Archive for June, 2006 | Monthly archive page

Australia commits more aid for victims of recent natural disasters in Indonesia

Friday, June 30th, 2006

*This will include $10 million to establish a Nias Reconstruction Program
Indonesian and Australian Joint Commission Ministers today (29 June 2006) announced $63 million of additional development assistance to Indonesia, including $30 million to meet ongoing rebuilding needs in Yogyakarta following the recent earthquake.

The 27 May earthquake had a devastating impact on Yogyakarta and surrounding areas in Central Java, especially the districts of Bantul and Klaten. The death toll is now around 5,800, tens of thousands more have been injured and hundreds of thousands left homeless. Full story …

Pelayanan Diakonia (Diakonisches Werk) di Karlsruhe dan Rheydt-Mönchengladbach

Thursday, June 29th, 2006

*antara pelayanan dan mendukung keuangan gereja

Noniawati Telaumbanua

Meningkatnya status dan masalah sosial di lingkungan masyarakat berbagai kota maju di Jerman seiring dengan semakin sedikitnya pengunjung dan anggota jemaat gereja, tidak urung gereja dan kekristenan di negara tersebut terpengaruh. Tantangan yang sedang di hadapi semakin lengkap dengan kepastian kelangsungan krisis ekonomi yang tidak terprediksi kapan berakhir dan ekstrimnya jumlah pengangguran dalam dua tahun terakhir. (more…)

Memasuki Hari Ke-3, 35 Penumpang KM Surya Makmur Indah Belum Ditemukan

Sunday, June 25th, 2006

*Syahbandar lamban merespons permintaan bantuan
Sibolga (SIB)
TNI-AL menambah kapal bantuan dengan mengerahkan KRI Teluk Gilimanuk untuk membantu upaya pencarian para penumpang KM Surya Makmur Indah yang belum ditemukan pasca terjadinya insiden yang menenggelamkan kapal naas tersebut di perairan Tapteng.

“KRI telah diberangkatkan, Jumat (23/6) dari Pelabuhan Belawan menuju Sibolga dan langsung menuju lokasi tenggelamnya kapal guna membantu upaya pencarian penumpang yang belum ditemukan,” kata SAR Mission Coordiantor Letkol Laut (P) Jaka Santosa menjawab wartawan, Sabtu (24/6) di ruang kerjanya di Lanal Sibolga.

Sedangkan kapal lain yang masih berada di tengah laut untuk melakukan pencarian penumpang meliputi KAL Marsalar, Patkamla Sibolga, KM Komando A dan KM Surya Makmur Baru ditambah 1 unit pesawat Casa milik TNI-AL U-612.

Ia menjelaskan, hingga saat ini jumlah penumpang yang berhasil diselamatkan sebanyak 95 orang termasuk ABK dan Nahkoda kapal dan diprediksi 35 penumpang berikut ABK lainnya masih belum ditemukan.

“Daftar Manifest jumlah penumpang sebanyak 104 orang tapi itu belum ikut dijumlahkan anak-anak karena dari jumlah penumpang yang berhasil diselamatkan diantaranya ada 7 anak-anak,” jelasnya.

Informasi terakhir diperoleh menyebutkan, di sekitar lokasi tenggelamnya kapal sudah ada kapal nelayan yang lego jangkar namun belum ada laporan ditemukan penumpang KM Surya Makmur Indah.

Sementara itu, KM Surya Makmur Baru yang turut melakukan pencarian sudah sampai ke daerah Tapayung dengan rute melintasi lokasi tenggelamnya kapal juga belum menemukan penumpang yang lain.

“Usaha pencarian akan dilakukan selama 7 hari dan hari ini masih memasuki hari ke-3,” katanya.

Usaha pencarian yang telah dilakukan meliputi penyisiran lokasi tenggelamnya kapal termasuk daerah sekitarnya yang dimungkinkan adanya penumpang yang terdampar di antaranya Pulau Mursala, Pulau Bintana, Pulau Pini, Natal dan kembali ke Pulau Mursala. “Pulau terdekat dengan lokasi tenggelamnya kapal adalah Pulau Kalimantang yang berjarak 12 mil,” katanya.

Sementara itu, pesawat Casa yang melakukan upaya pencarian terhadap para penumpang kapal yang belum ditemukan di sekitar lokasi tenggelamnya kapal terpaksa mendarat darurat di bandara Binaka Nias, Jumat (23/6) sore dan seluruh awak penumpang menginap satu malam di Nias dan keesokan harinya, Sabtu (24/6) baru bisa kembali ke Sibolga dan mendarat di badara Pinangsori Tapteng. Salah seorang awak penumpang yang turut Tommi anggota PMI Tapteng yang ditanyai SIB, membenarkan.

Setelah mengitari lokasi tenggelamnya kapal dan daerah di sekitarnya, pesawat bermaksud hendak pulang ke Sibolga namun tiba-tiba turun hujan dan cuaca buruk dan terpaksa memutar ke Nias dan mendarat di bandara Binaka Nias. “Kami bermalam di Nias dan baru kembali ke Sibolga, Sabtu (24/6) pagi,” katanya.

Sabtu (24/6) sore pesawat Casa kembali lepas landas dari bandara Pinangsori Tapteng untuk mengudara ke lokasi tenggelamnya kapal guna melanjutkan upaya pencarian penumpang yang belum ditemukan.

Diperkirakan di Pulau Pini
Harapan untuk menemukan penumpang kapal yang tenggelam di Tapanuli Tengah dalam keadaan hidup sangat tipis karena hujan badai yang terjadi mulai Kamis (22/6) akan membuat korban lelah diterjang ombak dan kelaparan karena tidak makan selama tiga hari.

Komandan Pangkalan TNU Angkatan Laut (Danlanal) Sibolga, Letnan Kolonel (P) Djaka Santoso, di Sibolga, Sabtu, mengatakan penumpang kapal KM Surya Makmur Indah yang belum ditemukan diperkirakan tidak lagi berada di antara Pulau Mursala dan Bintana, Sibolga (lokasi musibah), tapi sudah di sekitar perairan Pulau Pini dan Ilik, Nias akibat terseret arus air.

“Pencarian penumpang saat ini difokuskan di sekitar Pulau Pini dan Ilik, Nias, tapi penyisiran di antara perairan Pulau Mursala dan Bintana tetap dilakukan,” kata Djaka.

Menurut dia, kepastian penumpang hilang itu berada di perairan sekitar Pulau Pini dan Ilik, setelah hasil penyisiran melalui udara yang menggunakan pesawat heli jenis Casa dari Batam yang dilakukan Jumat, melihat dua orang yang sedang terapung-apung di perairan Pulau Nias itu.

Namun, tim tidak bisa melihat jelas karena ombak deras menutupi pemandangan atas dua orang yang diduga penumpang kapal yang tenggelam itu, Kamis dinihari itu, katanya.

Danlanal itu menjelaskan, pencarian penumpang yang hilang itu mulai dilanjutkan lagi Sabtu sekitar pukul 16.00 WIB karena cuaca mulai bagus, setelah sebelumnya terjadi hujan badai yang mengakibatkan pencarian dihentikan sejak Jumat sore.

Untuk memaksimalkan pencarian, kata dia, tim menambah lagi satu kapal KRI Mursala milik TNI AL Belawan untuk mencari sekitar 25 penumpang kapal yang masih hilang itu. Sebelumnya tim mengerahkan tujuh kapal masing-masing KAL Patroli, Kapal Mansalar, TNI AL Sibolga, kapal tangker milik PT Pertamina, KM Surya Makmur Jaya, KM Surya Makmur Baru dan KM Nias Indah.

Sejumlah kapal nelayan juga dikerahkan untuk membantu pencarian penumpang. Hingga Sabtu sore, penumpang yang sudah dievakuasi dalam keadaan hidup sudah mencapai 95 orang, setelah satu orang ditemukan Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB dari total penumpang di kapal itu yang disebutkan sebanyak 120 orang termasuk anak buah kapal (ABK)

Tidak cepat
Sementara itu, Osben Naibaho, nahkoda kapal KM Surya Makmur Indah yang selamat setelah ditolong kapal nelayan pada Kamis siang, mengatakan, mereka sudah melapor ke syahbandar Sibolga ketika kapal itu diketahui mengalami kebocoran pada bagian bawah kapal sekitar pukul 03.00 WIB (Kamis dinihari).

Tapi kelihatan laporan kami kurang ditanggapi terbukti bantuan baru datang menjelang sore hari. “Bantuan pertama justru datang dari kapal nelayan yang akhirnya menyelamatkan 46 orang penumpang yang sudah terapung-apung di laut,” kata dia.

Naibaho, menjelaskan, ketika mengetahui bagian bawah kapal itu bocor, ABK berusaha memperbaiki sambil nahkoda berupaya mengarahkan tujuan ke Pulau Mursala untuk keamanan.

Namun sebelum banyak berbuat, ombak setinggi empat meter menerjang kapal yang bukan saja membuat air masuk tapi oleng dan membuat penumpang dan ABK panik, katanya.

Menurut dia, sebelum kapal tenggelam, ABK sudah membagikan pelampung kepada seluruh penumpang untuk dipakai dan diinstruksikan melompat ke dalam laut.

“Mudah-mudahan semua penumpang ditemukan dalam keadaan hidup. Saya mendoakannya,” kata Osben yang mengaku sudah satu tahun menjadi nahkoda di KM Surya Makmur Indah itu.

Dia menambahkan, kapal yang dinahkodainya itu merupakan produksi perusahaan di Bagan Siapi-Api, Riau. Kapal buatan tahun 2004 itu, kata dia, berkapasitas penumpang 208 orang dan barang sebanyak 104 ton. (MPS/Ant/y)

Sumber: Harian SIB Online, Sabtu 24 Juni 2006.

Ferry: More survivors found

Saturday, June 24th, 2006

23/06/2006 13:33  – (SA) 

Jakarta – More survivors were found on Friday after a ferry sank in heavy seas off Indonesia's Sumatra island, but 23 were still missing, according to an official.

Frits Agamsyah, the port administrator in Sibolga, North Sumatra province, said a vessel operated by the United Nations World Food Programme (WFP) plucked 11 people from waters between the islands of Bintana and Mursala just after midnight. Full story …

94 Survived, 39 Still Missing

Saturday, June 24th, 2006

[SIBOLGA] Thirty nine passengers of the sunk ferry Surya Makmur Indah are still missing. The other 94 passengers have been rescued. Seven were admitted to Sibolga public hospital due to weak conditions. The rescue opration is still ongoing. At least 5 ships have been assgined to search for the people still missing.

(more…)

Names of the sunk ferry pasengers

Saturday, June 24th, 2006

The following are the names of passengers of sunk ship “Surya Makmur Indah” received from Sibolga seaport authority by a Medan based newspaper (Harian SIB): Lena, Alex Harefa, Rusdini, Ahmad, Azul, Gedi, Rina, Imuzniar, I Zulaeni, Rosnimar, Yardina, Sr. Fedelia, Sr. Evelly, A Firman, A Fendi, A Faris, Tiardin, Edward, Tjuk fuk, Hemo, I Nota, akiluddin, Irwansyah, Ismail, Mince, Silalahi, Silalahi, Aini, Jeni, Siong, Rudy, Alex, Agustinus, Samaari, Butet, Dere, Yuni, T Lase, Ami Hutagalung, Taliaro, Aswanto, Arislina, A Apri, Naga, Apek, Emi, Smaban, Yarnus, Baharlin, Upik, P Sabastian, P Tarsis, Br Elias, Br Cyprianus, Br Hezekiel, Keluarga Pandiangan, A Jari, Punk, Melnian, Seru, Plapius, A Saham, Aris, Askar, Rajagukguk, Sulaiman, Ruri, Wenni, Marni, Yus, Hendra, Asa, Periaman, Fatur, lukman, Bahri, Abas, Amang, Yeremia, Edison, Irawati, Yuleus, Roiman, Roni Laia, Jolo, Aron, A Fee, Lase, Ika, Irma, Liria, S Laia, Mikti, Ika, Yusni, Tini, Ferry.

The newspaper source said that the three foreign (US and Australian) nationalities: Trover Righter (24), Tome Gilnert (21) dan David Andrew (25), and two Nias police personnels were also on board. They are still among the missing. (Source: Harian SIB Online, Friday 23 June 2006).

Ship Carrying Over 100 Sinks in Indonesia

Thursday, June 22nd, 2006

JAKARTA, Indonesia (AP) — A ship carrying more than 100 passengers and crew sunk off Indonesia's Sumatra island on Thursday in bad weather, a naval spokesman said. More …

Kapal Surya Makmur Indah Tenggelam

Thursday, June 22nd, 2006

Kapal penumpang Surya Makmur Indah, yang berlayar dari Sibolga menuju Gunungsitoli, tadi pagi (Kamis 22 Juni 2006) sekitar jam 4.00 WIB. Kapal naas itu tenggelam setelah melewati P. Mursala dalam pelayaran di tengah cuaca buruk. Demikian sumber Yaahowu dari Gunungsitoli. (more…)

BRR Diadukan Masyarakat Nias ke Tim Pengawas DPR

Wednesday, June 21st, 2006

Jakarta (detik.com):
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias dianggap mengecewakan masyarakat Nias. Sejumlah proyek diduga terindikasi korupsi. BRR pun dilaporkan ke Tim Pengawas BRR di DPR.Warga yang menamakan Elemen Masyarakat Nias dan Nias Selatan itu menilai sejumlah proyek yang dikerjakan di Nias sarat KKN. Modusnya, dengan memenangkan kontraktor yang melakukan penawaran tertinggi, seperti yang terjadi di Satuan Kerja Transportasi Udara yang perkaranya kini ditangani Kejaksaan Negeri Gunungsitoli. (more…)

Kasus CPNS Nias Dilaporkan ke Polres Nias dan Kajari Gunungsitoli

Wednesday, June 21st, 2006

Gunungsitoli (SIB):

Ketua Lembaga Komunitas Independen (KOMID) SBY Kabupaten Nias Petrus S. Gulo, SE, telah menyampaikan pengaduan tentang kasus CPNS 2006 Pemkab Nias kepada Kepala Kejaksaan Negeri Gunungsitoli dan Kapolres Nias untuk diusut tuntas. Pengaduan ini diterima oleh Yunitri C. Sagala, SH di Kejari Gunungsitoli pada tanggal 12 Juni 2006 dan Rozaman di Polres Nias pada tanggal 14 Juni 2006. (more…)

BRR truck-buying plan criticized

Tuesday, June 20th, 2006

BRR truck-buying plan criticized
Saturday, June 17, 2006BANDA ACEH, Aceh: The Aceh and Nias Rehabilitation and Reconstruction Agency (BRR) is back in the spotlight with a plan to purchase a four-wheel drive pickup truck as an official vehicle for agency head Kuntoro Mangkusubroto.

Activists immediately criticized the plan to purchase a Toyota Hilux, which a source estimated would cost Rp 486 million (US$51.157).

"The plan seems inefficient and a waste of money," said the head of the Aceh-based Anti Corruption Movement, Akhiruddin Mahjudin.

He said the plan showed the agency's insensitivity toward tsunami survivors, many of whom are still living in makeshift tents. "Besides, common cars can now handle roads in the western area, so the plan is difficult to accept," he said.

The agency's spokesman, Mirza Keumala, said the vehicle would make it easier for Kuntoro to travel to places where the roads are still in bad shape. — JP

Pemerintah Dinilai Disktiminatif Memperlakukan Debitur Korban Gempa Nias

Thursday, June 15th, 2006

Medan (SIB)

Pemerintah dinilai diskriminatif memperlakukan debitur korban gempa Nias dibandingkan debitur korban gempa Yogya dan Jawa Tengah yang mendapat penghapusan utang kredit. Penilaian itu disampaikan Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan (Elsaka) kepada wartawan, Selasa (13/6) menanggapi pernyataan Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tentang penghapusan kredit bagi para korban gempa di Yogya dan Jawa Tengah. (more…)

Pengusaha Wisata Australia Lirik Nias dan Samosir

Tuesday, June 13th, 2006

Medan (Tempo Interaktif Online),

Lima orang pengusaha pariwisata asal Australia berminat mengembangkan daerah tujuan wisata Nias dan Pulau Samosir, Sumatera Utara. Max Millie, salah seorang pengusaha film layar lebar dari Melbourne, negara bagian Victoria, menyatakan keinginannya tersebut dihadapan pelaku industri pariwisata di Kantor Badan Pariwisata Sumatera Utara, Selasa. (more…)

Penyaluran Raskin untuk Nias dan Nisel 100.634 RTM

Tuesday, June 13th, 2006

Gunungsitoli (Analisa)

Pemerintah melalui Seksi Logistik Gunungsitoli, akan melakukan penyaluran beras miskin (Raskin), untuk 100.634 Rumah Tangga Miskin (RTM) yang ada di Kabupaten Nias dan Nias Selatan.Penyaluran akan rencakan dilaksanakan awal Juli mendatang, kata Kepala Seksi Logistik Gunungsitoli Rustam Efendi Pane melalui Staf Kasilog Burhanudin saat dihubungi Analisa, di kantornya Jalan Yos Sudarso Kecamatan Gunungsitoli. (more…)

House dismayed by slow Aceh reconstruction

Monday, June 12th, 2006

Saturday, June 10, 2006

M. Taufiqurrahman, The Jakarta Post, Jakarta

House of Representatives lawmakers are unhappy with the performance of the Aceh-Nias Reconstruction and Rehabilitation Agency (BRR).

In its single year of existence the BRR had done little to build much-needed infrastructure in Aceh and Nias, House Speaker Agung Laksono said.

"We are very disappointed (with the BRR) as we had imagined that brand-new cities would rise from the debris of regions hit by the tsunami. But this has not materialized," Agung said.

Agung said that in the two hardest-hit areas in Banda Aceh, Lampase and Uleuleu, conditions were virtually the same as they were days after the tidal wave struck on Dec 26, 2004.

"There is no city planning; everything is in chaos. The results don't match the excessive amounts of foreign aid that has poured in," he said.

Earlier this week during a visit to Aceh, Agung said he was concerned about the poor quality of houses the BRR built for tsunami survivors.

Many did not even have toilets, he said.

Responding to Agung's criticism, BRR chief Kuntoro Mangkusubroto said his agency would improve the quality of more than 41,000 houses scheduled to be built later this year.

The House called on President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice President Jusuf Kalla to summon BRR executives to account for their work.

The House, meanwhile, plans to summon 11 Cabinet ministers to question them on the reconstruction's progress.

Muhaimin Iskandar, who chairs the House monitoring team for the Aceh and Nias reconstruction, said a meeting with the ministers was scheduled for next week.

He said BRR executives could not argue that the need for consultation with locals had slowed the rebuilding process down because construction decisions had already been made and the Rp 1.52 trillion fund for the projects had been disbursed.

The BRR was established on April 16, 2005, for a four-year period.

The agency's stated mission is to restore and strengthen communities in Aceh and Nias by designing and overseeing a coordinated, community-driven reconstruction and development program, implemented according to the highest professional standards.