Gubsu Yakinkan Tidak akan Ada Etnik yang “Ditinggalkan” di Sumut

Sunday, March 19, 2006
By susuwongi

Medan (SIB)
Gubsu Rudolf M Pardede mengemukakan dalam memimpin Sumut dirinya akan tetap mengakomodir aspirasi semua suku dan umat beragama yang ada, sehingga tidak ada satu etnik-pun yang merasa ditinggalkan apalagi dilupakan sebagai wujud dari harmonisasi masyarakat Sumut.

“Meskipun saya seorang gubernur yang kebetulan berasal dari etnis Batak, namun saya bukan milik komunitas etnik tertentu saja, melainkan ‘gubernur-nya semua etnik dan semua umat beragama’ di Sumut,” tegas Gubsu saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) ke-8 Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi) di Berastagi, Jumat (17/3) sore.

Gubsu juga mengatakan untuk mengisi jabatan di Pempropsu akan tetap memperhatikan potensi etnis yang ada dengan tetap mengedepankan loyalitas, profesional dan kinerja serta konfigurasi etnik di Sumut.

Oleh sebab itu, lanjut Gubsu, semua komponen masyarakat, termasuk keluarga besar Himapsi diharapkannya juga dapat terus membantu pemerintah propinsi dalam memperkokoh harmonisasi, guna membentuk masyarakat yang berbudi luhur, berbudaya, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, taat aturan dan hukum, demokratis dan religius.

Melalui musyawarah besar yang penekanannya menyatukan semangat dan tekad untuk bekerja lebih baik bagi nusa dan bangsa, Gubsu optimis niat suci ini sangat mengutamakan kekeluargaan dan persatuan. “Saya berharap niat suci ini akan terus terpancar dalam setiap gerak langkah warga Himapsi, sehingga parsadaan ini benar-benar berfungsi sebagai perekat dalam menjalin persaudaraan di antara berbagai etnis yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Gubsu berpesan, setiap pembahasan dalam musyawarah besar ini hendaklah tetap berada dalam koridor persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga tidak memunculkan hegemoni suku secara berlebihan, yang bisa menimbulkan sikap etnosentris yang sempit.

“Apabila hal ini tetap menjadi landasan berpijak parsadaan ini, masyarakat semakin yakin bahwa memang benarlah warga “himapsi” selama ini dikenal sebagai etnis yang terbuka dan memegang teguh prinsip-prinsip solidaritas dalam kebenaran, sebagaimana prinsip orang Simalungun ‘habonaran do bona’ atau kebenaran di atas segalanya,” ujar Gubsu.

Gubsu juga mengemukakan pengalaman bangsa kita mengajarkan, jika kita lepas dari konteks kebudayaan dan adat istiadat leluhur, maka di situ akan terjadi “kegamangan” yang mengarah kepada “kehilangan identitas dan jatidiri”. Lagipula, katanya, kenyataan faktual yang harus kita terima, bahwa Sumut merupakan daerah yang sangat heterogen baik dipandang dari etnis, agama, ras, dan antar golongan di mana kondisi faktual ini, di satu sisi merupakan potensi SDM yang cukup handal bagi Sumut, namun di sisi lain, situasi ini mengandung simpul-simpul kerawanan yang berpotensi konflik cukup tinggi, apabila disikapi dengan sentimen-sentimen primordial dalam arti sempit.

“Tentunya kita semua berharap, sikap kritis dan dinamis yang dimiliki oleh pemuda Sumut ini, dapat kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif, guna mempercepat kemajuan daerah kita ini. Sebab pada hakekatnya, keragaman kultural ini merupakan kekayaan yang harus didayagunakan untuk kemakmuran bersama,” ujarnya pada acara yang juga diselingi penyerahan seperangkat pakaian adat Simalungun kepada Gubsu dan Ny Vera Natarida Br Tambunan.

Sementara itu, Ketua Majelis Hapartoahon Nabolon Partuha Maujana Simalungun Drs Djabanten Damanik yang juga mantan Bupati Simalungun dan Walikota Pematangsiantar menyatakan bahwa pemberian ulos kepada Gubsu dimaksudkan agar Rudolf M Pardede sukses, tegar serta selalu senyum dan gembira menghadapi tantangan dalam memimpin Sumut.

“Hati dan otak tak perlu kemelut, melainkan tetap bekerja dan berdoa membangun Sumut, karena Tuhan yang akan turut menyelesaikan masalah yang akan dihadapi,” ujarnya seraya menyatakan Gubsu jangan ragu melihat Himapsi dan warga Simalungun karena mereka akan tetap mendukung.

Ketua Umum Himapsi Darman Saragih SH menyatakan bahwa Himapsi dilahirkan untuk menyatukan para pemuda Simalungun yang ada di desa dan kota untuk bergandengan tangan dalam ‘ahap’ Simalungun, sekaligus untuk meningkatkan budaya lestari lingkungan demi kemajuan masyarakat Simalungun. “Semangat untuk selalu maju tanah Simalungun menjadi tekad bagi pemuda Simalungun dengan bekerja keras dan jujur,” ujarnya pada acara yang juga dihadiri Bupati Simalungun Drs H T Zulkarnain Damanik MM, anggota DPD RI Parlindungan Purba SH, Bupati Nisel Edi Aman Saragih SE MBA.(A12/c)

8 Maret 2006

2 Responses to “Gubsu Yakinkan Tidak akan Ada Etnik yang “Ditinggalkan” di Sumut”

  1. 1
    andar abdi Says:

    tolong kirimkan berita terakhir mengenai status pemekaran kabupaten di simalungun

  2. 2
    andar abdi Says:

    Pa gubsu terhormat, mengapa sistem pembagian bantuan sekarang harus melalui proposal, dan bagaimana bila di suatu desa itu tidak ada yang sanggup memberikan dan menyuarakan suaranya berupa proposal. Horas pa Rudolf, semoga Sukses menjalankan Tugas, Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2006
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031