Membangun Pulau Nias: Bukan Membantu, Tetapi Ambil Bagian (2)

Oleh Etis Nehe

Kami jauh tertinggal dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Salah satu dari enam daerah tertinggal di Sumatera Utara. Kami baru merasakan jalan hotmix setelah 62 tahun merdeka. Hanya 3-4% anak-anak yang lulus SLTA yang dapat melanjut ke perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Itu artinya 96 % lulusan SLTA di Nias terpaksa menganggur.

Demikian salah satu paparan Bupati Nias Binahati B Baeha pada penyambutan rombongan Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James T Riady di Pendopo Bupati, Lapangan Merdeka, Gunungsitoli, Senin (14/1). Beserta jajaran Muspida Kab Nias, Binahati menyambut rombongan dari Jakarta tersebut, yang akan meresmikan Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Desa Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara keesokan harinya.

Pulau Nias yang terdiri atas sekitar 150 pulau besar dan kecil yang terbagi dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Nias dengan 33 kecamatan dan Kabupaten Nias Selatan (hasil pemekaran). Berpenduduk sekitar 710 ribu jiwa, mayoritas berpencaharian sebagai petani dan telah berada dalam ketertinggalan yang sangat lama.

Salah satu indikatornya, jelas Binahati, pendapatan daerah pada 2001, saat belum pemekaran yang hanya sebesar Rp 1,7 miliar. Tidak heran bila sangat tertinggal dalam hal ekonomi, infrastruktur, sarana dan prasarana kesehatan, dan juga pendidikan. Sementara saat ini, ketika target pendapatan daerah mencapai Rp 16,5 miliar, namun, kebutuhan anggaran mencapai Rp 500 miliar.

Gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 dan gempa tektonik pada 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,7 SR ikut memperburuk keadaan. Perbaikan yang ada saat ini adalah kontribusi masyarakat dunia melalui sejumlah non-govermental organizations (NGOs) dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias (BRR-Nias). “Kejadian hampir tiga tahun lalu itu semacam blessing in disguise. Kita tidak mengharapkanm kejadian itu, tapi entah apakah akan ada perhatian pemerintah pusat sebesar ini bila hal itu tidak pernah terjadi,“ tukas dia.

Ambil Bagian

Di hadapan jajaran Muspida maupun para tokoh pendidikan dan pemimpin gereja, James mengungkapkan dan menegaskan hal yang paling penting dalam membangun Pulau Nias. Yaitu, sesuatu yang terkait dengan sikap mental, baik dalam memahami kondisi saat ini dan masa depan Pulau Nias, mau pun dalam memahami dengan tepat keterlibatan setiap orang Nias, termasuk para donatur pada pembangunan itu sendiri. “Tidak ada seorang pun yang datang ke sini, di Pulau Nias ini untuk membantu. Setiap orang harus menyadari hal itu. Kami hadir di sini, bukan untuk membantu, tetapi ambil bagian,” tegas dia.

Sementara itu, Rektor UPH Yonathan Parapak yang juga mantan Direktur Utama PT Indosat itu mengatakan, tujuan kehadiran mereka di Nias adalah agar semua bersama-sama berjanji memajukan anak-anak bangsa dari Pulau Nias, yang diberdayakan semaksimalnya melalui pemaksimalan mutu pendidikannya. Menurut pria Toraja yang beberapa kali mengunjungi Nias saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi tersebut, modal utama masyarakat Nias adalah human capital-nya. Modal itulah yang harus diperhatikan untuk diangkat agar menjadi berguna bagi pelayanan bagi Tuhan, gereja dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Ah, kalimat-kalimat itu begitu penting, dan, mengusik ketenangan klasik di area comfort zone saya. Entah para pendengar lainnya. Semoga. Tapi, intinya, pesannya sangat jelas, yaitu pentingnya perubahan paradigma dalam proses membangun Pulau Nias, baik terkait pembangunan itu sendiri maupun keterlibatan setiap orang di dalamnya. Donatur, pemerintah daerah dan, tentu saja, masyarakat Nias secara keseluruhan.

Itu patut menjadi perenungan. Tidak boleh seorang pun menjadikan kondisi masyarakat Nias saat ini sebagai ajang pamer kemampuan, bahkan sekalipun dibungkus oleh pesan-pesan simbolik tindakan sosial. Kondisi terpuruk saat ini, juga tidak boleh jadi kesempatan untuk menunggu –ekstrimnya, mengemis — bantuan orang lain tanpa berusaha terlibat, bahkan walau dengan kontribusi yang paling kecil sekalipun. Di sisi lain, kondisi itu juga tidak bisa menjadi kesempatan memberikan ‘kredit’ berlebihan kepada mereka yang dinilai telah berbuat sesuatu yang lebih bagi masyarakat Nias.

Daya Tahan

Sabam Siagian, mantan Duta Besar Indonesia di Australia yang juga wartawan dan redaktur senior harian Suara Pembaruan dan The Jakarta Post mengakui bahwa Pulau Nias adalah bagian tak terpisahkan dari kondisi dari daerah-daerah yang termarjinalkan. Marjinalitas yang identik dengan ketiadaan perhatian pemerintah. Tetapi, menurut dia, persoalan paling penting saat ini adalah, bukan kondisi ketertinggalan itu sendiri. “Tetapi bagaimana bagaimana menarik saudara-saudara kita yang berada di daerah termarjinalkan itu,” kata dia dalam dialog tersebut.

Peran gereja, menurut dia, sangat vital untuk mengatasi ketertinggalan itu. Tanpa kesepakatan (kesehatian) antara lembaga gereja, perubahan akan susah diwujudkan. Dengan kesehatian itu, daya tahan masyarakat Nias dapat disiapkan. “Ada banyak bantuan, namun pada akhirnya paling penting adalah daya tahan masyarakat Nias sendiri,” jelas dia.

Memang benar, sejauh yang bisa dipantau sepanjang jalan, dari Kabupaten Nias hingga Kabupaten Nias selatan, dimana-mana terlihat hasil pekerjaan yang untuk saat ini terasa ‘melegakan.’ Tetapi sebenarnya, di sepanjang pengamatan itu juga membaur siluet kekuatiran pada masa yang akan datang. Setidaknya, setelah BRR-Nias purna tugas.

Memang telah ada berbagai upaya, mungkin dengan ‘memanfaatkan secara positif’ kehadiran BRR-Nias tersebut untuk memantapkan sejumlah target pencapaian pembanguan infrastruktur. Tetapi, siiluet yang bercerita mengenai ‘seperti apa kehidupan di Pulau Nias setelah ini’ tersebut sangat menggelisahkan. Setidaknya, hal itu tersirat jelas dari pemaparan Binahati yang terus berharap atas perhatian pihak luar. Berharap mereka tidak berpaling dari Nias yang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Tegasnya, kondisi masyarakat maupuan pemerintah di Pulau Nias masih jauh dari bisa ‘berdiri di atas kaki sendiri.’

Tentu saja, hal itu tidak semuanya negatif. Sebab, memang harus diakui, selain keterbatasan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) begitu nyata di depan mata, pada seluruh sektor kehidupan. Siapapun, tidak akan sanggup membenahi semuanya sendirian. Karena itu butuh dukungan dan kerjasama dari pihak-pihak lain yang memang lebih mampu, berpengalaman dan profesional. Bahkan, hal itu harus secara sengaja dan proaktif dilakukan. Menunggu, pada kondisi seperti ini, adalah tindakan bunuh diri.

Setali tiga uang dengan Sabam, James mengatakan, kondisi buruk saat ini harus dihadapi bersama dengan kepercayaan diri untuk bangkit bersama-sama melalui keterlibatan yang positif yang memungkinkan semuanya berlangsung berkesinambungan dan tepat sasaran. Tidak mungkin bangkit dari keterpurukan bila hanya melihat pada kondisi negatif yang ada, kata James. “Dahulu banyak daerah miskin di Cina yang bahkan banyak orang tidak tahu nama dan letaknya dimana. Tetapi, mereka sepakat untuk maju dan tidak mengulang-ulang memikirkan seluruh kondisi negatif mereka. Mereka tidak kalah tetapi meneguhkan hati untuk bangkit. Akhirnya, hasilnya, seperti Cina yang saat ini kita saksikan. Maju luar biasa,”papar dia.

Pada akhir sambutannya, sekali lagi dia menegaskan, membangun Pulau Nias adalah tugas bersama. Semua harus bergandeng tangan. “Tidak ada yang datang ke sini untuk membantu. Tetapi, ambil bagian,” tegas dia.

Ah, kalimat itu sangat mengganggu dan mengusik kenyamananku. Apakah Anda merasakan hal yang sama? Semoga.

Leave a comment ?

14 Responses to Membangun Pulau Nias: Bukan Membantu, Tetapi Ambil Bagian (2)

  1. EL. A. DELAW says:

    DATANG BUKAN UNTUK MAU MEMBANTU, TAPI AMBIL BAGIAN…
    Ujung-ujungnya diperhalus SEMUA HARUS BERGANDENGAN TANGAN.
    “Dasar LINTAH ?!” Bergandengan tangan buat urusan perut LINTAH, ogah ah…

    Bangkitlah Wahai NIASKU tanpa berharap sepenuhnya dari LINTAH yang akhirnya mengisap darah kita.
    Berhentilah memelas dan memohon iba. Demi KEMANUSIAAN adalah alasan klasik yang selalu digunakan.
    Kita harus mencoba menolong diri kita sendiri.
    Terlalu berharap kepada LINTAH membuat kita bodoh dan malas.
    Bila Chairil Anwar Berkata ” Mana Dadamu ” maka Anwar Chairil Berkata ” Dadamu mana “.
    Tunjukkan keberanianmu anak Nias. Jangan mau diperalat dan dimanfa’atkan.

    Ya’ahowu !!!

  2. Redaksi says:

    Beberapa waktu yang lalu, seorang tokoh masyarakat Nias menyarankan kepada Redaksi untuk “menyaring” para pemberi komentar dengan cara membatasi komentar hanya bagi yang terdaftar sebagai anggota situs. Usulan itu sungguh-sungguh simpatik dan masuk akal, karenanya kenyataanya banyak pemberi komentar yang “asal ngomong”, bersembuyni di balik penyamaran identitas. Itulah yang terjadi di berbagai situs, termasuk situs ini.

    Namun, Redaksi memutuskan untuk tetap membiarkan keadaan seperti sekarang: memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pengunjung memberikan komentarnya di setiap artikel.

    Ada juga manfaat dari penyamaran semacam itu, sebagaimana terbaca dari berbagai komentar dalam situs ini.

    Namun setiap kebijakan ada resikonya. Sebagai resiko dari kebijakan ini adalah terpaksa dihapusnya ratusan komentar yang masuk karena tergolong: tidak relevan, bersifat caci maki, berisi serang terhadap pribadi seseorang, bersifat memfitnah, atau ‘asal ngomong”.

    Salah satu komentar yang sebenarnya masuk dalam bebera kategori di atas adalah komentar dari seorang yan menamakan dirinya: EL. A. DELAW di atas.

    Komentar semacam ini biasanya kami hapus, namun untuk tujuan penjelasan, sengaja kami tetap pertahankan.

    EL. A. DELAW berkata:
    “DATANG BUKAN UNTUK MAU MEMBANTU, TAPI AMBIL BAGIAN… Ujung-ujungnya diperhalus SEMUA HARUS BERGANDENGAN TANGAN. “Dasar LINTAH ?!Bergandengan tangan buat urusan perut LINTAH, ogah ah…”

    Di mana-mana ada tipe orang seperti ini, yang hanya melihat dunia dari kacamatanya yang selalu negatif. Komentar semacam ini hanya bisa datang dari seorang yang berwatak lemah (baca: negatif) dan berkecerdasan rendah. Ia tidak mampu membaca nuansa-nuansa dan inti pesan, dan barangkali juga tidak memahami secara jelas makna sebuah kalimat yang agak kompleks strukturnya.

    Ketika dia merasa sedang mengkritik, yang keluar adalah makian. Ketika dia menunjukkan jati dirnya, yang keluar adalah borok-borok kepribadiannya.

    “Bangkitlah Wahai NIASKU tanpa berharap sepenuhnya dari LINTAH yang akhirnya mengisap darah kita.”

    Ini slogan yang asal diucapkan. Kita justru berkewajiban mem-BANGKIT-kan kejernihan kesadaran penyampainya.

    “Berhentilah memelas dan memohon iba. Demi KEMANUSIAAN adalah alasan klasik yang selalu digunakan.”

    Dalam artikel di atas, tidak ada satu kata pun diberitakan bahwa orang Nias “memelas dan memohon iba”. Orang-orang yang di bawah sadarnya ada kecenderungan “memelas dan mohon iba” bisa juga mencoba menyangkal kenyataan itu dengan memprojeksikannya pada diri orang lain.

    “Kita harus mencoba menolong diri kita sendiri.”

    Dunia ini penuh dengan interaksi. Menolong diri sendiri juga tidak jarang ditempuh lewat interaksi dengan pihak-pihak lain.

    “Terlalu berharap kepada LINTAH membuat kita bodoh dan malas. Bila Chairil Anwar Berkata ”Mana Dadamu” maka Anwar Chairil Berkata ” Dadamu mana “. Tunjukkan keberanianmu anak Nias. Jangan mau diperalat dan dimanfa’atkan.”

    Komentar di atas tidak membutuhkan komentar lebih lanjut selain yang berikut ini: irasionalitas masih pekat dalam masyarakat kita, termasuk dalam diri orang-orang yang merasa diri telah begitu melek informasi, mampu berkomunikasi dengan sarana komunikasi yang canggih, tetapi pesannya masih perlu dipercanggih untuk tidak dicap sebagai: komentar yang memaksa kita mengerutkan dahi dan memalingkan muka karena memuakkan.

    Salam,

    Redaksi

  3. sinumana says:

    Setidaknya Bupati Baeha bilang 95% lulusan SLTA di Nias terpaksa menganggur. Ini problem riil. Tersalurkan kemana mereka? Dunia kerja…? Studi lanjut…? Atau… jadi preman…? Kalau James T. Riady hadir untuk mereka, klop sesuai kebutuhan. Boleh dikata dia efektif ambil bagian untuk atasi sebuah kebutuhan mendesak.

    Kalau pun bukan khusus untuk SLTA pengangguran itu, secara umum jika Riady berupaya menularkan “virus pendidikan” di Nias, dia adalah virus… bukan lintah. Virus boleh berkonotasi jelek… sumber penyakit, tapi virus memicu antibodi dalam tubuh sehingga tubuh jadi kuat. Sedang lintah menghisap darah, tubuh dibuatnya lemah.

    Sayangnya EL. A. DELAW tidak tunjukkan argumentasi saat dia sebut (seseorang dengan) lintah. Mungkin dia punya stereotip kepada seseorang atau pihak lain, tapi tidak dia jelaskan kenapa stereotip itu tiba-tiba saja berarti “lintah”. Kita tidak pahami situasi bathin respon DELAW di #1. Kalau pun betul sinyalemen DELAW soal lintah, itu dijelaskannya secara rinci, kita bisa pikir ulang lagi kehadiran Riady dan sejumlah rekannya termasuk Palang Merah Singapura, di Nias. Kita bisa tolak bila mereka benar-benar lintah.

    Orang yang tidak punya argumentasi, tidak mengembangkan adu argumentasi untuk mencari solusi yang positif dan terbaik, layak ditulari semacam virus “transforming lives through knowledge, faith and character” yang dibawa Riady et al ke Nias. Ya’ahowu!

  4. Satu Hati Wau says:

    Hi All,
    Mungkin respon EL.A.Delaw ada juga benarnya memang sich …Dan jangan dipandang sebelah mata. Tidak semua yang namanya NGO dikatakan lintah karena ada ada juga yang benar-benar berhati tulus bukan hanya ambil bagian namun benar-benar mau membantu Nias.

    Tapi ada juga yang memang hanya ambil kesempatan seperti yang dikatakan oleh EL.A delaw. Maksudnya hanya numpang nama untuk ambil bagian di Nias dan itu seharusnya yang tidak boleh dibiarkan. Tapi Bagi yang benar-benar menginginkan Nias ini maju kenapa kita tidak mendukung sepenuh hati.

    Yach bisa saja, biasalah kalau orang-orang dari seberang selalu menganggap dirinya paling hebat, paling pintar sehingga gampang menjengkali orang lokal khususnya Nias. Biasanya kalau kita tidak ada kita dipuji-puji, tapi kalau sudah berbalik badan hinaan yang keluarkan.

    Lagian enggak semua orang Nias bodoh. Iyakan… Tapi ada juga lho.. orang dari luar Nias ini yang sungguh-sungguh mau membantu orang-orang Nias. Dari 100 mungkin ada 1 atau 5 orang. Yang lain asal cair.

    Mengenai EL.A. Delaw mungkin komentarnya dikemukakan untuk pihak lain hanya saja karena komentarnya dimasukkan dalam kolom ini.

    Ga masalah bung Delaw siapapun anda. Unek-uneknya sampaikan saja tapi jangan terlalu keras-keras ya… Tapi saran saya yang benar-benar membantu Nias jangan disindir-sindir donk…

    Palingan orang lokal jadi kuli atau pembantu.

  5. D3D1_Waruwu says:

    Mengapa pula komentarnya si EL.A. DELAW dibesar-besarkan. Berani karena benar takut karena salah itu azanya itu.

    Maksudnya itu lho klo dikatakan LINTAH. Aku rasa itu bisa menyadarkan orang-orang yang seperti LINTAH agar jangan menjadi LINTAH tapi menjadi MERPATI.

    Bung Delaw apa gak ada kata-kata selain LINTAH? Ular kek atau buaya kek Tapi… gak apa-apa pasnya itu. Nyamuk sama dengan LINTAH juga lho ngisep darah He..he..he..Tapi itu bagus kok kata-kata bung Delaw ada juga lucunya dan bikin semangat. Agar Nias ini tetap terjaga.

    Eps…aku nanggapin kata jangan diperalat atau jangan mau dimanfaatkan. Benar itu! Kadang orang lokal yang dipekerjakan jadi musuh bagi masyarakatnya sendiri. Kenapa? Karena mereka yang langsung terjun langsung kelapangan misalnya mendata masyarakat ternyata yang dijanjikan tidak ada. Iya sich…”Jangan Menjanjikan” sesuai perintah atasan. Tapi tahulah kalau sudah begitu harapannya pasti.

    Akhir kata dari saya…Bung Delaw membuka mata masyarakat Nias agar jangan terlena… jangan berharap tapi berusaha membantu diri sendiri. Tapi yang pasti dan benar-benar mau membantu Nias kita dukung ya bung Delaw.

    Terimakasih Bung Delaw karena kami anggap lembaga-lembaga luar yang masuk keNias ini semuanya Dewa penolong. Karena aku lihat juga dari kacamata raybandnya dan gayanya perlu juga dipertanyakan ke Nias ini mau apa? Mau membantu atau mau bergaya.

    Siippplah…

  6. Johanes Giawa says:

    Mulutmu Harimaumu…

    Wah…Danger!!!

    Nanti yang benar2 LINTAH ngamuk donk. Sapa takut yakan Bung?!

    Menurut penerawangan saya…orang yang seperti ini (EL.A.DELAW) punya pengalaman-pengalaman menarik.

    Dari kacamata negatifnya mungkin dia melihat secara komunitas. Ibaratkan Musa yang mau menyelamatkan bangsanya dari tangan orang Mesir. Memang bagi sebagian orang si EL.A.DELAW ini bodoh. Ada orang yang mau ambil bagian kok dipertentangkan. Tapi bagi orang yang bisa menangkap maksudnya pasti bisa mengerti.

    Kata LINTAH memang tepat tapi itu sangat menyakitkan bagi yang merasa. Memang itu praktek yang tersirat kalau saya menilai dari kacamata positif saya. Ini bukan zamannya orde baheula yang mana orang tidak bebas mengeluarkan pendapatnya. Mungkin selama ini orang-orang Nias yang dipekerjakan hanya engge…engge saja dan tidak berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.

    Mungkin karena takut kehilangan pekerjaan atau takut dipecat atasan. Sebutan LINTAH tepatnya diarahkan kepada orang-orang yang melakukan korupsi bukan hanya di Nias tapi di Indonesia.

    Menyemangati anak Nias dengan komentar-komentar tersebut agar anak-anak Nias yang bekerja di NGO atau dilembaga yang bisa dikatakan wuih…tidak lupa akan kulitnya atau masyarakatnya sendiri atau tidak ikut mempermainkan atau mengkhianati masyarakatnya sendiri karena iming-iming gaji besar.

    Tapi pemberi komentar pertama sepertinya salah sasaran atau mungkin karena judul diatas Bukan Mau Membantu Tapi Mau Ambil Bagian yang membuat aliran darahnya berdesir. Sehingga terispirasi membuat komentar-komentar yang cukup berani.

    Memang dengan adanya NGO sebagian mengurangi pengangguran di Nias hanya saja yach… FAIGIZISOKHI BA MBANUADA BOI HA KHOU MANO artinya lihat yang baik untuk masyarkat jangan mementingkan diri sendiri seperti yang diungkapkan pemberi komentar.

    Dan Bagi NGO’s yang juga bermain di Nias benar-benar membantu Nias bila tak ingin dikatakan LINTAH. Komentarnya bagus… cukup berani. BRAVO LAH

  7. Anton Telaumbanua says:

    Jangan tersinggung pak James T Riady beserta timnya. Anda telah ambil bagian membantu Nias buktinya di Nias sudah berdiri
    sekolah lentera harapan. Nanti uang sekolahnya jangan mahal-mahal ya pak. Kasian…anak-anak nias yang kurang mampu.

  8. Marluhut Simanjuntak says:

    Menarik nih,

    Aku punya pengalaman dulu waktu kerja dikantor pajak.

    Kebetulan aku mengurus barang kiriman dari salah satu organisasi non pemerintah. Pas aku hitung pajaknya eh..kata staff NGO ini bantuan pak tidak dikenakan pajak. Kemudian aku koordinasi dengan atasanku pak ini bagaimana barangnya katanya tidak dikenakan pajak.

    Bossku berkata : Ahh…mana ada itu LINTAH semua itu. Dalam hati aku marah loh ini kan NGO, humanitarian masa dikatakan LINTAH. Dalam hati aku terus bertanya-tanya dan kujumpai staff NGO tersebut. Pak ini harus dikenakan pajak. trus staff NGO tersebut pulang dan membawa kembali barangnya.

    Dalam hati aku selalu bertentangan dengan bossku mengapa NGO dikatakan LINTAH…pokoknya bertentangan dech. Karena aku bukan pegawai tetap maka aku menawarkan diri bekerja disalah satu NGO (ma’af NGOnya rahasia) Dan ditugaskan di Banda Aceh kemudian di Nias. Selama tiga bulan saya bekerja ternyata banyak permainan-permainan di lapangan yang terus terang sulit untuk dibayangkan.

    Dalam hati apakah NGO ini hanya mengejar pasang logo saja dan membuat donor tertarik atau bagaimana. Akhirnya saya mengerti mengapa dulu bossku mengatakan NGO itu LINTAH. Dan aku keluar dari NGO tersebut dan bekerja di perusahaan di Jakarta.

    Memang di antara rekan-rekanku sering berkata: inikan bukan daerah kita ngapain pusing-pusing, ambil kesempatan trus kita pergi. kan gampang…

    Aku mengundurkan diri lantaran kami nyaris diamuk masa yang sebelumnya kami kunjungi untuk pendataan. Huh…makan hati memang, hidup segan mati tak mau. Belum lagi masyarakat yang mengoyak-ngoyak formulir yang kami berikan kepada mereka.
    Ambil langkah seribu deh…

    Mungkin saja pemberi komentar pernah mengalami hal yang sama dengan saya atau malah yang pernah kami buat kecewa.

    Ma’af ya Lae

  9. Redaksi says:

    Terima kasih atas komentar lanjutan tentang artikel di atas.
    Sinumana menuliskan hal yang simpatik pada akhir komentarnya:

    “Orang yang tidak punya argumentasi, tidak mengembangkan adu argumentasi untuk mencari solusi yang positif dan terbaik, layak ditulari semacam virus “transforming lives through knowledge, faith and character” yang dibawa Riady et al ke Nias. Ya’ahowu!”

    Itulah kiranya yang mengena di hati pemberi komentar berikutnya secara berturut: ‘Satu Hati Wau’, ‘D3D1_Waruwu’, ‘Johanes Giawa’, ‘Anton Telaumbanua’, ‘Marluhut Simanjuntak’. Yang menarik dari komentar teman-teman ini adalah kesan antusiasme yang tinggi pada selang waktu yang relatif pendek: berjarak 30 menit hingga satu jam.

    Terlepas dari apakah para pemberi komentar terakhir ini sungguh-sungguh orang yang berbeda atau orang yang sama, yang menarik adalah: sudah ada keinginan untuk menyampaikan pendapat disertai dengan argumentasi walau masih lemah, belum terarah, belum tersusun dengan baik, masih belum elegan. Kita menyambut baik perkembangan ini.

    Salam,

    Redaksi

  10. Boroexlazarus Buulolo says:

    Kita berdoa sajalah supaya beliau-beliau tidak melakukan yang tidak terbaik di bumi Nias tercinta ini, Habis gimana lagi, suatu saat alam akan ngomong sendiri. Tidak perlu banyak komentar, Terimakasih

Reply to Anton Telaumbanua ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>