Penulis : Ade Alawi
ASOSIASI TRADISI LISAN/YUL

JAKARTA–MI: Tradisi lisan sebagai bagian dari mata budaya Indonesia merupakan tambang emas yang memiliki nilai ganda; bernilai pengetahuan dan ekonomis. Tradisi lisan tidak pernah kuno, dan bisa dikembangkan sesuai dengan kemajuan modernisasi.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia yang juga Pembina Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Mukhlis PaEni mengatakan Kekayaan kultural bangsa acapkali sekedar menjadi kebanggaan tanpa kita sadari eksistensinya makin menyedihkan, tergerus oleh zaman. Kekayaan kultural bangsa itu salah satunya adalah tradisi lisan. Karenanya, Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 1-3 Desember mendatang, sangat penting.

”Dalam acara itu, kita akan membedah persoalan tradisi lisan dari berbagai aspek. Intinya, bagaimana kita merevitalisasi tradisi lisan pada era sekarang ini,” katanya kepada Ade Alawi dari Media Indonesia, Selasa (18/11).

Sebelumnya, Ketua ATL Pudentia MPSS mengatakan, tradisi lisan adalah produk budaya. ”Tradisi lisan mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, seperti sistem nilai, adat istiadat, bahasa, dongeng, dsb,” kata pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) ini (bukan mantan Dekan FIB UI, red).

Mukhlis menilai kita mengabaikan produk budaya sendiri. ”Padahal tradisi lisan adalah tambang emas yang bisa bernilai pengetahuan dan ekonomis. Dan, kita biasanya ribut kalau sudah dikembangkan negeri tetangga,” ujarnya.

Salah satu contoh yang ironis, lanjutnya, khazanah budaya Bugis, I La Galigo, malah menjadi industri kreatif oleh Robert Wilson dari Amerika Serikat. ”Naskah yang bercerita tentang kepahlawanan Bugis itu dipentaskan keliling dunia. Kita cuma bisa menonton,” ujar mantan Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu.

Ia mengemukakan pentingnya tradisi lisan masuk ke dalam kurikulum sekolah, sehingga generasi muda tidak kehilangan kekayaan budaya bangsa itu. (Alw/X-10)

Sumber: http://mediaindonesia.com/, OL tgl. 15 Des. 2008

Facebook Comments