Oleh Postinus Gulö
Pengantar
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistemnya” atau “masyarakat Niasnya”?
Arti Böwö
Etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero kepada tetangga kita (makanan, baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan itu kita beri juga kepada tetangga kita secara cuma-cuma). Ini adalah aktualisasi kepekaan untuk selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita, juga untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai niha soböwö sibai. Jadi, arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya!
Lantas kenapa böwö itu kayak dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö bergeser menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah kata gogoila yang lebih familiar dikalangan tokoh adat Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso bahuhuo) dan sepengetahuan saya, dalam musyawah itu terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Jadi, böwö semakin direduksi maknanya: lebih dekat pada konotasi ekonomis (ibarat aktivitas jual-beli) dan bukan pada konotasi budaya. Dan saya percaya, jika pernyataan ini kita lemparkan ke orangtua kita atau ke “orang zaman dahulu”, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya Nias juga mereduksi nilai-nilai sakral budaya Nias! Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku, adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk adat. Ariflah menerapkan adat yang tidak membangun. Dulu böwö itu masih masuk akal. Mengapa? Karena sistem perekonomian Nias masih barter. Artinya böwö dihitung berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Sekarang kalau böwö itu di-uangkan, maka akan menjadi beban kehidupan berlapis generasi, karena babi tidak murah (misalnya, seekor babi yang diameternya 8 alisi harganya bisa mencapai Rp 900. 000 – Rp 1 Juta).
Nah, kalau dalam gogoila (böwö) terdapat 25 ekor babi, coba Anda bayangkan berapa juta. Belum lagi beras, dan emas (balaki, firö famokai danga, misalnya). Padahal mencari uang di Nias sangat susah. Mata pencaharian mayoritas masyarakat Nias adalah bersawah/berladang dan menyadap karet (dari pohon havea). Seperti kita tahu bahwa sawah di Nias tidak seperti Di Pulau Jawa yang sawahnya dikelola dengan baik: ada irigasi, lengkap pestisida pembasmi hama padi. Setahu saya, rata-rata sawah di Nias tidak ada irigasi yang dibangun oleh pemerintah atau yang dibangun oleh swasta. Pengairan sawah di Nias cuma mengandalkan hujan! Sedangkan menyadap karet, juga ada masalah. Karet bisa diharapkan menjadi duit jika tidak ada hujan. Coba kita bayangkan jika musim hujan, mau makan apa masyarakat Nias? Singkatnya, mengumpulkan dan mencari uang di Nias yang puluhan juta, bisa bertahun-tahun.
Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang harus disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya, misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan), seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak mempelai perempuan) , seekor untuk kaum ibu-ibu (ö ndra’alawe) yang memberikan nasehat kepada kedua mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan masih banyak lagi babi-babi yang disembelih.
Selain yang disembelih, ada juga babi yang dipergunakan untuk “famolaya sitenga bö’ö“. Di sini saya sebut beberapa saja: sekurang-kurangnya seekor untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan), seekor untuk “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya babi ini di-uang-kan dan uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo, dsb (dan jika pas hari “H” perkawinan, ibu atau ayah atau paman, atau sirege dari pihak saudara perempuan menghadiri pesta perkawinan, maka mereka-mereka ini juga harus difolaya, biasanya seekor hingga tiga ekor babi). Dan masih ada pernik lain, yakni fame’e balaki atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa famokai danga kepada nenek dan ibu mempelai perempuan; juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu diharuskan emas). Singkatnya, jika adat itu diterapkan pada zaman sekarang, maka Anda harus menyediakan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya untuk membeli babi dan emas belum lagi biaya pas hari “H” perkawiannya. Kalau kita melihat uraian di atas, böwö itu dibagi-bagi. Dan, kadangkala dalam pembagian semacam ini muncul berbagai macam perseteruan, permasalahan.
Akibat Böwö yang Mahal
a. Akibat Negatif
Ada berbagai macam problem sosial dan juga ekonomi yang disebabkan oleh mahalnya böwö di Nias. Di bawah ini saya akan menguraikan beberapa argumen berdasarkan fakta yang memang saya dengar dan alami (terutama di Kecamatan Mandrehe).
Pertama, akibat negatif dari böwö yang mahal adalah kemiskinan dan pemiskinan. Alasannya boleh dilihat dalam uraian akibat negatif berikutnya.
Kedua, akibat mahalnya böwö, orangtua si anak bukan lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anaknya, tapi mereka bekerja untuk membayar utangnya, membayar böwö yang dibebankan kepadanya. Bahkan utang böwö yang belum sempat terbayarkan oleh orangtua si anak mesti si anak harus bersedia membayarnya. Mahalnya böwö semakin diperparah sejak masyarakat Nias mengenal uang, karena böwö juga diuangkan. Mempelai laki-laki yang tidak mampu mencukupi nilai böwö yang harus ia bayar, tidak ada pilihan lain baginya selain meminjam. Anda tahu yang namanya pinjaman pasti ada bunganya perbulan. Dan, lingkaran semacam inilah yang menyebabkan banyak keluarga Nias hanya bekerja untuk membayar bunga utangnya.
Ketiga, mungkin kita pernah mendengar cerita Nono Niha yang berani melakukan pembunuhan hanya karena tidak dibayarkan kepadanya böwö yang sudah dijanjikan. Ini adalah akibat sosial yang sangat fatal dari böwö yang mahal. Hanya demi seekor babi atau berapalah itu, ia berani menghabiskan nyawa orang lain dan harus mendekam di penjara. Ini sungguh memilukan sekaligus memalukan.
Keempat, akibat keempat ini masih ada kaitannya dengan akibat kedua di atas tadi. Kerapkali mempelai laki-laki jika menikah, apalagi dari keluarga yang pas-pasan (tidak mampu), terpaksa menjual tanahnya, menjual sawah-ladangnya, bahkan bila kepepet ia juga meminjam sejumlah uang atau menyusun kongsi (kalau di Mandrehe, pas acara femanga ladegö, pihak dari mempelai laki-laki mengajak semua pihak untuk membantunya dan pada saat itu babi mesti disembelih sebagai tanda pemberitahuan kepada orang-orang yang akan menolongnya/yang mau memberikan kongsi). Jangan salah, jika meminjam uang, bunga bukan main bung. Dan, itu tradisi buruk Nias selama ini. Masyarakat Nias seolah melingkarkan tali di lehernya sendiri. Atau seperti seorang yang menggali lobang, ia sendiri yang jatuh ke dalamnya. Coba kita bayangkan, tanah habis dijual, masih ngutang lagi. Lalu di mana keluarga baru ini mengadu nasib, mencari nafkah sehari-hari? Mungkin ada yang masih rendah hati : menjadi kuli kepada orang lain. Dan, hal ini adalah «perbudakan» yang disengaja, yang kita buat sendiri walaupun sebenarnya bisa kita hilangkan, bisa kita atasi dengan tidak menerapkan sistem böwö yang mahal.
Kelima, jika orangtua masih berada dalam lingkaran «utang» sudah bisa dipastikan bahwa para orangtua tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya. Lantas kapan pola pikir Nias bisa ber-evolusi, berkembang, dinamis jika terjadi ke-vakum-an seperti ini, hanya karena böwö yang mahal itu. Melihat penerapan böwö yang tidak menguntungkan itu, sebaiknya para orangtua yang berasal dari Nias (apalagi mereka yang masih menerapkan böwö yang mahal) mesti menyadari apa tugas pokok jika sudah membentuk keluarga. Selain itu, mesti disadari: apa arti böwö yang sebenarnya. Saya rasa ada benarnya jika böwö adalah salah satu faktor utama kemiskinan di Nias secara turun-temurun. Boro-boro si orangtua menyekolahkan anaknya, utang böwönya saja belum lunas. Hal ini menjadi kendala bagi orang Nias sendiri untuk mencetak generasi penerus yang berpendidikan. Dan, jika demikian, jangan kaget jika berapa puluh tahun lagi Nias tidak akan mungkin membenahi kekurangan sumber daya manusianya.
Keenam, apakah Anda bahagia jika memiliki utang ? pasti tidak. Bagaimana suasana hati Anda jika memiliki utang? Pasti tidak tenteram, apalagi kalau setiap minggu, bulan ditagih. Ini suatu ancaman. Jika demikian, orang yang memiliki utang, juga pasti selalu tenggelam dalam kegelapan, bukan lagi kebahagiaan (tenga fa’owua-wua dödö ni rasoira ero ma’ökhö bahiza fa’ogömi-gömi dödö). Ketidak-tenteraman hati seperti ini bisa merembes ke sasaran lain: suami-istri sering bertengkar, suami menyalahkan istrinya yang memang pihak penuntut böwö; orangtua dan anak saling bertengkar, berkelahi; orangtua sering memarahi anaknya. Maka jangan heran jika banyak keluarga di Nias yang “makanan” sehari-harinya adalah “broken home”, perseteruan. Lalu kapan sebuah keluarga mempraktekkan cinta sebagai suami-istri, jika situasinya seperti ini? Marilah kita menjawabnya sendiri-sendiri!
Ketujuh, böwö identik dengan pemberian sejumlah harta benda, sejumlah uang, sejumlah babi yang harus ditanggung oleh pihak mempelai laki-laki. Nah, jika demikian, apa bedanya sistem böwö Nias ini dengan perdagangan perempuan dan perdagangan anak? Menurut saya, jika para orangtua memiliki motif bahwa böwö (gogoila) dijadikan sebagai modalnya, maka pada saat itu mereka termasuk dalam lingkaran perdagangan anak mereka sendiri. Dan hal ini bertentangan dengan hak azasi manusia! Tendensi perdagangan anak dalam system perkawinan Nias sebenarnya sudah mulai kelihatan. Misalnya, mempelai perempuan sering disebut sebagai böli gana’a (pengganti emas). Jadi seolah-olah perempuan itu sama dengan barang!
b. Akibat Positif
Pihak mempelai laki-laki, sebelum hari “H” perkawinan selalu mengumpulkan semua kerabatnya (seperti fadono, sirege, fabanuasa). Tentu dengan tujuan agar mereka-mereka ini bisa menolongnya, bahu-membahu menanggung böwö. Dari sisi ini ada juga beberapa hal positif.
Pertama, kekerabatan, fambambatösa, fasitenga bö’ösa semakin terjalin, semakin harmoni. Dan, menurut kepercayaan Nias, semua “fadono” yang taat kepada matua nia (mertua) akan diberkati (tefahowu’ö) dan mendapat rezeki.
Kedua, fadono selalu diingatkan akan kewajibannya. Hal ini bisa jadi menumbuhkan kesadaran akan “tanggung jawab” yang sejati dari para fadono. Dalam sistem adat perkawianan Nias, fasitengabö’ösa, fadonosa atau fambambatösa terjadi selama 3 generasi. Dalam sistem adat Nias (khususnya di Mandrehe) mempelai laki-laki memiliki kewajiban untuk selalau menjadi soko guru (tiang) bagi saudara mempelai perempuan (saudara dari istrinya yang dalam bahasa Nias disebut la’o). Misalnya, jika salah seorang saudara dari mempelai perempuan menikah, si mempelai laki-laki mesti membantunya. Di satu sisi ini baik. Tetapi di sisi lain, hal ini membebankan.
Ketiga, dengan böwö yang mahal, setahu saya para orangtua di Nias tidak mudah cerai (tetapi jangan-jangan karena orang Nias sendiri memang tidak biasa bercerai).
Melihat ambivalensi (negatif dan positif) böwö seperti yang terurai di atas, maka sebanarnya penerapan böwö yang mahal lebih banyak sisi buruknya, sisi negatifnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya menguraikan bagaimana “problem solving”-nya.
Problem Solving
Pada bagian terakhir ini, saya juga mencoba mencari solusi yang perlu direfleksikan (baca: diinternalisasikan) oleh semua masyarakat Nias, niha khöda.
Tesis Pertama, lalu bagaimana adat ini, apakah harus tetap diterapkan? Kalau menurut saya secara ritual adat Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, karena ini warisan berharga dari leluhur Nias. Ritual dalam arti: penghormatan kepada paman, kepada saudara, kepada ibu mertua, kepada nenek, kepada penatua adat, dst.. Jadi, dimensi kultik dan etis budaya Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, malah seharusnya kita dilestarikan.
Namun yang perlu diperhatikan adalah bentuk penghormatan itu bukan dengan material, bukan dengan pemberian babi yang sekarang tergolong mahal di Nias (tetapi jika ada keluarga yang mampu dengan penghormatan secara material, silahkan saja yang penting jangan sampai pemberian itu adalah hasil pinjaman yang justru menjadi utang berlapis generasi). Bentuk penghormatan itu bisa melalui perhatian, menolong kerabat, mertua dikala mengalami situasi yang memang memerlukan bantuan tenaga manusia. Jadi, penghormatan itu lebih pada hal spiritual, afeksional, sosial dan bukan material-ekonomis. Dan, yang harus selalu dilestarikan oleh orang Nias adalah budaya, seperti: maena, tarian (tarian baluse, tari moyo, hoho, dst.), fame’e afo, ni’oköli’ö manu, dst. Sangat disayangkan, akhir-akhir ini justru tarian maena semakin hari semakin tidak dikenal lagi oleh generasi muda Nias. Padahal, tarian maena adalah salah satu tarian rakyat Nias yang kalau dilestarikan secara benar menjadi ciri khas dan kebanggaan Nias.
Setiap orangtua pasti bahagia jika anaknya menjadi “orang”. Namun, jika para orangtua Nias belum menyadari bahwa böwö itu sangat membebankan maka saya kurang tahu sampai kapan masyarakat Nias akan menyadari bahwa pola pikir semacam itu justru menenggelamkan orang ke lembah kemiskinan. Pengalaman saya sendiri, kadang-kadang böwö itu diperebutkan antara pihak paman, talifuso, dan juga so’ono (dari pihak saudara dan juga orangtua mempelai perempuan). Ironisnya (masih terjadi) babi-babi yang mereka terima itu dijadikan sebagai modal. Ini komersial bung dan apa bedanya dengan “perdagangan anak”? ini bukan melebih-lebihkan, hal ini sungguh terjadi pada zaman dahulu kala (dan mungkin sampai sekarang, walaupun tidak sebanyak dulu).
Tesis kedua, setiap orangtua yang berpendidikan mencoba menjadi pilar untuk mengubah tradisi Nias yang justru membebankan. Mula-mula para orangtua itu mesti melakukan penyuluhan kepada anaknya dan oleh karena itu juga jangan mereka terapkan böwö yang mahal kepada anak mereka sendiri. Tidak selamanya bahwa budaya itu positif dan manusiawi. Misalnya, budaya orang-orang Eskimo yang menyembelih orangtua mereka jika sudah tua. Menurut masyarakat Eskimo, tindakan mereka ini memiliki nilai yang tinggi: mencoba menyelamatkan orangtua mereka dari penyakit tua yang bisa membawa pada penderitaan. Bahkan tindakan itu adalah salah satu bentuk perwujudan penghormatan kepada orangtua. Budaya Mangayau di Kalimantan (tradisi memenggal kepala orang, dan ternyata hal ini terjadi di Nias pada zaman dahulu). Seperti kita tahu bahwa menghilangkan nyawa orang lain, bertentangan dengan hukum kodrat yang dikenal oleh orang Kristen, terutama dalam gagasan Santo Thomas Aquinas: Hukum kodrat adalah pemberian dari surga, anugrah tertinggi dari Allah yang tidak bisa diciptakan oleh manusia. Manusia lahir dan mati, itu adalah hak Allah.
Tesis ketiga, tokoh agama harus terlibat dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat Nias yang masih menerapkan böwö yang mahal. Sebagai orang Nias, saya berterima kasih (juga salut) kepada Pastor Mathias Kuppens, OSC (misionaris Ordo Sanctae Crucis, berkewarganegaraan Belanda), yang cukup antusias untuk memberikan pemahaman kepada orang Nias (terutama di Kecamatan Sirombu dan Mandrehe) bahwa böwö yang mahal tidak membangun. Beliau adalah salah satu tokoh agama Katolik yang cukup berhasil “menekan” jumlah besarnya böwö dengan cara-cara yang persuasif. Namun, perjuangan beliau bukan tanpa hambatan. Ada beberapa orang Nias yang pernah melontarkan kata-kata pedas, mencoba menentang kebijakan Pastor Mathias, sang pencinta Nias itu. Tetapi Pastor Mathias menanggapi dengan tindakan yang diwarnai kerendahan hati: ia tidak pernah berprasangka negatif (tidak su’udzon) walau ia dicerca. Ini luar biasa!
Tesis keempat, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias dan Nias Selatan, seharusnya memikirkan bagaimana jika penyuluhan tentang böwö diajarkan di sekolah sebagai pelajaran “muatan lokal” atau semacam pelajaran “ektra kurikuler”. Menurut saya, böwö dan juga adat Nias yang lain perlu dijelaskan kepada generasi muda agar mereka kelak mengerti dampak ambivelensi adat Nias itu sendiri. Dan oleh karena itu, mereka kelak bisa menegasi hal-hal yang tidak membangun dari adat Nias itu sendiri; sehingga budaya Nias tidak mandeg pada ke-statis-an melainkan berkembang (dinamis). Dan, tugas ini tentu didelegasikan kepada para guru yang mengajar: mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.
Semoga!
*Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Artikel ini (sebelum saya edit) terbit pertama sekali di NiasIsland.Com, 28 December 2006 dan atas izin saya sendiri artikel ini diterbitkan di situs Museum Pusaka Nias, pada tanggal 26 Januari 2007.
Ya’ahowu Talifusõ sotõi Fusõ Newali.
Bisa aja Bapak. Tapi pak Fusõ Newali ini berasal dari Teluk Dalam juga khan ? karena dari pelurusan maedo-maedo di atas, pakai gaya bahasa Niha Raya. Hehehehehehe…..
Siwani untuk saat ini belum siap untuk berdiskusi dengan siapa saja, saya masih banyak kesibukan. Suatu saat kita pasti akan ketemu, Pak.
Catatan-catatan saya ketinggalan semua di rumah Pak, jadi seperti Bõli Nono Dachi Si Sara Ambõ Fitu Nafulu ada urutannya Pak. Sehingga totalnya itu menjadi 69 pauk emas. Ga enak kalau kita ngomong di sini. Seperti Avore mbawi, Tumba Wakhe, dsb, itu khan ukuran yang ditetapkan oleh Ono Dachi Pak. Dulu di Hili’amaigila. Tapi kalau ini bisa aja Bapak tanyakan ke orang-orangtua yang ada di Hilisimaetanõ dan Bawõgosali.
Saohagõlõ, Yafaoma itolo ita Sokhõ ya’ita.
Para komentator terkasih. Sumbangan pemikiran yang Anda torehkan dalam situs ini menjadi masukan berharga bagi siapa saja yang berkunjung di situs ini. Tulisan saya yang berjudul “Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?†jauh dari sempurna. Dengan mengomentarinya, Anda berjasa menyempurnakannya. Terima kasih. Saya menanggapi beberapa komentator tulisan ini. Mohon maaf jika ada kata yang salah atau kurang berkenan di hati.
1. Sdr.Marselino Fau & Benny Lase, ya’ahowu. Terima kasih komentar kritis Anda. Hasil penelitian Keuskupan Sibolga membuka jalan bagi kita Ono Niha untuk melanjutkan penelitian. Kita diajak untuk memperkaya temuan itu. Marilah kita berupaya untuk memfalsifikasinya secara asertif untuk mengetes sejauh mana akurasi kesimpulan penelitian itu. Untuk saudaraku Marselino Fau: saya sangat ingin memiliki Buku Bambowo MA Laia. Dan “Society and Exchange in Nias†yang ditulis Andrew Beatty tahun 1992. Mungkin Bpk. E. Halawa juga bisa membantu saya. Bagaimana caranya ya? Kalau ada Bpk/Ibu/Sdr/Sdri saya yang berbaik hati, di mana dan ke siapa saya bisa mendapatkannya. Terima kasih atas bantuannya. Email saya: di*******@***oo.com. Kalau ada buku-buku lain yang membahas tentang böwö dan perkawinan di Nias saya mohon kesediaan Bpk/Ibu/Sdr/Sdri untuk menginformasikan ke saya.
2. Saohagölö Bpk. Siwani Victor Dachi. Komentar dan saran Anda tentu menjadi masukan untuk memperkaya tulisan saya ini. Di balik penerapan böwö ada nilai luhur yang disimbolkan oleh leluhur Nias. Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, marilah kita mendiskusikan apa sebenarnya, nilai di balik sistem dan penerapan böwö itu? Saya memiliki kuriositas untuk melacak nilai dan keutamaan di balik böwö ini sekaligus saya juga berusaha untuk melihat efek-efeknya untuk masyarakat Nias.
3. Saudaraku yang memakai nama samaran “takawaenaâ€, terima kasih komentar yang menggambarkan suasana hati Anda. Komentar to the point Anda memberi hikmat bagi saya pribadi. Adat Nias istimewa karena memiliki keunikan dan kekhasannya. Daerah lain juga begitu. Ada hal yang menarik di daerah lain: kalau ada pesta pernikahan maka undangan, handaitaulan, koneksi bisnis, rekan sebaya, atau kenalan itu membawa buah tangan berupa kado barang dan uang. Kalau dihitung-hitung, kado itu bisa saja menutupi biaya pesta pernikahan biarpun puluhan juta rupiah. Bagaimana di Nias? Adakah hal semacam ini?
4. Bpk. Bezisokhi Dao. Tentu kita bertanya, kenapa kurang kelihatan perubahan dalam memaknai böwö walau sudah banyak diadakan seminar? “Mungkin†karena kita resisten pada evaluasi, kritik-konstruktif yang datang dari dalam dan luar Ono Niha. Saya setuju, bahwa kita sendirilah yang seharusnya menjadi agen perubahan. Oleh karena itulah kita, Ono Niha, semestinya juga berlatih untuk berpikir asertif.
5. Terima kasih Saudaraku yang bernama samaran Hati Bening. Saya tertarik komentar Anda “Yang harus bergerak adalah tokoh2 adat itu sendiriâ€. Pertanyaannya, adakah tokoh-tokoh adat itu berusaha memberi pemahaman kepada masyarakat Nias mengenai böwö? Apakah mereka berusaha meminimalisir penyelewengan penerapan böwö itu?
6. Saudaraku Ono Niha (Komentar 47), terima kasih saran dan ajakan Anda. Terima kasih juga pada Sdr. Benny Lase (komen 48) yang menanggapi komentar Sdr. “Ono Niha†ini. Walau Anda hanya membaca filsafat ketika Anda pergi ke sebuah toko tetapi sudah bisa menilai seseorang. Luar biasa itu. Suatu cara yang berani dan menjadi pembelajaran bagi saya sendiri.
Dari Postinus Gulö (di*******@***oo.com).
to pontinus gulo, bila anda berada di nias sekarang ini, saban hari ada pesta kawin, ga ada yang takut miskin. mereka menghargai perempuan nias setinggi-tingginya (itulah esensi bowo itu!) soal pemberian bagi pasangan baru, dalam adat nias, itu telah berlangsung lama. bukan ditiru dari pemberian amplop seperti siefo (kalau tidak percaya, tanya orangtua)
Tanggapan:
1. Terima kasih atas tanggapan saudara P. Gulo, itu menunjukkan kerendahan hati. Terasa bhw hal2 yg ideal, walaupun sangat perlu, tidak selalu bisa diterapkan di lapangan.
2. Betul, hanya tokoh2 adatlah yg menjadi kuncinya, krn mereka eksekutornya soal bowo/adat. Kita hanya sebatas memberi pencerahan saja. Dan biasanya para pimpinan agama kurang dihiraukan dlm soal ini krn dianggap tidak faham soal adat/bowo.
3. Maaf, kata2 saudara: “apakah mereka berusaha meminimalisir penyelewengan penerapan bowo itu?”. Org yg tdk mengerti latar-belakang yg mengatakan ‘penyelewengan’. Bagi mereka itu keharusan budaya, klu tdk dijalankan mk mereka akn disingkirkan dr masyarakat adat itu. Mk jgn buru2 kita mengatakan ‘penyelewengan’.
4. Soal pemberian kado. saya ndak tahu apakah Sdr Gulo sering di Nias? Hampir rata2 skrg para undangan memberi macam2 kado: kain, amplop, alat2 dapur, dlsb. Tradisi ini sudah lama berlangsung, dan bukan kita tiru dr sebrang.
Terima kasih.
Ira iwagu batalifusõgu niomasiõgu
Ya’ahowu ami fefu
Awalnya saya mengikuti diskusi ini karena membaca “judulnya†sehingga membuat saya tertarik untuk membacanya dan setelah itu mencoba mengkritisi dari sudut pandang yang berbeda dan dengan motif yang berbeda juga. Barangkali, demikian juga dengan yang lainnya. Setelah saya muat No telphon saya ada pembaca yang berdikusi dengan saya tentang topik ini. Dari dialog ini saya memberi berbarapa catatan sbb:
1. Sebelum kita berdialog tentu kita mempersepsikan suatu objek atau gagasan. Persepsi dan sudut pandang serta pengalaman kita mempengaruhi komentar kita.
2. Dalam berdialog kita mengkomunikasikan apa ide-ide dalam kognisi kita tentang objek atau gagasan tersebut.
Disini saya menilai, kita tidak hanya sekedar berkomentar tetapi juga belajar bagaimana secara dewasa merespon pendapat dan pikiran orang lain. Terima kasih kepada Fr. Postinus Gulõ yang telah melontarkan gagasan ini lewat dunia maya “Nias Online†dan kepada komentator yang lain, dari Anda semua sedikit banyak Anda memberikan informasi tentang Nias, baik untuk saya maupun para pembaca.
Mengomentari tulisan Fr. Postinus Gulõ saya belajar dua hal diluar dari kontennya sbb:
1. Dalam mempersepsikan satu masalah kita sering berbeda karena kita menggunakan cara pandang dan pengalaman yang berbeda, bahkan ada juga mungkin hanya sekedar iseng saja. Dari pandangan saya mungkin gampang sekali tepi kalau saya sendiri yang menjalankannya ceritanya pasti beda. Mengutip kata-kata bijak “ndra amada mefonaâ€
Lala sifahole hili
Ahatõ ba wamaigi,
Arõu ba wanõrõ.
Mari kita belajar untuk saling memahami dan mengerti cara pandang orang lain sehingga esensinya terjawab dan terpecahkan.
2. Bagi para komentator yang telah menyampaikan pandangan dan gagasanya, kita dinilai oleh para pembaca kualitas kita dalam mengemukakan gagasan, ada yang memikat ada yang asalan dan cenderung membabi buta. Komontar Anda sedikit banyak menampilkan diri Anda. Sekali lagi mari kita belajar dari kata-kata bijak ini:
Lõ dozi Salawa
Lõ dozi Ere
Zame’e ba nono mbarunia gasi hambae si no mate
Lõ dozi Salawa
Lõ dozi Ere
Zamesu hõrõ hambae ba dalu zigete-gete
Mau pilih apa Salawa ma Ere same ba nono mbarunia gasi hambae si no mate atau Salawa ma Ere Zamesu hõrõ hambae ba dalu zigete-gete.
Saya berharap kita tidak hanya terpaut pada dikotomi pilihan diatas tetapi, harapan Kita bersama, semoga dialog ini memotivasi kita menyumbangkan pemikiran yang konstruktif untuk Nias. Saohagõlõ.
To Fr. Postinus Gulo bukunya akan saya kirim.
Salam Ya’ahowu
Untuk semua dan para pembaca mohon maaf kalau terkesan menggurui.
Hehehehehe……..
Komentator no. 55. membuat kesimpulan ya?
Dan dalam kesimpulannya justru mengomentari (menggurui) para komentator.
Seharusnya mengomentari/mempertajam topik dr tulisan Sdr P. Gulo.
Ada-ada saja…………
Sdr. Hati Bening
Terima kasih atas tanggapan saudara yang sangat jujur menunjukkan hatimu yang bening.
1. Perlu saya sampaikan yang membuat kesimpulan adalah redaksi niasonline bukanlah Marselino Fau
2. Harap dicatat berbicara kesimpulanadalah berbicara tentang jawaban atas masalah. Pertanyaannya apakah dalam komentar 55 menjawab masalah….? Kalau ya pertanyaan saudara terjawab kalau tidak pertanyaan saudara juga terjawab.
3. Komentar 55 “sifatnya menghimbau†diluar dari konten. Dengan jelas dan tegas komentar 55 mengatakan ini bicara diluar dari topik diluar dari isi.
4. Kalau saudara “menangkap†komentar 55 menggurui/ mengomentari para komentator 1.000. % (seribu persen) saya setuju KARENA saudara membaca komentar 55 secara PARSIAL. Tapi Kalau saudara mengaitkannya dengan komentar 27 dan hasil editan redaksi dan dengan dialog yang lainnya serta kalimat terakhir 100% saya tidak setuju.
5. Ajakan/ komentar 55 secara terang benderang adalah dalam konteks keâ€KITAâ€an bukan ke “KAMUâ€an terlebih lagi keâ€KALIANâ€an. Lucu rasanya 55 menggurui dan mengomentari dirinya sendiri. Orang Sunda bilang “ Aya-aya wae…..â€
6. Mari kembali ke topik masalah………..
Salam….
Ya’ahowu
Saohagolo Bpk. Marselino Fau. Ketika membaca komentar Bpk. Saya semakin termotivasi untuk melanjutkan menulis tentang budaya Nias. Saya memang punya niat besar untuk mempelajari budaya Nias karena budaya Nias itu unik, istimewa dan bahkan memiliki nilai filosofis yang tak terkira. Saya sangat sadari bahwa ketika budaya itu sudah mulai dievaluasi, sulit diterima begitu saja oleh masyarakatnya. Itu sudah hal yang sangat wajar. Saya pernah berdiskusi (beberapa hari lalu) dengan seorang antropolog dari sebuah universitas terkenal di negeri ini dan beliau mengatakan bahwa kita mesti hati-hati mengevaluasi budaya tertentu karena itu sangat sensitif, menyangkut harga diri suatu suku bangsa.
Saya sangat berterima kasih Bpk.atas kesediaan Bpk. Marselino Fau untuk mengirim buku ttg Nias ke saya. Alamat saya: Jl. Sultan Agung No. 2 Bandung 40115. (Ha’uga gömögu böli mbuku da’ö ba tola ombakha’ö khögu ama. Ha’ewisa ena’ö tola ukirim). Saya sangat membutuhkan literatur buku ttg Nias karena saya sedang menulis tesis seputar Efek-Efek Penerapan Böwö Terhadap Masyarakat Nias Barat. Saya akan melakukan penelitian mendalam dan akan tinggal beberapa bulan di Pulau Nias. Ya’ahowu
Postinus Gulo (www.postinus.wordpress.com. Emailgu: di*******@***oo.com
Terima kasih banyak Bapak Marselino Fau. Buku tulisan Bambowo Laiya sudah saya terima kemarin sore (selasa sore). Buku ini memberikan banyak informasi berkaitan dengan penulisan tesis saya. Sekali lagi saya menghaturkan limpah terima kasih.
Postinus Gulo (Bandung)
[INGIN MENJADI RELAWAN]
Ya’ahowu & Horas !
Tantangan serupa sebenarnya juga kami alami sebagai masyarakat Batak, yaitu bahwa generasi kita dihadapkan pada pilihan delematis; mempertahankan keaslian praktek adat ataukah memilih berjibaku mengusahakan transformasi kehidupan, tanpa berpaling dari tujuan semula sebagaimana didambakan nenek moyang kita sendiri.
Saya setuju jika ada perlindungan atas ke-sakral-an suatu budaya, sepanjang … ‘pemilik’ dan/atau ‘pelaku’ praktek budaya tersebut secara umum masih meng-hayati-nya dan itu meningkatkan rasa syukur dan keinginan mendekat kepada Tuhan kita; termasuk aturan tentang böwö (hadiah, pemberian yang cuma-cuma seperti disebutkan bapak penulis blog ini); tapi saya juga telah merasa sebagai orang malang jika sebuah peraturan adat(insaniah)sudah membelenggu kehidupan sebuah komunitas adat.
Kita memerlukan kajian yang cukup dalam (oleh orang-orang yang berkompeten) untuk mengetahui hakikat dari sebuah praktek adat sebelum melakukan revisi/perbaikan atas sistem tersebut, dan tentunya perlu bantuan sosiolog pula sebelum menetapkan revisi yang dibutuhkan demi efektifitas dan efisiensi sistem adat tersebut bagi masyarakat.
Jika mungkin sedang/akan ada upaya-upaya transformatif (semisal riset) sekaitan dengan pencarian solusi atas persoalan ini, yang informasinya sudah ada di tangan bapak penulis atau para komentator yang terhormat, mohon beritahu saya karena saya sedang mencari wadah untuk turut berbuat bagi masyarakat kita; khususnya Nias dan Batak sendiri.
Niat tulus untuk menjadi relawan riset atau kegiatan sejenis untuk kepentingan ini sudah lama terpendam di hati saya, bermula dari sebuah hubungan baik saya dengan wanita saleh EM dari Nisel yang bagiku sungguh sebuah pergaulan yang indah. Saya ingin mendedikasikan sebuah pengabdian sebagai rasa hormat/terimakasih saya buatnya dan keluarganya.
Sekali lagi, dengan kerendahan-hati saya memohon kepada kita semua supaya dikirimi info yang terkait dengan hal dimaksud di atas via email ke ng*****@***oo.com ; Sekian, Saohagõlõ buat bapak penulis, Terimakasih buat kita semua.
Shalom!!!