Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian II)

Tuesday, December 4, 2007
By katitira

2. Tinjauan Secara Umum
Tulisan ini merupakan lanjutan dari Bagian Pertama, dimana titel mengalami sedikit perbaikan. Pada bagian 2. Tinjauan Secara Umum, penulis hendak memaparkan secara umum beberapa fakta menarik mengenai kondisi Kepulauan Nias. Oleh karena keterbatasan ruang, beberapa informasi visual dalam tulisan ini tidak ditampilkan langsung, melainkan diwakili oleh alamat situs internet yang berkaitan, demi menjaga integritas hak cipta pembuat gambar tersebut. Beberapa data visual dari buku ilmiah akan diinformasikan pula di sini.

Bila ditinjau secara keseluruhan, Indonesia berada dalam posisi wilayah dengan kondisi secara umum yang tidak menguntungkan (bdk. GTZ 2007:334). Selanjutnya, bila pandangan diarahkan ke posisi dan kondisi Kepulauan Nias, maka sudah sangat jelas terlihat bahwa keadaan ini tidak begitu strategis dan sangat tidak menguntungkan dalam segala bidang, sementara bidang ekonomi, kebijakan politik dan sosial-kemasyarakatan sebenarnya merupakan hal terpenting untuk mendukung kelanjutan kehidupan di Kepulauan ini.

Secara ekonomis, Kepulauan Nias sangat bergantung dari pulau luar untuk mengasupi kebutuhan primer dan sekundernya. Praktis aliran dana tidak selalu lama bertahan di wilayah ini, melainkan bergerak ke luar pulau dengan tingkat pembelanjaan yang sangat tinggi, misalnya anggaran belanja hidup sederhana dalam keseharian pasti selalu lebih tinggi (Duha & Telaumbanua 2002). Dunia bisnis berpusat di Gunungsitoli, Teluk Dalam dan Lahewa, namun tidak diimbangi dengan ketangguhan penduduk untuk menguasai sektor-sektor vital, melainkan dipegang oleh pendatang, baik sebagai badan tunggal maupun sebagai pemodal kuat. Wilayah ini menjadi bergantung sekali dengan fluktuasi pasaran yang ditetapkan secara otonom oleh penguasa pasar yang berada di tiga kota di atas. Usaha mengejar kemampuan bersaing dalam dunia perdagangan dengan kota-kota lain di Pulau Sumatera, sebagai pula terdekat dengan kepulauan ini, terlihat masih samar, sekalipun telah disuarakan oleh banyak pihak, yaitu dengan memproduksi bahan baku setengah jadi atau dengan memproses produk handalan lebih lanjut (Telaumbanua 2007).

Kebijakan politik yang sehubungan dengan keputusan untuk memberi perhatian lebih bagi perkembangan pembangunan di Kepulauan Nias terlihat sudah melewati berbagai tahap (Duha & Telaumbanua 2001 dan 2004) hingga masa kini di dalam kerangka rehabilitasi dan rekonstruksi (Telaumbanua 2007). Kebijakan ini bersifat dinamis, namun cenderung tidak stabil, karena semua kebijakan menjadi kompleks dan saling berkaitan, terutama setelah serentetan bencana alam menimpa wilayah Nias. Sebagai salah satu pulau terluar dari negara kepulauan Indonesia pun bila dibandingkan terhadap posisi negara-negara terdekat, penduduk Nias sudah cukup mapan, cukup banyak belajar dan mengalami bahwa sebuah kebijakan vital bagi penduduk di daerah ini menuntut perjalanan dan perjuangan yang tidak singkat serta tidak mudah.

Melalui pengamatan bertahun-tahun, kondisi sosial-kemasyarakatan di kepulauan Nias digambarkan oleh penulis yaitu sedang berada dalam situasi gerakan rollercoaster dan silakan pula dibandingkan dengan uraian Beatty (1992) dan Clinard (1964). Sebenarnya dengan meminjam peribahasa asli Indonesia, bahwa hidup itu seperti roda yang berjalan, namun kondisi sosial-kemasyarakatan Nias penulis visualisasikan dengan roda yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Perangkat sosial-kemasyarakatan dari penduduk asli, yang sepatutnya sudah jelas berkekuatan untuk mengatur secara mendasar kehidupan di kepulauan ini, sepertinya memperlihatkan gejala ketidakmapanan atau kemungkinan akan terbiaskan dengan berbagai pengaruh yang dari luar. Kondisi ini masih terus dikaji dan diamati, karena bukan tidak mungkin sebaliknya masyarakat di sana, bila suatu saat kelak menjadi jenuh, akan bergerak untuk melihat kualitas tatanan yang telah ada, demi mempertahankan diri dari ancaman bencana alam. Di titik inilah penulis hendak mengajak pembaca untuk mengungkap kualitas tatanan dalam masyarakat Ono Niha yang berhubungan dalam konteks kondisi alam wilayahnya.

Pada bagian selanjutnya, penulis akan menyampaikan tinjauan secara umum mengenai kepulauan Nias dari dimensi fakta geografis, fakta geologis, fakta sosial-kemasyarakatan, fakta sumber daya alam dan pemahaman penduduk akan situasi dan kondisi alam.(Noniawati Telaumbanua)

Literatur:

  1. Beatty, Andrew (1992): Society and Exchange in Nias, New York: Oxford University Press
  2. Clinard, Marshall B. (Editor)(1964): Anomie and deviant Behavior: A Discussion and Critique, London: Collier-Macmillan Limited
  3. Duha, Restu J. & Telaumbanua, N. (2001): Visi dan Misi Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Nias Periode 2001-2006, Gunungsitoli: PT. Bumindo Mitrajaya
  4. Duha, Restu J. & Telaumbanua, N. (2004): Prospektif dan Wacana Pemekaran Kabupaten Nias Menuju Pembentukan Propinsi Tanö Niha, Gunungsitoli: PT Bumindo Mitrajaya
  5. GTZ, Medienhandbuch Entwicklungspolitik 2006/2007 (Buku Pedoman Pengembangan Politik 2006/2007), Bonn: BMZ
  6. Telaumbanua, N. (2007): Dialog Masyarakat-Realita Dua Tahun Pasca Bencana Alam di Kepulauan Nias (Kasus Kota Gunung Sitoli), Seri Ono Niha Jilid III, Gunungsitoli: PT. Bumindo Mitrajaya

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31