Kisah Awuwukha Pemburu Kepala

Saturday, April 26, 2008
By nias

Victor Zebua

Lima generasi yang silam di Börönadu hidup seorang pemberani bernama Awuwukha. Dia berhasil membawa pulang belasan kepala manusia. Usaha para musuhnya balas-dendam membunuh Awuwukha tidak pernah berhasil. Hal tersebut mengangkat status Awuwukha di mata orang-orang kampung sebagai emali (pemburu kepala).

Demikian secuplik kisah Awuwukha dalam tulisan lepas Jajang A. Sonjaya di blognya. Tulisan lepas itu berjudul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, mengacu bab “Mangani Binu: Tradisi Memburu Kepala” di buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” (Sonjaya, 2008). Selanjutnya diceritakan titah Awuwukha di masa tuanya.

“… Awuwukha mengajukan permintaan pada anak-anaknya, bahwa jika ia meninggal nanti, ia minta ditemani oleh lima orang. Seorang untuk menyiapkan minum, seorang untuk membuat sirih pinang, seorang untuk meladeni makanan, seorang untuk menjaga, dan seorang lagi sebagai tukang pijat. Permintaan itu ditutup oleh Awuwukha dengan mengerik kuku jempolnya menggunakan pisau (ono nekhe). Itu berarti bahwa permintaannya harus dipenuhi oleh anak-anaknya. Itu berarti si anak harus mencari lima kepala untuk bekal kubur ayahnya yang disebut binu.”

Isi kutipan di atas mungkin menuntun penulisnya memilih judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”. Elemen ‘bekal kubur’ dalam judul itu teringkari sendiri oleh kisah Awuwukha di episode ‘membawa pulang belasan kepala manusia’ sebagai perolehan balas-dendam karena rumah ibu Awuwukha sebelumnya dibakar oleh pemilik kepala itu. Artinya, binu sesungguhnya tidak hanya untuk tujuan eskatologis semata, juga untuk hasrat manusia di alam fana ini.

Sulayman melaporkan bahwa tahun 851 pengayauan terkait prasyarat kawin pria Nias (Fries, 1919: 53; Cole, 1931: 201; Hämmerle, 2001:14). Binu perlu untuk bangunan rumah, gelar bangsawan, atau penyambutan pengantin putri (Zebua 2006: 105). Binu juga perlu bagi salawa (kepala kampung) atau bangsawan yang mengadakan owasa (pesta jasa), sebagaimana ditulis Harefa (1939: 89) berikut.

“Pada zaman poelau Nias itoe tidak dibawah Perintah Goebernemen, ia menjoeroeh orang mengajau [mengambil kepala] pihak moesoehnja. Orang jang pergi mentjahari kepala itoe, diseboet sanocho dan kepala jang didapatnja itoe diseboet binoe. Binoe setelah dapat ditanamkan dekat batoe kehormatannja [Gowe Zalawa] dimoeka roemah.”

Mangai Högö
Pengayauan disebut mangani binu oleh Sonjaya, namun banyak orang Nias mengenalnya möi ba danö alias mofanö ba danö alias möi emali alias mangai högö. Istilah lainnya fa’emali, yaitu ‘memenggal kepala (mangai högö) antara yang tidak sepuak’ (Zebua, 1996: 10). Seribu tahun yang silam hati para saudagar Arab ciut saat mendengar kebiasaan mangai högö ini, sehingga mereka tunggang-langgang meninggalkan daratan Nias kembali ke kapalnya (Anitei: 2007).

Di lain pihak, acapkali orang menafsirkan bahwa orang Nias kuno antropofag (pemakan orang). Misalnya Masashi (2005: 43) menulis “In the tenth century, Ajä’ib al-Hind described the people between Fansur (present day Barus) and Lambri and those in Kedah and the island of Nias as cannibals.” Namun, berdasar tulisan Schröder, Hämmerle (2001: 15) berkesimpulan bahwa orang-orang Nias memang memenggal kepala orang, tetapi tidak memakan orang.

Praktek mangai högö terjadi pada zaman Nias kuno, berlangsung hingga kedatangan misionaris Jerman ke Nias (Laiya, 1980: 16). Hal itu dilakukan para pihak yang kuat secara finansial, karena berkaitan dengan owasa yang mahal. Judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” terasa kurang pas bila tidak dipahami dalam konteks ‘tempo doeloe’ dan ‘orang Nias tertentu’. Yang dapat diterima secara historis adalah elemen ‘memburu kepala’. Efek generalisasi dan bias informasi dari tulisan lepas Sonjaya bisa timbul akibat pemilihan judul yang kurang pas.

Kisah Awuwukha di tulisan lepas, mungkin karena silaf, telah kehilangan sebuah ‘kalimat kunci’ sehingga potensial mengganggu pemahaman pembacanya. Di buku sumber tertulis kalimat “Cerita tersebut bisa jadi telah mengalami distorsi hingga jauh dari kenyataannya.” (Sonjaya 2008: 68). Di tulisan lepas kalimat tersebut tak dijumpai. Kalimat itu merupakan pengakuan bahwa validitas kisah Awuwukha perlu ditingkatkan. Pembaca tulisan lepas yang tidak membaca buku sumber bisa bias menilai kisah Awuwukha.

Untuk meningkatkan validitas kisah Awuwukha agaknya daya triangulasi perlu optimal digarap. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan yang memanfaatkan hal lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu (Moleong, 1994: 178). Kisah Awuwukha didapat dari ‘ingatan beberapa orang saja dari generasi tua di Börönadu’ (Sonjaya, 2008: 68). Artinya, masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’ didapat dari ingatan informan. Mengapa data tersebut tidak dikonfirmasi pada sura nga’ötö (silsilah keluarga)?

Contoh ini diangkat karena dengan memeriksa sura nga’ötö, 32 tahun lalu Thomsen (1976: 40) berhasil mengidentifikasi masa hidup Awuwukha ‘enam generasi sebelumnya’. Dihitung sekarang, Awuwukha versi Thomsen hidup bukan lima generasi, tapi tujuh generasi yang silam.

Selanjutnya ‘batu-uji’ kisah Awuwukha adalah mengetahui ‘kisah di balik berita’ dari titah Awuwukha meminta binu saat kematiannya. Apa makna binu sebagai bekal kubur? Benarkah binu untuk menyiapkan minum, membuat sirih pinang, meladeni makanan, menjaga, dan menjadi tukang pijat Awuwukha di alam baka? Maka sampailah peneliti pada eskatologi Nias. Sebagai triangulasi, Laiya (1980: 56) menulis satu versi eskatologi Nias.

“Ada satu bagian dari upacara penguburan zaman lampau yang telah ditinggalkan kini yaitu famaoso dola* (pengangkatan tulang-tulang kembali). Upacara ini biasanya berlaku bagi kaum bangsawan. Kepala orang yang diambil waktu expedisi pengayauan dari daerah lain akan ditempatkan di kuburan bangsawan itu pada saat famaoso dola. Upacara ini menggambarkan pandangan eskatologi suku Nias. Ada pandangan di Nias yang mengharapkan bahwa orang mati itu akan bangkit kembali atau akan terjadi kelahiran kembali. Pandangan ini tidak hanya hidup di bagian Tengah Nias – seperti yang dicatat oleh Suzuki, tetapi juga di Selatan Nias. Hal ini jelas nampak pada waktu penempatan kepala orang di kuburan di mana mereka mengatakan: (Inilah kepala) ‘yang akan membuatmu bangkit’. Praktek ini tidak diteruskan lagi sementara fungsi penanaman kepala orang dikuburan diganti dengan upacara fanano buno (penanaman bunga).”

Lompat Batu
Paragraf terakhir dari tulisan lepas “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” mengandung banyak informasi yang boleh jadi benar adanya. Informasi itu kurang-lebih: Börönadu nyaris kalah populer ketimbang Bawömataluo, Bawömataluo mudah diakses dunia luar, leluhur Bawömataluo berasal dari Börönadu, orang Bawömataluo cukup kreatif, orang Kristen seratus tahun lalu melarang tradisi memburu kepala, inisiasi seorang lelaki Nias dalam melompati batu, dahulu memburu kepala untuk menunjukkan kelakian dan membangun status. Kemudian ditarik kesimpulan “… Jadi, lompat batu yang menjadi ciri khas Nias sekarang ini sesungguhnya relatif baru dan hanya terdapat di sebagian kecil kampung di Nias….

Paragraf terakhir tersebut terkesan ‘sarat-muatan’. Paling tidak, ada dua hal dapat dijadikan wacana. Pertama, memburu kepala sebagai ‘bekal kubur’ (dalam judul tulisan lepas) atau ‘menunjukkan kelakian dan membangun status’ (dalam paragraf terakhir)? Paragraf terakhir ini mengingkari judulnya dan relatif sulit ditelusuri hubungannya dengan kisah Awuwukha.

Kedua, uraian perihal lompat batu relatif terbatas sehingga sulit dipahami hubungan antara kesimpulan dan tema yang dipikul judul. Konon dahulu lompat batu merupakan latihan bagi para pemuda untuk dipersiapkan bila terjadi peperangan antar kampung (Manao, 1978; Zebua, 1981). Lompat batu juga merupakan syarat mutlak bagi anggota tim ekspedisi pengayauan, bahkan menjadi salah satu ritus dalam fondrakö wamunu niha (Hämmerle, 1995: 229-230).

Kembali ke Awuwukha sebagai ‘pemburu kepala’, menarik untuk diketahui pandangan emik (orang Nias) zaman sekarang atas mangai högö tempo doeloe. Para peneliti dapat menelusurinya di lapangan. Namun dialog singkat dua putra Nias, Yupiter Bago dan M.J. Daeli, dalam artikel Moyo (2007) di situs Yaahowu dapat dipakai sebagai cermin.

“Produk budaya megalitik Nias justru lebih banyak ditopang oleh tradisi sawuyu dan binu, ketimbang tradisi gotong royong. Banyak Omo Sebua, misalnya, didirikan dengan tenaga sawuyu, menyembelih sawuyu, memenggal kepala ‘kepala tukang’-nya, bahkan menyajikan beberapa butir kepala (binu zimate) yang didapatkan lewat ekspedisi ‘moi badano’ ke banua (kampung) lain. Monumen batu produk pesta owasa, untuk mencapai derajad balugu misalnya, juga disertai binu. Bahkan ada pula tradisi ‘binu nono nihalo’ dalam kehidupan leluhur orang Nias.” (Yupiter Bago, 1-6-2007).

“Mengenai tradisi ‘sawuyu dan binu’ budaya megalitik Nias, yang diangkat oleh Sdr. Yupiter Bago, saya anggap hanya untuk mengingatkan sejarah budaya dan penegasan bahwa hal itu tidak sesuai era religi dan hak azasi manusia. Saya percaya tradisi sawuyu dan binu sudah lama lenyap di bumi Nias. Sdr. Yupiter Bago marilah kira berusaha dengan talenta kita masing-masing untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya Ono Niha yang bersemangat ‘membangun bersama’.” (M.J. Daeli, 2-6-2007).

Bacaan

  1. Anitei, Stefan, The Island of the Head Hunters, Sofpedia, September 2007
  2. Cole, Mabel Cook, The Island of Nias at the Edge of the World, The National Geographic Magazine, August 1931.
  3. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  4. Hämmerle, Johannes M., Hikaya Nadu, Yayasan Pusaka Nias, 1995
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Harefa, Faogöli, Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  7. Laiya, Bambowo, Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1980
  8. Manao, Hekinus B., Nias, Album Budaya yang Harus Dibuka Lebih Lebar, Suara Karya, Juni 1978
  9. Masashi, Hirosue, European Travelers and Local Informants in the Making of the Image of “Cannibalism” in North Sumatra, The Memoirs of the Toyo Bunko 63 (41-64), 2005
  10. Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, 1994
  11. Moyo, Perlu Budi Daya Alam di Nias, http://niasonline.net/2007/05/29/perlu-budi-daya-alam-di-nias/, 2007
  12. Sonjaya, Jajang A., Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias, Kanisius, 2008
  13. Sonjaya, Jajang A., Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur, http://jasonjaya.blogspot.com/2008_04_17_archive.html, 2008
  14. Thomsen, M.G.Th., Famareso Ngawalö Huku Föna Awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) ba Danö Nias, BNKP, 1976
  15. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  16. Zebua, Victor, Hombo Batu Pesona Nias Lambang Kegagahan dan Romantika Perang, Minggu Pagi, Mei 1981.
  17. Zebua, Victor, Ho Jendela Nias Kuno Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Pustaka Pelajar, 2006

*Penulisan famaoso dola yang lazim adalah famaoso döla (dari kata ‘töla‘ yang mengalami mutasi awal menjadi döla).

Tags:

28 Responses to “Kisah Awuwukha Pemburu Kepala”

Pages: [1] 2 3 » Show All

  1. 1
    otomend Says:

    Saya sependapat penelitian Jajang A. Sonjaya ini dilakukan pembandingan [triangulasi]. Tentang eskatologi Nias yg dicontohkan, tepat Pak Victor menulis “satu versi eskatologi Nias”. Mungkin versi Pak Laiya tsb disesuaikan medan penelitian Pak Sonjaya [Börönadu]. Sebab ada versi lain [misalnya bicara soal: boto, eheha, noso, lumölumö, bekhu].

  2. 2
    Sof Lase Says:

    JA Sonjaya: “Jadi, lompat batu yang menjadi ciri khas Nias sekarang ini sesungguhnya relatif baru dan hanya terdapat di sebagian kecil kampung di Nias”

    Konklusi yg didpt seorang arkelog dr premis-premis non-arkeologis. Sungguh mengagumkan… 🙂

  3. 3
    Laso Telaumbanua Says:

    Setahu sy usia muda megalitisme Nias pertama diteliti th 1968 oleh James Danajaya (antropolog). Waktu itu indikatornya “kapak batu neolitik” [menyitir Danajaya, tulis Arlette Ziegler “The Niha no longer have a megalithic culture”]. Dgn “perhitungan generasi pendiri megalit” th 1976 Martin Thomsen (dokter) menaksir umur megalitisme Nias tertua 500 th. Lalu th 2002 taksiarn Dominik Bonatz (arkeolog) sekitar 200 th. Taksir Bonatz pastinya lebih sebab dia ketemu megalit 12 genreasi yg lalu [300 th] di Onowaembo. Bila medan penelitian diperluas pula min spt Thomsen kemungkinan Bonatz ketemu megalit lebih tua.

    Terakhir kali th 2008 Agus Sonjaya (arkeolog) berpendapat “lompat batu sesungguhnya relatif baru”. Atas penelitian sebelumnya pendapat itu sesungguhnya bukan hal baru. Justru baru & mengagumkan [sekaligus mengagetkan] bahwa pendapat itu berdasar logika yg rada spekulatif [kurang didukung metode memadai].

  4. 4
    Santo_lase Says:

    Pertama saya memperkenalkan diri, Saya Santo_Lase,tinggal di Bogor. Jujur,….saya kagum dengan tampilan dan berita dari “SITUS YAAHOWU”.Karena selama ini, saya taunya niasisland.com,…luar biasa.Maklum saya orang yang Gaptek.

    Sedikit tentang LOMPAT BATU yang sedang di teliti di atas, bagi saya itu adalah bagian dari budaya…….Kalau ada yang meneliti bahwa itu relatif baru,…mungkin bagi kita sebagai putera daerah, bangga artinya peninggalan leluhur kita itu yg merupakan bagian budaya yang harus di jaga. Saya melihat,bukan ke penelitiannya tapi saya lebih ke berapa jauh budaya itu di lestarikan. Di teliti,…BAGUS untuk kepentingan SEJARAH, tapi jauh lebih dari itu, artinya bagaimana budaya itu (Lompat Batu) lebih lagi di kenal,…

    Tuhan Memberkati YAAHOWU

  5. 5
    Santo_lase Says:

    Maaf,…saya tinggal di bogor. Bagaimana caranya untuk menjadi KONTRIBUTOR di daerah tempst tinggal saya. Karna Kebetulan kita punya komunitas yang cukup banyak. Tolong confirm ke email saya, TQ

  6. 6
    J. A. Sonjaya Says:

    Ya’ahowu Pak Victor Zebua yang baik,

    Saya sungguh mengapresiasi dengan baik respon Bapak terhadap artikel saya. Semua kritik yang Bapak sampaikan benar adanya. Perlu saya sampaikan, bahwa tulisan saya tentang Nias (baik artikel maupun buku) dikemas secara reflektif sehingga sifatnya sangat subjektif bahkan mungkin intersubjektif. Dalam penelitia semacam ini tidak perlu menggunakan triangulasi karena yang dicari buka kebenaran melainkan pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati. Jadi jika ada tafsir lain terhadap data atau tafsir yang saya sampaikan, memang itu tujuan utama saya. Judul ORANG NIAS: MEREKA MEMBURU KEPALA UNTUK BEKAL KUBUR memang sengaja dibuat untuk memancing agar orang Nias lebih reflektif dalam melihat dan memahami budayanya. Karena dari sana justru akan muncul kecintaan, seperti yang dialami oleh saya sekarang. Saya begitu mencintai boronadu bersama warga dan budayanya. Saya selalu ingin kembali ke sana.

    Sebagai orang baru di Nias, saya memiliki keterbatasan dalam hal bahasa, sehingga banyak kesalahan penulisan dalam tulisan saya. Misalnya, mangani binu seharusnya mangai binu. Bahkan sebelum dikoreksi oleh Pastor Johannes dan Melkhior duha, saya menulis behu menjadi bekhu…. Ini tentu bahaya sekali. Tetapi semoga orang Nias bisa memaklumi dan tetap memahami esensi maksud saya menulis. Pak Agus Mendrofa mau mendukung saya untuk merevisi buku melacak batu.

    Demikian respon saya.

    Ya’ahowu!

    J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

    Catatan Redaksi:
    Pada bulan April Redaksi mengirim email berisi permohonan wawancara kepada Bapak JA Sonjaya, sebanyak 3 kali. Sampai sekarang belum ada jawaban atas email tersebut. Dengan ini Redaksi meminta konfirmasi apakah Bapak JA Sonjaya telah menerima email kami, dan kalau sudah, tanggapannya atas permohonan wawancara tersebut. (Redaksi).

  7. 7
    Victor Zebua Says:

    Pak Sonjaya Yth,

    Terimakasih atas apresiasinya. Sejauh yang saya tangkap, karya tulis Bapak adalah hasil penelitian di Nias yang tentu saja unsur subjektifnya perlu diminimalisir agar pembacanya (orang Nias maupun non Nias) mendapat gambaran tentang Nias yang mendekati kebenaran dan tak perlu melakukan triangulasi sendiri.

    Barangkali pemahaman kita tentang ‘refleksi’ agak berbeda. Seseorang yang ‘reaktif’ cenderung subjektif, namun bila ‘reflektif’ kadar objektifnya lebih besar. Dalam merespons buku dan tulisan lepas Bapak, saya justru melakukan reflesi dan triangulasi sehingga menghasilkan sebuah kritik yang tentunya untuk kebaikan bersama.

    Bila buku Bapak ingin direvisi, itu adalah niat yang baik sekali. Saya salut, dan salut juga buat Pak Agus Mendröfa yang mau mendukung Bapak. Salam saya buat Pak Mendröfa, saya bertemu beliau 30 tahun lalu di Bandung.

    Ya’ahowu,

    Victor Zebua
    (Ama Angelin)

  8. 8
    J. A. Sonjaya Says:

    Redaksi Ya,ahowu yang terhormat,

    Saya kaget mendengar Anda telah menghubungi saya via email, karena sampai saat ini saya belum merasa menerima email tersebut. Saya dengan senang hati bersedia diwawancara, silahkan bisa melalui HP: 08122775170; atau chatting via skype ID-nya: jasonjaya; atau email: j_sonjaya2000@yahoo.com

    Salam hormat,

    Ama Robi Hia

  9. 9
    J. A. Sonjaya Says:

    Pak Victor Zebua yang terhormat,

    Saya sudah berulangkali membaca buku Bapak yang berjudul Ho, Jendela Nias Kuno (mungkin 3 kali tamat, dan belasan kali untuk hal-hal tertentu). Buku tersebut sangat baik dan punya nilai lebih dibandingkan dengan 30-a buku lain tentang Nias yang sudah saya baca. Dari buku Bapak tersebut saya menjadi faham bahwa tradisi berpikir ilmiah kita berbeda. Ini bukan tentang benar dan salah, tetapi ini tentang perspektif dan konsistensi yang sesungguhnya tidak bisa dipertentangkan. Melihat dan memahami Nias tidak bisa dengan berpikir generalis karena di Nias lain kampung lain adat. Maka saya selama 2 tahun hanya fokus di Boronadu dan “menutup mata” dulu untuk bagian Nias yang lain. Makanya, saya sesungguhnya belum tahu apa-apa tentang Nias, saya hanya tahu sedikit tentang Boronadu.

    Jadi, tulisan-tulisan dan buku saya tentang Nias hanyalah dongeng yang dituturkan oleh seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang Nias yang diharapkan mampu menggelitik orang Nias utnuk berpikir ulang lalu terdorong untuk memahami budayanya. Karena yang tahu banyak adalah mereka. Impian saya berikutnya adalah mereka mau berbuat sesuatu untuk Nias, bukannya bertengkar dan saling menjatuhkan karena mempertahankan “keakuan” yang berlebihan.

    Perjalanan hidup saya di Nias baru saja dimulai. Setelah dari Boronadu, saya ingin melihat Nias yang lain karena ke Teluk Dalam pun saya belum pernah. Saya ingin “triangulasi” dilakukan berdasarkan observasi saya sendiri, bukan dari tulisan atau katanya orang lain, karena saya butuh pemahaman. Untuk paham, saya perlu tinggal lama di daerah yang saya amati.

    Saya sudah mendiskusikan ini dengan Melkhior Duha dan Nata’auli Duha. Semoga ada cendekiawan Nias lain yang mau menemani…dan ada orang yang baik hati mau mendukung perjalanan itu, Amiiin.
    Salam Bapak pada Pak Agus tentu akan saya sampaikan. Pertengahan Agustus saya ada rencana mengunjungi keluarga di Boronadu, saya tentu akan mampir ke Miga Beach-nya Pak Agus.

    Salam hormat,

    Ama Robi Hia

  10. 10
    Bendris Tazuno Says:

    Selamat berdiskusi Bapak-Bapak Yang Terkasih. Semoga hasil diskusi ini dapat menggugah kecintaan terhadap budaya Nias sehingga kita lebih memahaminya lagi. Salam hangat buat Pak Ama Angelin, Pak Ama Robi Hia, Pak Agus Mendröfa, dan Pak Edward Halawa. Ya’ahowu!

    Bendris Tazuno (Ama Tanida)

    Catatan: Komentar ini sempat tertahan di ‘ruang tunggu’ karena dicurigai sebagai ‘spam’, tanpa alasan yang jelas. Mohon maklum. Redaksi.

Pages: [1] 2 3 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930