahiran Padang), “the first Niassan” yang dibaptis adalah seorang pria mado Mendrofa. Katanya hal ini juga tercatat dalam sejarah BNKP.

Bu Noni, mohon maaf, ini hanya mohon pencerahan saja. Yaahowu.

Redaksi says:

Selain apa yang sudah ditulis Noni, kisah misi Deninger di Nias dapat dilihat di versi Inggris situs Yaahowu dalam topik “Religion”: http://niasonline.net/eng/religion/. Tulisan itu berasal dari 3 sumber, lihat di bagian akhir tulisan.

otomend says:

Bu Noni, menurut cerita kakekku: di Padang Denninger bertemu orang Nias. Di sana Denninger membaptis orang Nias pertama, mado Mendrofa. Ini salah satu yang memotivasi Denninger pergi ke Nias.
Pak Marinus Bateé (>70 thn) kelahiran Padang yang kini tinggal di Solo juga cerita tentang itu.
Betulkah? Mohon pencerahan. Yaahowu.
Otorius Mendrofa.