Nias Tetap Terkucil

Saturday, November 10, 2007
By nias

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bupati Kabupaten Nias Binahati B Baeha mengatakan kepulauan Nias sampai saat ini masih terisolir dari dunia luar. “Di bagian barat Indonesia, Nias paling terisolir,” katanya di depan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat saat meresmikan Rumah Sakit Gunung Sitoli Kabupaten Nias, Jumat (09/11).

Akibat terisolir, ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Nias berjalan merangkak. Selain itu, derajat kesehatan masyarakat juga terus menurun. “Kita sudah merdeka 62 tahun tapi Nias tetap tertinggal,” katanya.

Pelaksana proyek bidang transportasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nangroe Aceh Darussalam dan Nias Poltak Gordon mengatakan saat ini hanya terdapat dua pintu masuk ke Pulau Nias. “Untuk orang hanya dua jalur, yaitu lewat Bandara Binaka dan Pelabuhan Gunung Sitoli,” katanya.

Empat Pelabuhan lain yang terdapat di Kepulauan Nias, yaitu Pelabuhan Teluk Dalam, Pelabuhan Tello, Pelabuhan Lahewa hanya digunakan untuk angkutan logistik dan barang. “Pada 2008 nanti pelabuhan Teluk Dalam dan Tello baru bisa untuk orang,” katanya.

Ia menambahkan, akses pelabuhan menuju Kepulauan Nias, juga seringkali terhalang cuaca buruk. Satu-satunya kapal Ferry pengangkut penumpang datang dari Sibolga, Sumatera Utara. “Kapal sering balik lagi ke Sibolga kalau cuaca buruk,” katanya. Dari Sibolga, perjalanan menuju Pulau Nias sekitar 10 hingga 12 jam.

Cuaca buruk juga kerap menggagalkan pendaratan pesawat di Bandara Binaka, Kabupaten Nias. Bandara Binaka merupakan satu-satunya bandara di Kepulauan Nias. Setiap hari, pesawat Merpati melakukan penerbangan 4 kali sehari ke Binaka, Sabang Merauke Air Carter 2 kali sehari, serta Riau Airlines 2 kali seminggu. “Disini cuaca tidak tentu,” katanya.

Pengguna jasa transportasi, baik darat maupun udara, lebih banyak penduduk luar Nias. Sekitar 80 persen pengguna jasa transportasi adalah pekerja rehabilitasi dan
rekonstruksi Nias. “Kalau BRR pergi, Nias akan kembali sepi,” katanya.

Penduduk Nias, kata dia, sebagian besar berkebun. Hasil coklat dan karet perkebunan dijual melalui tengkulak. Sehingga praktis penduduk Nias jarang bersentuhan dengan dunia luar secara langsung. Hal ini membuat Nias semakin terkucil. Dwi Riyanto Agustiar

Sumber: Tempo Interaktif, 10 November 2007

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

November 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930