The Genetics of Nias – Concepts and First Data

Catatan: Sambil menantikan hasil wawancara Yaahowu dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht, berikut ini kami sajikan makalah beliau yang dipresentasikan di Konferensi Internasional tentang Seni dan Arsitektur Nias di Wina, 30-31 Oktober 2006. Ingo Kennerknecht adalah Profesor Human Genetics, Universitas Münster. Karena kesulitan menyajikan tulisan aslinya dalam bentuk PDF, Redaksi menampilkannya dalam bentuk citra (gambar). Sumber: situs Nias Island Research Network, atas izin Petra Gruber, Koordinar Nias Island Research Network. Karena ukuran file cukup bear, pengunjug akan mengalami kelambatan mengakses – mohon maaf (Redaksi)


dna1


dna2


dna3


dna4


dna5

46 comments on “The Genetics of Nias – Concepts and First Data

  1. Toni Hia

    Terimakasih buat Pak Victor (# 30) telah beri pencerahan ttg cerita rakyat “first man descends from sky” dan stem fathers orang Nias: Hulu, Hia, Gõzõ, Daeli, Silõgu, dan Ho. Aku dah baca “Ho Jendela Nias Kuno” yg ngebahas hal ini lewat teori difusi kebudayaan. Di buku itu Pak Victor juga ngebahas “Sibowo Dõfi Madala”, kan?

    Nhah… aku masih penasaran nih soal “first woman from overseas” itu… Mother Sibowo, Mother Siraso or Mother Nandrua… yg kusinggung di # 29, di mana kutulis: Ada apa dengan P. Johannes… hingga “Sibowo Dõfi Madala” [data dr informannya] beliau ubah jadi: “Siraso” atau “Nandrua”?

    Siraso… istri Silõgu (# 26), sedang Nandrua… istri Ho (# 21)… di tingkatan mado (family name) keturunan mereka berlainan. Leluhur Silõgu sampai ke Zebua, Zega, Zai, dll… Leluhur Ho sampai ke Waruwu, Halawa, Gulõ, dll… Atau mungkin maksudnya ”Nandrua Ziliwu, Nandrua Zato”… istri leluhur Mõlõ, keturunannya sampai ke Fau, Hondrõ, dll… Nhah… di sini titik krusial mencerna opini P. Johannes, seolah-olah ”Sibowo Dõfi Madala = Siraso = Nandrua”.

    Sampel darah dari mado mana yg mewakili seorang ibu pertama yg datang dari seberang dan terdampar di Nias, yg bagi ere hoho Mesozokhõ Bu’ulõlõ adalah “Sibowo Dõfi Madala from Asian”, yg di peta ditulis ”Siraso from Sumatra”, yg di National Geographic disebut “Nandrua dari seberang”… dan yg di komen ini kujuluki… “first woman from overseas”?… Zebua dkk kah?… Waruwu dkk kah?… atau Fau dkk kah?

    Saat nulis komen ini aku dengerin dendang Melayu “Laila Canggung” : “… Laila canggung, Laila canggung… Laila resah, hatinya bingung…” [aku pun jadi kayak Laila, resah dan bingung mencerna opini yg canggung itu]. ”Alamak Laila…!” 🙂

    Reply
  2. Uchi Bate'e

    Di peta “Hammerle 2007” ada Hia, Gözö, Ho. Juga ada Zebua (keturunan Silögu) yg sumbernya dipertanyakan Pak Victor (resp. #26). Terkesan konsep dasar peta tsb mengacu mite versi “si tölu börö danömö”, diimbuhi Luomewöna, Polem, Siraso; sementara leluhur lain yg eksis dalam folklor Nias “Hulu, Daeli, Silögu” diabaikan. Sehingga peta tak mencakup seluruh leluhur masyarakat Nias. Implikasinya peta “Hammerle 2007” tak mencerminkan karakteristik populasi Nias.

    Selanjutnya cukup aneh, sample darah keturunan “Hulu & Daeli” diambil (hlm.1), sementara keturunan “Polem, Siraso, Duha, Lalu, Zinö” tak dilaporkan jadi sample. Sehingga sample bias dari data di peta yg bersumber “oral literature” itu.

    Dengan konsep dasar, karakteristik populasi, dan sample yg sedari awal tak sinkron, hasil riset ini diragukan dapat digeneralisasikan pada populasi Nias.

    Reply
  3. otomend

    Mas Toni Hia dan mbak Desi Zega, saya turut menyumbang sebuah tembang kenangan. Berpacuuu dalam melodi:

    ♫ …dan semua kau katakan padaku… uuu-uuu… jangan ada dusta di antara kita… ♫

    Reply
  4. Desi Zega

    Ya’ahowu Bang Toni (# 31)… dah lamo gak basuo. Sejak ikutan nyingkap misteri syair ‘ba mifurinia me so niha’ komen Bang Toni kerasa ‘rada galak’ aja. Masih suka baca cersil Kho Ping Hoo ya? Sekarang pake rentak Melayu pulak… amboi rancak bana!

    Selain lewat silsilah, kayaknya sih gampang bedain Gaweda Siraso n Gaweda Nandrua. Ditanyain aja, apa di ‘Siraso from Sumatra’ diceritain kuku Gaweda Siraso gak? Klo gak… beliau gak idem Gaweda Nandrua, koz konon di ceritanya ciri-khas Gaweda Nandrua kukunya hitam… Tuh ngapain juga bingung n resah kayak si Laila… mending lagunya ganti ‘kucing garong’ aja Bang… ♫ … awas kudhu ngati-ati, si Kucing Garong lagi beraksi… ♫ … Alamak Kucing Garong 🙂

    Reply
  5. Toni Hia

    Eeeh… Néng Desi… Yaahowu. Trims sarannya, senang diskusi bareng si Mata Elang [ini kan julukan Néng Desi di kese-kese]. Gimana kul di Unair, lancar kan? Komen Néng heboh sampe Prof Ingo buru-buru nutupin wajah foto subjek-risetnya tuh. Aku lagi ngendus sebaris hoho, emang kayak si Kucing Garong ya Néng? Tempohari [bareng Bang Ehalawa nyorotin hoho Pak S.W. Mendrõfa] → ”Ba mifurinia me so niha”… kini [nguber misteri hoho Pak M. Bu’ulõlõ] → ”Ba mbõrõta so niha soroi ba danõ Asia”. Rame Néng.

    Bang Otomend trims, tembangnya pas banget… ♫ …engkau dipuji engkau dipuja Laila, pandai menari cantik parasnya… ♪ ♪ Laila canggung patah hatinya, karena bercinta putus bercinta… ♪ [kayaknyé putus amé Kucing Garong, garé-garé adé dusté ’kali yé Bang]. Alamak Lailé…! 🙂

    Reply
  6. Piter

    Uchi Bate’e (#32): Terkesan konsep dasar peta tsb mengacu mite versi “si tölu börö danömö”, diimbuhi Luomewöna, Polem, Siraso; sementara leluhur lain yg eksis dalam folklor Nias “Hulu, Daeli, Silögu” diabaikan. Sehingga peta tak mencakup seluruh leluhur masyarakat Nias. Implikasinya peta “Hammerle 2007″ tak mencerminkan karakteristik populasi Nias.

    Bahwa konsep dasar peta mengacu si tölu börö danömö (Hia-Gözö-Ho), saya setuju. Kalau melihat di peta Ho & keturunanya cukup detil, saya berpikir juga peta tsb mengacu kisah Sibowo Döfi Madala. Di hoho Mesozochö Bu’ulölö diketahui Sibowo ibu kandung sekaligus pula istri Ho. Problem: di silsilah atau cerita lain diketahui istri Ho bukan Sibowo (1 orang) tapi Nandrua & Sa’usö Lama (2 orang). Andainya Sibowo Döfi Madala dipersamakan dg Nandrua atau dg Siraso (istri Silögu) terkesan dipaksakan, kurang dapat dipercaya. Itulah baragkali makanya bung Toni Hia menanyakan ada apa dengan P. Johanes.

    Adanya masalah-maslah seputar konsep dasar, sulit dipahami riset ini ttg asal-usul komprehensif orang Nias. Sebagai studi ttg penyakit genetik (tak terkait tradisi lisan) riset ini bisalah diterima. Lagi pula apa hubunganya tradisi lisan dg gen? Atau bagaimana menurut Anda? ♫ Kau berikan aku cinta dan semua yg terindah, namun hanya sehari saja… katakanlah… katakan sejujurnya… ♫

    Ya’ahowu
    Yupiter Bago

    Reply
  7. Uchi Bate'e

    Yupiter Bago (resp. #36): Adanya masalah-maslah seputar konsep dasar, sulit dipahami riset ini ttg asal-usul komprehensif orang Nias. Sebagai studi ttg penyakit genetik (tak terkait tradisi lisan) riset ini bisa diterima. Lagi pula apa hubunganya tradisi lisan dg gen? Atau bagaimana menurut Anda?

    Tradisi lisan & gen tak berhubungan langsung. Materi gen didapat dari sample darah berbagai mado (family name) orang Nias. Mado ditelusuri dari tradisi lisan. Jadi korelasi tradisi lisan & gen diperantarai mado (intervening variable). Namun intervening variable ini kurang serius diperhatikan, sehingga eksistensi mado potensial rancu. Contohnya si Kucing Garong (maaf kalau salah) Bang Toni bertanya mado manakah keturunan Siraso? (Zebua, Waruwu, Fau). Atau Pak Victor bertanya Dawölö dari leluhur yg mana? (Ho, Sebua Moroi Balangi).

    Riset ini agaknya tak didahului tela’ah zura nga’ötö guna mengonfirmasi silsilah “stem father yg ada di cerita” dengan ”mado yg ada di kehidupan nyata”. Terasa ada missing-link (mata rantai yg hilang) di dalamnya. Saya tak pandai bernyanyi, tapi boleh dong punya lagu favorit. [♫ di depan mata engkau pria yg berhati mulia, tak terbayangkan yg terjadi di balik itu, tega nian kau mengkhianati, hilang permataku..… ♫]

    Reply
  8. Toni Hia

    Keturunan Ho dan Mõlõ dalam cerita (tradisi lisan) di karya tulis P. Johannes.

    1. “Omo Sebua” (1990) hal. 12-13 → informan: Mesozochõ Bu’ulõlõ (Ama Sama). Ho mengawini ibunya yg bernama Sibowo Dõfi Madala, anaknya kembar: Sadaŵa Mõlõ (putra) & Soraizõsõma (putri). Anak kembar ini kawin, anaknya 9 orang: Sebuatendroma, Tachi, Laŵa, Hondrõ, Fau, Maha, Zinõ, Lalu, Ramõ, Boto [ternyata ada 10].

    2. “Nidunõ-dunõ ba Nõri Onolalu” (1999) hal. 12 → informan A.F. Hondrõ (Ama Waigi). Mõlõ mengawini Nandrua Zato, anaknya: Fau, Takhi, Boto, Maha (Sarumaha), Hondrõ, Hõrõzaitõ.

    3. “Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi” (2004) hal. 34 → informan: Tali’aro Waruwu (Ama Watisa). Ho mengawini Nandrua di Lahemo, anaknya: Waruwu, Halawa, Lawõlõ, Gulõ, Totoazona.

    Komenku (ka Toni):
    1. Di dunia cerita: keturunan Ho → versi-1: Sadaŵa Mõlõ & Sebuatendroma bersaudara (no. 1); versi-2: Waruwu bersaudara (no.3)… Bagaimana keturunan leluhur Ho di dunia nyata?
    2. Di dunia cerita: keturunan Mõlõ (no. 2) & Ho (no. 3) tak sama… Bagaimana keturunan leluhur Mõlõ & Ho di dunia nyata?
    3. Di cerita Mesozochõ Bu’ulõlõ: Mõlõ & Ho sepuak (no. 1), keturunannya minus Waruwu bersaudara… Ada apa dengan informan Mesozochõ Bu’ulõlõ… hingga Mõlõ & Ho beliau merger sepuak?
    4. Data peta “Hammerle 2007”: Mõlõ mengacu ke Ama Waigi (no.2), Ho mengacu ke Ama Watisa (no. 3)… Mesozochõ Bu’ulõlõ boleh telah memukau, tapi isi hohonya ternyata tak berkontribusi ke Mõlõ & Ho di peta itu… 🙂
    5. Peluang kontribusi hoho Mesozochõ Bu’ulõlõ tinggal ke “Siraso from Sumatra”, berarti Sibowo Dõfi Madala = Siraso [“Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” hal. 170]… Persamaan ini pun debatable (lihat komenku di #29).

    Reply
  9. Victor

    Ya’ahowu,

    Pertanyaan Bung Toni Hia (resp. 29) cukup menggelitik: “… Oral literature yg mana diacu P. Johannes… hingga beliau beropini “Siraso from Sumatra” (no. 4)? [bdk dg Siraso yg disebut-sebut resp. 26]”.

    Dalam “Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” (2001: 170) P. Johannes menulis: “… tradisi dari Ere Hoho Mesozochö Bu’ulölö di Hilinawalö Fau, yang mengatakan, bahwa Siraso adalah putri seorang raja dari seberang, yaitu dari Asia…”. Sementara Mesozochö Bu’ulölö (Ama Sama) tidak mengatakan Siraso, melainkan Sibowo Döfi Madala: “Ba mböröta so niha soroi ba danö Asia… dst… Töinia moroi chö namania: ‘Sibowo Döfi Madala’…” (Omo Sebua, 1990: 8). Lantas dari mana P. Johannes menemukan nama Siraso? Itulah kurang-lebih inti pertanyaan Bung Toni.

    Di hal. 169 buku yang sama P. Johannes menulis: “… Menurut tradisi lama seperti diceritakan oleh Ama Waogö Waruwu alm., kecamatan Lölöfitu Moi, ibu pertama yang bernama Siraso sewaktu datang dari seberang lautan terdampar di teluk Nawalö… dst… Beda dengan tradisi di atas, Ama Zaro Baene, desa Hililaora, kecamatan Lahusa, dan Ama Rekha Lase memberitahukan, bahwa Ibu Siraso mendarat di muara sungai Susua. Tidak perlu dipersoalkan, versi mana yang benar…”.

    Kutipan di atas menunjukkan bahwa P. Johannes menemukan “Siraso” dari cerita naratif tiga informan, yaitu: Ama Waogö Waruwu alm., Ama Zaro Baene, dan Ama Rekha Lase. Artinya, “Siraso from Sumatra” bersumber dari ketiga informan tersebut, bukan dari Ama Sama. Bila benar, maka isi hoho Ama Sama tidak menjadi acuan peta “Hammerle 2007”, baik untuk “Mölö” dan “Ho” (dibahas Bung Toni resp. 38) maupun untuk “Siraso from Sumatra”.

    Dalam tradisi lisan lain, S.W. Mendröfa (Ama Rozaman) menceritakan Siraso istri Silögu. Siraso dipuja sebagai Dewi Bibit (Samaehowu Tanömö), patungnya “Siraha Woriwu”, syair hoho pemujaannya “Fanumbo Siraha Woriwu” (Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, 1981: 163,186-88).

    Kisah Siraso versi Ama Rozaman mungkin luput dari perhatian P. Johannes. Beliau mengasosiasikan Siraso dari ketiga informannya kepada Sibowo Döfi Madala yang dituturkan berbentuk hoho oleh Ama Sama, bukan kepada Siraso versi Ama Rozaman, sehingga Siraso dianggap identik dengan Sibowo Döfi Madala.

    Dampaknya, karena Sibowo Döfi Madala (Si Buah Manis Bintang Kejora) versi Ama Sama bersuamikan Ho (bukan Silögu), sementara (menurut tradisi lisan lain) Ho beristrikan Nandrua dan Sa’usö Lama, maka “pengidentikkan Siraso dengan Sibowo Döfi Madala” membuat genealogi bagaikan untaian benang yang kusut.

    Victor Zebua
    dokter, pemerhati kebudayaan Nias

    Reply
  10. Toni Hia

    Terimakasih Pak Victor (# 39) komennya amat bernilai… Kini bisa kurangkum 3 kesimpulan penting.

    1. Catatan ttg Siraso
    a. Siraso datang dari seberang → sumber: Ama Waogõ Waruwu alm., Ama Zaro Baene, Ama Rekha Lase [“Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” hal. 169] → acuan peta “Hammerle 2007” untuk “Siraso from Sumatra”.
    b. Sibowo Dõfi Madala datang dari Asia → sumber: Mesozochõ Bu’ulõlõ (Ama Sama) [“Omo Sebua” hal. 8] → tak mengatakan Siraso.
    c. Siraso istri Silõgu → sumber: S.W. Mendrõfa (Ama Rozaman) [“Fondrakõ Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias”] → keturunannya: Zebua, Zega, Zai, dll.
    d. Sibowo Dõfi Madala istri Ho → sumber: Mesozochõ Bu’ulõlõ (Ama Sama), keturunannya Sadaŵa Mõlõ (anak) & Sebuatendroma bersaudara (cucu) [“Omo Sebua” hal. 12-13].

    Kesimpulan: Siraso ≠ Sibowo Dõfi Madala. Opini P. Johannes: “… tradisi dari Ere Hoho Mesozochõ Bu’ulõlõ di Hilinawalõ Fau, yang mengatakan, bahwa Siraso adalah putri seorang raja dari seberang, yaitu dari Asia…” [“Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” hal. 170]… tak layak dipertahankan lagi.

    2. Catatan ttg Nandrua
    a. Sibowo Dõfi Madala datang dari Asia → sumber: Mesozochõ Bu’ulõlõ (Ama Sama) [“Omo Sebua” hal. 8].
    b. Sibowo Dõfi Madala istri Ho, anaknya kembar: Sadaŵa Mõlõ & Soraizõsõma → sumber: Mesozochõ Bu’ulõlõ (Ama Sama) [“Omo Sebua” hal. 12].
    c. Nandrua istri Ho, anaknya: Waruwu, Halawa, Lawõlõ, Gulõ, Totoazona → sumber: Tali’aro Waruwu (Ama Watisa) [“Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi” hal. 34] → acuan peta “Hammerle 2007” untuk “Ho”.
    d. Nandrua Zato istri Mõlõ, anaknya: Fau, Takhi, Boto, Maha (Sarumaha), Hondrõ, Hõrõzaitõ → sumber: A.F. Hondrõ (Ama Waigi) [“Nidunõ-dunõ ba Nõri Onolalu” hal. 12] → acuan peta “Hammerle 2007” untuk “Mõlõ”.

    Kesimpulan: Nandrua ≠ Sibowo Dõfi Madala. Opini P. Johannes: “…melukiskan sejarah kedatangan ibu pertama dari seberang lautan. Leluhur itu bernama Nandrua yang terdampar di Nias, …” [Sisipan National Geographic Indonesia edisi Juni 2007 hal. 7]… tak layak dipertahankan lagi.

    3. Catatan ttg Sibowo Dõfi Madala
    a. Kesimpulan no. 1 & 2 : Sibowo Dõfi Madala ≠ Siraso ≠ Nandrua.
    b. Kisah Sibowo Dõfi Madala versi Mesozochõ Bu’ulõlõ berupa campur-baur dari tradisi lisan (berbentuk mite) yg ada → Silõgu & Siraso, Ho & Nandrua, Mõlõ & Nandrua Zato.
    c. P. Johannes mengakui syair hoho Ama Sama dapat dipandang sebagai dongeng [“Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” hal. 176].

    Kesimpulan: Kisah Sibowo Dõfi Madala versi Mesozochõ Bu’ulõlõ adalah sebuah dongeng (folktale) ttg seorang yg datang dari Asia [Ba mbõrõta so niha soroi ba danõ Asia].

    Terhadap 3 kesimpulan di atas, barangkali P. Johannes masih memiliki sejumlah argumen lain yg lebih meyakinkan, kita tunggu… 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *