E. Halawa*
Kita baru saja merayakan Natal dan sejak masa Adven hingga beberapa hari sesudah hari Natal kita masih akan terus mengirim atau menerima ucapan selamat Natal ke atau dari teman atau keluarga kita. (more…)
E. Halawa*
Kita baru saja merayakan Natal dan sejak masa Adven hingga beberapa hari sesudah hari Natal kita masih akan terus mengirim atau menerima ucapan selamat Natal ke atau dari teman atau keluarga kita. (more…)
E.Halawa*
Dalam Li Niha berbagai jenis kata yang muncul dalam kalimat pada umumnya mengalami perubahan pada huruf awalnya, yang dalam ilmu bahasa disebut muatsi awal (initial mutation, lih. wawancara dengan Dr. Lea Brown). Misalnya saja dalam kata “Hadia duria ?†(Apa kabar?), kata “duria†telah mengalami perubahan huruf awalnya; kata “duria†di sini berasal dari kata dasar “turia†yang berarti berita atau kabar. Contoh-contoh lain adalah: ama (ayah) -> nama; ina (ibu) -> nina; balugu (pengetua adat) -> mbalugu; tuhe -> duhe; sato (publik, orang banyak) -> zato; So’aya (Tuhan) -> Zo’aya. (more…)
E. Halawa*
Dalam Li Niha bunyi “e” yang muncul seperti dalam kata-kata: seperti, kemarin, merpati, dan sebagainya dituliskan dengan karakter khusus “ö”. Jadi dalam Li Niha tidak ada keraguan pengucapan antara bunyi “e” seperti yang muncul dalam kata-kata di atas dengan bunyi “e pepet” yang muncul seperti dalam kata-kata: enak, sepak, dan tembak. (more…)
Pengantar Redaksi: Milis Li Niha yang beberapa waktu lalu dibuka oleh Yustinus Waruwu telah aktif mendiskusikan berbagai hal tentang Li Niha. Salah satu hasil kecil dari milis tersebut adalah ‘turia’ berikut, yang di-li-niha-kan oleh E. Halawa & Antonius Gea. Anda berminat ? Bergabunglah dalam Milis Li Niha. (more…)
Dalam Li Niha, huruf d yang muncul misalnya dalam kata: dela (titian), deha (cabut), dölö (terus) diucapkan agak berbeda dengan pengucapan d dalam bahasa Indonesia. Orang-orang yang berasal dari Nias Utara, Nias Barat dan sebagian Nias Tengah mengucapkan d berbeda dengan orang-orang Nias yang berasal dari Nias Tengah (Lahusa, Lölöwa’u, Lölöfitu Moi, dan sebagainya). (more…)
[Catatan: Tulisan berikut diambil dari Buku E. Fries, Amuata Danö Niha, yang memberikan berbagai informasi tentang Nias: keadaan iklim, geografi, sejarah, kekayaan alam dan sebagainya. Perhatikan ejaan yang dipakai dan beberapa kata Nias yang sudah jarang dipakai saat ini: mafi, giwö, fari.] (more…)
E. Halawa*
Na fahuho ndraono khöda si bohou egebua ba ma zui Ono Niha si no ara ba danö misa, si mane sanura sura andre, ba agasese modokea ita wamondrongo niwa’öra. Bakha ba zi sambua fehede salua baehara, ba faruka fakhöyö ira Li Nono Niha (Li Niha) li Indonesia. (more…)
E. Halawa*
Bahasa adalah konvensi. Itulah pernyataan yang sering kita dengar yang berkaitan dengan pemunculan istilah atau kebiasaan berbahasa dalam bahasa apa pun. Maka, suatu istilah baru dapat saja muncul, sejauh disepakati, diterima oleh penutur bahasa itu, meskipun itu terkadang bertentangan dengan kaidah-kaidah umum bahasa yang bersangkutan. Konvensi adalah salah satu cara melalui mana suatu bahasa berkembang. Konvensi biasanya dimunculkan oleh ‘komunitas’ yang mempunyai pengaruh tertentu karena keahliannya, dominasi ekonomi atau sosialnya, atau karena kegiatan khusus tertentu yang digumuli, dan sebagainya. (more…)
E. Halawa*
Pada suatu kesempatan berkunjung ke Nias tahun 1999, saya berbicara di depan masyarakat sebuah desa dalam sebuah pertemuan. Karena masyarakat yang hadir kebanyakan adalah orang tua-tua dan tidak memahami Bahasa Indonesia dengan baik, saya putuskan untuk berbicara dalam Bahasa Nias, Li Niha atau Li Nono Niha. (more…)