Rehabilitasi Rumah Adat Nias Bagian Utara (Selesai)

Thursday, July 12, 2007
By nias

Nias. WASPADA Online
Yayasan Museum Pusaka Nias dipimpin warga Jerman, Pastor Johanes, belum lama melakukan pembangunan kembali satu unit rumah adat Nias Utara atau Omo Laraga, dilokasi museum, yang sebagian bahan materialnya diambil dari bekas reruntuhan rumah adat milik salah seorang warga di Desa Simandaraolo, Kec. Gunungsitoli.

Belum lama ini, Bupati Nias Binahati B Baeha meresmikan rumah adat yang baru selesai itu. Uniknya, peresmian rumah adat baru tersebut pihak pengelola yayasan menggelar berbagai acara atau tradisi, seperti kebiasaan leluhur masyarakat Nias setiap menempati rumah baru.

Pada zaman dahulu, menempati rumah baru leluhur, masyarakat Nias melakukan beberapa upacara adat yang telah menjadi tradisi. Diawali penyambutan dan pemberian sekapur sirih kepada Balugu atau Tuhenori, sebutan bagi yang dijadikan kepala suku atau raja di Nias bagian Utara.

Sebelum pemilik rumah menempati rumah baru sesuai adat dan tradisi masyarakat Nias, terlebih dahulu dilakukan Famaheu Omo. Sekelompok pemuda atau satria yang gagah melakukan Famaheu Omo atau menggoyang rumah. Ini dimaksudkan menguji ketahanan atau kekuatan rumah yang telah siap dibangun dan akan ditempati. Jika rumah yang dibangun memiliki ketahanan, dapat dibuktikan saat para satria melakukan Famaheu Omo tidak mengalami runtuh atau rusak.

Bupati Nias, Binahati B Baeha, Ketua DPRD Nias, M Ingati Nazara dan pimpinan lembaga internasioanl maupun NGO yang hadir pada peresmian rumah adat tersebut sangat antusias menyaksikan tradisi menempati rumah baru di Nias karena acara seperti ini sudah langka, bahkan tidak pernah dilaksanakan lagi oleh masyarakat Nias saat menempati rumah baru.

Rumah adat yang dibangun di komplek Museum Nias, bahan material kayunya diambil dari bekas reruntuhan rumah adat milik Ama Jeni Telaumbanua, warga Desa Simandraolo, terbukti memiliki ketahanan seperti yang diharapkan, walaupun puluhan pemuda sekira 30 menit melakukan Famaheu Omo atau menggoyang rumah.

Bupati Nias saat itu mengatakan, pembangunan rumah adat Nias Laraga merupakan penghormatan warisan budaya leluhur masyarakat Nias. Keberadaan Museum Pusaka Nias mempunyai makna penting, terutama bagi generasi muda sebagai tempat penelitian, tempat pendidikan tentang budaya leluhur masyarakat Nias.

Dia mengatakan, saat sekarang ini banyak masyarakat Nias kurang memahami budayanya, terutama warga Nias yang tinggal diperantauan. “Yang menjadi kekhawatiran, warisan nilai budaya yang begitu luhur tersebut punah jika tidak diperhatikan mulai sekarang,” ujar Bupati mengharapkan seluruh masyarakat menyatukan pikiran melestarikan budaya Nias sebagai jati diri, yang berbeda dengan budaya lainnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPRD Nias, Ingati Nazara. “Keberadaan Museum Yayasan Pusaka Nias telah memberi nilai penting dan makna mendalam, khususnya pembangunan rumah adat Nias. Hal ini diharapkan menjadi bagian dalam pelestarian budaya Nias dan pemersatu masyarakat Nias.”

Direktur Museum Pusaka Nias, Pastor Johannes M Hammerle, OFM.CAP pada saat itu menyampaikan terimakasihnya kepada Bupati dan DPRD yang mendukung program pengembangan pembangunan Museum Pusaka Nias, dengan menganggarkan dalam APBD dua tahun berturut-turut senilai seratus lima puluh juta rupiah.

Dikatakannya, pembangunan rumah adat di kawasan Museum Pusaka Nias melengkapi beberapa rumah adat yang dibangun sebelumnya, rumah adat Nias Utara atau Omo Laraga dibangun dari salah satu rumah adat yang ambruk akibat gempa tektonik 28 Maret 2005 di Desa Simandraolo milik keluarga Ama Jeni Telaumbanua.

Pendanaan pemindahan kerangka bangunan dan pengembangan pembangunan museum merupakan bantuan masyarakat Jerman melalui sekolah Internasional Jerman di Jakarta, didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat beserta masyarakat internasional lainnya.

Ketua Umum Lembaga Budaya Nias diwakili B Harefa mengatakan, budaya merupakan lambang identitas dan kepribadian daerah yang tercermin dalam sikap dan perilaku. Rumah adat Nias satu karya yang bernilai tinggi dan daya tahannya harus dilestarikan.

Dikatakannya, sebelum gempa tektonik melanda Nias, 320 rumah adat dan 6 Omo sebua (rumah adat besar) berdiri kokoh dibumi Tano Niha, namun setelah Nias dilanda gempa, rumah adat tinggal 30 unit. “Kita bersyukur pembangunan rumah adat Nias di kawasan Museum Yayasan Pusaka Nias, dan berharap BRR dan pemerintah mempercepat rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap rumah adat yang telah mengalami kerusakan untuk tetap menjaga pelestarian budaya Nias,” harap tokoh adat Nias tersebut.
(Bothaniman Jaya Telaumbanua) (wns)

Sumber: Waspada, 12 Juli 2007

One Response to “Rehabilitasi Rumah Adat Nias Bagian Utara (Selesai)”

  1. 1
    yaman hulu Says:

    terima kasih buat kerja keras semua pihak yang telah
    bekerja keras untuk melestarikan budaya Nias,saya sebagai
    putra daerah akan selalu mendukung dan turut serta dalam
    pelestarian budaya Nias.
    harapan saya kepada masyarakat nias utara mari kita
    LESTARI kan budaya kita ( yang baik tentunya)…
    Nias adalah pulau yang indah dan luar biasa…
    mari kita bangun secara bersama-sama, kita dukung Nias menuju
    perubahan kearah yang lebih baik di mulai dari diri kita
    sendiri…

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031