The Genetics of Nias – Concepts and First Data

Catatan: Sambil menantikan hasil wawancara Yaahowu dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht, berikut ini kami sajikan makalah beliau yang dipresentasikan di Konferensi Internasional tentang Seni dan Arsitektur Nias di Wina, 30-31 Oktober 2006. Ingo Kennerknecht adalah Profesor Human Genetics, Universitas Münster. Karena kesulitan menyajikan tulisan aslinya dalam bentuk PDF, Redaksi menampilkannya dalam bentuk citra (gambar). Sumber: situs Nias Island Research Network, atas izin Petra Gruber, Koordinar Nias Island Research Network. Karena ukuran file cukup bear, pengunjug akan mengalami kelambatan mengakses – mohon maaf (Redaksi)


dna1


dna2


dna3


dna4


dna5

46 comments on “The Genetics of Nias – Concepts and First Data

  1. Victor Zebua

    Ya’ahowu,

    Dalam ”peta Nias” (yang ditulis bersumber dari “Hammerle 2007”, dalam naskah yang dipresentasikan tahun 2006 ini) tercantum data: keturunan Ho kelima adalah Lawölö/Dawölö. Saya menafsirkan data itu: Lawölö = Dawölö. Benarkah menurut tradisi lisan, keturunan Ho yang kelima (Lawölö) itu identik dengan Dawölö?

    Sumber lain mengatakan, Dawölö adalah “mado nga’ötö Duada Sebua Moroi Balangi”, disimpulkan dari ”molo’ö fanutunö ndra Satua” alias tradisi lisan (lih. S. Zebua, ”Menelusuri Sejarah Kebudayaan Nias”, 1995: 49).

    Dari dua sumber tersebut, timbul beberapa kemungkinan, antara lain: (1) Dawölö keturunan Ho berbeda dengan Dawölö keturunan Sebua Moroi Balangi; (2) salah satu sumber tersebut ada yang bersifat spekulatif; (3) penulisan Lawölö/Dawölö dalam peta (mungkin) agak silap, cukup ditulis Lawölö saja.

    Data ”Hammerle 2007” itu juga mengandung pertanyaan, mengenai keturunan Ho yaitu: Kulö/Gulö, Faruwu/Waruwu, Halawa, Ndraha, dan Lawölö/Dawölö. Bila dibandingkan dengan tulisan P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap. dalam ”Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi” (2004: 34), beliau menulis bahwa keturunan Ho dan Nandrua adalah: Waruwu, Halawa, Lawölö, Gulö, dan Totoazona. Akan halnya status Ndraha masih mengandung beberapa versi.

    Tradisi lisan kita (mis.: mite, legenda, zura nga’ötö) masih mengandung berbagai kontroversi. Baik kontroversi maupun ”versi dan varian” dalam budaya (khususnya folklor) Nias memang belum intensif diteliti. Para peneliti baru sampai taraf menggali, mempublikasi, dan melestarikan tradisi lisan dari masing-masing versi yang ada di berbagai kawasan di Nias. Sehingga menghubungkan konstruk (variabel) ”tradisi lisan” dengan ”mado”, dan (apalagi) dengan ”populasi genetik” dalam sebuah penelitian adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah.

    Dalam naskah ini saja dapat kita lihat contoh aroma kontroversi. Data yang terdapat dalam ”peta Nias” (hal. 3) tersebut kurang sinkron dengan ”lokasi dan mado dari sejumlah orang Nias yang diambil sampel darahnya” (hal. 1). Mohon periksa dengan cermat. Selain itu, memang belum ada keterangan rujukan mengenai ”Hammerle 2007” itu dalam daftar rujukan. Dan, kontroversi yang agak kasat mata adalah presentasi yang dilakukan tahun 2006 dapat merujuk sebuah peta yang dibuat di tahun 2007.

    Saya sependapat dengan Bapak Ama Ugi (resp. 8), berbuat yang baik (dalam menjelaskan kontroversi dalam budaya Nias umumnya dan dalam naskah ini khususnya) tidak ada predikat ”terlambat”.

    Victor Zebua
    dokter, pemerhati kebudayaan Nias

    Reply
  2. Ribkah Lase

    Polem datang sekitar Gunung Sitoli & Teluk Dalam [peta h.3: Polem from Aceh (in 1642) & Duha are descendents from Polem]… Apakah maksudnya?… Polem duluan ke Gunung Sitoli baru hijrah ke Teluk Dalam atawa sebaliknya… atawa barangkali ada 2 Polem dr Aceh…? Di buku “Asal Usul Masyarakat Nias” h.225 P. Johannes Maria Härmmerle, OFMCap berceritra tentang org desa Mudik & Foa berasal dr Polem yg berlabuh di muara sungai Foa… Ceritra lain dibuku itu: “Sekitar 350 tahun yang lalu ada orang Aceh yang berlayar ke Nias. Dia mendarat di pantai timur Nias Selatan. Namanya Polem.” Berarti disitu ada 2 ceritra, sumbernya darimana tdk dijelaskan.

    Trus di h.226 tertulis: “Keturunan dari Polem di daerah To’ene cukup banyak. Mulai dengan cucu dari Polem yang diberi nama Duha, maka keturunannya digelari dengan marga Duha. Selama 13 keturunan itu marga Duha sudah banyak berasimilasi dengan suku-suku Nias lainnya. Buktinya ialah, bahwa informan kita, Marati Duha, serta kakek-kakeknya sudah menjadi bangsawan (si’ulu) di Nias Selatan.”… Bukti tsb rancu… Marati Duha & Kakek-kakeknya Si’ulu baragkali Fakta, tapi tdk Otomatis bukti kaitan Marga Duha dgn Polem.

    prasaanku… Polem & Duha dipeta itu blum terdukung data memadai… tradisi Lisan agar di gali lagi guna Bukti Dukung bahwasanya Marga Duha memang dr Polem… Yaahowu!

    Reply
  3. Toni Hia

    Hia from “Heaven”… tertera di peta “Hämmerle 2007”. Red. Yaahowu pun pakai “heaven” saat wawancara dg Prof. Ingo (artikel “No Commercial Interests and No Patents Will be Applied”).

    Terjemahan Red. Yaahowu, heaven = langit (artikel ”Tidak Ada Kepentingan Komersial dan Tidak Ada Hak Paten Yang Akan Diajukan”). Menurut kamusku, heaven = surga, sedangkan langit disebut ”heavens”. 🙂 Dari pada repot didebat soal heaven/heavens, untuk “langit” mending pakai istilah antropologis ”sky”, contoh: folklore ”first man descends from sky”.

    Dalam folklore Nias kata yg mengacu ke konteks langit, ”teteholi ana’a”. Nhah… di sini titik krusial memahami Hia from “Heaven”. Maknanya apakah: Hia from “Heaven” [= surga]… Hia from “heaven” [= langit?]… Hia from “heavens” [= langit]… Hia from “sky” [= langit]… Hia from “teteholi ana’a” [di langit lapisan terbawah]… Hia from “teteholi ana’a” [= surga]… atau… Hia from “the womb of the women” [= rahim]?

    Hia from “the womb of the women” pas dg “teori rahim”. Kan… Hia “nidada” dari teteholi ana’a, sedangkan teteholi ana’a ditafsir P. Hämmerle “the womb of the women”. Hmm… jika peta “Hämmerle 2007” konsisten pada teori rahim, kupikir istilah ini yang dipilih. Kenapa Beliau ingkari teorinya sendiri? 🙂 Bõli Hae…!

    Reply
  4. ehalawa

    Toni Hia (resp. 23): Menurut kamusku, heaven = surga, sedangkan langit disebut ”heavens”. 🙂 Dari pada repot didebat soal heaven/heavens, untuk “langit” mending pakai istilah antropologis ”sky”, contoh: folklore ”first man descends from sky”.

    Tentang pengertian heaven (tanpa “s”): lihat antara lain Kamus Online: http://dictionary.reference.com/browse/heaven, lihat juga Wikipedia. Di sana terlihat “heaven” bukan hanya merujuk pada surga tetapi juga: langit, alam semesta di lihat dari bumi, ya … dunia di atas bumi, dan tidak harus berarti surga. Dalam konteks pengertian yang lebih umum inilah Yaahowu menggunakan heaven (langit) dalam wawancara dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht.

    Kami belum tahu apakah “sky” merupakan istilah khusus antropologi.

    Reply
  5. Toni Hia

    Bang Ehalawa, terimakasih atas komennya.

    Acuanku adalah:
    1. Peter Salim: “The Contemporary English-Indonesian Dictionary” (1985) hal. 857: heaven (’hevn) n. 1. surga. 2. heavens. langit. You can see many stars in the heavens on a clear, dark night. Kamu dapat melihat bintang-bintang di langit pada malam yang jernih. …dst.
    2. John M. Echols & Hassan Shadily: “Kamus Inggris-Indonesia” (1978) hal. 294: heaven /hev?n/: kb. 1. sorga, surga. 2. (Hindu) kayangan. …dst… – heavens j. langit, cakrawala. The heavens are filled with stars to night Malam ini langit penuh dgn bintang-bintang. …dst.
    3. Stith Thomson: “Motif-Index of Folk Literature” (1966), tentang cerita rakyat yang bermotif No. A1231 First man descends from sky, dijumpai di: India, Papua New Guinea, Australia Utara, Eskimo, Amerika Latin, Afrika, Indonesia (Kei, Indonesia Timur, Batak Toba, Nias).

    Reply
  6. Victor Zebua

    Ya’ahowu,

    Peta Nias yang menyebutkan “Zebua from Gomo Descendants from Luomewöna in gome aerea” (hal. 3) perlu lebih lanjut dijelaskan oleh sang pembuatnya. Informasi tentang mado Zebua di peta tersebut berbeda dengan tradisi lisan (mite) Nias yang ada di tengah masyarakat Nias.

    Tiga tulisan tentang mite Nias menyebutkan bahwa Silögu diturunkan di sekitar Mandréhé, Luomewöna tetap tinggal di Teteholi Ana’a. Lihat kutipan langsung di bawah ini.

    1. Faogöli Harefa dalam “Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias” (1939: 17-18):
    “a. Adapoen Baloegoe Loeo Mewöna jang menjadi radja di Teteholi Ana’a, setelah berpermaisoerikan poetri dari Ndroendroe Tanö radja di Tetembori Ana’a bernama Siloesia jang kemoedian bergelar Siléwé Nazarata, maka berpoeteralah radja itoe dan dinamainja “Silögoe”, kemoedian berpoeteralah poela ia seorang poetri bernama “Siraso”. Silögoe tersebut ditoeroenkan dari Teteholi Ana’a keboemi poelau Nias itoe. Tempat ia toeroen itoe ialah di Hiambanoea Ojo dekat Ono Mondra di Onderdistrict Mandréhé.”

    2. Sökhiaro Welther Mendröfa dalam “Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias” (1981:137):
    “Nga’ötö Mbalugu Luomewona,
    Nga’ötö Mbalugu Luozaho.
    Me ladada ba ndraso sebua,
    m lafailo ba ndraso noyo.
    Ya’ia Mbalugu Silögu Mbanua,
    Donga gaweda Ina Siraso.
    Hiyambanua khöra nina mbanua,
    Hiya-mbanua khöra mbanua saro.”

    3. Informan Fa’anö Daely dalam James Danandjaja, “Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain lain” (1984: 63):
    “…raja Luo Méwöna menurunkan ke bumi Nias putra sulungnya yang bernama Silogu di Hiambanua Onomandra, di negeri Ulu Moro’o, yang terletak di Kecamatan Mandréhé sekarang, di Nias bagian barat.”

    Sebagai generasi ke-38 dari Silögu melalui mado Zebua keturunan Lanö, saya mohon dengan hormat penjelasan perihal tradisi lisan yang mendasari penyebutan “Zebua from Gomo Descendants from Luomewöna in gome aerea” di peta Nias itu. Saohagölö.

    Victor Zebua
    (Ama Angelin)

    Reply
  7. A. Gea

    Cerita mithe yg kami dengar-dengar diwaktu kecil dulu dari para orang-orang tua. Sirao dari Teteholi Ana’a menurunkan 4 putranya ke Tanö Niha. Pertama diturunkannya Hia di selatan dan Gözö di utara. Akibatnya tanah melengkung seperti penyu atau kepiting. Habis itu Daeli diturunkan di Tölamaera. Tapi tanah jadi miring sperti sayap elang. Paling belakang Hulu diturunkn di Lölömbuyu. Barulah Tanö Niha jadi datar. Mereka semua Leluhur kita Nono Niha ini. Kami dengar Bp Pastor Johanes Hamerle sudah pula membikin buku tentang Daeli Sanau Dalinga. Menjadikan kami bertanya-tanya kenapa tak ada ditulis tentang keturunan Daeli di dalam peta Nias itu? keturunan Hulu pun tak ada. Simanö ua mbua gera-eragu. Yaahowu fefu!

    Reply
  8. Gerda

    Aku ikutan ngamatin peta “Hammerle 2007” juga nich… yg katanya berasal dari oral literature. Tapi aku agak-agak sangsi juga khusus di data “Polem from Aceh (1642)” … apa iya asalnya dr ranah oral (lisan)?

    menurutku … satu data yg tlah berangka tahun yg pasti (spt misalnya 1642 atau 2007) digali dr ranah tulisan (catatan sejarah Polem), bukan dr ranah lisan (oral)… bener gak sich?

    Reply
  9. Toni Hia

    Ttg “Siraso from Sumatra”… rekam jejak opini P. Johannes di 4 karya tulisnya:

    1. Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” (2001) hal. 170: “… Yang penting bagi kita, ialah tradisi dari Ere Hoho Mesozokhõ Bu’ulõlõ di Hilinawalõ Fau, yang mengatakan, bahwa Siraso adalah putri seorang raja dari seberang, yaitu dari Asia.99” [angka 99: catatan kaki, mengacu Omo Sebua hlm. 6-12]

    2. Di buku “Omo Sebua” (1990) yg diacu… tak dijumpai nama “Siraso”, yg ada di hal. 8: niha soroi ba danõ Asia… tõinia moroi chõ namania: ‘Sibowo Dõfi Madala’. Informannya memang Mesozokhõ Bu’ulõlõ.

    3. Sisipan National Geographic Indonesia edisi Juni 2007 (artikel “Antara Budaya Batu dan Omo Niha) hal. 7: “… Meskipun keterangan itu tak dapat dibuktikan kebenarannya, namun memiliki tujuan jelas: melukiskan sejarah kedatangan ibu pertama dari seberang lautan. Leluhur itu bernama Nandrua yang terdampar di Nias, …” [paragraf sebelumnya ditulis ttg informan Mesozokhõ Bu’ulõlõ & Ama Wa’õ Telaumbanua, tapi mereka tak menyebut-nyebut “Nandrua”]

    4. “The Genetics of Nias – Concepts and First Data” (2006) hal. 3: “Siraso from Sumatra”.

    Komenku (ka Toni):
    1.P. Johannes beropini ttg Siraso, seolah-olah bersumber dr Mesozokhõ Bu’ulõlõ … padahal bukan (no. 1 & 2).
    2.P. Johannes beropini ttg Nandrua, seolah-olah bersumber dr Mesozokhõ Bu’ulõlõ & Ama Wa’õ Telaumbanua … padahal bukan (no. 3).
    3.Oral literature yg mana diacu P. Johannes… hingga beliau beropini “Siraso from Sumatra” (no. 4)? [bdk dg Siraso yg disebut-sebut resp. 26]
    4.Ada apa dengan P. Johannes… hingga ”Sibowo Dõfi Madala” [data dr informannya] beliau ubah jadi: “Siraso” atau “Nandrua”?

    Reply
  10. Victor

    Ya’ahowu,

    Ada beberapa versi “mitos asal-usul manusia” dalam folklor Nias yang berbentuk mite. Selama ini dalam masyarakat Nias dikenal luas dua versi mite, yaitu: “si öfa börö danömö” (empat induk puak) dan “si lima börö danömö” (lima induk puak). Kedua mite ini bermotif “first man descends from sky” (manusia pertama turun dari langit).

    Mite “si öfa börö danömö” muncul dari keturunan leluhur Daeli, tokohnya ada empat orang (Hia, Gözö, Daeli, Hulu), isi cerita sebagaimana disebutkan oleh Bapak/Ibu A. Gea (resp. 27). Mite ini telah ditulis di buku, misalnya: Harun Hadiwijono (Religi Suku Murba di Indonesia, 1977), P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap. (Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi, 2004).

    Mite “si lima börö danömö” muncul dari keturunan leluhur Silögu, tokohnya ada lima orang (Hia, Gözö, Daeli, Hulu, Silögu), isi cerita “perebutan tahta di Teteholi Ana’a”. Mite ini telah ditulis di buku, misalnya: Faogöli Harefa (Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, 1939), Sökhiaro Welther Mendröfa (Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, 1981), James Danandjaja (Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain lain, 1984, informan Fa’anö Daely), Koentjaraningrat (Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, 2004, cet. 20).

    Agak khusus di lingkup kecil, misalnya di desa Boto (Nisel), ada juga yang memiliki cerita bahwa manusia pertama hanya satu (Hia) yang diturunkan dari langit (Bambowo Laiya, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, 1980: 25).

    Dalam perkembangannya, P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap. berhasil menggali dua versi lagi mite Nias. Pertama, versi “si tölu börö danömö”, tokohnya ada tiga orang (Hia, Gözö, Ho), dari informan A.F. Hondrö. Mite ini muncul dari keturunan leluhur Mölö, dilestarikan oleh P. Johannes dalam buku Famatö Harimao (1986).

    Kedua, mite yang saya sebut versi “si dua börö danömö”, tokohnya ada dua orang (Hulu, Hia), dari informan Faustinus Fatihuku Giawa di Gomo, dilestarikan oleh P. Johannes dalam buku Hikaya Nadu (1995). Mite ini belum digali lebih dalam, sehingga kita hanya mengetahui bahwa “Sirao dari Teteholi Ana’a menurunkan Hulu, karena merasa sunyi Hulu minta teman, maka diturunkan Hia”.

    Demikianlah beberapa versi mite Nias yang bermotif “first man descends from sky”. Bila direkapitulasi, maka manusia pertama yang datang (turun) ke Tanö Niha dalam folklore adalah: Hulu, Hia, Gözö, Daeli, Silögu, dan Ho. Sebagai representasi dari sebagian besar masyarakat Nias, seyogianya keenam “bapak suku-bangsa Nias” tersebut dapat terakomodasi dalam peta “Hämmerle 2007”.

    Di alam nyata keenamnya menurunkan Ono Niha yang terhimpun dalam berbagai mado yang kita kenal sekarang ini. Istilah mado sendiri berasal dari kata madou (cicit-piut, bani) yang baru dikenal sekitar tahun 1914, ketika pemerintah penjajah Belanda memberlakukan “soera pas” (KTP). Sejauh pengamatan saya, belum ada studi intensif tentang hubungan antara tradisi lisan (folklor) dan mado dalam masyarakat Nias.

    Victor Zebua
    dokter, pemerhati kebudayaan Nias

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *