Nelson Mandela: Amerika Serikat Ancaman Terhadap Perdamaian Dunia

Wednesday, July 2, 2008
By nias

Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan mengatakan Amerika Serikat adalah sebuah ancaman bagi perdamaian dunia. Nelson Mandela mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Newsweek – 6 tahun lalu, tepatnya 10 September 2002.

Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, Amerika telah melakukan berbagai kesalahan dalam politik luar negerinya, antara lain dengan mendukung habis-habisan Shah Iran yang akhirnya mencetuskan Revolusi Iran. Dukungan dana dan senjata Amerika pada kelompok Mujahidin di Afganistan juga telah melahirkan kelompok ekstrimis Taliban.

Tetapi aksi Amerika yang paling mencelakakan menurut Nelson Mandela adalah sabotase terhadap keputusan PBB tentang penarikan mundur Uni Soviet dari Afganistan.

“Karena yang dikatakan (Amerika) adalah: bila Anda takut veto dalam Dewan Keamanan PBB, maka Anda boleh pergi mengambil sikap sendiri dan melanggar kedaulatan negara lain. Itulah pesan Amerika kepada dunia.”

“Ini jelas sebuah keputusan yang didorong oleh keinginan George W. Bush untuk menyenangkan industri senjata dan minyak di Amerika.”

Ketika ditanya apakah ada masalah rasial di PBB, Nelson Mandela mengiyakan.

“Unsur itu ada. Dalam kenyataannya, banyak orang mengatakan secara diam-diam, tetapi mereka tidak memiliki nyali untuk menyampaikannya secara terang-terangan, bahwa ketika Sekretaris Jenderal adalah orang kulit putih, Amerika dan Inggris tidak ‘keluar’ dari garis PBB. Tetapi ketika Boutros Boutros Ghali atau Kofi Annan menjadi Sekretaris Jenderal, mereka (Amerika dan Inggris) tidak menghormati PBB. Mereka menyepelekannya. Ini bukan pendapat saya, tetapi yang dikatakan oleh banyak orang.”

Dia menyebutkan wakil presiden Dick Cheney dan menteri pertahanan Donald Rumsfled adalah orang-orang yang memberikan saran-saran yang menyesatkan kepada Presiden Bush.

Terhadap Bush sendiri, Nelson Mandela memiliki pandangan yang cukup positif.

“Kesan saya Presiden Bush adalah orang yang bisa diajak bicara / berunding. Orang-orang di sekitarnyalah yang merupakan dinosaurus yang tidak ingin melihat Presiden Bush menjadi bagian dari dunia modern. Satu-satunya orang yang ingin menolong Bush menjadi bagian dari dunia modern adalah Menteri Luar Negeri Jendral Colin Powel.”

Secara khusus Nelson Mendela menyampaikan keberatannya atas rencara Amerika dan sekutunya untuk menyerang Irak pada tahun 2003.

“… Scott Ritter, mantan inspektur persenjataan PBB yang berada di Baghdad, telah mengatakan tidak ada bukti sama sekali bahwa Irak mengembangkan persenjataan pemusnah massal. Baik Bush maupun Tony Blair belum menyampaikan bukti-bukti bahwa senjata macam itu ada (dimiliki Irak). Tetapi kita tahu Israel memiliki senjata pemusnah massal. Tidak ada yang berbicara tentang itu.”

Dalam wawancara itu Nelson Mandela juga mengungkapkan kesan khususnya terhadap Wakil Presiden Dick Cheney.

“Ia (Dick Cheney) menentang keputusan mengeluarkan saya dari penjara (tertawa). Mayoritas anggota Kongres AS mendukung pembebasan saya, tetapi dia menentangnya.” (Newsweek)

23 Responses to “Nelson Mandela: Amerika Serikat Ancaman Terhadap Perdamaian Dunia”

  1. 1
    Erix Says:

    Dear All,

    Menarik menyimak statement dari mantan Presiden Afrika Selatan ini. Dan apa yang Mandela katakan adalah fakta yang tidak terbantahkan..

    Saya hanya ingin mengklarifikasi statemen Mandela. Penggunaan kata Inggris dan Amerika Serikat (AS) terasa begitu jamak. Kata ini seolah menjustifikasi bahwa semua orang Inggris dan AS adalah sama seperti ucapan Mandela.

    Saya pernah tinggal di Inggris, dan saya melihat banyak orang-orang Inggris (British) yang anti dengan pemerintahan George W. Bush. Orang-orang ini terang-terangan menghujat Bush dan Tony Blair, sekutunya waktu itu.

    Pelurusan ini bermaksud menjernihkan siapa yang sebenarnya menjadi lawan. Saya bisa menangkap dengan jelas siapa yang dimaksud Mandela sebagai Ancaman. Saya tahu itu karena saya well educate dan paham politik. Dan saya kenal dengan Mandela..

    Kekeliruan dalam memahami kata-kata seperti itu sering terjadi.

    Orang-orang islam garis keras contohnya. Kelompok ini memandang semua orang ASi itu bersalah dan halal untuk dibunuh.Dan kebetulan secara statistik (walau tidak valid lagi) mayoritas warga AS beragama Kristen. Akhirnya yang Kristen pun ikut-ikutan dipersalahkan. Inilah yang memicu lahirnya Terorisme..

    perlu dicatat bahwa Musuh sebenarnya dalah sistem politik-ekonomi yang ada dibelakang pemerintahan AS dan Inggris. Sistem itu adalah kapilatisme modern (neo liberalisme). Tanpa menyerang sistem itu, mustahil keadaan dunia akan lebih baik. Sekalipun orang seperti BUSH berhasil dilengserkan dari tahtah politik AS.

    Thats is

    Thanks

    Erix

  2. 2
    Syahrial P. Says:

    Erix: “Kekeliruan dalam memahami kata-kata seperti itu sering terjadi.

    Kayaknya sih Mandela cuman meminjam kosakata yang suka dipake negara-negara adidaya itu. Contohnya:

    “Iran adalah ancaman terhadam perdamaian dunia”

    “Korea Utara adalah ancaman perdamaian dunia”.

    Dan bagaimana pula pelabelan Bush “Axis of evil” terhadap sejumlah negara yang tak gampang didiktenya ?

    Orang-orang garis keras dari kubu mana pun tahu .. bahwa itu semua slogan ‘kosong’.

    Saya tidak mengenal Bush secara dekat, tetapi dari jauh lewat sepak terjangnya saya cukup mengerti, mengapa dunia tidak semakin aman selama kepemimpinannya.

    Saya juga tidak begitu mengenal Mandela, tetapi dari pengamatan dari jauh, saya bisa berkesimpulan: kita (baca: dunia) membutuhkan Mandela-Mandela baru 🙂

  3. 3
    Erix Says:

    Dear Bapak Syahrial P

    Saya setuju dengan Bapak. Dunia ini butuh pejuang keadilan Justice Worrier) seperti Nelson Mandela. Saya kira, semua orang yang pernah mengenal Mandela baik langsung maupun melalui pemberitaan dll. Tentu akan terisnpirasi dengan apa yang Mandela lakukan. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang mengagumi orang itu…

    Tapi ada yang perlu klarifikasi dari komentar yang bapak posting teruatam soal ”Peminjaman kosa kata” dan Labelisasi:

    (1) Berita diatas jika dibaca dengan baik, maka kita akan sadari bahwa berita itu telah ditulis ulang dari versi aslinya (bahasa Inggris). Setahu saya news week adalah media yang beritanya ditulis dengan basis bahasa Inggris. Karena ditulis ulang (terjemahkan) kedalam bahasa Indonesia, sehingga ada kemungkinan makna dari teks asli nya hilang. Dan hal-hal seperti itu bukan fenomena aneh dalam urusan ”terjemahan”. Itulah kadang kita perlu membandingkan dengan tulisan aslinya.

    (2) Soal Labelisasi. Pelabelan tidak lepas dari haegomoni wacana. Pelabelan sangat dibutuhkan untuk menjustifikasi kepentingan.
    Saya ambil contoh dari kalimat bapak :“Korea Utara adalah ancaman perdamaian dunia”.
    Kalimat itu telah melabeli segala sesuatu yang berasal dari Korea Utara adalah ancaman. Termasuk orang-orang dan pola budaya yang ada di negara itu. Pelabelan seperti ini sangat buruk dan tidak pantas dilakukan.
    Bagaimana dengan anak yang baru lahir, apakah dia dikatagorikan ancaman karena lahir di Korea Utara?
    Saya ambil contoh yang klasik. Paskah peristiwa WTC atau 911. Muncul sebuah labelisasi bahwa ISLAM adalah TERORIS.
    Jika Anda membaca Clash of Civilizations tulisnya Samuel P. Hutington. Anda akan menemukan bagaimana Islam secara gambalang dilabeli sebagai agamanya teroris. Seorang seperti Hutington saja, ternyata bisa sangat bisa dan salah dalam memaknai realitas..
    Saya seorang Kristen. Saya terbiasa hidup dengan sahabat-sahabat saya yang beragama Islam. Seumur hidup, saya tidak pernah terancam dan terintimidasi karena agama saya Kristen. Saya merasakan bahwa sahabat-sahabat saya itu adalah orang yang hagat dan terbuka. Lantas, bagaimana mungkin saya harus ”melabeli” sahabat-sahabat saya itu sebagai Teroris lantaran agama mereka. Dan bagaimana mungkin saya harus meminta mereka bertanggung jawab buat sesuatu yang tidak mereka lakukan. There is impossible and not rational (itu tidak mungkin dan tidak rasional).
    Melazimkan sebuah pelabelan berarti Anda telah mengizinkan sebuah tindakan “penghukuman” terjadi bagi mereka yang tidak bersalah.

    (3) Mungkin bapak benar, bahwa Mandela hanya sekadar mengutip kata-kata yang sering akrab digunakan pada pelbagia media. Tapi bagi orang seperti bapak dan saya, kata ”Amerik Serikat” yang dimaksud Mandela sangatlah jelas. Dia tidak bermaksud menyerang warga bangsa Amerika Serikat. Tapi yang dianggap Mandela sebagai Ancaman adalah Kebijakan Politik yang dijalankan oleh pemerintahan Bush.

    Saya tidak ahli dalam bahasa Inggris. Namun saya tahu bahwa dalam memaknai kalimat Amerika Serikat (United State/US) harus dalam dua bentuk.

    Pertama, US sebagai nations-state (bangsa-negara).

    Kedua, US sebagai administration (pemerintahan). Dalam versi berita berbasis bahasa Inggris ditulis secara jelas sebagai : BUSH ADMINISTRATION (Pemerintahan Presiden Bush).

    Makna kedua itulah yang di maksud Mandela sebagai Ancaman.

    Saya tidak ingin orang-orang kemudian menggunakan kata-kata Mandela untuk melabelisasi Amerika Serikat sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan AS (misalnya : warga negara).

    Saya cukup berkepentingan untuk menjelaskan hal itu. Karena faktanya, mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik. Akan sangat mudah menyesatkan bangsa yang keadaannya seperti itu. Seperti kelompok Islam keras yang menggunkan labelisasi untuk menjustifikasi kepentingannya.

    Itu saja dari saya pak

    Terima kasih buat masukannya..

    Salam,

    Erix

  4. 4
    Redaksi Says:

    Terima kasih kepada Pak Erix dan Pak Syahrial yang telah ikut meramaikan ruang diskusi di bawah berita dengan judul: ‘Nelson Mandela: Amerika Serikat Ancaman Terhadap Perdamaian Dunia”.

    Redaksi sangat menghargai pendapat Anda berdua dan mudah-mudahan diskusi dapat diteruskan dalam suasana kritis namun tetap bersahabat.

    Perlu kiranya Redaksi menjelaskan bahwa sebagaimana disebutkan Pak Erik, tulisan tersebut berasal dari sebuah berita dalam bahasa Inggris dengan judul: “Nelson Mandela: The U.S.A. Is a Threat to World Peace”. Teks selengkapnya dalam bahasa Inggris dapat diakses pada link berikut:

    http://www.newsweek.com/id/65057, atau http://www.msnbc.msn.com/id/3070095/

    Redaksi juga perlu menjelaskan bahwa berita versi Indonesia yang ditayangkan dalam situs ini merupakan ‘ringkasan’ dari berita aslinya, dan tidak merupakan terjemahan lengkap dari seluruh teks yang ada dalam sumbernya.

    Semoga dengan membaca artikel aslinya, Anda berdua bisa menambah wawasan kita.

    Salam,

    Redaksi
    Catatan tambahan: karena mesin pencegah spam di situs ini, terkadang komentar tertahan di ruang ‘spam’. Mohon pengertian.

  5. 5
    Erix Says:

    Terima kasih buat redaksi.

    Saya senang karena situs ini membuka ruang diskusi yang sehat, kritis dan ilmiah.

    Saya dan Pak Syahrial tentu senang bisa berbagi cara pandang dalam menginterpretasikan sebuah wacana.dan kami tentunya akan tetap bersahabat, walau lewat dunia maya..

    Mungkin akan menarik, jika niasonline bisa memfasilitasi diskusi langsung (tatap muka) yang tema datang dari perdebatan yang ada di web. Itu bagus untuk mengembangkan cara berpikir dan berdebat yang ilmiah..

    Viva Niasonline

    Salam,

    Erix

  6. 6
    Syahrial P. Says:

    Pak Erix yang baik,

    Maaf saya baru bisa balas lagi, karena saya tidak setiap hari akses internet dan ke situs ini. Senang sekali melihat bahwa Pak Erik sangat peduli dengan masalah-masalah yang ‘sensitif’ semacam ini. Secara garis besar, saya setuju dengan pendapat Bapak … hal-hal lain yang mungkin perlu ‘pencerahan’ secara pelan-pelan akan saya lihat.

    Saya mundur selangkah ya Pak, dan kembai ke komentar Bapak pertama.

    “Dan apa yang Mandela katakan adalah fakta yang tidak terbantahkan..”, kemudian:

    “Saya hanya ingin mengklarifikasi statemen Mandela.”

    Pertanyaan saya kepada Pak Erix: yang mana sebenarnya pernyataan Nelson Mandela yang merupakan “fakta yang tidak terbantahkan.”? Dan kalau “tak terbantahkan” mengapa masih perlu klarifikasi ? Barangkali saya tidak memahami secara total jalan pikiran Bapak.

    Pertanyaan kedua, pada komentar kedua Bapak, Bapak menulis:
    “Paskah peristiwa WTC atau 911.”

    Apakah hubungannya Paskah dengan peristiwa WTC atau 911 ? Setahu saya (koreksi saya kalau salah), dalam agama Anda, Paskah adalah sebuah hari raya besar.

    Sekian saja dan terus terang, saya merasa diperkaya mendapat kesempatan berdiskusi dengan Pak Erix.

    Salam,

    Syahrial P.

  7. 7
    Erix Says:

    Dear Pak Syahrial P

    Terima kasih kembali untuk komentar nya..

    Berikut penjelasan saya :

    (1) Bapak Syahrial pasti tahu benar, ada banyak cara dalam menginterpretasikan sebuah “teks”. Orang-orang yang suka analisis linguistik adalah ahli nya dalam soal begituan. Dalam menganalisa artikel tentang Nelson Mandela sebenarnya ada dua teks yang sama namun ditulis oleh dua orang berbeda. Pertama, penyataan Nelson Mandel yang menyebut Amerika sebagai Ancaman adalah pernyataan politik yang ditujukan kepada pemerintahan George Walker Bush. Itu yang saya maksud dengan tidak terbantahkan lagi. Karena memang fakta lah rezim Bush dengan manuver politiknya adalah ancaman bagi dunia. Kedua, kata ancaman yang ditulis oleh jurnalis (wartawan) yang menurunkan tulisan ini. Ketika si jurnalis menuliskan ulang pernyataan Mandel adalah pesan yang hilang (missing context). Pemanaknaan Amerika itu menjadi kabur. Seolah-oleh Amerika yang dimaksud itu adalah semua warga negara amerika. Saya contohkan : Jika presiden SBY melakukan sebuah kebijakan politik yang berimbas ke negara lain, seminal gagal menangani kebakaran hutan sehingga asapnya sampai ke singapura dan malaysa. Tidak lantas semua orang Indonesia dipersalahkan karena itu. Pemaknaan itu yang coba saya klarifikasi…

    (2)Penulisan : paskah WTC atau 911. Saya minta maaf karena kata paskah yang saya maksud itu adalah “setelah” (pasca). Saya agak terburu-buru menulisnya, sehingga saya tidak memperhatikan kekeliruan itu. Terima kasih buat koreksi dari bapak..

    salam hangat,

    Erix

  8. 8
    Syahrial P. Says:

    Bapa erix dalam komntarnya 29 Juli 2008 2:39 pm (siang) menulis:

    “Saya tidak ahli dalam bahasa Inggris. Namun saya tahu bahwa dalam memaknai kalimat Amerika Serikat (United State/US) harus dalam dua bentuk. Pertama, US sebagai nations-state (bangsa-negara). Kedua, US sebagai administration (pemerintahan). Dalam versi berita berbasis bahasa Inggris ditulis secara jelas sebagai: BUSH ADMINISTRATION (Pemerintahan Presiden Bush). Makna kedua itulah yang di maksud Mandela sebagai Ancaman.”

    Bapa Erix kayaknya ngarang aja. Saya melihat kembali link yang diberikan Ibu/Bapak Redaksi. Ternyata Mandela dalam wawancara itu tidak menyebut “Bush Administration”. Ini antara lain jawaban Mandela atas pertanyaan Newsweek berikut “Why are you speaking out on Iraq? Do you want to mediate, as you tried to on the Mideast a couple of years ago? It seems you are reentering the fray now.

    Jawaban Mandela antara lain adalah:
    “… If you look at those matters, you will come to the conclusion that the attitude of the United States of America is a threat to world peace…..”

    Saya tidak menemukan Mandela menyebut “Bush Administration” ketika menyebut kata ‘threat’ (ancaman), jadi saya heran juga kalau Bapa Erix yakin seyakin-yakinnya sampai mengatakan “Dalam versi berita berbasis bahasa Inggris ditulis secara jelas sebagai: BUSH ADMINISTRATION (Pemerintahan Presiden Bush).”

    Ditulis secara jelas di mana, Bapak? Ataukah ada versi berita lain yang Bapa baca?

    ***

    Bapa Erix (Komen 7: 6 Agustus 2008): “penyataan Nelson Mandela yang menyebut Amerika sebagai Ancaman adalah pernyataan politik yang ditujukan kepada pemerintahan George Walker Bush. Itu yang saya maksud dengan tidak terbantahkan lagi. Karena memang fakta lah rezim Bush dengan manuver politiknya adalah ancaman bagi dunia.”

    Tapi dalam komentarnya terdahulu (29 Juli 2008) Bapa Erix menulis:
    “Perlu dicatat bahwa Musuh sebenarnya dalah sistem politik-ekonomi yang ada dibelakang pemerintahan AS dan Inggris. Sistem itu adalah kapilatisme modern (neo liberalisme). Tanpa menyerang sistem itu, mustahil keadaan dunia akan lebih baik. Sekalipun orang seperti BUSH berhasil dilengserkan dari tahtah politik AS.”

    Bagaimana Bapa Erix menyejajarkan diri dengan Galileo kalau dalam tempo beberapa hari saja muncul kontradiksi dalam pernyataan Bapa?

    ***
    Saya berharap Bapa Erix ‘meluruskan’ ini tanpa menulis banyak-banyak – yang menurut saya merupakan kiat Bapak mengaburkan diskusi seperti terjadi pada artikel lain soal kemiskinan itu. Bapak Erix senang “berdebat” yang ilmiah (komen 29 Juli 20008), tapi menulis panjang-panjang tidak selalu ilmiah lho 🙂 Ciri diskusi ilmiah antara lan adalah singkat (kalau bisa dibikin singkat) tetapi jelas.

    Saya senang jawaban Bapak soal kesilafan menulis “paskah” itu – singkat tapi jelas (walau pikiran saya juga agak terprovokasi seperti ini: kalau emang itu kesilapan, kenapa silapnya ingat Hari Suci 🙂 )

    Syahrial P.
    Catatan: mungkin dalam beberapa hari ke depan saya tidak akses internet, tetapi sedapat mungkin saya mengusahakan ikut terus dalam diskusi di situs ini.

  9. 9
    Nursalim Says:

    Pernyataan Pak Erix #3 : Saya cukup berkepentingan untuk menjelaskan hal itu. Karena faktanya, mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik. Akan sangat mudah menyesatkan bangsa yang keadaannya seperti itu. Seperti kelompok Islam keras yang menggunkan labelisasi untuk menjustifikasi kepentingannya.

    Kurang jelas Pak bisa sampai di fakta ’mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik’. Apa ada dasar yg kuat Pak menyatakan begitu?

    Bila dicoba uthak-athik pakai diagram venn ’tidak terdidik dengan baik’ dan ’tidak melek politik’ sulit dicerna kedua hal tsb semata-mata ’irisan’ mayoritas. Karna ada yg ’tidak terdidik dengan baik’ dan ’melek politik’; ada yg ’terdidik dengan baik’ dan ’tidak melek politik’; ada juga yg ’terdidik dengan baik’ dan ’melek politik’.

    Jadi bagaimna menerima secara logis keduanya terjadi bersamaan pada mayoritas warga Indonesia? Jangan-jangn pernyatan tsb kurang disadari Pak justru menggunakan labelisasi pada warga Indonesia [untuk menjustifikasi kepentingan Pak karna Pak merasa ’cukup berkepentingan untuk menjelaskan hal itu’].

  10. 10
    Sof Lase Says:

    Diskusi yg menarik, mengapa tak diteruskan? Biar dikit-dikit kita melek politik.

  11. 11
    Erix Says:

    Pak Syahrial ketemu lagi kita ya…

    (1) Memang Mandela tidak menyebut (Bush Administration) disana. Saya sudah jelaskan sebelumnya bahwa memaknai Amerika Serikat itu harus dalam dua arah, pertama sebagai Nation- State dan Administration. Ini penting agar kita kritikan kita jelas alamatnya.

    (2) Saya kutip dikit pernyataan Mandela ya, ” … the United States of America is a threat to world peace…..”Kalau kita baca teks itu secara harafiah yang dimaksud Mandela itu seolah negara bangsa (nation-state) nya Amerika Serikat. Seolah-olah Mandela mengatakan bahwa semua orang dari amerika serikat sana adalah ancaman bagi perdamaian dunia.

    Walau Mandela mengucapkan ”the United States of America”, itu bukan ditujukan kepada seluruh warga negara amerika serikat. Tapi ditujukan kepada pemerintahan AS yang saat ini di kepalai oleh George W. Bush (sistem).

    Nah biar jelas, sekarang saya tanya anda : Lantas USA yang dimaksud Mandela itu siapa ??

    (3) Pak Syahrial, komentar anda yang mempersoalkan penjelasan saya yang panjang-panjang. Lalu anda meminta saya untuk pendek-pendek saja. Saya jawab : penjelasan panjang dan pendek itu relatif lho. Saya bisa saja menulis jawaban nomor (1) dan (2) menjadi dua kata yaitu ANALISIS LINGUISTIK. Mungkin itu berguna dan jelas bagi bapak. Tapi tidak untuk yang lain. Dan saya tidak menuliskan penjelesan ini hanya untuk bapak. Tidak ada gunanya punya pengetahuan banyak pak, kalau untuk diri sendiri saja. Begitu lho pak..

    (4) Pak Nursalim, jawaban pertanyaan anda itu banyak sekali berseleweran di internet. Bapak tidak perlu menunggu saya, untuk mendapatkan jawaban. Oke

    Terima Kasih,

    Salam

    Erix

  12. 12
    ama warisa Says:

    Anak-anakku tercinta, bertobatlah menggosipkan orang lain. mari gosipkan si multi bencana lagi teror Indonesia tercinta. apalagi sasarannya pulau-pulau kecil tercinta yang ada di Negara ini.

  13. 13
    Syahrial P. Says:

    Bapa Erix,

    Syukurlah Bapa Erix muncul kembali. Sempat juga saya agak terheran karena oknum lain sempat mengajukan pembelaan kepada Bapa Erix (lihat diskusi kita soal kemiskinan). Lebih parah lagi, beliau itu (Berton) ngakunya berada di Nias seperti Bapa Erix. Siapa pun dia, saya tidak mau peduli. Yang saya pedulikan, Bapa Erix akhirnya muncul kembali dan menghangatkan diskusi ini.

    ***
    Agaknya benar dugaan saya … bahwa Bapa Erix sibuk sendiri, kalang-kabut sendiri, gusar sendiri soal pernyataan Mandela. Saya sih menganggapnya biasa-biasa saja. Saya tidak alergi terhadapnya, tidak sampai misalnya mengaburkan fakta seperti ketika Bapa Erix menuduh bahwa barangkali itu salah diterjemahkan oleh Ibu/Bapa Redaksi. Bahkan menuduh wartawannya (pada komen 7): “Kedua, kata ancaman yang ditulis oleh jurnalis (wartawan) yang menurunkan tulisan ini. Ketika si jurnalis menuliskan ulang pernyataan Mandel adalah pesan yang hilang (missing context).”

    Dari berbagai tanggapan Bapa Erix di depan, saya berkesimpulan bahwa versi Bahasa Inggris artikel itu baru Bapa Erix baca setelah saya menunjukkan kebohongan pernyataan Bapa Erix di depan, suatu hal yang agak tidak wajar bagi seorang yang menamakan diri peneliti.

    Hal-hal di atas mendandakan Bapa Erix dihantui sendiri oleh pemikirannya sendiri … tanpa alasan yang jelas. (Kaitannya dengan diksusi tentang kemiskinan di Nias akan menyusul).

    Bapa Erix terkesan begitu gusar, seakan-akan pernyataan Mandela itu akan membawa efek dahsyat bagi para pembaca. Sampai-sampai Bapa Erix menuduh: “mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik”. (Jawaban Bapa Erix kepada Pak Nursalim kelihatan sekali jawaban yang tak terarah … karena tak mampu memberikan jawaban yang jernih. Orang yang dihinggapi ilusi memang susah memberikan pernyataan yang jernih).

    Katakanlah ‘benar’ pernyataan Bapa Erix bahwa “mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik”. Tetapi mereka tidak sampai gusar atau pusing sendiri seperti Bapa Erix toh 🙂

    ***
    Hal-hal di atas akhirnya membawa saya sampai pada kesimpulan: ‘pergolakan pemikiran yang tak terarah’ dalam diri Bapa Erix itu melahirkan ilusi dalam diri Bapa Erix. Sampai-sampai artikel sesingkat “Menelusuri Akar Kemiskinan Nias” itu butuh waktu bertahun-tahun untuk menyiapkannya (ini pengakuan Bapa Erix snendiri lho). Sampai-sampai pernyatan Mandela itu membuat Bapa Erix begitu gusar sehingga menghalalkan segala cara untuk membenarkan argumen Bapa Erix.

    Bapa Erix: “Nah biar jelas, sekarang saya tanya anda : Lantas USA yang dimaksud Mandela itu siapa ??”

    Mengapa hal itu dipertanyakan kepada saya? Saya tak pernah mempermasalahkan pengertian “USA” dalam pernyataan Mandela (baca baik-baik semua komentar saya supaya jangan timbul ilusi baru dalam diri Bapa Erix 🙂 )

    ***
    Bapa Erix (komen 1): “Saya bisa menangkap dengan jelas siapa yang dimaksud Mandela sebagai Ancaman.”

    Bapak Erix (komen 1): “Dan apa yang Mandela katakan adalah fakta yang tidak terbantahkan..”

    Bapak Erix (komen 1): “Pertama, penyataan Nelson Mandel yang menyebut Amerika sebagai Ancaman adalah pernyataan politik yang ditujukan kepada pemerintahan George Walker Bush. Itu yang saya maksud dengan tidak terbantahkan lagi.”

    Ketiga kutipan tulisan Bapa Erix itu seharusnya membawa kita kepada kesimpulan bahwa Bapa Erix tahu betul, yakin sekali, siapa “USA” yang dimaksudkan Mandela.

    Maka saya heran dan terkejut, ketika Bapak Erix menanyakan kepada saya – Syahrial P. – yang tak pernah mempertanyakan atau mempermasalahkan pernyataan Mandela tentang Amerika Serikat, pertanyaan berikut: “Nah biar jelas, sekarang saya tanya anda: Lantas USA yang dimaksud Mandela itu siapa ??”

    Apakah Bapa Erix akhirnya tak yakin dengan berbagai pernyataannya sebelum ini? Bisa jadi. Saya sendiri juga tak yakin, bahwa Bapa Erix tahu siapa “USA” yang dimaksudkan Mandela, walau Bapa Erix telah “berbusa-busa” menjelaskan: baik dari sisi bahasa, maupun dari fakta yang telah didistorsi oleh Bapa Erix.

    Bapa Erix, sama seperti anda, saya juga tidak mampu menjawab pertanyaan Bapa Erix. Tanyakanlah kepada Mandela 🙂

    Salam,

    Syahrial P.

  14. 14
    Nursalim Says:

    Pernyatan ‘mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik’ ngak ada ‘banyak sekali berseleweran di internet’ hanya ada diruang komentar artikle ini ajah…!?

  15. 15
    Sof Lase Says:

    Setuju kata Pak Syahrial maksud Mandela ttg Amrik perlu ditanyakan pada Mandela. Kan kata Pak Erix (1): Saya tahu itu karena saya well educate dan paham politik. Dan saya kenal dengan Mandela.

    Kenapa gak tanya Mandela dulu baru kita-kita ini dijelasin maksud Mandela itu apa biar dikit-dikit kita melek politik.

  16. 16
    Fidel D Giawa Says:

    Untuk Bapak Ama Warisa:
    Kita tidak sedang membicarakan orang dalam ariti pergunjingan pak. Jadi tidak ada dosa disini. Kalaupun ini masuk dalam katagori dosa, berarti kita telah berdosa ketika berulang-ulang membicarakan hawa tergoda ular dan memakan buah terlarang. Jadi, kita membicarakan seorang istri yang menghianati suami. Mohon maaf, analoginya terlalu ekstrim.

    Untuk Bung Erix:
    1. Tak perlulah kita pake teori linguistik segala. Udah jelas tuh yang dimaksud Mr. Mandela adalah USA sebagai negara.
    2. Negara kita juga sudah mengalami kecurangan USA. Bukankah bu Siti Fadila Supari waktu me-launcing buku “Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” sudah menguraikan mendetail bagaimana permainan Amerika? Yang dikemukakan Mr. Mandela dan Menkes RI adalah fakta dan bukan teori.
    3. Bung Erix, Mr. Mandel tidak hanya mengkritisi pemerintahan Bush Junior. Beliau mengkritisi kebijakan NEGARA AMERIKA. Persoalan Afghanistan sudah terjadi jauh sebelum Bush Jr berkuasa. So.., Beliau membicarakan peran Amerika SErikat dalam konteks relasi internasional.
    4. Hegemoni USA dibantu negara-negara maju di Eropa Barat memang ingin menjadi penguasi oligarki dunia. Oligarki yang menghasilkan relasi eksploitasi terhadap negara-negara berkembang tentunya menjadi ancaman, bung. Ya, ancaman terhadap perdamaian dunia dan bahkan peradaban.
    5. Bung Erix, jika mengikuti alur berpikir dan kekhawatiran Anda dalam persoalan penyebutan USA, apakah dengan membicarakan kemiskinan Anda tidak khawatir akan membelah masyarakat dan terhasut konflik antara si kaya dan si miskin? Lagi, jika Anda mengajukan teori kemiskinan struktural dalam membedah kemiskinan, apakah Anda tidak sedang menyebarkan permusuhan antara rakyat (masyarakat Nias) dengan Penguasa (pemerintah yang sah)?
    Maksud saya, proporsional ajalah…. ga usah didramatirisir dengan dalih teori segala.
    6. Pernyataan Mr. Mandela serta apa yang pernah diungkap oleh Menkes RI hanyalah isyarat dari sebuah seruan agar kita membangun kembali tata dunia baru yang lebih berkeadilan sebagaiman pernah diserukan oleh Bung Karno.

    Salam, jabat erat, Yaahowu.

  17. 17
    Erix Says:

    Dear Netters,

    Pada intinya, pemahaman kita sama. Tidak yang berbeda dari apa yang ada dipikiran anda dan saya, ketika memandang USA.

    Pelurusan yang saya maksud, agar kita tidak terjebak dalam sentimen yang membabi buta.

    Saya pernah mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan disebuah negara di eropa saya gara-gara labelisasi seperti itu. Kita tahu, pasca bom bali, Indonesia di cap negara teroris. Dan saya orang Indonesia yang kebetulan berada di eropa mengalami hal itu.

    Mungkin anda belum (tidak) mengalaminya, bagaimana labelisasi itu telah memakan korban orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan teroris. Ini yang perlu saya ingatkan, melabelisasi USA tanpa jelas alamatnya, berarti telah menstigma orang-orang dari amerika sana sebagai ancaman perdamian. Dan tanpa sadar, melalui stigma tersebut, anda telah memberikan izin kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan kekerasan secara membabi-buta kepada orang-orang yang kebetulan berwarga negara USA.

    Jadi hati-hati dengan labelisasi jika anda tidak tahu kemana mengalamatkannya..

    Salam,

    Erix

  18. 18
    Nursalim Says:

    Termasuk juga hati-hati me-LABELISASI ’mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik’ kepada BANGSA INDONESIA!!!!

  19. 19
    Merry Z. Says:

    “Dan tanpa sadar, melalui stigma tersebut, anda telah memberikan izin kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan kekerasan secara membabi-buta kepada orang-orang yang kebetulan berwarga negara USA.”

    Mandela aman-aman saja sampe sekarang tuh, Bang … 🙂

    Trus, Bang Erix mestinya bukan marahin kita-kita ini, tapi marahin Nelson Mandela donk (yang melabel Amerika) dan Presiden Bush yang suka melabel negara-negara yang tak disukainya.

    Bang Erix terlalu sensitif yach … santai aja Bang. Kalau terlalu ‘serius’ nanti jadi Karl Marx, difalsifikasi sejarah kata Kak Laso. Mending niru Galileo, tenang tapi dihormati sejarah 🙂

    Merry Z.

  20. 20
    Erix Says:

    Dear Merry Z,

    Wah keren juga saran mu itu. I will take it..

    Thanks ya,

    Salam,

    Erix

  21. 21
    Alvina Says:

    Kak Merry manalah berani bang Erix marahin Nelson Mandela… kan dia friend/kenal ama Mandela! Makanya se7 deng bang Sof Lase, biar bang Erix pigi jo nanyain Mandela, baru jelasin ke kitorang maksud Mandela itu apa… klo toh paitua mandela salah baru kitorang marahin jo bareng2… heheeee 🙂

    Trus kitorang jg nungguin jawab bang Erix nih labelisasi “mayoritas warga Indonesia tidak terdidik dengan baik dan tidak melek politik”… klo bang Erix gak bisa buktiin… nah loh anggap aja si abang tu… asbun 🙂

  22. 22
    Oli Marunduri Says:

    arti daripada asbun samadengan TONG KOSONG NYARING BUNYINYA, ya gak neng Alvina…? heeehee…!

  23. 23
    Rahmad Tri Cahyono Says:

    Kami sekelompok anak muda yang tergabung dalam sebuah Group band yang bernama Dupa band dari kota Kediri Jawa Timur sangat prihatin dengan kondisi Umat yang selalu di warnai Kekerasan,amuk massa, dan peperangan. Sebagai wujud kepedulian, Kami mengajak dan menghimbau kepada seluruh umat untuk mencintai perdamaian lewat sebuah karya lagu yang kami ciptakan berjudul “Cinta Damai” dan “Peace Love”. Kami juga membentuk komunitas di Facebook dengan akun “Gerakan Damailah Negeriku” agar semua Umat bisa mendengarkan lagu perdamaian kami di akun tersebut. Dukungan semua pihak untuk mengangkat ide dan karya kreatif tersebut sangat diperlukan agar kedamaian bisa terwujud. Terimakasih

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031