Dilema Usaha Manusia Rasional

Catatan Redaksi:
Diskusi tentang (i)rasionalitas di Situs Yaahowu ternyata tidak luput dari perhatian Bapak M. J. Daeli, yang sering mengisi Situs Yaahowu dengan tulisan-tulisannya. Semoga tulisan Bapak M.J. Daeli berikut ini memancing para penulis lain untuk mengirim tulisan untuk menyemarakkan diskusi ini. (Redaksi).

Oleh M. J. Daeli

Apa itu kebenaran
Sungguh menarik dan menggugah, Situs Ya’ahowu menurunkan artikel “Irasionalitas Dalam Keseharian Kita”. Artikel telah menarik banyak pemikir – pecinta ilmu dan filsafat dan menjadikan bahan olah pikir (diskusi). Sungguh menggembirakan. Tanggap menanggap buah pikir terjadi secara terbuka dan dalam batas diskusi bijak. Bersikap kritis tetapi tidak negatif. Pendapat yang disampaikan lebih bersifat “bersumbang-sadap-saran” dari “mau menang sendiri”. Suatu hal yang positif. Memperkaya baik akal budi mau pun kecerdasan semua pihak yang serius mengikuti olah pikir ini. Sekali gus merupakan nilai tambah bagi Situs Ya’ahowu. Begitu serius olah pikir yang dilakukan sehingga tanggapan yang disampaikan diberi judul “Dentuman Kesalahkaprahan”.

Apa benar ada “Kesalahkaprahan” ? Kalau memang ada : Apakah Kesalahkaprahan itu demikan “hebat” sehingga dapat diumpamakan sebagai suatu “Dentuman” ? “Kesalahkaprahan” dalam hidup sehari-hari bermakna “ringan”. Atau lebih bersifat kesalahan prosedur. Mendapatkan solusinya tidak terlalu sulit, karena kesalahan yang timbul disebabkan penggunaan alur pikir yang kurang tepat. Dalam peribahasa Nias ada dikenal : “Tenga hole wiga, ha hole lae”, yang maknanya : suatu kesalahan kecil karena kekhilafan dan bukan kesalahan karena kesengajaan. Sedangkan pengertian “dentuman” mengandung makna, kalau boleh dikatakan, “istimewa”. Kita tidak asing pada makna : dentuman meriam, dentuman bom, dentuman gunung berapi, dan sebagainya. Mengapa “Kesalahkaprahan” itu demikian hebat seperti dentuman ?

Sedangkan mengenai substansinya sendiri yaitu tentang “rasional dan irasional” bukanlah suatu yang mudah ditangkap apa yang dimaksud dengan kata itu. Pun seandainya diketahui artinya, apakah ia sesuatu yang bisa dicapai manusia ? Rasio, logika, falsafah hidup dan perwujudannya dalam kenyataan hidup mengacu kepada kebenaran. Apa itu kebenaran (Pilatus) ? Menambah masalah yang memerlukan penjelasan makna. Kini, manusia (misalnya : di Indonesia) lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar lebih berdimensi pikiran dan kecerdasan, sedangkan benar bertitik berat pada dimensi nurani.

Setiap orang, saya kira, memandang dirinya rasional. Dan seorang rasional, saya kira juga, pastilah seseorang yang menginginkan agar orang lain bersikap rasional. Bisakah manusia rasional ? Pertanyaan terakhir ini diutarakan oleh banyak pemikir, diantaranya Bertrand Russel. Juga Russell mengingatkan betapa, pragmatisme yang menekankan irasionalitas pendapat dan psikoanalisis yang menekankan irasionalitas perilaku, telah membawa banyak orang pada pandangan bahwa sesungguhnya tidak ada citra rasionalitas yang bermanfaat untuk dijadikan patokan pendapat dan perilaku ( Pergolakan Pemikiran, Yayasan Obor Indonesia dan Gramedia , Jakarta 1988) .

Pemikir lain Horkheimer berusaha memberi pengertian rasional baru dalam teori kritisnya, yang pada hematnya bakal bisa memberi kesadaran untuk membebaskan masyarakat dari keadaannya yang irasional. Tetapi Horkheimer sendiri pesimis dan berkesimpulan bahwa keirasionalan masyarakat jaman ini sudah terlanjur. Hal ini disebabkan masyarakat modern merupakan suatu sistem tetutup dan total. Artinya orang dalam setiap situasi dan hal apa pun, suka atau tidak suka, harus mengikuti aturan main dalam sistem itu yang ditentukan oleh masyarakat sendiri. Sehingga, menurut Horkheimer , dilema usaha rasional manusia itu adalah terbenamnya akal budi objektif dan digantikan akal budi yang melulu instrumentalis.

Manusia tidak hanya mampu berpikir, melainkan sekaligus sadar tentang pemikirannya. Kesadaran pada diri merupakan perbedaan manusia dengan hewan dan adalah suatu kekuatan yang potensinya tak terbatas. Dengan kesadaran, manusia mampu dan bebas berusaha mengelola ruang dan waktu demi terpenuhi hasyrat-hasyratnya, sesuai tujuan-tujuannya sendiri. Akan tetapi dengan sistem tertutup dan total dari masyarakat modern, menjadikan manusia modern telah menutup semua realitas eksistensi manusiawinya dan menggantinya dengan gambaran realitas artifisial yang dipercantik, demikian menurut Erich Fromm. Selanjutnya oleh Erich Fromm dikatakan bahwa dengan berkembangnya akal budi (rasionalitas) instrumentalis, maka kalau masalah yang mencuat pada abad ke-XIX adalah Allah telah mati tetapi pada abad ke – XX (dan sampai sekarang) Manusia telah mati . Bahaya masa silam adalah manusia menjadi budak, sedangkan bahaya masa depan ialah manusia menjadi robot atau irasional. Peribadi jadi teralienasi dari realitas.

Menurut hemat penulis, terkait dengan uraian diatas, perlu kita bedakan tiga pengertian berikut. Kalau saya mengatakan kepada anda : “Saya memiliki sakit mata, karena itu saya harus mengurangi kerja di komputer” suatu pernyataan rasional. Bila saya mengatakan : “Saya senang warna hijau” suatu pernyataan selera. Kalau seorang guru yang sedang mengawas ujian nasional berkata : ” Saya harus membantu murid saya untuk menjawab soal-soal ujian supaya lulus” suatu pernyataan irasional.

“Selera” tidak melanggar aturan logika, dan tidak bisa diperdebatkan. Para ahli psikoananalisis berpendapat bahwa tidak mungkin kita bersikap rasional dalam soal kepercayaan, dan ini bukan termasuk “irasional”. Kepercayaan mengenai kebenaran religius bersifat suprarasional dan supernatural, namun tak bisa disebut irasional (Thomas Aquinas).

Dalam hubungan diskusi ini pula, penulis menyampaikan sebatas pengetahuan yang dimiliki tentang teori Freud maupun Husserl. Tujuan penulis adalah para peserta diskusi mengembangkan lebih lanjut.

Sebatas pengetahuan penulis , Freud sebagai seorang psikoanalisis, melukiskan mekanisme yang dilewati nafsu-nafsu (libido, nafsu kematian) dalam diri manusia. Dalam analisanya, yang penting bukannya apakah nafsu atau naluri itu analog atau identik dengan nafsu dalam hewan, melainkan cara nafsu itu disalurkan. Bagaimana cara nafsu itu disalurkan, orientasi yang khas itu, itulah yang membedakan kehidupan manusia dari kehidupan hewan-hewan.

Sedangkan Husserl, sebagai seorang fenomolog, bermaksud untuk meneliti data menurut bentuk penampakannya. Salah satu semboyan dasar fenomologinya diarahkan pada idealisme yang diketahuinya, yaitu : Kembali pada benda-benda itu sendiri . Menurut Husserl, setiap fenomena (gejala yang nampak) menunjukkan kepada sesuatu diluarnya. Bukan asosiasi sesudahnya maupun penalaran, melainkan struktur intern dalam gejala yang diketahui itu, mengangkat kita di atas taraf hanya pengalaman belaka. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau tidak meneliti kesadaran manusia tentang sesuatu, berarti kurang memperhatikan intensionalitas (keterarahan) kesadaran dan pengetahuan pada dunia luar. Filsafat tidak bermaksud mempelajari dunia luar itu sendiri, melainkan apa yang menjadi dasar dalam diri subjek pengetahuan yang terbuka dan rindu akan hasil pengetahuannya. Untuk mencapai hal itu, ia mengembangkan cara kerja berdasarkan panangguhan dan penundaan (Epoche) terhadap penegasan, serta mengajak para fenomolog untuk mengurung atau menahan keputusan tentang ciri-ciri eksistensi objek yang bersangkutan. Semuanya itu untuk mencapai hakekat (Eidos) dari gejala-gejala yang sedang disoroti. Metode ini disebutnya reduksi, artinya jalan melangkah mundur dari gejala-gejala itu sampai pada intinya yang diharapkan menampakkan diri. Jadi, metode ini seolah-olah berdayung ke arah hulu perjumpaan subjek-objek dalam kesadaran subjek itu sendiri.

Karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis, tidak membahas substansi ini lebih jauh. Penulis juga tidak bermaksud membahas mengenai peristilahan “Dentuman Kesalahkaprahan” dan pendapat yang timbul dari tanggap-menanggap di antara para peserta diskusi. Penulis hanya bermaksud menyampaikan pengetahuan yang saya miliki sehubungan dengan yang didiskusikan. Dengan harapan, semoga bermanfaat dalam mengembangkan olah pikir.

Selamat berdiskusi.

Jakarta, 15 Mei 2007

11 comments on “Dilema Usaha Manusia Rasional

  1. Postinus Gulö

    Tulisan ini sangat inspiratif dan mengandung banyak “ilmu”. Terima kasih Pak. M.J. Daeli.

    Saya mengikuti pembahasan “irasionalitas” yang cukup menarik perhatian pengunjung situs Ya’ahowu ini. Saya berkesimpulan bahwa pembahasan kita masih sebatas pengertian filsafat Barat, yang notabene selalu mengagungkan kaitan logis dan konsekuensis tetapi mereka lupa bahwa fakultas yang ada dalam jiwa manusia bukan hanya “rasio”. David Hume, misalnya, menunjukkan bahwa “rasio” hanyalah sebagai “resep” sedangkan “desire” adalah “obat”. Mana yang kita perlukan?, kata Hume.

    Jika kita menilik ke belakang, wacana “rasionalitas” telah ada sejak Parmenides yang mengklaim bahwa esensi realitas adalah “ketetapan”/ketak-terubahan”. Ide ini kemudian Plato mengkategorikannya sebagai ide yang hanya ada dalam kepala kita, dalam otak kita. Sebab pada kenyataanya, dunia ini berubah. Herakleitos malah bertentangan dengan ide Parmenides, sebab bagi Herakleitos, esensi realitas adalah perubahan: kita tidak pernah mandi pada air sungai yang sama. Kemudian, Plato berhasil mendamaikan kedua gagasan ini, dengan berkata: gagasan Herakleitos terjadi dalam pengalaman kita dan gagasan Parmenides hanya ada dalam idea kita.

    Pengagungan rasio memuncak di zaman Descartes, Hegel, Kant misalnya. Tetapi jika kita jeli melihatnya, justru gagasan mereka masih mengandung jalan pikiran yang “terselubung”, kata Husserl. Mengapa? karena seolah-olah dunia ini hanya sebatas yang dijelaskan atau yang diyakini. Husserl malah mengatakan dunia ini lebih kompleks daripada yang kita jelaskan dan kita alami. Rasio, dalam perspektif Descartes dan Kant, ujung-ujungnya juga bersifat individual. Artinya, hanya sayalah yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”.

    Reply
  2. sinumana

    Benda yang tampil dalam kesadaran adalah fenomena. Pengamatan dan pemahaman, pembayangan dan penggambaran, hasrat dan upaya, semuanya bersifat intensional, terarah kepada sesuatu (idealisme). Hanya dengan menganalisa intensionalitas kesadaran itu ditemukan. Namun, ketika Husserl bicara tentang Lebenswelt, dia bertemu dengan realisme. Apakah Husserl hendak meramu idealisme dan realisme? Entahlah.

    Aku bertolak dari kesadaranku sendiri untuk menemukan kesadaran transendental di dalamnya, namun bagaimana caranya menemui pihak lain dalam kesadaran? Bagaimana aku dapat mengetahui adanya dunia inter-subjektif? Apakah aku harus terjebak solipsisme, yang ada lagi-lagi hanyalah kesadaranku sendiri?

    Dalam diskusi telah kita rasakan, fenomenologi (Husserl) menggiring kita pada “kekacauan semantik”. Juga “imperatif katagoris” (Kant), yang tidak membutuhkan argumentasi, yang dipraktekkan tentara Nazi (“perintah adalah perintah”), dalam menjelaskan warna hijau (“hijau adalah hijau”).

    Sejauh mana kita “irasional” ketika menyelami pemikiran Husserl? Ini lah yang telah (dan masih akan?) kita eksplorasi, sebagaimana kita mencari [makna irasionalitas] baik di kamus, secara induktif (contoh kasus sehari-hari), maupun penggolongan “cara berpikir” (intuitif, empiris, rasional, ilmiah).

    Ada lagi wacana pemikiran yang dapat kita eksplorasi, yaitu irasionalisme. Seorang irasionalis dapat menyusun sistem yang rasional untuk memperlihatkan ketidakruntutan akal. Irasionalisme berakar pada krisis pemahaman, kata kaum irasionalisme semacam Ludwig Klages dan Theodor Lessing. Benarkah? Bagaimana menurut Anda?

    Reply
  3. andraha

    Menarik sekali tulisan Bapak M.J. Daeli (paragraf-5 dari bawah): “Kepercayaan mengenai kebenaran religius bersifat suprarasional dan supernatural, namun tak bisa disebut irasional (Thomas Aquinas).” Kalimat ini mengingatkan saya pada “logika hati” dari Blaise Pascal.

    Pascal mengatakan, kalau manusia melihat bahwa pikirannya tentang pernyataan-pernyataan terakhir terus-menerus gagal, manusia harus meloncat ke iman. Loncatan ini tidak berdasarkan rasio (melainkan “logika hati”), bersifat “irasional” (melawan rasio), dan dinamakan “anti-rasionalisme”.

    Kalau Pascal membedakan “akal budi” dan “hati” (bukan filsafat dan teologi), maka Thomas Aquinas memilah “alam pikiran” dan “alam kepercayaan” (atau filsafat dan teologi). Yang di luar “rasional” bagi thomisme bukan “irasional”, bukan pula “anti-rasional”, melainkan “suprarasional”. Wah, diskusi kita kini mengoleksi banyak istilah yang terkait dengan rasional, Pak.

    Selanjutnya, pemilahan Aquinas atas filsafat dan teologi menimbulkan pertanyaan bagi pengikutnya (neo-thomisme). Apa yang memilah keduanya? Apakah mungkin ada filsafat tanpa teologi, atau teologi tanpa filsafat? Bila teologi merupakan pemikiran mengenai kepercayaan, apakah tidak mungkin ada kepercayaan mengenai filsafat?

    Kalau satu cara berpikir dapat menyakinkan seorang filsuf, sementara itu tidak meyakinkan filsuf yang lain, bagaimanakah struktur pemikiran kefilsafatan itu? Apakah penganutan kepercayaan memiliki kedudukan yang lebih hakiki dibanding pemikiran kefilsafatan?

    Reply
  4. Amandaya

    Terus terang diskusi ini menarik. Tetapi karena filsafat adalah lapangan baru bagi kami maka tau diri untuk tidak ikut aktif. Tulisan Saudara M. J. Daeli sangat menantang untuk dipahami tebih dalam. Tetapi sayang karena hanya diberi gambaran sepintas, karena tujuannya hanya untuk memancing diskusi berkembang.

    Juga dari para penanggap tidak terlalu banyak kami dapatkan penjelasan, karena yang disampaikan oleh para penanggap lebih bersifat permasalahan falsafiah dalam bentuk pertanyaan. Sedangkan yang bersifat penjelasan, yang disampaikan oleh para penanggap dirasakan masih sedikit bagi kaum awam di bidang filsafat.

    Misalnya no.1 pada akhir komentarnya menulis : “…, hanya sayalah yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”. Tentu mengenai ini kaum awam membutuhkan penjelasan lebih lanjut . Apa benar benar demikian ? Bagaimana pendapat penanggap sendiri ? Penjelasan sangat membantu kami yang awam menimba pengetahuan.

    Bertambah permasalahan, bagi kami, mengenai hal itu – apabila dikaitkan dengan tulisan Pak Halawa “Kesadaran” yang juga dalam Situs Yaahowu ini. Pak Halawa menulis bahwa ada “12 macam saat-saat rentan kesadaran”, yang apabila ke 12 macam saat-saat rentan kesadaran itu dapat diatasi oleh seseorang maka dia terhindar dari “serangan irasional”. Dengan kata lain orang tersebut memiliki kesadaran ( sebut saja : penuh). Pertanyaan yang timbul adalah : Apakah irasional tidak memiliki tempat dalam diri orang yang sadar ? Apakah orang-orang yang memiliki kesadaran (penuh) memiliki rasional yang sama tentang sesuatu yang pasti ? Kalau pertanyaan yang terkhir ini benar, mengapa para filosof itu saling bertahan pada pendapat sendiri ?

    Juga Saudara no.3, menulis pertanyaan-pertanyaan, mislanya : . Apakah Husserl hendak meramu idealisme dan realisme? Tentu memerlukan penjelesan mengenai : konsekwensi kalau diramu dan konsekwensi tidak diramu. Selanjutnya oleh no. 3 mengatakan bahwa : “fenomenologi (Husserl) menggiring kita pada “kekacauan semantik”. Juga “imperatif katagoris” (Kant), yang tidak membutuhkan argumentasi, yang dipraktekkan tentara Nazi (“perintah adalah perintah”), dalam menjelaskan warna hijau (“hijau adalah hijau”)”. Komentar ini jelas menambah keinginan untuk memperoleh penjelasan. Mengapa terjadi kekacauan semantik semantik ? Bagaimana menjelaskan hubungan “imperatif katagoris” Kant dengan “Nazi ? Tentu no. 3 memiliki gambaran pendapat sendiri mengenai ini, yang, apabila ditulis dalam diskusi ini sangat menguntungkan bagi pembaca awam sebagai pembanding.

    Saudara no 4 juga menyampaikan komentar yang menambah keinginan kaum awam akan penjelasan. Bagaimana hubungan antara fisafat dan agama ? Apakah keduanya itu otonom yang satu terhadap yang lain ? Atau yang satu diserap oleh yang lain ?

    Tulisan saya diatas bersifat minta tolong agar dalam komentar yang disampaikan, selain pertanyaan baru falsafiah untuk mempertajam masalah juga penjelasan yang mudah diserap kaum awam. Terima kasih.

    Reply
  5. ehalawa

    Karena kesibukan, saya belum menambah artikel tentang irasionalitas. Sudah ada dalam stok, namun saya harus akui, kehadiran berbagai komentar membuat saya harus melihat kembali beberapa tulisan saya. Namun demikian saya ingin memberikan komentar sedikit atas pernyataan Postinus yang dikutip kembali oleh Amandaya dalam tanggapannya.

    Postinus: “… hanya sayalah yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”.

    Saya tidak melihat dari sisi filsafat ya… Tapi saya memberi contoh riil. Dan saya dahului dengan sebuah statemen umum: “kita semua adalah makhluk rasional”. Ini menjadi dasar dari semua tulisan saya.

    Namun, pernyataan itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa menjadi irasional. Bagi saya, rasionalitas itu dapat diumpamakan sebagai level (ketinggian permukaan) air dalam sebuah bejana, katakanlah sebuah gelas.

    Nah, level tertinnggi kita sebut saja: kadar rasionalitas kita 100%. Saya yakin kita jarang sekali (atau bahkan tak akan) mencapai level itu. Semakin rendah ketinggian muka air dalam gelas berarti semakin kosong gelas itu, semakin berkurang kadar rasionalitas, semakin pekat irasionalitas.

    Kapan kita mengalami kepekatan irasionalitas ? Sebagaimana saya sampaikan dalam beberapa tulisan saya, banyak penyebab irasionalitas. Kalau seseorang sedang mabuk minuman keras (sesudah menenggak alkohol banyak sekali), kadar rasionalitasnya menipis, kadar irasionalitasnya meningkat: dia gampang memaki (yang dalam keadaan sadar, malu dia lakukan). Bahkan dulu sewaktu di kampung, orang mabuk berat macam itu bisa tidur di kaki lima atau di jalan tanpa rasa malu.

    Emosi yang meluap bisa (saya katan bisa: tetapi belum pasti/tentu) melahirkan tindakan irasional; tergantung kepada pengendalian kesadaran tadi. Orang yang kesadarannya terlatih, dia bisa mengekang emosi yang hampir meluap tadi.

    Nah, pernyataan: “… hanya sayalah yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”, saya ingin revisi menjadi:

    “Hanya saya yang sedang sadar yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”. artinya apa ? Kalau saya sedang mabuk, saya tidak bisa menilai rasional tidaknya tindakan saya.

    Orang yang terpapar dengan daya-daya irasional, sulit (tetapi bukan mustahil bisa) disadarkan. Orang yang kena pelet misalnya tidak gampang disadarkan, demikian juga orang yang sedang memiliki “elemu”, tidak gampang disadarkan: dia memiliki rasa percaya diri yang luar biasa yang menyebabkan dia tidak “memerlukan” dan tidak mau mendengar saran orang lain, misalnya.

    Irasionalitas yang biasa (lihat kasus “salesman” HP dan calon pembeli HP dalam tulisan saya), bisa dengan mudah dijauhi. Caranya ? Buktikan sendiri ! Dengan membaca tulisan itu, Anda sudah dibekali oleh “benteng” yang cukup kuat apabila menghadapi siatuasi yang sama ! Artinya apa ? Kalau seorang salesman datang ke Anda, pasti anda semakin “kritis” sekarang 🙂

    Mau bukti lain ? Sejak sekarang, komentar-komentar kita akan semakin lebih rasional 🙂

    e. halawa

    Reply
  6. Amandaya

    Terima Kasih kepada Pak E. Halawa. Tentu bertambah pengetahuan saya kalau ada tanggapan dari yang lain atau yang baru sama sekali dan sebelumnya juga saya sampaikan terima kasih.

    Namun sekali lagi untuk Pak E. Halawa mengenai para filosof itu : Apakah mereka itu sadar 100% atau sebagian saja ? Contoh kasus aktual di negara kita tercinta ini, mengenai masalah korupsi, beberapa Prof. berbeda pendapat dengan mengajukan argumen masing-masing. Kami tidak mempermasalahkan benar atau tidak benar pendapat mereka itu. Tetapi dalam hal ini “sepenuh” (gelas – Pak Halawa) bagaimana kesadaran mereka itu dalam berbangsa dan bernegara. Juga para pejabat sering memakai kesadaran palsu untuk menenangkan rakyat. Misanya : Mereka tau bahwa situasi masih kacau, tetapi mereka katakan “terkendali” Waktu gempa di Nias ada pejabat yang mengatakan situasi “under control’ pada hal dia hanya melihat dari jauh.

    Yang lain Pak E. Halawa, dalam tulisan Bapak diatas tertulis : “Hanya saya yang sedang sadar yang tahu kalau saya “rasional” atau “irasional”. artinya apa ? Kalau saya sedang mabuk, saya tidak bisa menilai rasional tidaknya tindakan saya” . Pertanyaan orang awam : Apakah orang yang irasional mengetahui ketidak rasionalnya atau bahwa ia irasional ?

    Maaf benar-benar untuk diskusi. Terima kasih.-

    Reply
  7. Deivine Signor

    Sdr. Amandaya, saya bisa merasa bahwa sebenarnya ada yang sangat berguna tatkala anda mau mengatakan sesuatu kendati itu dari sudut pandang awam. Artinya jangan hanya bertanya tetapi memberi sesuatu itu juga penting. menurut anda, jika hendak harus menjawab sendiri, bagimana menurut anda. Saya hanya menggunakan feeling nih, kendati saya tidak kenal anda, ada yang dahsyat dalam diri anda yang seharusnya itu diungkapkan. Maaf jika saya salah, maaf juga jika saya menyela.

    Terima kasih.-

    Reply
  8. Amandaya

    Sdr. Deivine Signor, saya sudah terus terang bahwa diskuisi ini menarik bagi saya. Bukankah berfilsafat salah satu kemungkinan bagi setiap orang, seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan yang tidak mempersoalkan hal ikwal sehari-hari ? Hanya saja, dalam pergumulan hidup sehari-hari, saya lebih banyak bergumul dengan hitung sana hitung sini ? Memang dari kecil saya senang mempertanyakan hakekat. Tetapi jalan hidup lain seperti itu. Apa yang Sdr. Devine Signor rasakan bahwa ada sesuatu yang ingin saya katakan adalah benar dan intinya seperti yang saya tulis itu. Mengenai rasio.

    Meskipun senang filsafat, tetapi saya tidak/belum memiliki literatur mengenai itu, sehingga pendapat-pendapat ilmiah para filosof itu belum saya baca. Karena itu saya katakan bahwa diskusi ini sangat menarik bagi saya untuk pengembangan diri. Hitung-hitung kuliah tanpa bayar. Heheheheeeee.

    Ada yang pernah mengatakan pada saya bahwa rasio dalam wujud perilaku ada tiga macam : 1. rasio instrumental yang unjung-unjungnya mengejar kekuasaan. Jadi rasio dalam hal ini (katanya) tidak sebagai sarana melainkan sebagai tujuan pada dirinya sendiri.2. rasio yang tidak menitik beratkan pada efisiensi, melainkan konsistensi. Yang terwujud di dalam hukum dan birokrasi negara. 3. rasio ilmiah yang terwujud di dalam lembaga-lembaga pendidikan dan riset ilmiah modern. Apakah pembagian itu ilmiah atau tidak ilmiah saya tidak tau dan tidak/belum mampu mengkaji.

    Setelah saya mengetahui ketiga macam rasio itu (kalau itu benar), bertemu dengan diskusi irasional ini. Yang timbul adalah permasalahan : Apakah irasional juga 3 macam ? Nah. itulah.

    Terima kasih.

    Reply
  9. Postinus Gulo

    Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu?
    pepatah ini mengindisikan bahwa manusia begitu misteri: siapa yang tahu bahwa orang lain itu sedang berpikir apa?

    Kaum rasional membentangkan perjuangannya: harus ada emansipasi di segala lini. Mengapa? karena mereka mampu menangkap zeit geist (roh zaman) bahwa begitu banyak orang yang kelihatan baik, diam, ramah tiba-tiba bunuh diri atau tiba-tiba menjadi beringas. Itu juga yang terjadi saat ini: ada beberapa di antara para teroris yang tadinya orang baik, ramah, disukai masyarakat. Namun, kita bertanya, mengapa mereka menjadi teroris?

    Johari Windows pernah berkata: 1. Saya tahu tetapi orang lain tidak tahu tentang saya. 2. saya tahu tetapi orang lain juga tahu tentang saya. 3. saya tidak tahu tetapi orang lain tahu tentang saya. 4. Saya tidak tahu tetapi orang lain juga tidak tahu.

    Alfred North Whitehead pernah menulis: the function of the reason is, to promote the art of life (fungsi dari rasio adalah untuk mempromosikan seni kehidupan). Pertanyaannya apa “the art of life”?. Lalu ia menjawab: bonum (baik), verum (benar), pulchrum (indah). Jadi, saya memilih, membeli sesuatu bukan hanya karena rasional, bukan hanya karena berguna, tetapi karena menarik buat saya.

    Dari pernyataan di atas, coba Anda hubungkan dengan pernyataan saya: hanya saya yang tahu kalau saya rasional atau irasional!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *