Desa Bawömataluo Dijadikan Proyek Percontohan Perlindungan Cagar Budaya
“Desa Bawomataluo akan kita jadikan sebagai proyek percontohan untuk perlindungan cagar budaya,†ujar Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo, Nias Selatan pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM yang juga Ketua Tim Bersama Jepang-UGM Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto kepada Nias Online melalui telpon selular, Rabu (04/7/2012).
Yoyok mengatakan, peninggalan cagar budaya serupa yang ada di Desa Bawömataluo juga ada di beberapa desa sekitarnya. Dengan demikian, pengalaman perlindungan cagar budaya di Desa Bawömataluo, bisa jadi referensi bagi desa-desa lainnya.
Terkait rencana itu, makanya timnya juga akan membawa satu orang warga Desa Bawömataluo
dan seorang aparat Pemda Nias Selatan untuk menjalani pelatihan dan melihat contoh nyata perlindungan cagar budaya di Jepang.
Khusus untuk aparat Pemda Nias Selatan yang akan dibawa ke Jepang, akan dididik untuk merancang regulasi ataupun program yang pro terhadap perlindungan cagar budaya. Keduanya akan dibawa ke Jepang sebagai undangan dari Unesco.
Saat ini tim yang terdiri dari para ahli dari kedua negara tersebut akan berada di Desa Bawömataluo hingga 14 Juli mendatang. Riset kali ini bagian dari riset tahun lalu dalam rangka menyiapkan bahan pendukung untuk memperjuangkan desa itu diakui sebagai warisan dunia oleh Unesco.
Desa Bawömataluo sendiri telah didaftarkan di Unesco pada 2009. Bahkan telah masuk dalam tentative list. Namun, sejak itu tidak ada upaya signifikan untuk melakukan hal-hal terkait dukungan untuk mewujudkannya hingga datangnya tim Jepang dan UGM untuk melakukan riset itu. (EN)
