Wawancara Dengan Dr. William P. Sabandar – (3)

Wednesday, December 5, 2007
By nias

Prasarana

Sesuai dengan keahlian yang dimiliki, Pak Willy telah berusaha membuat rencana pembangunan pada sektor infrastruktur transportasi. Bagaimana penjelasan Pak Willy mengenai peta ekonomi pedesaan di Nias yang mengilhami rencana tersebut? Penjelasan mengenai hal ini dibutuhkan dalam kaitannya dengan usaha menarik penanam modal.

Menurut kami hal paling penting untuk pengembangan perekonomian di Nias adalah transportasi. Seperti telah diketahui bersama, jaringan transportasi di Nias sangat buruk sehingga praktis tidak mendukung berkembangnya perekonomian dan investasi.

Masalah utama inilah yang kini sedang dibenahi, yaitu dengan perbaikan infrastruktur transportasi. Apa yang BRR kembangkan saat ini adalah: Pertama, menyiapkan hirarki sistem transportasi atau sistim transportasi berjenjang. Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana transportasi yang sentral atau strategis, seperti pelabuhan, bandara dan jalan-jalan-jalan utama keliling Pulau Nias (jalan propinsi).

Jalan Gunungsitoli ke arah Utara, November 2007

Jaringan infrastruktur yang baik ini tentu saja memberikan kemudahan bagi para pemilik modal untuk berusaha di Nias. Namun hal ini masih terkait dengan program ekonomi dan kebijakan pengembangan investasi lainnya. Untuk itu kami mengharapkan agar pemerintah daerah, apakah itu pada tingkat Sumatera atau Kabupaten Nias dan Nias Selatan dapat melengkapi atau mendorong proses ini.

Jalan, diambil dari bukit Laowömaru, Gunungsitoli, November 2007

Perumahan

Mengapa masih ada berbagai keluhan tentang lambatnya rekonstruksi rumah warga ?

Konsekuensi dari pendekatan pembangunan rumah berbasis masyarakat adalah membutuhkan waktu yang lebih lama. Hal ini berkaitan erat dengan faktor kesiapan masyarakat dan penyiapan sosial yang merupakan syarat pokok program pengembangan masyarakat.

Meskipun demikian, capaian pembangunan rumah hingga saat ini sulit dikatakan sebagai lambat. 12.000 unit rumah saat ini telah terbangun, dimana 8.000 di antaranya merupakan bantuan dari BRR. World Bank saat ini sedang menyelesaikan 5.000 unit rumah dan Canadian Red Cross sedang menyelesaikan 2.100 unit rumah di daerah Lahewa dan Afulu.

Rumah yang dibangun “pendekatan baru”,
kontrak langsung dengan masyarakat di Mandrehe

Total komitmen bantuan rumah, baik yang telah terbangun maupun saat ini sedang dalam proses pengerjaan mencapai hampir 20.000 unit rumah. Jumlah ini telah melebihi total rumah rusak total akibat gempa bumi 28 Maret 2005 sebagaimana data Satkorlak yang hanya sebanyak 16.000 unit rumah (beberapa lembaga lain, seperti BPS dan Bappenas bahkan melaporkan jumlah yang lebih sedikit).

Apa tindakan BRR terhadap pembangunan rumah-rumah yang salah sasaran (pendataan korban yang berbau KKN), pembangunan rumah yang tidak sesuai dengan spesifikasi, dan sebagainya ?

Melalaui Peraturan Kepala Badan Pelaksana BRR NAD-Nias mengenai mekanisme penanganan masalah dalam rangka penertiban pemberian bantuan perumahan, No. 41/PER/BP-BRR/IX/2007, antara lain mengatur kewenangan Komite Pelaksana Verifikasi dan Penertiban untuk mengklarifikasi berbagai masalah yang muncul. Beberapa cara bisa ditempuh, yaitu diberikan kepada yang berhak, pembayaran sejumlah dana pengganti sesuai dengan jumlah bantuan yang telah diterimanya atau mengembalikan dana bantuan yang diterima berupa dana tunai kepada kas negara.

Selain itu kebijakan community driven approach diharapkan juga dapat menyelesaikan permasalah dan mengatasi terjadinya KKN dalam program perumahan. Musyawarah di desa diadakan untuk antara lain memfasilitasi penyelesaian masalah-masalah yang ada.

BRR sendiri melaksanaan penindakan yang tegas untuk tindakan KKN yang dilaksanakan oleh petugas-ptugas BRR. Saat ini misalnya, sedang dilaksanakan proses peradilan di pengadilan Gunungsitoli terhadap staf BRR yang diduga KKN.

Sedangkan pembangunan rumah yang tidak sesuai spesifikasi, kebijakan BRR adalah tidak menerima bangunan rumah tersebut, dan tidak dilaksanakan pembayaran kepada kontraktor yang mengerjakan, hingga bangunan tersebut diperbaiki dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Salah satu rumah bantuan BRR di Gunungsitoli, November 2007

Mengapa BRR Nias terkesan lebih berfokus kepada projek perumahan yang walau pun sangat membantu namun menimbulkan berbagai kontroversi di lapangan ? Mengapa misalnya sebagian dana perumahan itu tidak dialokasikan untuk memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat di desa-desa ?

Pembangunan kembali perumahan penduduk yang hancur karena bencana tsunami dan gempa bumi adalah salah satu mandat utama rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias, dan karena itu harus dilaksanakan.

Kesan lebih fokus pada perumahan sebenarnya lebih disebabkan oleh fakta bahwa perumahan adalah salah satu jenis bantuan yang langsung menyentuh kebutuhan privat, sehingga orang lebih peduli. Kesan ini pun belakangan mulai berkurang, sejalan dengan perubahan kebijakan pada sektor perumahan.

(Bersambung)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31