Kisah Awuwukha Pemburu Kepala

Saturday, April 26, 2008
By nias

Victor Zebua

Lima generasi yang silam di Börönadu hidup seorang pemberani bernama Awuwukha. Dia berhasil membawa pulang belasan kepala manusia. Usaha para musuhnya balas-dendam membunuh Awuwukha tidak pernah berhasil. Hal tersebut mengangkat status Awuwukha di mata orang-orang kampung sebagai emali (pemburu kepala).

Demikian secuplik kisah Awuwukha dalam tulisan lepas Jajang A. Sonjaya di blognya. Tulisan lepas itu berjudul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, mengacu bab “Mangani Binu: Tradisi Memburu Kepala” di buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” (Sonjaya, 2008). Selanjutnya diceritakan titah Awuwukha di masa tuanya.

“… Awuwukha mengajukan permintaan pada anak-anaknya, bahwa jika ia meninggal nanti, ia minta ditemani oleh lima orang. Seorang untuk menyiapkan minum, seorang untuk membuat sirih pinang, seorang untuk meladeni makanan, seorang untuk menjaga, dan seorang lagi sebagai tukang pijat. Permintaan itu ditutup oleh Awuwukha dengan mengerik kuku jempolnya menggunakan pisau (ono nekhe). Itu berarti bahwa permintaannya harus dipenuhi oleh anak-anaknya. Itu berarti si anak harus mencari lima kepala untuk bekal kubur ayahnya yang disebut binu.”

Isi kutipan di atas mungkin menuntun penulisnya memilih judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”. Elemen ‘bekal kubur’ dalam judul itu teringkari sendiri oleh kisah Awuwukha di episode ‘membawa pulang belasan kepala manusia’ sebagai perolehan balas-dendam karena rumah ibu Awuwukha sebelumnya dibakar oleh pemilik kepala itu. Artinya, binu sesungguhnya tidak hanya untuk tujuan eskatologis semata, juga untuk hasrat manusia di alam fana ini.

Sulayman melaporkan bahwa tahun 851 pengayauan terkait prasyarat kawin pria Nias (Fries, 1919: 53; Cole, 1931: 201; Hämmerle, 2001:14). Binu perlu untuk bangunan rumah, gelar bangsawan, atau penyambutan pengantin putri (Zebua 2006: 105). Binu juga perlu bagi salawa (kepala kampung) atau bangsawan yang mengadakan owasa (pesta jasa), sebagaimana ditulis Harefa (1939: 89) berikut.

“Pada zaman poelau Nias itoe tidak dibawah Perintah Goebernemen, ia menjoeroeh orang mengajau [mengambil kepala] pihak moesoehnja. Orang jang pergi mentjahari kepala itoe, diseboet sanocho dan kepala jang didapatnja itoe diseboet binoe. Binoe setelah dapat ditanamkan dekat batoe kehormatannja [Gowe Zalawa] dimoeka roemah.”

Mangai Högö
Pengayauan disebut mangani binu oleh Sonjaya, namun banyak orang Nias mengenalnya möi ba danö alias mofanö ba danö alias möi emali alias mangai högö. Istilah lainnya fa’emali, yaitu ‘memenggal kepala (mangai högö) antara yang tidak sepuak’ (Zebua, 1996: 10). Seribu tahun yang silam hati para saudagar Arab ciut saat mendengar kebiasaan mangai högö ini, sehingga mereka tunggang-langgang meninggalkan daratan Nias kembali ke kapalnya (Anitei: 2007).

Di lain pihak, acapkali orang menafsirkan bahwa orang Nias kuno antropofag (pemakan orang). Misalnya Masashi (2005: 43) menulis “In the tenth century, Ajä’ib al-Hind described the people between Fansur (present day Barus) and Lambri and those in Kedah and the island of Nias as cannibals.” Namun, berdasar tulisan Schröder, Hämmerle (2001: 15) berkesimpulan bahwa orang-orang Nias memang memenggal kepala orang, tetapi tidak memakan orang.

Praktek mangai högö terjadi pada zaman Nias kuno, berlangsung hingga kedatangan misionaris Jerman ke Nias (Laiya, 1980: 16). Hal itu dilakukan para pihak yang kuat secara finansial, karena berkaitan dengan owasa yang mahal. Judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” terasa kurang pas bila tidak dipahami dalam konteks ‘tempo doeloe’ dan ‘orang Nias tertentu’. Yang dapat diterima secara historis adalah elemen ‘memburu kepala’. Efek generalisasi dan bias informasi dari tulisan lepas Sonjaya bisa timbul akibat pemilihan judul yang kurang pas.

Kisah Awuwukha di tulisan lepas, mungkin karena silaf, telah kehilangan sebuah ‘kalimat kunci’ sehingga potensial mengganggu pemahaman pembacanya. Di buku sumber tertulis kalimat “Cerita tersebut bisa jadi telah mengalami distorsi hingga jauh dari kenyataannya.” (Sonjaya 2008: 68). Di tulisan lepas kalimat tersebut tak dijumpai. Kalimat itu merupakan pengakuan bahwa validitas kisah Awuwukha perlu ditingkatkan. Pembaca tulisan lepas yang tidak membaca buku sumber bisa bias menilai kisah Awuwukha.

Untuk meningkatkan validitas kisah Awuwukha agaknya daya triangulasi perlu optimal digarap. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan yang memanfaatkan hal lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu (Moleong, 1994: 178). Kisah Awuwukha didapat dari ‘ingatan beberapa orang saja dari generasi tua di Börönadu’ (Sonjaya, 2008: 68). Artinya, masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’ didapat dari ingatan informan. Mengapa data tersebut tidak dikonfirmasi pada sura nga’ötö (silsilah keluarga)?

Contoh ini diangkat karena dengan memeriksa sura nga’ötö, 32 tahun lalu Thomsen (1976: 40) berhasil mengidentifikasi masa hidup Awuwukha ‘enam generasi sebelumnya’. Dihitung sekarang, Awuwukha versi Thomsen hidup bukan lima generasi, tapi tujuh generasi yang silam.

Selanjutnya ‘batu-uji’ kisah Awuwukha adalah mengetahui ‘kisah di balik berita’ dari titah Awuwukha meminta binu saat kematiannya. Apa makna binu sebagai bekal kubur? Benarkah binu untuk menyiapkan minum, membuat sirih pinang, meladeni makanan, menjaga, dan menjadi tukang pijat Awuwukha di alam baka? Maka sampailah peneliti pada eskatologi Nias. Sebagai triangulasi, Laiya (1980: 56) menulis satu versi eskatologi Nias.

“Ada satu bagian dari upacara penguburan zaman lampau yang telah ditinggalkan kini yaitu famaoso dola* (pengangkatan tulang-tulang kembali). Upacara ini biasanya berlaku bagi kaum bangsawan. Kepala orang yang diambil waktu expedisi pengayauan dari daerah lain akan ditempatkan di kuburan bangsawan itu pada saat famaoso dola. Upacara ini menggambarkan pandangan eskatologi suku Nias. Ada pandangan di Nias yang mengharapkan bahwa orang mati itu akan bangkit kembali atau akan terjadi kelahiran kembali. Pandangan ini tidak hanya hidup di bagian Tengah Nias – seperti yang dicatat oleh Suzuki, tetapi juga di Selatan Nias. Hal ini jelas nampak pada waktu penempatan kepala orang di kuburan di mana mereka mengatakan: (Inilah kepala) ‘yang akan membuatmu bangkit’. Praktek ini tidak diteruskan lagi sementara fungsi penanaman kepala orang dikuburan diganti dengan upacara fanano buno (penanaman bunga).”

Lompat Batu
Paragraf terakhir dari tulisan lepas “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” mengandung banyak informasi yang boleh jadi benar adanya. Informasi itu kurang-lebih: Börönadu nyaris kalah populer ketimbang Bawömataluo, Bawömataluo mudah diakses dunia luar, leluhur Bawömataluo berasal dari Börönadu, orang Bawömataluo cukup kreatif, orang Kristen seratus tahun lalu melarang tradisi memburu kepala, inisiasi seorang lelaki Nias dalam melompati batu, dahulu memburu kepala untuk menunjukkan kelakian dan membangun status. Kemudian ditarik kesimpulan “… Jadi, lompat batu yang menjadi ciri khas Nias sekarang ini sesungguhnya relatif baru dan hanya terdapat di sebagian kecil kampung di Nias….

Paragraf terakhir tersebut terkesan ‘sarat-muatan’. Paling tidak, ada dua hal dapat dijadikan wacana. Pertama, memburu kepala sebagai ‘bekal kubur’ (dalam judul tulisan lepas) atau ‘menunjukkan kelakian dan membangun status’ (dalam paragraf terakhir)? Paragraf terakhir ini mengingkari judulnya dan relatif sulit ditelusuri hubungannya dengan kisah Awuwukha.

Kedua, uraian perihal lompat batu relatif terbatas sehingga sulit dipahami hubungan antara kesimpulan dan tema yang dipikul judul. Konon dahulu lompat batu merupakan latihan bagi para pemuda untuk dipersiapkan bila terjadi peperangan antar kampung (Manao, 1978; Zebua, 1981). Lompat batu juga merupakan syarat mutlak bagi anggota tim ekspedisi pengayauan, bahkan menjadi salah satu ritus dalam fondrakö wamunu niha (Hämmerle, 1995: 229-230).

Kembali ke Awuwukha sebagai ‘pemburu kepala’, menarik untuk diketahui pandangan emik (orang Nias) zaman sekarang atas mangai högö tempo doeloe. Para peneliti dapat menelusurinya di lapangan. Namun dialog singkat dua putra Nias, Yupiter Bago dan M.J. Daeli, dalam artikel Moyo (2007) di situs Yaahowu dapat dipakai sebagai cermin.

“Produk budaya megalitik Nias justru lebih banyak ditopang oleh tradisi sawuyu dan binu, ketimbang tradisi gotong royong. Banyak Omo Sebua, misalnya, didirikan dengan tenaga sawuyu, menyembelih sawuyu, memenggal kepala ‘kepala tukang’-nya, bahkan menyajikan beberapa butir kepala (binu zimate) yang didapatkan lewat ekspedisi ‘moi badano’ ke banua (kampung) lain. Monumen batu produk pesta owasa, untuk mencapai derajad balugu misalnya, juga disertai binu. Bahkan ada pula tradisi ‘binu nono nihalo’ dalam kehidupan leluhur orang Nias.” (Yupiter Bago, 1-6-2007).

“Mengenai tradisi ‘sawuyu dan binu’ budaya megalitik Nias, yang diangkat oleh Sdr. Yupiter Bago, saya anggap hanya untuk mengingatkan sejarah budaya dan penegasan bahwa hal itu tidak sesuai era religi dan hak azasi manusia. Saya percaya tradisi sawuyu dan binu sudah lama lenyap di bumi Nias. Sdr. Yupiter Bago marilah kira berusaha dengan talenta kita masing-masing untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya Ono Niha yang bersemangat ‘membangun bersama’.” (M.J. Daeli, 2-6-2007).

Bacaan

  1. Anitei, Stefan, The Island of the Head Hunters, Sofpedia, September 2007
  2. Cole, Mabel Cook, The Island of Nias at the Edge of the World, The National Geographic Magazine, August 1931.
  3. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  4. Hämmerle, Johannes M., Hikaya Nadu, Yayasan Pusaka Nias, 1995
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Harefa, Faogöli, Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  7. Laiya, Bambowo, Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1980
  8. Manao, Hekinus B., Nias, Album Budaya yang Harus Dibuka Lebih Lebar, Suara Karya, Juni 1978
  9. Masashi, Hirosue, European Travelers and Local Informants in the Making of the Image of “Cannibalism” in North Sumatra, The Memoirs of the Toyo Bunko 63 (41-64), 2005
  10. Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, 1994
  11. Moyo, Perlu Budi Daya Alam di Nias, http://niasonline.net/2007/05/29/perlu-budi-daya-alam-di-nias/, 2007
  12. Sonjaya, Jajang A., Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias, Kanisius, 2008
  13. Sonjaya, Jajang A., Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur, http://jasonjaya.blogspot.com/2008_04_17_archive.html, 2008
  14. Thomsen, M.G.Th., Famareso Ngawalö Huku Föna Awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) ba Danö Nias, BNKP, 1976
  15. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  16. Zebua, Victor, Hombo Batu Pesona Nias Lambang Kegagahan dan Romantika Perang, Minggu Pagi, Mei 1981.
  17. Zebua, Victor, Ho Jendela Nias Kuno Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Pustaka Pelajar, 2006

*Penulisan famaoso dola yang lazim adalah famaoso döla (dari kata ‘töla‘ yang mengalami mutasi awal menjadi döla).

Tags:

28 Responses to “Kisah Awuwukha Pemburu Kepala”

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

  1. 11
    Redaksi Says:

    Bapak J.A. Sonjaya yang baik,

    Terima kasih atas respons positif Bapak atas permohonan Situs Yaahowu untuk suatu wawancara. Undangan tersebut kami kirimkan ke ketiga alamat email yang Bapak cantumkan di blog Bapak. Apa pun yang terjadi atas email tersebut, kami gembira bahwa Bapak menyambut undangan kami secara positif.

    Karena kendala waktu akhir-akhir ini, kami sendiri tidak tahu kapan wawancara itu dapat kami realisasikan.

    Yang menggembirakan kami adalah kesedian Bapak untuk menjawab kembali berbagai tanggapan atas karya-karya Bapak tentang Nias. Semoga keterbukaan Bapak semakin mengintensifkan komunikasi kita selanjutnya, sekurang-kurangnya melalui situs ini. Kami banyak belajar dari karya-karya Bapak, dan semoga Bapak melihat berbagai tanggapan yang telah dan akan muncul di situs ini sebagai pendorong semangat riset Bapak.

    Salam,

    Redaksi

  2. 12
    J. A. Sonjaya Says:

    Redaksi ya’ahowu yang baik,
    Saya senang, akhirnya ada kata sepakat di antara kita untuk saling belajar. Itu yang penting bagi kita sekarang untuk modal melihat dan berbuat sesuatu pada Nias ke depan. Saya pun banyak belajar dari situs ini dan situs-situs tentang Nias yang lain. Selain tampilannya keren, juga beberapa tulisan yang ditampilkan cukup dalam dan menyentuh aspek kemanusiaan kita.
    Semoga selalu sukses.
    Salam,
    J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

  3. 13
    Victor Zebua Says:

    Kehadiran Bang Bendris Tazuno (Ama Tanida) mengingatkan saya pada ‘diskusi budaya Nias’ yang senantiasa mewarnai kiprah kita para redaktur setiap menerbitkan “Ngenu-ngenu Dödö”. Itu terjadi lebih satu generasi yang lalu, dan berlangsung selama delapan tahun di Yogya. Salam hangat juga! Dan salam buat teman-teman ‘purnawirawan’ redaktur. Ya’ahowu!

    Ama Angelin

  4. 14
    J. A. Sonjaya Says:

    Ama Angelin yang terhormat,
    Mendengar cerita Bapak tentang diskusi-diskusi budaya Nias yang pernah dilakukan “dari Jogja” makin menggelitik niat saya untuk bertemu Bapak. Sudah sejak lama ingin saya lakukan. Jika Bapak sedang di Jogja, mohon memberitahu saya. Demikian jika saya sedang ada acara ke Purworejo(Bapak masih bertugas di Purworwjo kan?), saya usahakan untuk mampir. Saya ingin belajar langsung dari Bapak, bukan sekedar dari buku dan tulisan-tulisan Bapak.

    Salam,
    J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

  5. 15
    Victor Zebua Says:

    Pak J.A. Sonjaya Yth,

    Sedikit cerita dibalik tulisan saya. Pertama kali saya dengar ‘legenda Tödö Hia’ dari Bapak B. Laiya (Ama Juang), ketika komunitas diskusi kami ditraktir beliau di Malioboro. Beberapa waktu kemudian buku beliau terbit, di dalamnya ada legenda itu. Saya mencapai pemahaman ‘kolektif pendukung legenda Tödö Hia’ karena ditopang kegiatan mendengar dan membaca, baik ‘katanya Ama Juang dan tulisan beliau’ maupun ‘katanya orang lain dan tulisan orang lain’. Varian legenda Tödö Hia saya dengar dari informan yang bahkan tidak pernah ke Nias. Tentu daya intelektual saya berproses mencerna data dari luar, hasilnya ada di artikel “Tödö Hia Walangi Adu” di situs ini.

    Bapak ingin “triangulasi” berdasarkan observasi sendiri. Itu niat yang baik. Namun menghadapi folklor (tradisi lisan) tentu kita bertumpu pada “katanya orang lain”, minimal katanya informan. Meski telah diterbitkan berbentuk cetakan atau rekaman, suatu folklor tak berhenti menjadi folklor. Dia tetap ‘kata orang lain’ yang berasal dari peredaran lisan.

    Agak kuatir juga jika kita bertemu, bukankah Bapak akan mendengar sesuatu dari “katanya orang lain”? Hemat saya, pertemuan itu akan terwujud untuk merajut tali silahturahmi dan berbagi pengalaman. Ya’ahowu!

    Ama Angelin

  6. 16
    Mathias J. Daeli Says:

    Ya’ahowu fefu !

    Saya baru dapat aktif mengikuti diskusi ini.

    Saya menghargai semangat J. A. Sonjaya, menulis tentang budaya Nias. Bukan semata-mata karena saya berasal dari Suku Nias, melainkan karena masalah kebudayaan dan perdaban umat manusia, serta kesadaran pada tujuan ilmu pengetahuan. Dalam sosiologi pengetahuan, peneliti harus mampu melihat pengetahuan dalam struktur kesadaran individual dan bisa membedakan antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kejadian yang menjadikan suatu kenyataan menjadi kurang lebih diungkapkan, sedangkan kesadaran menjadikan saya lebih mengenal diri sendiri yang sedang berhadapan dengan kenyataan tertentu itu. Pengetahuan lebih berurusan antara subjek dengan objek yang berbeda dengan diri sendiri, sedangkan kesadaran lebih berurusan dengan subjek yang sedang mengetahui dirinya sendiri (Peter L. Berger). Dengan usaha itu seorang peneliti sosial mampu masuk dalam upaya membangun teori sosiologi yang relevan dengan konteks sosial yang sedang diteliti. Sehingga ilmu bukan hanya demi ilmu atau ilmu di menara gading.

    Juga tidak kurang penghargaan saya kepada para komentator terhadap topik ini, khususnya kepada Victor Zebua (Ama Angelin) yang dengan tajam dan bersifat konstruktif menyampaikan saran dan pendapat. Komentar itu, menurut saya, cukup sebagai bahan renungan semua pihak.

    Tanggapan balik dari J.A. Sonjaya (Ama Robi Hia) atas komentar itu, juga menurut saya, menggelitik dan memerlukan rekflektif yang tinggi. Bagian dari tanggapan yang menggelitik itu adalah sebagai berikut:

    Jadi, tulisan-tulisan dan buku saya tentang Nias hanyalah dongeng yang dituturkan oleh seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang Nias yang diharapkan mampu menggelitik orang Nias utnuk berpikir ulang lalu terdorong untuk memahami budayanya. Karena yang tahu banyak adalah mereka. Impian saya berikutnya adalah mereka mau berbuat sesuatu untuk Nias, bukannya bertengkar dan saling menjatuhkan karena mempertahankan “keakuan” yang berlebihan“. (garis bawah dari penulis).

    Nampak, kalau hanya dilihat sepintas dari tanggapan itu, J. A. Sonjaya (Ama Robi Haia) tujuannya baik. Namun kalau disimak lebih dalam yang tersurat maupun yang tersirat, sesuatu yang berlebihan.

    Secara berpikir positif, kita percaya bahwa J. A. Sonjaya tidak bermaksud gengsi-gengsian dalam menulis tentang Nias yang meskipun tidak tahu apa-apa tentang Nias (pengakuan J. A Sonjaya). Saya kira juga tidak dengan tujuan angka kredit, apalagi bukan tujuan komersial. Tetapi harapan J. A. Sonjaya yang tersurat dalam kalimat: “Impian saya berikutnya mereka (maksudnya orang Nias) mau berbuat untuk Nias” sungguh tidak terkirakan keluar dari seorang peneliti. Nasihat seperti itu biasanya keluar dari orang tua-tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tetapi baiklah, sekali lagi berpikir positif dan bertanya: Apakah Sonjaya telah melakukan penelitian terhadap budaya asal muasal sendiri ?

    Saya bukan peneliti, tetapi saya percaya J. A. Sonjaya memahami benar bahwa peneliti budaya seharusnya memusatkan perhatian pada struktur dunia akal sehat (common-sense world). Di mana kenyataan sosial didekati dalam pelbagai pendekatan seperti : mitologis, yang irasional, pendekatan filosofis yang bercorak moralitas, pendekatan praktis yang bersifat fungsional. Semua jenis pengetahuan itu membangun struktur dunia akal sehat. Dilakukan meliputi aspek: kognitif, psiko-motoris, emosional, dan intuitif. Dan, seharusnya cara pendekatan seperti itu yang ditempuh sebelum menyimpulkan tentang dunia kehidupan (life world) manusia, seperti mengenai : mangai binu, mau benar sendiri , suka bertengkar, saling menjatuhkan, mengenai lompat batu, dan sebagainya dalam budaya Nias yang tersimpul dalam tulisan J. A. Sonjaya.

    Jadi lumrah seorang peneliti harus berusaha menghindari subjektivitas dalam meneliti dunia kehidupan (life world) masyarakat manusia. Karena peneliti adalah manusia tidak dapat lepas- murni dari emosi dengan kelompoknya. Ini salah satu alasan kalau orang bijak mengatakan bahwa termasuk pertanyaan yang paling sulit dijawab : Siapa saya ? Kita semua harus menyadari bahwa pengetahuan mengenai kemasyarakatan itu bersifat kompleks, selektif, dan aspektual. Dikatakan aspektual karena: inderawi, intelektif, perseptif, reflesif, diskursif, intuitif, induktif, deduktif, kontemplatif, spekulatif, praktis, dan sinergis (lihat : Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality). Tetapi tidak menutup kemungkinan orang Nias melakukan penelitian terhadap budaya sendiri. Do’akan ! Tantangan bagi peneliti orang Nias.

    Kemudian dari lanjutan kalimat harapan diatas, oleh J. A. Sonjaya melengkapi dengan kalimat yang merupakan tujuan lain “bukannya bertengkar dan saling menjatuhkan karena mempertahankan “keakuan” yang berlebihan“. Juga berlebihan. Pernyataan vulgar seperti itu tidak biasanya keluar dari seorang ilmuwan/peneliti dalam tanggungjawab sosialnya kepada masyarakat yang ditelitinya.

    Apakah benar atau tidak benar, dan lebih-lebih kalau tidak benar, pernyataan seperti itu dapat memancing emosi yang tidak perlu. Tidak tahu apa-apa tentang Nias, tetapi membuat kesimpulan umum tentang orang Nias. Saya kira J. A. Sonjaya sependapat dengan saya bahwa pengetahuan (memahami ?) sekitar Bõrõnadu tidaklah cukup untuk memahami seluruh budaya, sikap hidup masyarakat Nias.
    Semoga bermanfaat untuk perenungan.

    Jakarta, 1 Juni 2008

    Mathias J. Daeli
    (Ama Ugi)

  7. 17
    Ama Bram Says:

    Sejalan artikel Pak Victor, (ekspedisi) pengayauan dlm li Nono Niha: möi ba danö, mofanö ba danö, möi emali, mangai högö, fa’emali, mangai högö. Jadi istilah ‘mangani binu’ yg ditulis Pak Sonjaya tidak tepat! Di komen 6 sudah diralat, menurut Pak Sonjaya ‘seharusnya mangai binu’, alasan Pak Sonjaya: “saya memiliki keterbatasan dalam hal bahasa, sehingga banyak kesalahan penulisan dalam tulisan saya.”

    Istilah ‘mangai binu’ versi Pak Sonjaya (sebagai ralat dr ‘mangani binu’) rasanya pun kurang pas, karna istilah ini kurang lazim dlm kegiatan pengayauan di Nias tempo doeloe. Sy ragu apa memang ‘kesalahan penulisan’ (salah ketik?). Atau, apa bukan karna kesalahan konseptual mencerna keterangan informan?

    Kata ‘mangani’ ada dlm li Nono Niha, artinya: mengikat erat-erat, menyimpan. Dugaan sy, informan memang memberi istilah ‘mangani binu’, yg bermakna ‘mengikat erat-erat binu’ atau ‘menyimpan binu’. Namun Pak Sonjaya menangkapnya sebagai ‘ekspedisi pengayauan’, jadinya rancu deh. Sy sependapat, perlu triangulasi termasuk dlm kualitas komunikasi dan pemilihan kata.

  8. 18
    eh Says:

    Istilah “möi ba danö, mofanö ba danö, möi emali, mangai högö, fa’emali, mangai högö” barangkali tidak pernah (atau jarang) dipakai oleh para pengayau itu, atau orang-orang yang tahu gerak-gerak mereka. Istilah-istilah itu dipakai oleh pihak lain dalam konteks yang umum saja.

    Dulu, seingat saya, kalau seseorang atau beberapa orang pergi untuk tujuan itu … mereka pergi diam-diam. Tetapi nanti ketahuan juga, karena orang jadi bertanya-tanya, setelah tuada berhari-hari tidak muncul: Hezo mõi duada ? Dan ada saja yang berbisik: “No mõi milo duada” …

    Milo .. ini adalah istilah yang umum dipakai dan searti dengan ‘pergi ke ladang atau ke kebun’. Nah, ‘milo’ dipakai juga untuk aktivitas yang mengerikan ini … barangkali untuk memperhalus. Siapa sih yang tak ngeri dengan fangai hõgô ? Orang yang ikut berkomentar itu tidaklah mau ‘memprovokasi’ sang tuada atau orang-orang yang ‘seprofesi’ dengannya dengan istilah-isitilah yang serem di atas 🙂

    ***
    Mõi emali … “mõi” di sini bisa berarti ‘tobali’ atau ‘menjadi’. Jadi mõi emali berarti: menjadi pengayau, bukan ‘milo’. Jadi pemuda yang dikader tuada tadi, kalau menjadi pengayau juga, dikatakan: ‘mõi emali’ – menjadi generasi penerus.

    Jadi ‘mõi’ dalam penggalan kalimat ‘mõi emali’ searti dengan ‘mõi’ dalam contoh-contoh berikut: “mõi fangoayania” (menjadi ejekan baginya), “mõi famaraou dõdõ” (menjadi pendorong semangat).

    ***
    “Fa’emali”, kalau tak salah, dan perlu generasi muda meneliti lebih jauh tentang ini, adalah salah satu jenis permainan anak-anak, termasuk anak laki-laki dewasa di Nias. Fa’emali adalah permainan antara kelompok, masing-masing kelompok berusaha menawan sebanyak-banyaknya anggota kelompok lain, sambil berusaha agar anggota kelompoknya tidak menjadi korban.

    Permainan fa’emali tentulah berkaitan dengan kisah-kisah di depan, menjadi semacam latihan dan pengenalan kepada generasi muda … supaya kalau mereka sudah dewasa, mereka sudah tahu bagaimana itu perseteruan antara kelompok yang dulu merupakan hal yang biasa saja.

    ***
    Saya belum pernah mendengar kata ‘mangani’ kecuali dari tulisan Sonjaya, jadi saya tidak bisa memberikan pendapat.

    Salam,

    eh

  9. 19
    Ama Bram Says:

    Pak EH, dari uraian di atas saya tangkap makna ganda ‘mõi’.
    1. mõi = pergi (merujuk: No mõi milo duada)
    2. mõi = menjadi (merujuk: mõi fangoayania ; mõi famaraou dõdõ}

    Untunglah ada frase ‘Mõi emali … “mõi” di sini bisa berarti…’, khususnya kata ‘bisa berarti’, saya melihatnya alternatif tafsir dr ‘mõi emali’. Penafsiran tsb sah saja, meski hasilnya jadi lain.

    Yg ‘mencuri’ perhatian (utk diskusi lebih lanjut) kata yg dipasangkan dgn “mõi”. Kesan awal, ada pembandingan yg tidak paralel, kecuali bila istilah utk butir 2 adalah ‘mõi fa’emali’ (paralel fangoaya dan famaraou). Di sini bisa muncul diskusi seputar imbuhan ‘fa’ (fa-).

    Hemat saya, kunci ada di kata yg digandeng ‘mõi’. Emali (yg digandeng ‘mõi’ itu) sendiri jenis kata apa? (verba?, nomina?) Kalau dimaknai ‘mengayau’ {setara ‘milo’), ikut butir 1. Bila dimaknai ‘pengayau’, ikut butir 2. Andaikan yg digandeng ‘mõi’ bukan ’emali’, tapi ‘ba danõ’ atau ‘ba Meda’ atau ‘ga ba nowi’ misalnya, apakah ‘mõi’ bisa berarti ‘tobali’? 🙂

    Lebih jauh, saya setuju pernyataan Pak EH, ‘Istilah “möi ba danö, mofanö ba danö, möi emali, mangai högö, fa’emali, mangai högö” barangkali tidak pernah (atau jarang) dipakai oleh para pengayau itu, atau orang-orang yang tahu gerak-gerak mereka…’, sepanjang pernyataan tsb mengandung kata ‘barangkali’.

    Ceritanya sih ketika (sekelompok) orang ‘pergi’ mangai högö (ada yg bilang ‘mangai gazuzu’) sang pemimpin melepas mereka dgn berseru, “Ba mi’ofanö sa’ae ba danö!”

  10. 20
    eh Says:

    Pak AB,

    Setahu saya emali adalah kata benda. Môi emali paralel dengan môi saradadu, môi fa’emali paralel dengan môi faguru, fabola, fatundraha, dst.

    Emali juga searti dengan udu (musuh).

    salam,
    eh

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930