Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Nias Melalui Sektor Keuangan Mikro dan UKM Center yang Berkesinambungan

Wednesday, April 4, 2007
By nias

Oleh: Maharani Pande & Agus Paterson Sarumaha

Dua tahun telah berlalu semenjak terjadinya gempa Nias yang begitu dahsyat serta melumpuhkan seluruh sendi kehidupan masyarakat Nias. Segala daya upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak demi terwujudnya rekonstruksi dan rehabilitasi sarana dan prasarana kehidupan masyarakat. Namun demikian, rekonstruksi dan rehabilitasi tersebut hanya berfokus pada pembangunan fisik, dan hanya sedikit pihak yang concern terhadap pemberdayaan masyarakat yang bersifat non fisik.

Mengingat masa bakti BRR yang tersisa, ada suatu hal yang patut menjadi renungan kita saat ini: Apa yang masyarakat Nias dapat lakukan untuk dapat survive di masa mendatang tanpa harus terus menerus mengharapkan bantuan dan hibah dari berbagai lembaga asing dan lokal maupun donor lainnya yang bersifat temporer?

Untuk dapat menjawab hal tersebut, kiranya masyarakat Nias diberdayakan secara ekonomi sebagai pelaku perekonomian yang aktif, walau dalam skala mikro sekalipun.

Mengubah Persepsi Masyarakat
Ketika kehadiran lembaga donor yang memberikan berbagai bentuk bantuan khususnya dalam pemberdayaan ekonomi melalui penguatan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dimana dana akan disalurkan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Nias, ada semacam persepsi yang terbentuk bahwa bantuan tersebut berupa hibah. Persepsi tersebut tidak akan memberdayakan masyarakat Nias secara keseluruhan, sebab hanya segelintir oknum masyarakat yang kebetulan memiliki akses terhadap bantuan itu saja yang akan menikmatinya, dan sungguh sangat disayangkan, penggunaannya hanya diperuntukkan pada hal-hal yang bersifat konsumsi sementara, misalnya membeli sepeda motor, peralatan-peralatan elektronik seperti: telepon selular. Dll.

Perlu digarisbawahi, bantuan tersebut dalam penggunaannya kepada masyarakat end-user, tidak dapat berupa hibah atau grant karena tidak merangsang masyarakat untuk memiliki semangat wirausaha (entrepreneurship) dalam melakukan suatu usaha yang bersifat produktif.

Dalam program pemberdayaan ekonomi Nias, dengan adanya suatu keharusan bagi masyarakat penerima bantuan atau fasilitas pembiayaan untuk mengembalikan dana tersebut dalam skim pembiayaan berupa pokok berikut bunga pinjaman dalam jangka waktu tertentu, maka dana tersebut dapat digulirkan kembali kepada masyarakat. Dengan demikian, penggunaan dana program pemberdayaan ekonomi Nias dapat manjangkau lebih banyak lagi pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan bagi masyarakat penerima fasilitas pembiayaan, kewajiban untuk mengembalikan dana tersebut merupakan rangsangan untuk dapat melakukan suatu usaha yang bersifat produktif dengan memperoleh margin tertentu, yang dapat menutup pengeluaran untuk angsuran fasilitas pembiayaan berikut bunganya serta pengeluaran untuk kebutuhan hidup lainnya. Pemberian fasilitas pembiayaan modal kerja dengan skim pengembalian pokok dan bunga bagi masyarakat Nias wajib disosialisasikan terlebih dahulu, sehingga persepsi masyarakat dapat diubah agar peruntukan fasilitas pembiayaan dapat digunakan untuk kegiatan produktif yaitu modal kerja.

Bagaimana Ekonomi Dapat Bergulir Secara Berkesinambungan Melalui Keuangan Mikro dan UKM Center?
Dalam memfasilitasi pembiayaan modal kerja, identifikasi masyarakat mana yang akan mendapat fasilitas merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan agar penyaluran dana menjadi tepat sasaran pada masyarakat yang berhak menerima fasilitas pembiayaan. Identifikasi masyarakat dapat dilihat dari aspek tingkat kemiskinan, pendapatan, dan lainnya.

Untuk dapat melakukan suatu usaha yang produktif, maka masyarakat membutuhkan layanan jasa finansial yang dapat memberikan akses terhadap fasilitas pembiayaan UMKM. Koperasi sebagai salah satu Lembaga Keuangan Mikro dapat menjangkau masyarakat grassroot di Nias dalam memfasilitasi pembiayaan modal kerja yang dibutuhkan oleh masyarakat. Agar Koperasi dapat menjangkau lebih banyak lagi masyarakat yang membutuhkan fasilitas pembiayaan, maka Koperasi tidak cukup hanya mengandalkan sumber pendanaan dari simpanan wajib maupun simpanan sukarela anggotanya saja, melainkan juga harus memperoleh akses keuangan dari investor, baik berupa pinjaman lunak dari donor dan institusi keuangan lain.

Bantuan dari donor maupun institusi keuangan lain tersebut dalam penggunaannya wajib dilaporkan dan dipertanggungjawabkan oleh LKM Koperasi, sehingga monitoring pelaksanaan dan pengembalian pembiayaan dapat terlaksana. Bila monitoring dilakukan dengan seksama, maka pembiayaan yang disalurkan dapat mencapai tujuan dan sasarannya. Untuk dapat mempertanggungjawabkan penyaluran pembiayaan kepada investornya, maka koperasi membutuhkan dukungan berupa technical assistance (bantuan teknis) dalam melakukan usaha serta mengelola keuangan individu, kelompok nasabah binaan koperasi, maupun nasabah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat dilakukan melalui pemberian fasilitas pembiayaan yang dilakukan secara bergulir. Agar dapat digulirkan kembali, maka kepastian terhadap ketepatan waktu pengembalian dana yang digunakan untuk pembiayaan UMKM tersebut sangat penting. Perangkat monitoring pelaksanaan dan pengembalian fasilitas pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat bersifat membantu LKM Koperasi dalam menilai kinerjanya. Di samping itu, masyarakat end-user daripada pembiayaan modal kerja tersebut juga berhak diberdayakan dengan memperoleh bantuan dalam memasarkan dan mendistribusikan produk hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersebut. Dalam hal ini, peran suatu UKM Center sangat dibutuhkan. Apabila produk hasil UMKM tersebut dapat dipasarkan dan didistribusikan dengan baik, maka terdapat peluang yang lebih besar terhadap peningkatan pendapatan masyarakat end-user penerima fasilitas pembiayaan (baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun melakukan angsuran pengembalian fasilitas pembiayaan berupa pokok pinjaman beserta bunga) sehingga repayment rate atau kemampuannya untuk mengembalikan fasilitas pinjaman tersebut meningkat.

Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat serta skala usaha yang dikelolanya, tentunya permintaan atau kebutuhan akan pembiayaan modal kerja juga akan mengalami peningkatan volume. Dengan demikian, perguliran dana (revolving fund) dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias sudah dapat dicapai.

Badan Pengelola Keuangan Mikro Dan UKM Center yang Terintegrasi
Pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias dapat dicapai melalui penguatan sektor keuangan mikro (microfinance) serta pembentukan UKM Center yang berfungsi untuk mendistribusikan dan memasarkan hasil-hasil produksi UMKM.

Agar dapat terencana dan terkoordinasi dengan baik dalam satu master plan, maka perlu dibentuk platform pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias. Agar pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias dapat dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, maka perlu adanya suatu badan pengelola yang terintegrasi antara pengelolaan keuangan mikro dengan UKM Center.

Adanya suatu wadah Nias Microfinance dan Nias UKM Center dapat berfungsi sebagai pintu masuk (gateway) perguliran dana serta pemasaran dan distribusi produk hasil UMKM masyarakat Nias. Disamping itu, keberadaan kedua institusi ini dapat mencegah kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang pelaksanaannya dilakukan secara temporer dan bersifat sporadis, serta memastikan pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan guna mewujudkan social impact, outreach, dan sustainability growth perekonomian masyarakat Nias.

Untuk melaksanakan fungsinya dengan baik, maka Nias Microfinance dan Nias UKM Center membangun network atau jaringan kerja terhadap stakeholders Nias seperti masyarakat sentra binaan kelompok (SBK) koperasi, LKM Koperasi, investor, Pemerintah Daerah Nias, pemerhati pembangunan Nias, serta instansi dan dinas terkait lainnya.

Selain itu, Nias Microfinance dan UKM Center juga dapat memberikan bantuan teknis (technical assistance) seperti pelatihan manajemen serta advokasi terhadap LKM Koperasi maupun masyarakat pelaku UMKM yang ada di Nias.

Referensi:

Best Practices field assessment microfinance institution at Philippines (Card Bank), Cambodia (Village Bank), and Indonesia (Grameen Methodology and Rural Banks).

Tags:

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30