Catatan Redaksi: Menyusul ditayangkannya wawancara Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz pada tgl 19 April 2007, Redaksi mengirim dua pertanyaan susulan. Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz bersedia menjawab satu dan ditambahkan pada bagian akhir teks wawancara ini. Semoga bermanfaat.

Dalam wawancara ini, Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz, mengungkapkan sebagian dari hasil penelitiannya tentang kehidupan Eduard Fries dan karya awal misioner Kristendi Nias. Dr Tjoa-Bonatz lahir di Frankfurt, Jerman, memperoleh gelar MA dalam bidang Art History, Archaeology and Southeast Asian Studies di Frankfurt tahun 1994 dan Ph.D. dengan riset berjudul: “Shophouses in Penang, Malaysia” pada Technical University of Darmstadt pada tahun 2001.

Tentang Eduard Fries, dia menulis Bab: “Idols and Art: Missionary Attitudes toward Indigenous Worship and the Material Culture on Nias” pada buku yang akan terbit berjudul: “Casting Faiths: Imperialism, Technology and the Transformation of Religion in East and Southeast Asia (disunting oleh Thomas David Dubois). (eh)

Bisakah Anda ceritakan siapa Eduard Fries ?

Eduard Fries lahir tahun 1877 di Barmen, sebelah barat daya Jerman. Dari tahun 1895 hingga1899 Fries belajar ilmu teologi pada empat universitas yang berbeda di Jerman. Pada tahun 1902 dia menjadi anggota Masyarakat Misioner Rhein (the Rhenish Missionary Society). Pada tahun 1904 beliau tiba di Pulau Nias dan tinggal di sana selama 16 tahun, pada waktu mana dia menikah dan dikaruniai 8 (delapan) orang anak. Setelah merintis stasi misi pertama di Sifaoro’asi, Fries pindah ke arah timur, Ombölata, pada 1913 dan mulai mendidik para pendeta lokal. Setelah terpilih menjadi kepala misi Protestan di Nias, Fries mengkoordinasikan karya misi di Pulau Nias. Pada tahun 1920 Fries kembali ke tanah leluhurnya, Jerman untuk pertama kalinya setelah 17 tahun. Di Jerman ia diangkat menjadi Direktur the Rhenish Missionary Society di Barmen. Fries meninggal dunia dua tahun kemudian pada tahun 1923.

Apa ciri atau kualitas karya misi Fries yang menyolok / khas selama di Nias ?

Fries terjun langsung untuk mengajarkan keahlian-keahlian baru kepada masyarakat lokal, mengajar orang-orang tuna aksara, menyediakan pengobatan medis, melakukan perekaman penelitian etnografis dan menerjemahkan buku-buku. Fries mengembangkan apresiasi terhadap kebudayaan lokal. Beliau adalah seorang penulis produktif.

Kedatangan misi Kriten di Nias membawa dua “buah” yang sepertinya saling bertentangan: pencerahan di satu pihak (seperti memperkenalkan pendidikan dan agama monoteistik kepada masyarakat Nias), dan di pihak lain “terjauhkannya” (atau bahkan tercabutnya) masyarakat Nias dari akar budayanya. Apakah ini suatu keniscayaan ataukah ada jalur alternatif lain yang bisa ditempuh oleh para misionaris Kristen pertama di Nias ?

Hal ini tidak bisa dijawab karena kondisi-kondisi historis dan mind-set dibentuk oleh konsepsi-konsepsi para misionaris sendiri. Dalam banyak cara para misionaris menemukan kembali akar-akar budaya Nias dengan menciptakan konsep baru khas pulau.

Dalam abstrak kontribusi Anda berjudul: “Idols and Art: Missionary Attitudes toward Indigenous Worship and the Material Culture on Nias” pada buku: “Casting Faiths: Imperialism, Technology and the Transformation of Religion in East and Southeast Asia” yang akan terbit, Anda menyinggung tentang “sumber-sumber yang belum dipublikasikan dari misionaris Jerman Eduar Fries”. Bisakah Anda jelaskan lebih lanjut ?

Fries menulis lebih dari lima ratus surat pribadi dan 65 artikel yang dipublikasikan sebagai sirkuler (surat edaran) dari tahun 1903 hingga 1914 untuk audiens terbatas. Beliau juga meninggalkan 140 gambar dan 20 peta Pulau Nias, catatan-catatan pribadi, dan catatan-catatan harian (diari) yang sekarang menjadi milik keluarga Fries.

Hal-hal apa saja yang diungkapkan oleh “sumber-sumber yang belum dipublikasikan” ini kepada kita tentang misi awal Kristen di Nias ?

Hal ini akan disajikan pada buku yang akan segera terbit.

Anda juga menyebutkan tentang penghancuran beberapa budaya material Nias dan pelestarian yang lain. Bagaimana para misionaris awal Kristen ini mengklasifikasikan “dunia artefak Nias yang kaya” itu ke dalam (1) kelompok yang mengancam iman kristiani yang harus dihancurkan, dan (2) kelompok yang “ramah” (tak membahayakan iman Kristen) sehingga diselamatkan ?

Mereka menggunakan kriteria yang merekan kenal dari tanah leluhur mereka (lihat publikasi yang akan datang). Kriteria seni misalnya dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan. Objek-objek dari kayu dianggap sebagai berhala sementara artefak-artefak batu dianggap merepresentasikan pernyataan-pernyataan politis jadi dianggap sebagai seni. Oleh karena itu, objek-objek kayu dalam dunia masyarakat Nias yang lebih privat sebagian besar dihancurkan sementara patung-patung dari batu yang kita saksikan di berbagai desa hingga kini – walau ditempatkan pada ruang-ruang umum – tidak “disentuh”.

Kapan “penghancuran” budaya ini berlangsung ?

Terjadi pada akhir abad 19 dan awal abad 20 hingga tahun 1930an.

Seperti Anda tahu, sejumlah artefak kayu dari Nias kini berada di museum-museum di Eropa. Apakah “migrasi” artefak-artefak ini ke Eropa terjadi selama periode “penghancuran” itu ?

Ya, artefak-artefak itu berpindah ke museum-museum di Eropa pada “periode penghancuran”.

Apa makna riset Anda tentang karya-karya misionaris awal Kristen bagi Misi Kristiani dan bagi masyarakat dan budaya Nias ?

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan latarbelakang sikap para misionaris dan tindak-tanduknya.

Terima kasih atas wawancara ini. Yaahowu.

Terima kasih. Yaahowu.

Catatan Redaksi: Naskah asli wawancara dalam bahasa Inggris dapat dilihat di Nias Online.