Archive for the ‘Publikasi’ Category

Buku “NIAS BANGKIT: Langkah-Langkah Awal” mendapat Penghargaan Nugra Jasadarma Pustakaloka 2012

Monday, October 15th, 2012

Jakarta (Nias Online) – Sesuai dengan amanat UU No.4 Tahun 1990, Perpustakaan Nasional melalui Direktorat Deposit Bahan Pustaka menyelenggarakan pemilihan Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Proses seleksi/pemilihan ini telah dilangsungkan sejak tanggal 9 Mei sampai 3 September 2012. Berkaitan dengan ini Perpustakaan Nasional RI menganugerahkan Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kepada Buku “Nias Bangkit: Langkah-Langkah Awal” sebagai Juara 1 Kategori Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Buku ini ditulis oleh Esther GN Telaumbanua, SE, dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (PSH). Penghargaan kepada Penulis dan Penerbit diserahkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Dra.Sri Sularsih, MSc pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 di Gedung Theater Perpustakaan Nasional RI Jakarta.

Selanjutnya pada tanggal 11 Oktober 2012 dilangsungkan penganugerahan penghargaan kepada seluruh pemenang enam kategori dalam acara “Gemilang Perpustakaan Nasional” di gedung SMESCO Tower Jakarta.

Penerima Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 selengkapnya adalah:

Kategori Buku (Bahan Pustaka):

Juara 1: Esther GN Telaumbanua (Nias Bangkit : Langkah-langkah Awal)
Juara 2: Hendra Surya (Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar)
Juara 3: H Tukiran Taniredja, dkk (Model-model Pembelajaran Inovatif).

Kategori Perpustakaan Desa:

Terbaik Cluster A : Perpustakaan Desa Ngagel Rejo, Surabaya (Jawa Timur); Terbaik Cluster B : Perpustakaan Tut Wuri Desa Pitahan (Kaltim); Terbaik Cluster C : Perpustakaan Mapideceng Desa Senga Selatan, Kab. Luwung (Sulsel).

Kategori Tokoh Masyarakat:

Trini Haryanti (Jawa Timur); Shri IB DarmikaMarhaenWedastera PS (Bali); Saufni Chalid (Sumatera Barat); M Amin Suprijatna (DKI Jakarta); Muhammad Nur (NTB); Andreas P Cornelius (Maluku); Naim Ali (Jawa Timur); Triwiyana; HA Kholiq Arif, MSi (Bupati Wonosobo, Jawa Tengah); Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah, M.Agr (Bupati Bantaeng, Sulsel); Syafaruddin Usman (Penulis, Pontianak, Kalbar); dan Nadi Mulyadi (Wartawan, Jogja TV).

Pemenang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI:
Juara 1: Muthia Nur Tsabitha (Jambi)
Juara 2 : Rahardi (Sulsel)
Juara 3 : Naqdzayatun Nur Ivana Isa (Gorontalo).

Pustakawan Berprestasi Nasional:
Suharyanto (DKI Jakarta); Nazaruddin (Nanggroe Aceh Darussalam); Irkhamiyati (DI Yogyakarta).

Penerima Anugrah Lifetime Achievement adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS .

Salah satu penerima penghargaan adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS. Beliau adalah pencetus berdirinya Perpustakaan Nasiona dan merupakan Pustakawan Utama Pertama yang dimiliki Indonesia. Sementara penulis buku pemenang kategori bahan pustaka yaitu Esther GN Telaumbanua adalah Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit yang melaksanakan berbagai program pemberdayaan bagi masyarakat Nias pasca bencana. Esther juga aktif menulis berbagai tulisan tentang kehidupan masyarakat Nias.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dalam sambutannya di acara tersebut menyampaikan ucapan terima kasih dan kebanggaannya kepada semua pihak, baik secara perseorangan maupun organisasi atas usaha dan dukungan dalam mengangkat citra, harkat dan pengembangan perpustakaan nasional dalam membantu tugas Pemerintah mencerdaskan dan meningkatkan kualitas masyarakat. Kerjasama dan koordinasi yang baik diharapkan dapat ditingkatkan untuk keberhasilan dan prestasi gemilang perpustakaan nasional di masa mendatang.

Dalam rangka publikasi Gerakan Nasional Indonesia Membaca sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca yang dicanangkan Wapres Boediono, 27 Oktober 2011 lalu Perpusnas telah melaksanakan Roadshow ke berbagai daerah seperti Palembang, Semarang, Kupang, dan Surabaya disemarakkan dengan berbagai acara talkshow yang melibatkan berbagai pihak dengan tema “Jadikan Perpustakaan Sahabat Pintar Keluarga Indonesia”.

Pengembangan budaya membaca sangat erat kaitannya dengan perpustakaan. Selain memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang berprestasi, Perpustakaan Nasional berharap lewat kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan budaya gemar membaca untuk mengejar ketertinggalan informasi, meningkatkan kualitas pendidikan dan apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan.

Acara Penganugerahan Nugra Jasadarma Pustaloka dikemas dalam acara Gemilang Perpustakaan Nasional 2012 yang disemarakkan dengan musik dan persembahan lagu-lagu dari artis pendukung acara.
(/bo)

Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias: Paduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi

Thursday, January 20th, 2011

Oleh : Ketut Wiradnyana

Nias, merupakan salah satu pulau yang kaya dengan tinggalan Megalitik, dan tinggalan dimaksud masih tetap berdiri tegar di perkampungan-perkampungan tradisional hingga kini. Hampir seluruh aspek kebudayaan Nias yang kita lihat sekarang ini terasa unsur budaya Megalitiknya. Di Nias Selatan, beberapa prosesi upacara yang berkaitan dengan pendirian banggunan Megalitik (upacara owasa/faulu), dan masih dilaksanakan hingga kini, hanya saja dengan berbagai penyesuaian. Adapun penuesuaian pada upacara owasa/faulu (upacara besar untuk meningkatkan status sosial) di antaranya secara komunal, sehingga babi yang diperlukan dalam upacara tersebut dapat menjadi beban bersama.

Berbagai hal yang dapat dipetik dari pelaksanaan upacara owasa/faulu dimaksud di antaranya memiliki status yang tinggi di masyarakat, karena status yang didapatkan dari upacara itu memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan dengan status yang didapatkan dengan cara yang lain, seperti pendidikan, misalnya, sehingga tidak jarang peran bangsawan lebih besar dibandingkan dengan peran kepala desa yang bukan dari kelompok bangsawan. Menjadi bangsawan merupakan upaya pencapaian yang lebih tinggi dalam kosmologis lama, selain upaya mendekatkan diri dengan leluhur, baik dalam konteks religi maupun dalam konteks kekerabatan. Hal tersebut diperlukan mengingat senioritas memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yuniornya, sehingga orang yang tinggi tingkatannya dalam kosmologis lama (tingkatan owasa/faulu berkaitan dengan tingkatan kosmologis) atau dekat dalam struktur kekerabatan dengan leluhur, memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya.

Ketika migrasi terakhir datang ke Boronadu, Gomo, pada tahun 1400-an Masehi, di bagian selatan Pulau Nias (sesuai dengan folklor lisan asal-usul masyarakat Nias), telah ada sekelompok orang yang tinggal di bagian utara Nias, yaitu di Gua Togi Ndrawa, dan juga di Gua Togi Bogi. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil serangkaian penelitian arkeologis yang disertai dengan serangkaian analisis radiokarbon (C14). Mengingat budaya yang dibawa kelompok migrasi terakhir ini. di antaranya, sangat menjunjung konsep senioritas, maka disusunlah folklor asal-usul masyarakat Nias, dengan menyampaikam bahwa leluhur merekalah yang pertama kali turun dari langit, sebelum leluhur kelompok lainnya ada di pulau Nias. Dengan demikian, legitimasi atas wilayah dan juga berbagai aspek sosial lainnya menjadi sah. Konsep tersebut dimungkinkan untuk diterima, mengingat budaya yang dibawa kelompok migran terakhir lebih maju, baik dari aspek teknologi, religi, dan cara hidup, yang kemudian dilegalisasi dari aspek budaya materi, kosmologis, religi, konsep struktur sosial, dan upacara, serta selalu menjadi bagian prosesi keseluruhan aspek dimaksud.

Sumber: Yayasan Obor – http://www.obor.or.id/bukus/view/739/baru

Novel Baru: Manusia Langit

Wednesday, January 19th, 2011

Judul Buku: MANUSIA LANGIT: SEBUAH NOVEL ETNOGRAFIS
Halaman: 210 + xi
Pengarang: J. A. Sonjaya
Penerbit: KOMPAS
Waktu terbit: September, 2010

Mahendra, seorang arkeolog muda, berusaha melepaskan diri dari kungkungan peradaban kampus. Ia menempuh jalan lain di Banuaha, sebuah kampung di pedalaman Nias yang dipercaya penduduknya sebagai tempat turunnya manusia dari langit. Perjuangannya untuk menjadi orang Banuaha sangat sulit. Ia harus melintasi batas-batas kebudayaan yang berbeda, terutama menyangkut identitas, prinsip hidup-mati, pesta, juga soal… perempuan.

Bagaimana sebuah harga diri diperbincangkan oleh dua orang yang berbeda latar belakang budaya? Bagaimana sebuah cinta diperjuangkan oleh dua lelaki yang mempunyai tolok ukur yang berbeda tentang hakikat perkawinan dan cinta? Bagaimana nasib Saita, gadis yang dicintai Mahendra tapi sudah terlanjur ‘dibeli’ pemuda dari kampung tetangga? Bagaimana Mahendra sampai pada kesadaran diri sebagai manusia langit?

Temukan jawabannya pada novel J. A. Sonjaya berjudul MANUSIA LANGIT—sebuah novel yang membawa kita menyelami kultur Nias yang eksotik sekaligus hanyut dalam kehidupan dunia kampus yang penuh romantika. Sebuah cinta yang mengharukan dengan latar beragam budaya yang berbeda.

Balutan fiksi atas realitas etnografis yang ditulis secara dalam tapi mengalir telah membentuk sebuah drama kehidupan yang dapat dinikmati berbagai kalangan. Inilah salah satu cara manusia langit (akademisi) membumikan hasil penelitiannya.

Dapatkan novel ini di Gramedia, di toko-toko buku kesayangan Anda, di Perpustakaan Antropologi FIB UGM, di Perpustakaan Arkeologi FIB UGM, di PSAP UGM, dan melalui belbuk.online.

Informasi Buku Baru Terbit Oktober 2010

Sunday, October 31st, 2010

Judul : Jejak Cerita Rakyat Nias
Penulis : Victor Zebua
Cetakan 1 : Oktober 2010
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal : xii + 199 halaman

Banyak cerita rakyat diproduksi budaya Nias. Ada mite, legenda, dan dongeng: Sara Wangahalö, Malio Sibaya Mbaŵa, Lawaendröna, Lamonia, Tödö Hia, Tödö Tuwada Loya, Manusia dari Teteholi Ana’a, Latura Danö, Sila’uma, Sibowo Döfi Madala, Ho, Buruti Siraso, Sibaya Wakhe, Siléwé Nazarata, Béla, Awuwukha, Asal-usul Kepulauan Batu, Laowömaru.

Selain berisi pelbagai cerita rakyat Nias, buku ini mencoba mengkaji eksistensi cerita dan kolektif-pendukungnya. Kita bisa ‘mengintip’ dinamika dan perubahan sosial masyarakat Nias abad ke-19 hingga ke-20. Beberapa cerita menjadi saksi sirnanya tradisi, seperti: kalender tradisional, upacara ritual kematian, wanömba adu, mitos dewa-dewi padi. Mite first man descends from sky mengindikasikan masyarakat Nias berasal dari leluhur multietnis.

Buku ini diperuntukkan bagi masyarakat Nias, pemerhati budaya Nias, penikmat folklor, mahasiswa peminat antropologi budaya, dan terutama untuk generasi penerus suku Nias.

Nasib Mereka Berjalan Kaki

Wednesday, September 1st, 2010

Catatan: Artikel ini muncul di Majalah Tempo edisi 24 Juni 1978 sebagaimana dikutip dalam buku berjudul: Formal Indonesian karangan John U. Wolff dari Cornell University – Southeast Asia Program. Dalam buku itu, artikel tadi dijadikan sebuah Bahan Bacaan Unit ke 16 bagi mahasiswa yang sedang memperdalam bahasa Indonesia. Pembaca dapat melacaknya di dunia maya dengan mesin pencari google dengan kata kunci: “Formal Indonesian John U. Wolff”. Selamat mengikuti (Redaksi).

Kabupaten Nias jangan dikira hanya terdiri dari Gunung Sitoli. Kota Gunung Sitoli hanya ibukota Kabupaten Nias, salah satu daerah tingkat II di Sumatera Utara. Kabupaten ini terdiri dari 13 kecamatan, 12 di antaranya berada di Pulau Nias. Selebihnya berupa himpunan dari pulau-pulau Batu yang terdiri tak kurang dari 131 buah pulau kecil.

Sejak Menteri Perhubungan (ketika itu Emil Salim) mersmikan lapangan terbang perintis Binaka di Gunung Sitoli April 1976, tiba-tiba saja jarak antara Medan-Gunung Sitoli menjadi dekat. Sebelumnya jarak terdekat ke ibukota Kabupaten Nias ini dari daratan Sumatera melalui Sibolga dengan kapal. Bila cuaca sedang baik, artinya ombak dan badai Samudera Indonesia sedang jinak, jarak yang hanya 80 mil itu akan memakan waktu 12 hingga 15 jam. Sekarang dengan pesawat Merpati tiga kali seminggu, Medan – Gunung Sitoli dapat ditempuh dalam waktu satu jam.

Kesulitan perhubungan antar pulau-pulau itu satu gambaran dari wajah Kabupaten Nias secara keseluruhan. Tapi lebih dari itu, adalah sarana perhubungan di Pulau Nias sendiri.

Jika akhir-akhir ini petani Nias mulai beralih ke tanaman nilam tak salah lagi, ini erat hubungannya dengan keadaan jalan di sana. “Mereka merasa lebih untung bertanam nilam,” kata Bupati Nias, Dalimend, kepada Amran Nasution dari TEMPO.

Sebab dengan menanam padi, berarti mereka membuat penderitaan besar. Untuk memasarkan satu karung padi, sama artinya dengan harus memikulnya berpuluh-puluh kilometer, dengan hasil uang tak seberapa. Sedangkan dengan menjinjing tiga kg minyak nilam saja ke kota terdekat, penduduk pedalaman sudah mendapat hasil lumayan. Di Gunung Sitoli sekarang, tiga kg minyak nilam berharga Rp 8.000.

Rp 450 per jumba
Tapi beralihnya penduduk Nias ke tanaman nilam tak menggembirakan Bupati Dalimend. Selain harga nilam itu tak stabil, juga akhir-akhir ini kabupaten itu harus mendapat suntikan beras ratusan ton tiap minggu. Beras itu dimasukkan pedagang-pedagang dari Sibolga. Namun persoalannya akan menjadi semakin ruwet ketika sampai pada giliran beras-beras itu harus diangkut ke pedalaman: lagi-lagi karena sarana perhubungan yang buruk. Akibat lanjutannya, sedikit saja beras terlambat masuk, harga dapat membubung mencapai Rp 450 per jumba (satu jumba = kira-kira dua kg)*.

Di zaman Belanda dulu pemerintah Belanda pernah membangun jalan (ring road) sepanjang 367 km di Pulau Nias. Karenanya pernah ada tiga jalur jalan dari Gunung Sitoli yang dapat dilalui mobil ke seluruh ibukota kecamatan. Satu jalur menyusur pantai selatan menuju daerah pariwisata Teluk Dalam melalui kecamatan Idanõ Gawo, sepanjang 102 km. Satu jalur lagi dari Teluk Dalam ke daerah Nias Tengah. Jalur jalan ketiga adalah dari Gunung Sitoli ke utara melalui Tuhemberua menyusur pantai sampai Lahewa di ujung utara pulau. Karena jalur-jalur jalan itu menyusur pantai, maka perkembangan kota-kota Nias umumnya berada di sepanjang pantai. Bagian tengah pulau masih diselimuti hutan tanpa manusia.

Sampai tahun 1966 jalam buatan Belanda itu hanya tinggal 50 km saja yang masih dapat dilalui mobil. Selebihnya hancur total. Di masa Pelita ternyata juga tak banyak kemajuan. Jangankan membuat jalur yang baru, untuk memulihkan yang pernah ada saja tak kunjung beres. Menurut Dalimend, melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Sumatera Utara jalan peninggalan Belanda yang digolongkan jalan propinsi itu (lebar tiga meter) baru berhasil direhabilitir sepanjang 145 km. Karena itu jika dari Gunung Sitoli hendak berkendaraan mobil hanya mampu mencapai Tuhemberua di utara dan Idanõ Gawo di selatan.

Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten Nias sendiri memang turut merancang sejalur jalan kabupaten sepanjang 650 km. Yaitu jalan penghubung desa-desa dengan ibukota-ibukota kecamatan. Tapi karena APBD daerah ini hanya berkisar Rp 480 juta tiap tahun, maka biaya itu sebagian besar habis untuk ongkos rutin. Karena itu rencana pembangunan jalan kabupaten itu sampai sekarang hanya terlaksana 50 km saja. Akibatnya sampai sekarang tak kurang dari delapan kota kecamatan yang masih terkurung (di luar Pulau-pulau Batu), yaitu: Lahewa, Alasa, Gomo, Lahusa, Mandrehe, Sirombu, Lõlõwa’u dan Teluk Dalam. Belum lagi jalan ke desa-desa. Karena itu tak heran jika wabah muntah berak yang menyerang daerah ini dua bulan lalu menelan korban cukup banyak. Karena pertolongan sulit diberikan untuk menyusur desa-desa nun di pedalaman sana dengan kaki atau naik sepeda.

Sampai sekarang agaknya warga Nias harus menerima nasib yang ditakdirkan sebagai pejalan kaki yang patuh. Warga Lahewa misalnya, jika hendak ke Gunung Sitoli, harus menempuh jarak 80 km, 35 km di antaranya dapat dilalui dengan mobil. Selebihnya tak ada pilihan lain: berjalan kaki. Dan inipun, apa boleh buat, harus mereka tempuh, lebih-lebih bila hendak menjual hasil pertanian mereka. Artinya dengan berjalan kaki puluhan kilometer itu, di kepala atau di punggung mereka terjunjung belasan kilo barang dagangan. Belum lagi, harus naik turun bukit dan menyeberang sungai, karena semua jembatan telah hancur.

Mengapa tidak ada kuda? “Bisa menimbulkan ketegangan antar suku,” jawab Bupati Dalimend. Sebab jika seekor kuda sedikit saja merusak tanaman orang lain, maka akan timbul perkelahian yang menyeret suku atau marga. Ternak kuda tak populer di sini, kecuali babi yang rupanya cukup subur.

Gadis-gadis Nias cantik-cantik. Berkulit kuning langsat. Ciri khasnya: betis mereka berotot menonjol seperti pemain bola kaki. Tentu saja, karena sejak kecil merka terlatih berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. (brk)

Waõwaõ Duria Somuso Dõdõ ba Danõ Niha

Wednesday, January 6th, 2010

Buku ini, sebagaimana terlihat dari judulnya, mengisahkan masuknya dan berkembangnya agama Kristen, khususnya Protestan, dan lebih khusus lagi Banua Niha Keriso Protestant (BNKP) di Nias. Redaksi Nias Online memiliki Cetakan ketiga (2007) sedangkan Cetakan I dan II, menurut pengantar buku itu, masing-masing dikeluarkan pada tahun 1971 dan 1987.

Perjumpaan Tuan Denninger dengan orang-orang Nias di Padang dan kedatangannya di Nias pada 27 September 1865 mengawali berbagai kisah turia somuso dõdõ yang ditulis dalam buku ini. Kisah lain yang menarik mencakup perkembangan kelompok-kelompok kristen di berbagai daerah di Nias, kisah fangesa dõdõ di Nias,  berbagai sinode yang diselenggarakan BNKP dan riwayat hidup singkat para Ephorus BNKP. (more…)

Music of Nias & North Sumatera

Monday, October 13th, 2008

Pada tahun 1992, Smithsonian Folkways – lembaga rekaman Smithsonian Institution – museum nasional Amerika Serikat merekam dan menerbitkan Music of Indonesia volume 4 yang berisi musik/lagu dari daerah Karo, Nias dan Toba. (more…)

Perkembangan Kedudukan Wanita Dalam System Partineal Terhadap Hak-Hak Pewarisan Tanah di Daerah Kabupaten Nias

Thursday, August 28th, 2008

Oleh: Mariati Zendratõ

Makalah ini mengulas tiga hal: (1) kedudukan wanita Nias dalam hukum adat yang menganut system patrilineal, (2) kedudukan wanita dalam konteks perkembangan zaman terhadap hak-hak waris tanah, (3) pengaruh peraturan perundang-undangan yang berlaku terhadap perkembangan kedudukan wanita sekarang ini – Makalah dapat dibaca di: www.library.usu.ac.id/download/fh/fh-mariati.pdf.

Dongeng Nias di Mata Orang Jawa

Friday, June 20th, 2008

*Sebuah Resensi Buku

Judul Buku: Melacak Batu Menguak Mitos, Petualangan Antarbudaya di Nias
Penulis: Jajang A Sonjaya (Ama Robi Hia)
Penerbit: Kanisius dan Impulse, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: 147 halaman (more…)

MELACAK BATU MENGUAK MITOS

Thursday, April 10th, 2008

Penulis: Jajang A. Sonjaya (Ama Robi Hia)
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Tebal: 143 halaman
Cetakan I: Januari 2008 (more…)

Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC

Tuesday, January 8th, 2008

….Yaahowu
Yang terempas dan Yang Putus
Miwo manu si mendrua…. (more…)

Mesozochö Bu’ulölö Telah Memukau Saya

Tuesday, November 6th, 2007

Mesozochö Bu’ulölö telah memukau saya. Dengan daya ingatnya yang kuat dan tanpa membaca sebuah catatan, ia melantunkan syair Hoho tanpa terputus. Saya dan rekan-rekan segera mencatat dan merekam tradisi lisan yang dapat mengungkapkan masa lalu Nias yang disampaikan Mesozochö dalam gaya bertutur Nias Selatan. Di sebuah desa tradisional, Hilinawalö – Fau, saya kali pertama bertemu Mesozochö, yang seringkali disapa Ama Sama, sekitar tahun 1987. (more…)

Cross and Adu

Friday, September 28th, 2007

Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965) / Uwe Hummel & Tuhoni Telaumbanua – [S.l.] : [s.n.], 2007 – Doctoral thesis Utrecht University (more…)

A Study of the Nias Revival in Indonesia

Wednesday, June 6th, 2007

Julia Theis Dermawan

Abstract
In the years between 1915 and 1940, the Niasan church in Indonesia rapidly grew. During this twenty-five year period, between the Golden Jubilee and the Diamond Jubilee, the number of baptized believers in Nias increased from about 20,000 to 135,000. (more…)

Prospektif dan Wacana Pemekaran Kabupaten Nias Menuju Pembentukan “Propinsi Tanö Niha”

Friday, March 9th, 2007

Menguraikan fakta kelayakan dan kesinambungan sebuah roda pembangunan yang bergulir pada suatu daerah ternyata telah mengundang banyak perhatian. Menarik dan sangat menantang layaknya seperti kita sedang merancang dan mencoba mengoperasikan sebuah program teknologi imajinatif baru pada komputer kita sebelum ke pasaran, dan mendebarkan menanti hasil akhir dan reaksinya seperti layaknya seseorang dalam perjalanan arung jeram. (more…)