Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?

Oleh Postinus Gulö

Pengantar
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistemnya” atau “masyarakat Niasnya”?

Arti Böwö
Etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero kepada tetangga kita (makanan, baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan itu kita beri juga kepada tetangga kita secara cuma-cuma). Ini adalah aktualisasi kepekaan untuk selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita, juga untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai niha soböwö sibai. Jadi, arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya!

Lantas kenapa böwö itu kayak dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö bergeser menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah kata gogoila yang lebih familiar dikalangan tokoh adat Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso bahuhuo) dan sepengetahuan saya, dalam musyawah itu terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Jadi, böwö semakin direduksi maknanya: lebih dekat pada konotasi ekonomis (ibarat aktivitas jual-beli) dan bukan pada konotasi budaya. Dan saya percaya, jika pernyataan ini kita lemparkan ke orangtua kita atau ke “orang zaman dahulu”, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya Nias juga mereduksi nilai-nilai sakral budaya Nias! Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku, adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk adat. Ariflah menerapkan adat yang tidak membangun. Dulu böwö itu masih masuk akal. Mengapa? Karena sistem perekonomian Nias masih barter. Artinya böwö dihitung berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Sekarang kalau böwö itu di-uangkan, maka akan menjadi beban kehidupan berlapis generasi, karena babi tidak murah (misalnya, seekor babi yang diameternya 8 alisi harganya bisa mencapai Rp 900. 000 – Rp 1 Juta).

Nah, kalau dalam gogoila (böwö) terdapat 25 ekor babi, coba Anda bayangkan berapa juta. Belum lagi beras, dan emas (balaki, firö famokai danga, misalnya). Padahal mencari uang di Nias sangat susah. Mata pencaharian mayoritas masyarakat Nias adalah bersawah/berladang dan menyadap karet (dari pohon havea). Seperti kita tahu bahwa sawah di Nias tidak seperti Di Pulau Jawa yang sawahnya dikelola dengan baik: ada irigasi, lengkap pestisida pembasmi hama padi. Setahu saya, rata-rata sawah di Nias tidak ada irigasi yang dibangun oleh pemerintah atau yang dibangun oleh swasta. Pengairan sawah di Nias cuma mengandalkan hujan! Sedangkan menyadap karet, juga ada masalah. Karet bisa diharapkan menjadi duit jika tidak ada hujan. Coba kita bayangkan jika musim hujan, mau makan apa masyarakat Nias? Singkatnya, mengumpulkan dan mencari uang di Nias yang puluhan juta, bisa bertahun-tahun.

Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang harus disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya, misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan), seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak mempelai perempuan) , seekor untuk kaum ibu-ibu (ö ndra’alawe) yang memberikan nasehat kepada kedua mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan masih banyak lagi babi-babi yang disembelih.

Selain yang disembelih, ada juga babi yang dipergunakan untuk “famolaya sitenga bö’ö“. Di sini saya sebut beberapa saja: sekurang-kurangnya seekor untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan), seekor untuk “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya babi ini di-uang-kan dan uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo, dsb (dan jika pas hari “H” perkawinan, ibu atau ayah atau paman, atau sirege dari pihak saudara perempuan menghadiri pesta perkawinan, maka mereka-mereka ini juga harus difolaya, biasanya seekor hingga tiga ekor babi). Dan masih ada pernik lain, yakni fame’e balaki atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa famokai danga kepada nenek dan ibu mempelai perempuan; juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu diharuskan emas). Singkatnya, jika adat itu diterapkan pada zaman sekarang, maka Anda harus menyediakan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya untuk membeli babi dan emas belum lagi biaya pas hari “H” perkawiannya. Kalau kita melihat uraian di atas, böwö itu dibagi-bagi. Dan, kadangkala dalam pembagian semacam ini muncul berbagai macam perseteruan, permasalahan.

Akibat Böwö yang Mahal
a. Akibat Negatif
Ada berbagai macam problem sosial dan juga ekonomi yang disebabkan oleh mahalnya böwö di Nias. Di bawah ini saya akan menguraikan beberapa argumen berdasarkan fakta yang memang saya dengar dan alami (terutama di Kecamatan Mandrehe).

Pertama, akibat negatif dari böwö yang mahal adalah kemiskinan dan pemiskinan. Alasannya boleh dilihat dalam uraian akibat negatif berikutnya.

Kedua, akibat mahalnya böwö, orangtua si anak bukan lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anaknya, tapi mereka bekerja untuk membayar utangnya, membayar böwö yang dibebankan kepadanya. Bahkan utang böwö yang belum sempat terbayarkan oleh orangtua si anak mesti si anak harus bersedia membayarnya. Mahalnya böwö semakin diperparah sejak masyarakat Nias mengenal uang, karena böwö juga diuangkan. Mempelai laki-laki yang tidak mampu mencukupi nilai böwö yang harus ia bayar, tidak ada pilihan lain baginya selain meminjam. Anda tahu yang namanya pinjaman pasti ada bunganya perbulan. Dan, lingkaran semacam inilah yang menyebabkan banyak keluarga Nias hanya bekerja untuk membayar bunga utangnya.

Ketiga, mungkin kita pernah mendengar cerita Nono Niha yang berani melakukan pembunuhan hanya karena tidak dibayarkan kepadanya böwö yang sudah dijanjikan. Ini adalah akibat sosial yang sangat fatal dari böwö yang mahal. Hanya demi seekor babi atau berapalah itu, ia berani menghabiskan nyawa orang lain dan harus mendekam di penjara. Ini sungguh memilukan sekaligus memalukan.

Keempat, akibat keempat ini masih ada kaitannya dengan akibat kedua di atas tadi. Kerapkali mempelai laki-laki jika menikah, apalagi dari keluarga yang pas-pasan (tidak mampu), terpaksa menjual tanahnya, menjual sawah-ladangnya, bahkan bila kepepet ia juga meminjam sejumlah uang atau menyusun kongsi (kalau di Mandrehe, pas acara femanga ladegö, pihak dari mempelai laki-laki mengajak semua pihak untuk membantunya dan pada saat itu babi mesti disembelih sebagai tanda pemberitahuan kepada orang-orang yang akan menolongnya/yang mau memberikan kongsi). Jangan salah, jika meminjam uang, bunga bukan main bung. Dan, itu tradisi buruk Nias selama ini. Masyarakat Nias seolah melingkarkan tali di lehernya sendiri. Atau seperti seorang yang menggali lobang, ia sendiri yang jatuh ke dalamnya. Coba kita bayangkan, tanah habis dijual, masih ngutang lagi. Lalu di mana keluarga baru ini mengadu nasib, mencari nafkah sehari-hari? Mungkin ada yang masih rendah hati : menjadi kuli kepada orang lain. Dan, hal ini adalah «perbudakan» yang disengaja, yang kita buat sendiri walaupun sebenarnya bisa kita hilangkan, bisa kita atasi dengan tidak menerapkan sistem böwö yang mahal.

Kelima, jika orangtua masih berada dalam lingkaran «utang» sudah bisa dipastikan bahwa para orangtua tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya. Lantas kapan pola pikir Nias bisa ber-evolusi, berkembang, dinamis jika terjadi ke-vakum-an seperti ini, hanya karena böwö yang mahal itu. Melihat penerapan böwö yang tidak menguntungkan itu, sebaiknya para orangtua yang berasal dari Nias (apalagi mereka yang masih menerapkan böwö yang mahal) mesti menyadari apa tugas pokok jika sudah membentuk keluarga. Selain itu, mesti disadari: apa arti böwö yang sebenarnya. Saya rasa ada benarnya jika böwö adalah salah satu faktor utama kemiskinan di Nias secara turun-temurun. Boro-boro si orangtua menyekolahkan anaknya, utang böwönya saja belum lunas. Hal ini menjadi kendala bagi orang Nias sendiri untuk mencetak generasi penerus yang berpendidikan. Dan, jika demikian, jangan kaget jika berapa puluh tahun lagi Nias tidak akan mungkin membenahi kekurangan sumber daya manusianya.

Keenam, apakah Anda bahagia jika memiliki utang ? pasti tidak. Bagaimana suasana hati Anda jika memiliki utang? Pasti tidak tenteram, apalagi kalau setiap minggu, bulan ditagih. Ini suatu ancaman. Jika demikian, orang yang memiliki utang, juga pasti selalu tenggelam dalam kegelapan, bukan lagi kebahagiaan (tenga fa’owua-wua dödö ni rasoira ero ma’ökhö bahiza fa’ogömi-gömi dödö). Ketidak-tenteraman hati seperti ini bisa merembes ke sasaran lain: suami-istri sering bertengkar, suami menyalahkan istrinya yang memang pihak penuntut böwö; orangtua dan anak saling bertengkar, berkelahi; orangtua sering memarahi anaknya. Maka jangan heran jika banyak keluarga di Nias yang “makanan” sehari-harinya adalah “broken home”, perseteruan. Lalu kapan sebuah keluarga mempraktekkan cinta sebagai suami-istri, jika situasinya seperti ini? Marilah kita menjawabnya sendiri-sendiri!

Ketujuh, böwö identik dengan pemberian sejumlah harta benda, sejumlah uang, sejumlah babi yang harus ditanggung oleh pihak mempelai laki-laki. Nah, jika demikian, apa bedanya sistem böwö Nias ini dengan perdagangan perempuan dan perdagangan anak? Menurut saya, jika para orangtua memiliki motif bahwa böwö (gogoila) dijadikan sebagai modalnya, maka pada saat itu mereka termasuk dalam lingkaran perdagangan anak mereka sendiri. Dan hal ini bertentangan dengan hak azasi manusia! Tendensi perdagangan anak dalam system perkawinan Nias sebenarnya sudah mulai kelihatan. Misalnya, mempelai perempuan sering disebut sebagai böli gana’a (pengganti emas). Jadi seolah-olah perempuan itu sama dengan barang!

b. Akibat Positif
Pihak mempelai laki-laki, sebelum hari “H” perkawinan selalu mengumpulkan semua kerabatnya (seperti fadono, sirege, fabanuasa). Tentu dengan tujuan agar mereka-mereka ini bisa menolongnya, bahu-membahu menanggung böwö. Dari sisi ini ada juga beberapa hal positif.

Pertama, kekerabatan, fambambatösa, fasitenga bö’ösa semakin terjalin, semakin harmoni. Dan, menurut kepercayaan Nias, semua “fadono” yang taat kepada matua nia (mertua) akan diberkati (tefahowu’ö) dan mendapat rezeki.

Kedua, fadono selalu diingatkan akan kewajibannya. Hal ini bisa jadi menumbuhkan kesadaran akan “tanggung jawab” yang sejati dari para fadono. Dalam sistem adat perkawianan Nias, fasitengabö’ösa, fadonosa atau fambambatösa terjadi selama 3 generasi. Dalam sistem adat Nias (khususnya di Mandrehe) mempelai laki-laki memiliki kewajiban untuk selalau menjadi soko guru (tiang) bagi saudara mempelai perempuan (saudara dari istrinya yang dalam bahasa Nias disebut la’o). Misalnya, jika salah seorang saudara dari mempelai perempuan menikah, si mempelai laki-laki mesti membantunya. Di satu sisi ini baik. Tetapi di sisi lain, hal ini membebankan.

Ketiga, dengan böwö yang mahal, setahu saya para orangtua di Nias tidak mudah cerai (tetapi jangan-jangan karena orang Nias sendiri memang tidak biasa bercerai).

Melihat ambivalensi (negatif dan positif) böwö seperti yang terurai di atas, maka sebanarnya penerapan böwö yang mahal lebih banyak sisi buruknya, sisi negatifnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya menguraikan bagaimana “problem solving”-nya.

Problem Solving
Pada bagian terakhir ini, saya juga mencoba mencari solusi yang perlu direfleksikan (baca: diinternalisasikan) oleh semua masyarakat Nias, niha khöda.

Tesis Pertama, lalu bagaimana adat ini, apakah harus tetap diterapkan? Kalau menurut saya secara ritual adat Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, karena ini warisan berharga dari leluhur Nias. Ritual dalam arti: penghormatan kepada paman, kepada saudara, kepada ibu mertua, kepada nenek, kepada penatua adat, dst.. Jadi, dimensi kultik dan etis budaya Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, malah seharusnya kita dilestarikan.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bentuk penghormatan itu bukan dengan material, bukan dengan pemberian babi yang sekarang tergolong mahal di Nias (tetapi jika ada keluarga yang mampu dengan penghormatan secara material, silahkan saja yang penting jangan sampai pemberian itu adalah hasil pinjaman yang justru menjadi utang berlapis generasi). Bentuk penghormatan itu bisa melalui perhatian, menolong kerabat, mertua dikala mengalami situasi yang memang memerlukan bantuan tenaga manusia. Jadi, penghormatan itu lebih pada hal spiritual, afeksional, sosial dan bukan material-ekonomis. Dan, yang harus selalu dilestarikan oleh orang Nias adalah budaya, seperti: maena, tarian (tarian baluse, tari moyo, hoho, dst.), fame’e afo, ni’oköli’ö manu, dst. Sangat disayangkan, akhir-akhir ini justru tarian maena semakin hari semakin tidak dikenal lagi oleh generasi muda Nias. Padahal, tarian maena adalah salah satu tarian rakyat Nias yang kalau dilestarikan secara benar menjadi ciri khas dan kebanggaan Nias.

Setiap orangtua pasti bahagia jika anaknya menjadi “orang”. Namun, jika para orangtua Nias belum menyadari bahwa böwö itu sangat membebankan maka saya kurang tahu sampai kapan masyarakat Nias akan menyadari bahwa pola pikir semacam itu justru menenggelamkan orang ke lembah kemiskinan. Pengalaman saya sendiri, kadang-kadang böwö itu diperebutkan antara pihak paman, talifuso, dan juga so’ono (dari pihak saudara dan juga orangtua mempelai perempuan). Ironisnya (masih terjadi) babi-babi yang mereka terima itu dijadikan sebagai modal. Ini komersial bung dan apa bedanya dengan “perdagangan anak”? ini bukan melebih-lebihkan, hal ini sungguh terjadi pada zaman dahulu kala (dan mungkin sampai sekarang, walaupun tidak sebanyak dulu).

Tesis kedua, setiap orangtua yang berpendidikan mencoba menjadi pilar untuk mengubah tradisi Nias yang justru membebankan. Mula-mula para orangtua itu mesti melakukan penyuluhan kepada anaknya dan oleh karena itu juga jangan mereka terapkan böwö yang mahal kepada anak mereka sendiri. Tidak selamanya bahwa budaya itu positif dan manusiawi. Misalnya, budaya orang-orang Eskimo yang menyembelih orangtua mereka jika sudah tua. Menurut masyarakat Eskimo, tindakan mereka ini memiliki nilai yang tinggi: mencoba menyelamatkan orangtua mereka dari penyakit tua yang bisa membawa pada penderitaan. Bahkan tindakan itu adalah salah satu bentuk perwujudan penghormatan kepada orangtua. Budaya Mangayau di Kalimantan (tradisi memenggal kepala orang, dan ternyata hal ini terjadi di Nias pada zaman dahulu). Seperti kita tahu bahwa menghilangkan nyawa orang lain, bertentangan dengan hukum kodrat yang dikenal oleh orang Kristen, terutama dalam gagasan Santo Thomas Aquinas: Hukum kodrat adalah pemberian dari surga, anugrah tertinggi dari Allah yang tidak bisa diciptakan oleh manusia. Manusia lahir dan mati, itu adalah hak Allah.

Tesis ketiga, tokoh agama harus terlibat dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat Nias yang masih menerapkan böwö yang mahal. Sebagai orang Nias, saya berterima kasih (juga salut) kepada Pastor Mathias Kuppens, OSC (misionaris Ordo Sanctae Crucis, berkewarganegaraan Belanda), yang cukup antusias untuk memberikan pemahaman kepada orang Nias (terutama di Kecamatan Sirombu dan Mandrehe) bahwa böwö yang mahal tidak membangun. Beliau adalah salah satu tokoh agama Katolik yang cukup berhasil “menekan” jumlah besarnya böwö dengan cara-cara yang persuasif. Namun, perjuangan beliau bukan tanpa hambatan. Ada beberapa orang Nias yang pernah melontarkan kata-kata pedas, mencoba menentang kebijakan Pastor Mathias, sang pencinta Nias itu. Tetapi Pastor Mathias menanggapi dengan tindakan yang diwarnai kerendahan hati: ia tidak pernah berprasangka negatif (tidak su’udzon) walau ia dicerca. Ini luar biasa!

Tesis keempat, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias dan Nias Selatan, seharusnya memikirkan bagaimana jika penyuluhan tentang böwö diajarkan di sekolah sebagai pelajaran “muatan lokal” atau semacam pelajaran “ektra kurikuler”. Menurut saya, böwö dan juga adat Nias yang lain perlu dijelaskan kepada generasi muda agar mereka kelak mengerti dampak ambivelensi adat Nias itu sendiri. Dan oleh karena itu, mereka kelak bisa menegasi hal-hal yang tidak membangun dari adat Nias itu sendiri; sehingga budaya Nias tidak mandeg pada ke-statis-an melainkan berkembang (dinamis). Dan, tugas ini tentu didelegasikan kepada para guru yang mengajar: mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Semoga!

*Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Artikel ini (sebelum saya edit) terbit pertama sekali di NiasIsland.Com, 28 December 2006 dan atas izin saya sendiri artikel ini diterbitkan di situs Museum Pusaka Nias, pada tanggal 26 Januari 2007.

Leave a comment ?

79 Responses to Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?

  1. ivan says:

    pak postinus, tulisan anda sangat bagus..kok ga dibuat buku aja,kan lebih paten dan akan memberi masukan kepada masyarakat nias untuk kemajuan dimasa mendatang..saya prihatin terhadap kebudayaan nias, yang kian hari kian miskin, untuk itu kepada putra nias harus saling bahu membahu untuk kemajuan nias..saran saya pak postinus, terbitkanlah bukunya..oia satu lagi pak,say kutip tulisan bapak buat bahan makalah yang akan saya buat mengenai sistem kemasyarakatan nias..dan satu lagi saya sendiri orang sibolga, kuliah di STIA LANRI BANDUNG,saya ditugaskan belajar ke bandung..thanx..

  2. S_Harefa says:

    Bapak Gulo, saya sangat bangga dengan tulisan bapak, awalnya saya mengira bahwa semua orang Tua yang asli dari Nias masih berfikiran kolot yang menganggap bahwa anak perempuan itu adalah aset (modal) buat mereka.
    saat ini saya juga sedang menghadapi masalah ini, bulan depan saya akan melaksanakan pernikahan dengan lelaki yang bersuku Batak Simalungun, berhubung ibu saya bersuku Batak Karo, beliau mengatakan bahwa kita tidak sanggup melaksanakan adat Nias, lagipula kami di perantauan, Kab. Langkat (2 jam dari Medan ke arah Aceh). Ayah saya selalu marah2 dan tidak merestui pernikahan kami dengan tuntutan harus diberikan bowo (Mahar) sesuai dengan jumlah yang diinginkannya, padahal, biaya pesta itu sendiri sudah cukup besar, ongkos keluarga dari Nias untuk beberapa orang bersedia ditanggung oleh keluarga laki-laki… sampai saat ini, hal ini sangat merupakan beban yang begitu berat buat saya…
    mohon doa nya ya …

  3. Yth Bpk. Ivan: mohon maaf saya terlambat merespons komentar Anda. Selamat buat Anda yang mendapat kesempatan belajar di Bandung.
    Buat Saudari S_Harefa, pengalaman yang Anda alami adalah peristiwa real. Orangtua memang memiliki pemikiran yang kadang bertolakbelakang dengan anaknya. Tetapi, marilah kita berpikir asertif dan positif. Orangtua pasti menghendaki yang terbaik untuk anaknya.

    Salam dan doa
    Postinus Gulö

  4. firmanus zai says:

    Yg menarik.. ada nya filosofi Nias ‘felezara mae sisara, sara mae si felezara’ (lht resp 6) akibat nya.. ‘kemiskinan masy Nias’ menjadi salah satu penyebab dr ‘böwö yg mahal’ dlm sistem adat perkawinan Nias (lht resp 7).. Ttg böwö ini di bolak-balik pun jadi rupanya!!!

  5. warisman batee says:

    bahwa perkwinan orang nias itu tidak mahal

  6. Erika says:

    Lingkaran Setan Kemiskinan.
    “Perempuan yang baik adalah perempuan yang maharnya paling sedikit dan lelaki yang baik adalah laki-laki yang memberikan mahar yang banyak”
    Mahar atau bowo bukan bagian penting dalam pernikahan karena kehidupan yang paling penting adalah setelah pernikahan seperti rumah, asuransi kesehatan, dana pendidikan anak, kecukupan pangan dan sandang, dan lain-lain yang disiapkan dari dana mahar itu sendiri.

  7. Rio Tambunan says:

    Fakta menunjukkan bahwa biaya Mahar atau Bowo dalam adat Nias relatif mahal. Adat adalah buatan manusia, manusia sendiri yang dapat mengubahnya, sesuai dengan sifat manusia yang dinamis. Adat adalah kekayaan budaya/tradisi yang mesti kita kestarikan. Pelaksanaan ataupun tata cara adat istiadat dapat disederhanakan dalam hal materi tanpa mengurangi makna/kesakralannya. Peradaban yang maju adalah peradaban yang menjunjung adat istiadat dan dinamika yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat. Saya sendiri mempunyai istri orang Nias bermarga Gea namun perkawinan kami tetap dilakukan tanpa harus menjalankan keseluruhan adat istiadat Nias/Batak Toba.

  8. @Sdri Erika: saohagolo komentarnya. Memang perlu diteliti efek-efek penerapan bowo perkawinan Nias ini.

    @Sdra. Rio Tambunan: mauliate godang abang komentar apresiatifnya. Tidak mudah mengubah kebiasaan suatu daerah. Saya rasakan itu. Kita menghadapi resistensi yg kadang di luar akal sehat. Tetapi itu wajar saja. Sebab, kadang kesadaran itu terlambat datang hehehe….Saya setuju, bahwa budaya yang baik perlu dilesetarikan. Tetapi budaya itu juga mestinya dipahami dalam rangka memanusiawikan manusia. Budaya perlu dievaluasi dan dikritisi sesuai perkembangan zaman. Budaya perlu dikembangkan sekaligus dievaluasi. Budaya yang baik mampu membangun peradaban yang baik. Ya’ahowu….

    Postinus (www.postinus.wordpress.com)

  9. hikmat salomo says:

    Saya sangat senang artikel yg ditulis sdra. Gulo. Namun saya ingin menyampaikan bahwa adat-istiadat adlh salah satu wujud dari kebuadayaan, merupakan rangkaian dinamisasi, inovasi, emansipasi dan humanisasi, bahkan merupakan strategy kehidupan manusia. Oleh karena itu tidak semudah itu adat istiadat menjadi salah satu akar kemiskinan atau terhambatnya pembangunan. Adat istiadat Nias itu lahir berdasarkan pada suatu kepercayaan bahwa ketika nenek moyang Nias diturunkan dari langit, maka kepadanya disertakan FALI’ERA (timbangan), AFORE (ukuran babi), dan LAURU (ukuran beras/padi). Ketiga alat tersebut menjadi simbol norma, adat, alat kenadali sosial, dalam arti mencipatakan keadilan dan kebenaran, soliditas dan solidaritas demi keteraturan dan kesejahteraan bersama. Persoalan tentang adat istiadat Nias terletak pada FONDRAKO (musyawarah besar) pada zaman dulu ketika ada istiadat Nias disepakati, keadaan ekonomi masyarakat bisa dikatakan berkecukupan. Sedangkan sekarang adat-istiadat versi zaman dulu itu terus dilaksanakan, padahal zaman sudah berobah dan ekonomi masyarakat semakin sulit, sehingga dapat memiskinkan. Apakah dengan demikian adat-istiadat Nias pebyebab kemiskinsn??? TIDAK. Kalaupun disetujui praktek adat istiadat itu dapat memiskinkan, pokok persoalannya adalah MANUSIA YANG TERLAMBAT MEMBERI MAKNA KONTEMPORER, dan BUKAN ADAT ISTIADATNYA.

  10. Agust Delaw says:

    Lain dulu lain sekarang…
    Kalau dulu yailah leluhur kita senang ngumpul-2, makan-2 B2 drpd nganggur dirumah.
    Yang saya kurang setuju seringkali orang-2tua yang masih hidup dijaman sekarang memberikan kata-kata ancaman kepada generasi sekarang apabila tidak mengikuti adat terutama dalam hal utang adat yang diukur dengan besar babi uang jujuran (bowo)yang harus diberikan dan juga perak (firo). Kena kutuk (alakha), marah malaikat leluhur (mofonu malaika zatua yawa) dan sebagainya.
    Jangankan itu untuk mendamaikan saudara atau keluarga yang bertikai saja harus ada babi seolah-olah babilah yang menjadi pendamai “No Babi No Damai”.
    Bukan sedikit kasus-kasus terjadinya pertikaian bahkan saling bunuh-bunuhan antara keluarga/saudara hanya gara2 memperebutkan yang namanya BOWO. Ini dilakukan karena masing2 ingin mempertahankan yang namanya kemuliaan “LAKHOMI”.
    Biasanya pihak pengantin laki-laki (soroi tou) yang harus tunduk kepada adat untuk menghormati pihak pengantin perempuan (soroi yawa)belum lagi bagian si Paman (sinema sibaya).
    Terkadang dikatakan tentang adat ini, boleh diikuti boleh tidak tergantung keadaan tapi kenyataannya mau yang kaya mau yang kekurangan harus melalui jalur ini tanpa ada perbedaan.
    Babi terlalu mubazir digunakan setiap pesta, belum lagi ditambah minuman keras. Kerongkongan yang bisa bikin celaka(TOLO2 WAMA’ALA, TOGI GOGO FANGAETU NOSO)dan jangan sampai generasi sekarang banyak memilih jalan pintas kawin lari atau milih hamil diluar nikah biar jujurannya sedikit (AURI NITORO HORO MOROI BA NITORO DOLO-TOLO)
    Saya melihat dan berani mengatakan bahwa misi agama kristen (mayoritas)di Nias telah gagal tidak lebih dari seremonial belaka khususnya dalam hal perkawinan.
    Dampaknya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sering terjadi, kesetaraan gender sulit diterapkan karena laki-laki merasa yang lebih berkuasa atas perempuan yang dinikahinya (kan sudah bayar jujuran).

    Adat Perkawinan butuh penyesuaian sesuai zamannya. Kalau bisa disederhanakan mengapa harus dibikin susah. Memang sih kata pepatah ” bersusah-susah dahulu & bersenang-senang kemudian. Tapi hal itu lain versinya, kalau di adat perkawinan di Nias “bersusah-susah dahulu & kebanyakan sengsara seterusnya.

    Kita harus mulai perubahan dari diri sendiri dan keluarga.
    Ingat ANAKMU bukan hidup pada zamanmu.
    Jangan sampai adat perkawinan di Nias menjadi ajang balas dendam dari generasi sekarang kepada generasi berikutnya. Niscaya Nias akan masyarakat Nias akan bangkit dari keterpurukan. YA’AHOWU.

Reply to Redaksi ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>