Sibaya, Paman, Uncle

E. Halawa*

Sibaya, paman, uncle. Ketiga kata ini, yang kita temui dalam 3 bahasa yang berbeda, seringkali dianggap searti, memiliki satu pengertian. Benarkah ? “Ali adalah paman saya” mungkin tidak selalu sama dengan “Sibayagu zi Ali“, atau “Ali is my uncle“.

Dalam bahasa Nias, sibaya memiliki dua pengertian: (1) saudara laki-laki dari ibu, (2) kata sapaan untuk menyapa saudara laki-laki dari ibu.

Kalau Soböwö adalah adik atau abang dari ibu saya, maka Soböwö adalah sibaya saya. Maka saya katakan: “Sibayagu Zoböwö“, atau “Soböwö, sibayagu.” (Soböwö adalah saudara laki-laki ibu saya).

‘Saudara laki-laki dari ibu’ dalam hal ini adalah baik saudara kandung maupun saudara ‘dekat’ dan bisa diperluas kepada semua laki-laki dewasa yang semarga dengan ibu (dan kurang lebih segenerasi dengan ibu). Akan tetapi pengertian yang lebih luas ini (yang mencakup seluruh yang semarga dengan ibu) tidak begitu ‘populer’ di Nias. Barangkali hal ini karena di Nias orang yang semarga bisa kawin asalkan keluarga kedua pihak sudah cukup jauh ditinjau dari silsilah. Dalam hal ini, ‘sibaya’ sungguh-sungguh hanya terbatas kepada saudara kandung dan saudara ‘dekat’ dari ibu saja, karena seseorang tidak mungkin memanggil ‘sibaya’ kepada pihak lain yang semarga dengan ayah dan juga semarga dengan ibunya.

Pada pengertian kedua, sibaya merupakan ‘kata sapaan’ yang dipakai untuk menyapa saudara laki-laki ibu kita dalam percakapan. Kita mengucapkan: “Ya’ahowu, Sibaya“, atau “Ya’ahowu, Baya” ketika bertemu dengan sibaya kita, misalnya di tengah jalan atau di rumah ketika mengunjunginya. “He Sibaya, omasido fahuohuo khöu” (Hai Sibaya, saya ingin bercakap-cakap denganmu).

Hanya dalam pengertian kedua (sebagai “kata sapaan”) kata ‘sibaya’ disingkat menjadi ‘baya’. Dalam pengertian pertama, ‘sibaya’ harus diucapkan atau ditulis utuh, jadi: “Möido manörö khö ndra sibayagu“, “Möido ufaigi zibayagu“. Tidaklah tepat kita memendekkan ‘sibaya’ dalam contoh di atas menjadi: “Möido manörö khö ndra bayagu” atau “Möido ufaigi bayagu“. (Anak-anak Nias berumur 5 tahun ke bawah masih menggunakan pemendekan yang tidak tepat ini).

Sibaya merupakan kata tunggal, bukan perpaduan kata ‘si’ dan ‘baya’, jadi ‘si’ dalam kata sibaya bukan kata sandang seperti pada kata ‘si Ali’ atau ‘Si Kombe’. Ada sejumlah sampul kaset lagu Nias yang menulis ‘sibaya’ sebagai ‘si baya’, hal yang tentu saja menyesatkan.

“Ali adalah paman saya.” Kalau orang yang mengucakan itu adalah orang Nias, maka ‘paman’ dalam kalimat itu searti dengan ‘sibaya’, artinya “Ali adalah saudara laki-laki dari ibu saya’. Hal yang sama berlaku untuk beberapa suku bangsa lain seperti suku Batak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990), paman dideifinisikan sebagai**: (1) adik laki-laki ayah atau adik laki-laki ibu, (2) panggilan kepada orang laki-laki yang belum dikenal atau yang patut dihormati.

Dengan demikian pengertian ‘paman’ dalam bahasa Indonesia cukup berbeda dengan pengertian ‘sibaya’ dalam Bahasa Nias.

Ali is my uncle“. Di sini, pengertian uncle lebih luas lagi. Dalam The Free Dictionary (sebuah kamus online Bahasa Inggris, pengertian uncle dalam konteks keluarga adalah: (1) saudara laki-laki dari ibu atau ayah (The brother of one’s mother or father), (2) Suami dari bibi (The husband of one’s aunt).

Jadi menurut orang Inggris, uncle bisa berarti: ‘sibaya’, bisa juga ‘ama siakhi’, ‘ama talu’, atau ‘ama sia’a’ yang adalah saudara dari ayah atau bibi (saudari ayah).

Dalam bahasa Inggris, uncle bisa jiuga dipakai sebagai kata sapaan kepada orang yang lebih tua, terutama oleh anak-anak.

Dalam masyarakat Nias, orang yang sedikit lebih tua dari kita (tapi tak punya hubungan keluarga) kita panggil ga’a (kakak), sedangkan orang yang jauh lebih tua, kira-kira seumur ayah, kita panggil ama. Dan kalau sudah makin akrab, biasanya kita panggil: “Zakhi” (dari Ama Sakhi), “Dalu” (dari Ama Talu), atau “Za’a” (dari Ama Sa’a) – sama dengan panggilan kepada saudara ayah atau bibi kita.

Kalau saya dipanggil ‘Om’ atau ‘paman’ oleh anak dari saudari saya, sebagai sapaan karena saya adalah ‘saudara dari ibunya’, maka saya merasakan ‘jarak’, kurang akrab rasanya. Tetapi kalau dia memanggil saya ‘baya’ atau ‘sibaya’, saya merasa dekat sekali. Bahasa adalah rasa.

Dan jangan lupa, “sibaya mbayakomo na mamasi” (*)

  • Pengertian (1) ‘paman’ dalam KBBI (1990) agaknya terlalu sempit – hanya terbatas pada ‘adik’ dari ayah atau ibu. Padahal dalam pembicaraan sehari-hari kita menangkap pengertian ‘paman’ bukan hanya merujuk pada ‘adik’ tetapi juga ‘kakak’ dari ibu atau ayah. Paman sebagai ‘panggilan kepada orang laki-laki yang belum dikenal atau yang patut dihormati’ juga hampir tak pernah kita dengar.
  • Penulis mengundang diskusi dan koreksi atas ini tulisan ini.

About the author

nias

Situs budaya, bahasa dan aktualita masyarakat Nias


Leave a comment ?

31 Responses to Sibaya, Paman, Uncle

  1. zul azmi sibuea says:

    coba kita lihat melayu dalam memanggil saudara laki-laki dari ibu atau paman atau mamak, melayu atau pesisir membedakannya atas
    – tua atau muda menjadi : mamak etek (kecil), mamak tanga (tengah), mamak tua), jika
    lebih dari tiga ditambah variasi seperti mamak tuan. ini setara dengan Ama Sakhi, Ama
    Talu Ama Sa’a
    -warna kulit : mamak itam/mak itam, (kalau berkulit agak hitam, dan mamak uti (kalau
    berkulit agak putih).
    hal ini berlaku juga untuk adik perempuan dari ibu. referensi dari keluarga bahasa inggeris , tidak bisa digunakan karena dalam dunia modern kita hanya mengenal “uncle” – barangkali dahulu mereka membedakan seperti kita, sekarang tidak lagi.
    so’al kata sandang, saya setuju penulisan ’sibaya’ bukan ’si baya’, tapi menurut pengertian saya artikel dalam bahasa asing berfungsi untuk membuat sesuatu menjadi tertentu dan jelas (inggeris house = rumah (tak tentu), the house = rumah itu (menjadi tertentu), tetapi dalam bahasa-bahasa melayu , melanesia, polinesia , artikel berfungsi juga antara lain sebagai penghormatan, peninggian (tingkatan) selain untuk membuatnya tertentu, misal sang juara, si buta dari goa hantu, dan pada saat yang sama untuk pengakraban, atau untuk kalangan sebaya atau seusia.
    saya tidak bisa membohongi diri saya untuk tidak mengatakan bahwa perubahan huruf konsonan w menjadi y pada soböwö menjadi sibaya (akar kata pada konsonat) mengikuti kategori huruf “illat” dalam bahasa arab, contohnya perubahan dari “rabbauna shaghira” menjadi “rabbayana shaghira”, yang atinya kira-kira “yang memelihara kami ketika masih kecil”.

  2. e_halawa says:

    Pak Zul Azmi Sibuea yang baik,

    Terima kasih atas masukan Anda. Berikut tanggapan dari saya:

    1. Saya belum mampu memahami maksud kalimat: “referensi dari keluarga bahasa inggeris, tidak bisa digunakan karena dalam dunia modern kita hanya mengenal “uncle”. Sebenarnya apa maksud kalimat ini ? Ketika menulis artikel itu, saya hanya membandingkan makna kata-kata itu (Sibaya, Paman dan Uncle) dalam tiga bahasa yang berbeda: Nias, Indonesia dan Inggris. Saya tak menempatkan Bahasa Inggris sebagai ‘referensi’ dalam tulisan saya.

    2. “Si” dalam ‘sibaya’ bukan kata sandang seperti ‘the” dalam Bahasa Inggris. Sibaya adalah kata tunggal dalam Li Niha. Karena itulah maka kata ‘sibaya’ tidak ditulis ‘si baya’, sebab kalau dipisah menjadi “si baya” maka ia tak bermakna lagi. Contoh lain yang paling dekat barangkali adalah pada marga Anda: “Sibuea”, ini tentu adalah kata tunggal, “si” di sana tentu bukanlah kata sandang. Tetapi dalam kata “sibohou” atau “si sõkhi”, ‘si’ memang kata sandang yang bermakna: ‘yang” -> sibohou: yang baru., si sõkhi: yang baik.

    Sampai sekarang masih terjadi dualisme cara penulisan kata sandang ‘si’ dalam bahasa Nias, ada yang mengaitkannya langsung dengan kata yang menyusulnya (sibohou) dan ada yang memisahkannya dari kata itu (si sõkhi). Saya pribadi cenderung menggunakan pilihan kedua (pemisahan) supaya generasi muda Nias dengan mudah menegenal bahwa itu adalah kata sandang.

    Memang dalam percakapan sehari-hari, orang Nias cenderung mengucapkan sibaya menjadi ‘baya’: “He baya …”, tetapi itu tidak mengindikasikan bahwa akar kata sibaya adalah ‘baya’.

    “Zakhi, Dalu, Za’a ..” adalah hal yang biasa kita dengar dalam percakapan Ono Niha ketika menyapa Ama Siakhi, Ama Talu dan Ama Sia’a. Akan tetapi tak pernah kita mendengar “Sibaya” dalam “Sibaya mbayakomo na mamasi” dipendekkan menjadi: “Baya”.

    3. Paragrah terakhir dari kalimat Anda, juga saya kurang fahami jadi saya tidak bisa memberikan tanggapan.

    Salam,

    eh

  3. zul azmi sibuea says:

    1. bahasa inggeris kita kan standard, uncle adalah paman, tetapi lebih lanjut kita tidak bisa lagi menggunakannya kalau kita bicara mengenai sibaya, paman. bahasa inggeris modern yang kita kenal stop hingga disitu – kita masih mengerti kalau kita paralel bhs nias dengan melayu seperti :
    Ama Siakhi – pak cik
    Ama Talu – pak tengah
    Ama Sia – pak tua
    tapi kita akan bingung sendiri kalau kita paralelkan dengan inggeris misalnya
    Ama Siakhi – little father
    Ama Talu – mid father
    Ama Sia – old father
    untuk ini saya simpulkan, referensi menggunakan panggilan bhs inggeris modern menjadi tidak valid, tidak sahih, karena kita mengenal jenis uncle lebih banyak variasinya , saya duga mereka juga menggunakan hal yang sama zaman dahulu kala, (dalam bahasa inggeris lama/kuno) tetapi tak lagi sekarang.

    2. saya setuju penulisa sibaya – menjadi satu tidak dipisah, tetapi saya beranggapan “si” yang didepan kata baya tetap saja berasal dari artikel yang ingin memberi pengertian “penghormatan” pada baya, kasarnya “sibaya” bisa diartikan “yang terhormat baya” sedikit berbeda dengan bahasa lain yang berfungsi untuk memperjelas nomina – membuat bendanya tertentu. bagi saya si yang teripisah berarti penegasan, atau membuat seuatu menjadi tertentu , berarti ini sama dengan artikel pada bahasa lain. coba rasakan , ujaran ini : “eee baya…” dan “ee sibaya……”
    saya merasakan “ee baya….” , lebih dekat , informal, biasa, karena dekatnya jadi setara, malah seperti berkawan , sedangkan dengan mengatakan “ee sibaya …” , lebih formal, hormat, tidak setara, atau berjenjang dia lebih terhormat.
    3. saya melihatnya sangat sederhana, yaitu ada kaitan antara soböwö, dengan sibaya,
    anda mengatakan bahwa soböwö adalah adik atau abang dari ibu – saya menangkap ini atau mengerti ini adalah “orangnya” sedangkan “panggilannya” sibaya. saya berfikir untuk sederhananya saja , yaitu orangnya maupun panggilannya berasal dari akar kata yang sama, sehingga soböwö dan sibaya adalah pernyataan yang membedakan orangnya dan panggilannya dengan mengubah “w” pada soböwö menjadi “y” pada sibaya. Perubahan ini mempunyai pola yang sama dengan tatabahasa arab untuk penggunaan huruf illat (huruf w yang menduduki tempat y, atau sebaliknya menyebabkan arti kata berubah) – tentu saya berasumsi bahwa informasi hanya termuat pada pada konsonan mengikuti kaidah bahasa arab.
    (yang membuat sulit dimengerti saya kira adalah asumsi penggunaan konsonan dan vowel dalam kedua bahasa arab dan nias berbeda)
    wassalam
    zul azmi sibuea

  4. e_halawa says:

    Pak Sibuea,

    1. Tetap saja saja belum bisa memahami maksud Anda mempertanyakan keabsahan perbandingan ketiga kata itu: sibaya, paman, uncle. Di mana letak ketidakabsahannya?

    Tulis Anda: “bahasa inggeris kita kan standard, uncle adalah paman ….”, apa maksudnya? Sebagai orang Nias kalau saya mengatakan: “Si A adalah paman saya”, maka si A terkandung dalam pengertian (a) dalam artikel di atas, dan bukan saudara laki-laki dari ayah saya. Dalam konteks itu, paman dalam pengertian saya jelas tidak sama sebangun dengan pengertian uncle dalam bahasa inggris. Sebab, si A sebagai “uncle” bisa saja saudara laki-laki dari ayah saya. Dalam kasus ini uncle bukanlah paman yang saya maksud. Uncle masih mengambang: entah siapa dia sebenarnya, sampai saya tahu hubungannya dengan ayah saya. Dus, dalam kasus ini uncle tak sama dengan paman.

    Melihat pengertian paralel dalam Nias dan Melayu sah-sah saja, tapi saya tidak bermaksud mengupas itu dalam artikel saya. Dalam tulisan saya, saya ingin memperbandingkan cakupan pengertian ketiga kata yang berasal dari tiga bahasa berbeda itu: sibaya, paman dan uncle. Di mana letak ketidakabsahan perbandingan makna itu sebenarnya ?

    “Bahasa Inggris kita kan standard …” menjadi semakin kabur pengertiannya bagi saya, dan tidak menolong saya memahami alasan utama keberatan Pak Sibuea dalam usaha saya memperbandingkan pengertian ketiga kata itu.

    Dan karena tujuan saya memperbandingkan ketiga arti kata itu, semakin kabur juga bagi saya pengertian “referensi” yang anda maksudkan dalam komentar Anda. Dalam tanggapan terdahulu saya katakan, saya tidak memakai bahasa Inggris sebagai referensi dalam tulisan saya. Saya menyebut ‘uncle’ tidak berarti saya menjadikan Bahasa Inggris dalam artikel itu sebagai ‘referensi’. Dalam artikel saya, sibaya, paman dan uncle berada pada posisi yang setara sebagai bahan kupasan.

    2. Anggapan bahwa “’si’ yang didepan kata baya tetap saja berasal dari artikel yang ingin memberi pengertian “penghormatan” pada baya” …. bisa jadi benar, tetapi saya cenderung mengatakannya keliru – pemaksaan pemaknaan yang tidak seharusnya terjadi.

    Setahu saya selaku petutur bahasa Nias, fungsi artikel ‘si’ seperti yang Anda sebutkan itu tidak ditemukan dalam kata-kata Li Niha yang lain. Bisakah Anda menyebutkan kata lain dalam bahasa Nias yang menggunakan ‘si’ yang berfungsi memberi pengertian “penghormatan” ?

    Pak Sibuea juga dipersilakan melihat kamus-kamus bahasa Nias untuk mengecek apakah kata dengan entri ‘baya’ dengan pengertian ‘saudara laki-laki dari ibu’ terdapat di dalamnya. Bila Pak Sibuea menemukannya, maka itu berarti pendapat Anda benar, dan kita sampaikan terima kasih atas kejelian Pak Sibuea menemukannya.

    “Omasido fao khõ bayagu ….” kalimat ini sering kita dengar dari anak-anak kecil yang masih belajar menguasai pengucapan kata-kata Li Niha.

    Setelah besar- katakanlah sesudah berusia 5 tahun – mereka sudah menguasai pengucapan yang benar : “Omasido fao khõ zibayagu ….” Ia mengucapkan itu dengan akrab, dalam suasana informal, walau ‘si’ hadir di sana 🙂 Berarti ‘si’ tidak berfungsi ‘memformalkan’ atau ‘membuat jarak’ dalam konteks ini.

    Semakin dewasa mereka semakin meningkat pula kemampuan mereka menguasai pengucapan kata-kata Li Niha secara lebih lengkap / sempurna. Dalam kasus ini, munculnya ‘si’ dalam pengucapan mereka bukan karena mereka semakin mengambil jarak dengan pihak saudara laki-laki dari ibunya, melainkan .. ya karena mereka kini mampu mengucapkannya kata yang sebenarnya.

    Saya mencoba membayangkan merasakan “e sibaya … ” dan “e baya …” seperti yang anda anjurkan. Rasanya pas sekali dengan yang Anda rasakan 🙂 Tetapi sekali lagi, ini kan hanya ‘perasaan’. Ketika saya kecil, sama seperti anak-anak lain, saya mengucapkan ‘baya’ ketika menyapa saudara laki-laki dari ibuku. Sesudah besar … kebiasaan itu terbawa-bawa, saya tetap memanggil ‘baya’, bukan kata ‘sibaya’. Di pihak lain, saya juga tidak jarang dipanggil “sibaya” (dan bukan ‘baya’) oleh orang-orang yang ibunya semarga dengan saya. Dan saya juga merasakan kedekatan yang sama, tidak merasakan keformalan yang Anda sebutkan itu.

    “Sibayagu wõ da’õ” …. bukan “Bayagu wõ da’õ” (yang terakhir ini memang akan muncul jika diucapkan oleh anak balita.)

    Jadi, sejauh saya tahu, ‘sibaya’ adalah ‘sibaya’ artinya bukan kata ‘baya’ yang diimbuhi kata sandang ‘si’.

    3. Tulis Anda: “saya melihatnya sangat sederhana, yaitu ada kaitan antara soböwö, dengan sibaya”.

    Saya sempat terkejut, namun setelah saya membaca kembali artikel itu, saya baru memahami pemahaman Pak Sibuea.

    Tidak, Pak, tidak ada kaitan makna antara ‘Sobõwõ’ dan ‘sibaya’ dalam artikel di atas. Sobõwõ dalam artikel di atas adalah nama diri (seperti Ahmad Albar, Vina Panduwinata, Hochambõwõ, Sõkhi’ato). Sebagai nama diri, dalam artikel tersebut ia diawali dengan huruf kapital (baik dalam betuk asli Sobõwõ, maupun dalam bentuk yang telah mengalami mutasi – Zobõwõ). Jadi, rasanya ini tidak memerlukan pembahasan lebih lanjut seperti dalam komentar anda di atas.

    Wassalam,

    eh

  5. M. J. Daeli says:

    Senang melihat dan mengikuti yang saling bersilang pendapat. Tentu juga kita mengharapkan agar rasional yang digunakan bukan yang dibikin-bikin sehingga kelihatan ideal memukau. Yang kita usahakan cari adalah “the truth”.

    Kenapa saya mengatakan demikian, karena ada yang menyampaikan “sesuatu” dan mengatakan bahwa yang disampaikan itu ” hampir sama dengan yang asli”. Kenyataan tidak ada persamaan sama sekali dengan yang asli. Mungkin tujuannya untuk sekedar melucu, tetapi dapat berkibat menyesatkan. Dalam lingkungan dunia sains, tidak ada dosa yang lebih besar dari : berbohong, tidak jujur, memalsu, dan menyalahi aturan fair play.

    Selamat berdiskusi.

    M. J. Daeli

  6. zul azmi sibuea says:

    no. 1 , saya faham
    no.2 , saya melihat hubungan antara baya dengan sibaya, yang saya mesti fikirkan, dalami, rasakan dan explore lebih lanjut apakah peranan “si” dari mana datangnya dan adakah yang sekategori dengannya dalam penggunaan li niha.
    no.3, saya mengerti posisi anda.
    yaahowu
    zul azmi sibuea

  7. Levi Nones says:

    Saya pun sependapat penulisan kata ‘sibaya’, ‘si’ digabung dgn ‘baya’, sebagai konsekuensi dari pembentukan sebuah kata baru, sehingga jadi kata (tunggal) utk konsep ‘saudara lelaki dari ibu’ dan itulah makna yg dimaksud dlm masyarakat Nias.

    Namun saya masih melihat kata itu mengandung elemen kata ‘si’. Bandingkan misalnya dgn siulu (si’ulu), siila (si’ila), sinenge. Kayaknya semua berciri ‘si’ berkoalisi dgn suatu kata yg punya makna konotatif kultural. Kata baya, ulu, ila, nenge, bila berdiri sendiri (dilepas dari kata ‘si’) konteks kulturalnya hilang, orang bisa memahaminya berbeda-beda. Namun bila diketahui konteks kulturalnya, mungkin orang dapat memahaminya sesuai makna yg dimaksud oleh masyarakat pendukung kata itu. Kata ‘baya’ misalnya, bila dipahami sebagai berasal dari konsep ‘(m)baya mata luo’ yg menunjukkan status kultural ‘saudara lelaki dari ibu’ dlm masyarakat Nias, maka bisa dimaklumi bahwa kata ‘baya’ mengalami penambahan kata ‘si’ menjadi sebuah kata baru ‘sibaya’.

    Kata lainnya ‘sa’ atau ‘so’ agaknya juga punya kontribusi dlm pembentukan kata baru (neologisme) misal pada sanuhe, soaya, sowanua. Ada jg ‘si’ dan ‘so’ berkonotasi sama misal Sibowo Dõfi Madala, Sobowo Dõfi Madala. Tapi untuk ‘sibaya’ kayaknya gak pernah terdengar disebut ‘sobaya’ atau ‘sabaya’… Atau barangkali logika saya yg salah?

  8. zul azmi sibuea says:

    adakah diantara kita yang telah menyusun secara sistematis fungsi dari tiap awalan kata si, sa, m, a , mba, ndr ???, sejauh ini saya belum pernah menjumpai, kecuali barangkali kalau ada dimuat pada semacam materi tatabahasa nias yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar/smp sebagai muatan lokal nias

  9. e_halawa says:

    Bung Levi Nones,

    Apakah Anda dari Nias Selatan? Saya tertarik dengan penjelasan Anda masalah ‘baya’ “(m(baya”) mataluo yang menurut Anda, menunjukkan status kultural ’saudara lelaki dari ibu’ dlm masyarakat Nias. Sejauh saya tahu (dan anda bisa mengoreksi dengan memberikan contoh), di Nias Utara, atau sekurang-kurangnya di daerah saya, istilah itu tidak dikenal. Bisakah Anda menjelaskan apa arti sesungguhnya ‘baya mata luo’ ? Bisakah Anda memberikan contoh pemakaiannya dalam kalimat, entah dalam bahasa Nias Utara, Tengah atau Selatan ? Menarik sekali bahwa Anda mengedepankan hal ini untuk memperkaya diskusi kita soal ini. Kalau Anda bukan dari Nias Selatan, barangkali Anda bisa meminta tolong teman-teman dari Nias Selatan untuk bergabung bersumbang saran sehingga diskusi ini menjadi lebih kaya.

    Dari uraian Anda, saya berkesan Anda cenderung melihat ‘baya’ sebagai ‘kata dasar’ yang diberi imbuhan ‘si’ (jadi sependapat dengan Pak Zul Azmi Sibuea). Analisis anda yan menghubungkan ‘si’ dengan kata-kata yang menurut anda berkonotatif kultural, menarik. Ada si’ulu, ada si’ila dan ada sinenge.

    Tapi apakah demikian sesungguhnya?

    Setahu saya, si’ulu dan si’ila lebih dikenal di Nias Selatan, sementara sinenge (dan sibaya) agaknya dikenal di seluruh P. Nias. Saya belum tahu arti dari ‘ulu’, sementara ‘ila’ berarti ‘tahu’. ‘Tahu’ dalam hal ini bisa kita bayangkan sebagai ciri orang yang tinggi derajatnya: memiliki pengetahuan, khususnya dalam hal budaya saya kira, kalau kita mengikuti alur pemikiran anda bahwa kata-kata di atas berkonotasi kultural.

    Bagaimana dengan sinenge? Rasanya, ‘nenge’ tidak ada dalam bahasa Nias. Yang ada adalah ‘tenge-tenge’ yang artinya pesuruh, suruhan, utusan. Dan rasanya itu tidak terkait langsung dengan budaya Nias. Dalam konteks agama kristen, sinenge adalah ‘tenge-tenge’ tadi: utusan, rasul. Sinenge Yesus -> Para rasul yang kedua belas itu.

    Yang ingin saya katakan adalah, dengan hanya memiliki 2 contoh itu (si’ulu dan si’ila – sinenge jangan dimasukkan dulu), maka kita tidak boleh secara terburu-buru memposisikan ‘si’ sebagai penghadir makna konotatif kultural.

    Si’ila secara harafiah adalah ‘yang tahu’, dalam bahasa Nias Utara: ‘sangila’ -> sangila huku, sangila amakhoita (para ahli hukum). “ila’ adalah kata kerja (tahu) dan dengan menambahkan imbuhan ‘si’ itu, kata tadi menjadi kata benda -> ‘yang tahu’: pemilik pengetahuan -> ada konotasi aktif di situ. Dalam kata ‘sinenge’, terbalik, ada konotasi pasif -> yang disuruh, suruhan, utusan.

    Bagaimana dengan ‘sibaya’ ? Kalau memang ada kata ‘baya’, jenis kata apa dia: kata benda atau kata kerja? Ini penting diketahui untuk melihat kalau-kalau ‘si’ tadi memiliki fungsi khsus dalam pembentukan kata ‘sibaya’. Kita menunggu informasi tambahan dari Anda sebelum saya lanjutkan menanggapinya 🙂

    Jadi, posisi saya hingga saat ini, ‘si’ tadi tiada lain berarti ‘yang’, yang sekaligus membendakan (baca: menjadikan kata benda) kata yang dikaitkan dengannya: sibohou (yang baru), sinumama (orang yang miskin), simate (orang yang mati). Dalam hal ini ‘si’ kurang lebih setara dengan ‘the’ dalam ‘the have” (so’okhõta, si kayo) dan ‘the have not” (sinumana). Dia tidak menghadirkan fungsi khusus selain itu, menurut saya.

    Makna ‘si’ dalam si’ila persis sama dengan maknanya dalam kata ‘sinumana’ yakini ‘orang yang’: ‘orang yang tahu’, ‘orang yang miskin’. Ada perbedaan sedikit, ‘ila’ kata kerja, ‘numana’ kata sifat. Tapi saya kira perbedaan ini tidak mengurangi makna uraian di atas.

    Saya tidak melihat neologisme (kalau neologisme dianggap sebagai usaha meperkenalkan kata-kata baru) dalam terbentuknya kata-kata sanuhe, soaya, dan sowanua. Banyak kata-kata yang timbul dari penerapan imbuhan sa- dan so- dalam bahasa Nias: sokhõ, so’õri, sololohe, samasulo, sangehao, sangai, sanõrõ, sanawõ, dst. Kata-kata itu sudah sangat umum dikenal di Nias.

    Sibowo dan sobowo kayaknya agak berbeda pengertiannya, walau sangat tipis: sibowo -> si (sang) kuntum bunga, sementara sobowo -> yang berkuntumkan … 🙂

    Kata-kata: satarõ, salawa, satua, sabeto, sebenarnya bisa dianggap sebagai hasil bentukan imbuhan ‘si’ dengan kata-kata sifat: atarõ, atua dan abeto, yakni: si+atarõ menjadi satarõ, si+atua menjadi satua dan si+abeto menjadi sabeto. Di desa-desa, saya sering mendengar anak-anak balita menggunakan imbuhan ‘si’: gae si’ami -> maksudnya gae sami, manu si+ebua -> manu sebua, dan seterusnya.

    Yaahowu,

    eh

  10. Levi Nones says:

    Saya gak melihat posisi ‘si’ sebagai penghadir makna konotatif kultural. Yg punya makna tsb kata-yang-berkoalisi-dengannya (baya, ulu, ila, n/tenge), dan bila digandeng dgn ‘si’ terjadi sebuah kata baru yg agak sulit dipahami sekedar denotatif. Bila dipisah saja (si baya, si ulu, si ila, si nenge) maknanya sudah berubah atau mungkin gak bermakna.

    Saya gak tau arti ‘ulu’ (jg arti ‘baya’) bila gak tau riwayatnya. Misalnya saja, ‘ulu’ berasal dari ‘ulu nidanõ’; seseorang yg punya kualifikasi tertentu sehingga dia diibaratkan ‘ulu nidanõ’ (makna konotatif: sumber segala berkat), lalu dia disebut ‘si ulu nidanõ’, dan dari sebutan tsb terbentuk kata (baru) ‘siulu’. Benarkah? Ayo kita telusuri riwayat kata ‘ulu’ itu. Logika ini paralel dgn ‘si mbaya mata luo’ yg metamorfosis jadi ‘sibaya’.

    Kayaknya makna kata tsb bukan denotatif, melainkan konotatif. Ungkapan “sibaya mbayakomo na mamasi” (denotatif: kadal pun kalau lagi panen dipanggil paman) baru bisa dipahami di ranah konotatif (maknanya: ….. ? mohon diartikan sendiri). Semoga logika saya gak jadi bengkok, Pak Halawa. Karna saya ‘nones’, bukan (asal) S (elatan), maka saya mengikuti saran Pak Halawa ‘kepada teman-teman dari Nias Selatan tolong bergabung bersumbang saran’ menjelaskan konsep “La’amaedolagõ zibaya ba mbaya mata luo, Lowalani ba gulidanõ”. Terimakasih.

    Yaahowu,
    Levi Nones

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>