Jumlah penandatangan petisi menuntut pengunduran diri Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – Tedros Adhanom Ghebreyesus – telah mendekati 1 juta orang. Hingga malam hari ini 15 April 2020, jumlah penanda tangan petisi yang diprakarsai oleh Osuka Yip pada tanggal 1 Februari 2020 itu telah mencapai 954,838 orang.
Dalam pengantar petisi disebutkan, tuntutan pengunduran diri itu antara lain karena pada tanggal 23 Januari 2020, Tedros Adhanom Ghebreyesus menolak menyatakan keadaan darurat global sehubungan dengan merebaknya wabah virus korona yang berasal dari China.
Selanjutnya dikatakan, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengandalkan sepenuhnya penjelasan dari pemerintah China tentang jumlah kematian dan jumlah orang yang telah terinfeksi oleh virus tersebut, tanpa melakukan penyelidikan.
Petisi juga menyayangkan bahwa WHO tidak memasukkan Taiwan sebagai anggotanya hanya karena alasan politis, pada hal Taiwan memiliki teknologi yang lebih maju dari pada beberapa negara anggota WHO.
Petisi menilai Tedros Adhanom Ghebreyesus tak layak menduduki posisi sebagai Direktur Jenderal WHO dan karenanya dituntut untuk mundur.
Petisi itu ditulis dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Indonesia, Italia, Jepang, Korea, Spanyol, Thai, Perancis, dll.
Suasana Perayaan Paskah di Basilika St Petrus, Vatikan
Krisis Covid-19 tidak menghalangi umat kristiani dari berbagai belahan dunia merayakan rentetan hari-hari suci yang dimulai dari Hari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu dan Minggu Paskah.
Walau kehadiran fisik di gereja-gereja tidak dimungkinkan karena aturan jaga jarak (social distancing) yang diberlakukan di hampir semua negara, umat kristiani bisa mengikuti perayaan hari-hari suci itu lewat pengaliran langsung (live streaming) dari saluran-saluran yang disediakan masing-masing Gereja atau pun siaran langsung yang difasilitasi oleh sejumlah pemancar televisi.
Di dalam Basilika St Petrus Vatikan yang kelihatan sepi, Paus Fransiskus memimpin perayaan Misa Paskah didampingi oleh para imam dan petugas perayaan.
“Kristus, harapanku, telah bangkit”, Paus memproklamirkan. Paus mengatakan, pesan ini merupakan bentuk penularan yang lain, yaitu “penularan dari hati ke hati”.
Kabar Gembira ibarat nyala api baru yang menyala di tengah malam di bumi yang sedang dahadapkan pada berbagai tantangan yang sangat serius, dan kini sedang dicobai oleh pandemi yang sungguh-sungguh menguji keluarga manusia secara keseluruhan.
Kardinal Ignasius Suharyo – Uskup Agung Jakarta – dalam homili Paskahnya di Gereja Katedral Jakarta menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan dampak dari dosa ekologis manusia.
Kardinal Suharyo menyitir salah satu “pendapat yang menarik … disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal, akal budi kita, tetapi juga akal iman kita.”
“Bisa jadi wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman wabah antara lain disebabkan antara lain oleh dosa ekologis.”, lanjut Kardinal Suharyo.
Di Sydney, Uskup Agung Sydney Anthony Fisher dalam homilinya yang dialirkan langsung dari St Mary’s Cathedral memberikan refleksi historis tentang wabah.
Wabah dahsyat, ungkap Uskup Agung Anthony, pernah melanda kekaisaran Roma pada abad ke 3 Masehi. Wabah cacar atau Ebola yang berawal dari Etiopia itu menjalar cepat dan menulari Yunani dan seluruh kekaisaran Roma.
“Konsentrasi besar manusia di kota-kota, jalan-jalan yang berkualitas baik dan rute-rute perdagangan besar yang merupakan kekuatan kekaisaran Roma ternyata menjadi penyebab wabah menular secara efektif. Pada puncaknya, wabah ini menelan korban 5,000 orang per hari di Roma dan orang-orang sakit dan mayat-mayat korban wabah ditinggalkan begitu saja di jalan-jalan. Dengan korban hingga sebanyak satu juta orang, angkatan bersenjata, pemerintahan dan ekonomi Roma hancur lebur. Ada kalangan yang menuduh orang-orang Kristen sebagaimana mereka lakukan setiap kali muncul masalah sosial. Namun, orang-orang Kristen membedakan mereka dari yang lain; ketika para pembesar dan kalangan lain meninggalkan kota, orang-orang Kristen tetap bertahan untuk memberi makan dan merawat para penderita wabah. Orang-orang Krsiten menyelamatkan ribuan orang; di kota-kota di mana orang Kristen berjumlah cukup banyak, laju kematian berkurang setengahnya. Karya belaskasih orang-orang Kristen ini mengesankan banyak orang kafir di Roma dan menyebabkan mereka menjadi Kristen.”
Uskup Agung Anthony mengingatkan bahwa perawatan kesehatan yang bisa menyembuhkan penyakit tubuh, hanya mampu menunda kematian kita.
“Kita diajak berenung: adakah kehidupan setelah kematian? Lantas, ada kondisi-kondisi moral, intelektual dan emosional yang justru sering lebih tak mampu dicegah dan disembuhkan daripada kondisi-kondisi kesehatan fisik.”
Sementara itu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) lewat Sekretaris Umumnya, Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan bahwa para penderita Covid-19 tidak boleh distigmatisasi dan diskriminasi. PGI juga berharap pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi epidemi keputusasaan. (brk/*)
Nias Online – Bersadarkan informasi dari situs web Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemakaian masker oleh masyarakat hanya diperlukan apabila seseorang sedang menderita batuk, demam, atau kesulitan bernafas.
Orang yang sehat sebaiknya hanya menggunakan masker apabila sedang merawat orang yang dicurigai atau sudah tertular Covid-19.
Selanjutnya, WHO menekankan, pemakaian masker hanya efektif apabila dikombinasikan dengan tindakan sanitasi lainnya seperti mencuci tangan dengan cairan berbasis alkohol atau sabun dan membuang masker bekas pada tempatnya.
Sumber: CDC
Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan pemakaian penutup muka bagi publik bila berada di tempat-tempat umum untuk memperlambat penyebaran Covid-19. Penutup muka dari kain itu harus terasa nyaman di muka, diikat dengan baik sehingga tidak mudah lepas, terdiri dari beberapa lapis, memungkinkan bernafas secara bebas dan nyaman, dan mudah dicuci tanpa menjadi rusak.
Rekomendasi CDC itu bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19 dari orang-orang asimptomatik (orang-orang yang tertular Covid-19 tetapi tanpa gejala).
Di Australia, pemakaian masker tidak (belum) dianjurkan. Keterbatasan ketersediaan masker dan juga potensi bahaya penggunaannya menjadi pertimbangan utama. Menurut Profesor Paul Kelly, Deputi Pejabat Utama Medis Australia, penggunaan masker secara tidak benar justru bisa menimbulkan isu baru. Orang yang tidak biasa menggunakan masker bisa tidak nyaman memakainya dan bisa merasakan gatal-gatal pada permukaan muka yang ditutupi masker. Hal ini justru beresiko yang bersangkutan menggaruk mukanya dengan tangan yang mungkin saja membawa virus korona. (brk/*)
Nias Online – Hingga hari ini, Sabtu 11 April 20, jumlah orang yang tertular Covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai 1,700,951 dengan jumlah kematian sebanyak 102,789 dan jumlah penderita yang pulih sebanyak 376,796. Dengan demikian, jumlah kasus aktif adalah sebanyak 1,221,366. Dari jumlah kasus aktif ada sebanyak 1,171,531 (96%) penderita dengan kondisi ringan dan 49,835 (4%) dalam kondisi serius / kritis.
Secara global pertambahan kasus masih dalam kisaran 71,000 – 95,000 per hari dengan rata-rata 82,600 kasus per hari selama seminggu terakhir.
Amerika Serikat (AS) merupakan negara dengan jumlah kasus penularan tertinggi, sebanyak 503,177 disusul Spanyol dengan jumlah kasus 158273 dan Italia dengan jumlah kasus 147,577.
AS telah melakukan tes kepada sebanyak 2,538,888 orang disusul dengan Jerman (1,317,887) dan Rusia (1,090,000). Data jumlah tes untuk Jerman dan Rusia masih sama seperti kemarin (Jumat, 10/4/2020), kemungkinan belum dimutakhirkan oleh situs web Worldometers.
Sementara itu menurut situs Worldometers, hari ini belum ada kematian baru di Italia semntara di China ada 3 kasus kematian baru. Sumber yang sama tidak memberi data jumlah pengujian di China.
Di Indonesia, jumlah pengujian yang dilakukan sudah sebanyak 17,679 dengan jumlah kasus sebanyak 3,512 dan jumlah kematian sebanyak 306. Jumlah pengujian per sejuta jumlah penduduk masih sangat rendah sebanyak 65, dibandingkan dengan di Filipina (224), Malasyia (2,153), Vietnam (1,221), dan Singapura (12,423). (brk/*)