Kekerasan atas Perempuan Nias Tinggi

Wednesday, April 16, 2008
By nias

Medan, Kompas – Konstruksi budaya masih membuat banyak perempuan di Pulau Nias terpinggirkan dan terus berada di ranah domestik dengan beban kerja yang tinggi. Mereka juga masih menerima tindakan kekerasan dari orang-orang terdekat.

Selama tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditemukan di Nias mencapai 55 kasus. Adapun di tahun 2007 meningkat menjadi 99 kasus.

Penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Perlindungan Anak Medan yang dipublikasikan pada Senin (14/4) menunjukkan kekerasan fisik terjadi pada 12,6 persen remaja dan 23,4 persen perempuan.

Secara langsung, bekas kekerasan itu terlihat dari bekas luka, memar, dan berdarah. Sementara kekerasan verbal dialami oleh 55,8 persen remaja dan 51,4 persen perempuan.

Jika belum menikah, kekerasan dilakukan oleh orangtua. Setelah menikah, kekerasan dilakukan oleh suami, orangtua, dan mertua.

Kekerasan fisik
Penelitian juga menunjukkan seorang anak perempuan dan istri yang baik dilarang menjawab apa yang dikatakan suami atau orangtuanya karena akan memicu terjadinya kekerasan terhadap fisik mereka.

Penelitian yang dilakukan pada 218 responden di Kecamatan Gunungsitoli, Kecamatan Sirombu, dan Kecamatan Tuhemberua itu juga mengungkapkan bahwa kekerasan dalam keluarga masih dianggap sebagai masalah keluarga itu sendiri.

Adapun kekerasan verbal dianggap sebagai bukan kekerasan, hanya sebagian orang yang menyatakan itu bukan kekerasan. Sementara kekerasan seksual masih ditutupi dan dianggap tidak ada.

Apabila dilaporkan ke pihak polisi, akhirnya aduan dicabut dan masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan.

Kekerasan seksual
Ketua penelitian, Misran Lubis, yang juga Manajer Area PKPA Nias dalam penelitian itu menuliskan, sebanyak enam persen perempuan mengalami kekerasan seksual.

Sebanyak 2,3 persen berada di Gunungsitoli, 1,4 persen di Sirombu, dan 2,3 persen di Tuhemberua.

Sementara 3,7 persen perempuan pernah dipaksa melakukan hubungan seksual dengan orang lain dan 1,4 persen responden dipaksa melakukan hubungan seksual dengan orang lain karena uang.

Dalam ranah ekonomi, perempuan di perkotaan harus mengerjakan pekerjaan domestik sebelum atau sesudah bekerja di luar rumah.

Sementara di pedesaan, perempuan harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mengurus anak hingga mengurus ternak dan menderes karet.

Pekerjaan
Di dalam masyarakat masih berkembang pandangan orang bekerja adalah orang yang mendapat upah.

Sementara itu bekerja di rumah tangga dianggap belum bekerja.

Kekerasan di ranah ekonomi banyak dilakukan oleh suami, orangtua, dan keluarga dari pihak suami.

Perempuan juga dianggap tak bisa mengambil keputusan atas masalah-masalah yang dihadapinya.

Keputusan tentang hal-hal penting dilakukan oleh orangtua (suami/ayah), sementara keputusan orangtua yang tinggal ibu dilakukan oleh keluarga dari pihak suami. (WSI) (Kompas, 15 April 2008)

7 Responses to “Kekerasan atas Perempuan Nias Tinggi”

  1. 1
    Ya'ahowu Says:

    Meskipun saya adalah orang yang tidak suka dengan ajaran feminisme, tetapi tidak selamanya perempuan itu di jadikan sebagai bahan penelitian para lelaki untuk menguji kehebatannya karena hal ini merupakan sifat tidak menghargai makhluk tuhan yang paling mulia. Dalam sistem budaya timur memang harus di akui bahwa perempuan tidak boleh menonjol tetapi bukan dalam arti perempuan tidak boleh membantah apa yang memang dia tidak lakukan, saya pikir hal itu perlu di berantas dari bumi ciptaan Tuhan (Nias).
    Perempuan di bandingkan dengan laki-laki dari segi kekuatan, pendidikan dsb (khususnya budaya timur) di tidak sebanding dengan perempuan di dunia barat, untuk itu para lelaki harus bisa berpikir kearah yang lebih maju bagaimana cara untuk bisa membawa perempuan-perempuan nias sebanding dengan perempuan di pulau lain yang sudah bis berkretif dalam kehidupannya.
    Terima kasih kepada penulis artikel yang sudah mencoba menampilakan hal yang harus di perhatikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan perempuan nias,
    Untuk para laki-laki yang selama ini meghargai istrinya, berarti laki-laki dalam hal ini mengerti bahwa perempuan adalah manusia yang sama dengan pribadinya.
    Untuk perempuan: maju terus dalam pengembangan dirimu, apabila anda mengalami kekerasan dari pihak laki-laki lapor saja karena hukum melindungi anda semua.
    Ya’ahowu

  2. 2
    Nicholast Tel Says:

    Kekerasan terhadap perempuan sebenarnya sudah sangat membudaya di bangsa kita ini.kekerasan terjadi dimana-mana bukan hanya di Nias saja. terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dikerenakan beberapa faktor yakni ekonomi,sexualitas,problema,mental,dll. Diharapkan kepada kaum hawa (perempuan),janganlah selalu berada dibawah tekanan suami.Jika itu terjadi maka tak heranlahlah kita kekerasan itu terjadi. Salam….Dari Nicholast Tel,S.Si, M.Hum (USA Amerika Serikat)

  3. 3
    emman Says:

    yaahowu…saya sangat setuju dengan dibahasnya tentang kekerasan yang terjadi kaum perempuan kita. Kalau bisa pelanggaran-pelanggaran yang terjadi tersebut jangan ditutup-tupin, karena hanya akan membuat sipelaku kekerasan merasa menang dan menjadi tidak takut untuk melakukan kekerasan berikutnya.

  4. 4
    Arlin Hulu ( GOMO ) Says:

    Ya’ahowu terimakasih banyak atas Respon Bapak,Ibu tentang perempuan khususnya Anak Nias.dan jalan satu2nya untuk merubah itu semuanya kita mulai dari pribadi kita / keluarga kita dan apa bila yg kita lakukan itu dlm keluarga kita maka tetangga kita pun pun keikutan Rukun dan satu2nya kita serahkan di tangan yang maha kuasa agar Pulau Nias tidak ada kekerasan untuk Pihak Perempuan.dan supaya di jauhkan namanya Seksual itu kerena itulah yang membuat Tuhan semakin Marah.sebenarnya bukan cmn di Pulau Niasa ada dosa,dimana-mana.dan bila ada yang kedapatan dalam penyiksaan itu walau kita adalah org ketiga tp paling tidak kita ingatkan.kita tunjukkan tanggung jawab kita ats perlindungan Permpuan Khusunya Anak Nias.baik hbg Sexsual itu di larangkanlah demi kenyamanan dan kesejahteraan.Negara dan Pulau2.dan demi perlindungan para kaum wanita.

  5. 5
    fogz Says:

    setuju atau tidak dengan ajaran feminisme…kekerasan baik terhadap perempuan atau jenis”makhluk hidup” lainnya adalah sebuah kesalahan!. Setuju atau tidak dengan ajaran feminisme…ketidakadilan terhadap perempuan adalah hal yang nyata dan betul-betul membutuhkan porsi “kesadaran” yang nyata dari masyarakat kita yang masih sangat feodal dan patriarkal. Setiap bentuk kekerasan dan ketidakadilan adalah musuh bagi seluruh umat manusia!

  6. 6
    Nicholas Dammen Says:

    umumnya kekerasan terhadap perempuan terjadi akibat pelaksanaan hukum adat yang lata. Apalagi jika di tengah2 masyarakat Patriliniar, dimana perempuan seolah dinomor-duakan dalam hal mendapat hak.

    Maka ditengah usaha mempertahankan budaya sebagai identitas, sebaiknya nilai-nilai kemanusiaan yang universal tetap diakui. Buat apa mempertahankan kebudayaan yang menindas sesama. Jadi nilai luhur yang bermamfaat saja yang perlu kita pertahankan.

  7. 7
    lina Says:

    Hukum adat yang masih dijunjung tinggi dan membuat sifat patriarkhi di Nias tidak dapat dibendung, hal ini bisa kita lihat secara nyata, bagaimanapun perempuan yang khususnya di Nias tetap saja dianggap adalah orang yang poling beretanggungjawab didalam ranah domestik, terutama dalam hal urusan rumah tangga dan pengurusan anak. Sedangkan laki-laki dianggap hayalah sosok pencari nafkah ytang harus betul-betul diberi tempat tertinggi baik di keluarga maupun pada pelaksanaan adat. adat bukan untuk dijadikan patokan hidup apalagi bagi kaum laki-laki, yang masih menganggap perempuan adalah tidak punya kepentingan apapun dalam keluarga terutama dalam hal keturunan.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930