Kaji Kemungkinan Pembentukan Propinsi Kepulauan Pantai Barat

Friday, July 14, 2006
By nias

Folo Nehe*

Bila ditinjau dari aspek geografis dan secara praktis, tidak dapat dipungkiri bahwa Kab. Nias dan Kab. Nisel (selanjutnya akan disebut sebagai Pulau Nias) berada dalam situasi tidak bisa menolak, tetapi mendukung. Sebab, bila daerah-daerah bagian Barat Sumatera Utara tersebut bergabung dengan Propinsi Tapanuli, maka sangat tidak ideal bila Pulau Nias tetap menjadi wilayah Propinsi Sumatera utara dengan diantarai propinsi Tapanuli.

Namun, kedekatan secara geografis dan historis (Pulau Nias merupakan bagian dari keresidenan Tapanuli, dulu) tidak serta merta juga menjadi jawaban singkat dalam menyikapi tawaran bergabung dengan propinsi Tapanuli tersebut. Sebab secara administratif hubungan dengan propinsi daerah dengan propinsi tidak lagi seperti dulu. Lebih otonom, sehingga tidak tergantung pada propinsi mana daerah kabupaten tersebut menginduk. Dengan demikian, bergabung dengan propinsi Tapanuli tersebut, walau secara geografis sangat memungkinkan, namun bukanlah kebutuhan mendesak.

Bila hendak bergabung, pertanyaan yang sangat mendasar dan penting adalah terkait dengan perpektif kepentingan dan kemanfaatan yang lebih besar bagi Pulau Nias dari pergabungan tersebut. Secara geopolitik, mesti dipertimbangakan matang-matang apakah hal itu tidak akan membuat Pulau Nias tetap (semakin) terkucil seperti selama ini biasa terjadi. Salah satu alasannya adalah kebaruan propinsi Tapanuli itu sendiri. Artinya propinsi Tapanuli tersebut tidak/belum siap dalam segala hal untuk memberi kontribusi langsung bagi pembangunan Pulau Nias dengan kondisinya yang terpuruk saat ini. Perlu bebeberapa tahun hingga berada dalam kondisi ‘mapan’ untuk mengharapkan kontribusi propinsi Tapanuli tersebut bagi Pulau Nias. Sementara kebutuhan Pulau Nias yang mendesak saat ini adalah percepatan pembangunan.

Selain itu, tidak dapat diabaikan bahwa akan terjadi berbagai kesulitan bila bergabung dengan propinsi Tapanuli tersebut. Ada dua hal penting dalam kaitan dengan itu, yaitu masalah tradisi/budaya dan image. Propinsi Tapanuli, dari sisi nama, mayoritas penduduk pendukung dan kesatuan wilayah, sangat kental dengan nuansa Batak. Selain itu, juga tidak dapat dipungkiri adanya ‘masalah’ dengan image yang terbentuk selama ini di antara masyarakat Nias dan masyarakat Batak. Pulau Nias, dan masyarakatnya, selalu dinomorduakan

Hal yang paling mungkin adalah Pulau Nias memandirikan diri dan mengupayakan pembentukan propinsi sendiri. Namun, dengan menggandeng kepulauan Mentawai dengan membentuk Propinsi Kepulauan Pantai Barat. Jadi, Pulau Nias tetap bergabung dengan Propinsi Sumatera Utara, namun juga mempersiapkan diri untuk bergabung dengan kepulauan Mentawai untuk membentuk Propinsi Kepulauan Pantai Barat tersebut

Beberapa pertimbangan untuk memilih bergabung bersama kepulauan Mentawai untuk membentuk Propinsi Kepulauan Pantai Barat tersebut adalah:

  • Secara praktis, Pulau Nias tidak akan cukup kuat untuk membentuk sebuah propinsi sendiri saat ini.
  • Sama-sama sebagai daerah kepulauan di Pantai Barat dan memiliki karakteristik permasalahan dan sumber daya yang sama.
  • Budaya dan kondisi (keterpurukan dalam berbagai bidang) dapat menjadi modal bersama untuk memperjuangkan perbaikan melalui pemekaran atau pembentukan propinsi baru.
  • Dalam beberapa kali pembicaraan informal dengan tokoh-tokoh dari kepulauan Mentawai, ada dukungan ke arah pembentukan Propinsi Kepulauan Pantai Barat tersebut.

*Tulisan ini adalah hasil percakapan Etis Nehe dari Situs Yaahowu dengan Folo Nehe (Senin, 3 Juli 2006)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2006
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31