67.500 Jiwa Tinggal di Tenda

Friday, December 16, 2005
By susuwongi

Banda Aceh (Kompas)

Satu tahun pascabencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, hingga kini masih menyisakan persoalan mendasar yang mencolok mata. Tak kurang 67.500 pengungsi hingga kini masih tinggal di tenda-tenda. Menyedihkan lagi, kondisi tenda-tenda tersebut kebanyakan tak layak lagi untuk dihuni. Musim hujan membuat nasib pengungsi di tenda makin menderita.

Demikian terungkap dalam laporan kemajuan satu tahun pascatsunami yang digelar Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, Kamis (15/12). Hadir Deputi Direktur BRR Said Faisal; Victor Bottini, John Clark, dan T Safriza Sofyan dari Bank Dunia; Peter Cameron dari International Federation of The Red Cross (IFRC); dan Simon Field dari Badan Dunia untuk Program Pembangunan (UNDP).

Dalam laporan berjudul “Aceh dan Nias Setelah Setahun Tsunami” disebutkan hingga kini lebih dari 16.200 unit rumah telah dibangun dan 16.000 unit lainnya sedang dibangun. Kapasitas pembangunan 5.000 rumah per bulan belum mampu menyelesaikan seluruh kebutuhan pengungsi.

Sementara itu, kebutuhan rumah di Nias dan Aceh diperkirakan 120.000 unit dan sebanyak 75.000 rumah perlu direhabilitasi. Lembaga-lembaga donor hingga kini memberikan komitmen untuk membangun 103.000 unit rumah.

Dari pantauan Kompas, masih banyak warga yang tinggal di tenda-tenda darurat yang sudah compang-camping. Waktu hujan, tenda mereka kebanjiran dan bocor di sana-sini.

Sebenarnya tidak ada masalah dalam hal pendanaan. John Clark dari Bank Dunia mengatakan setelah setahun tsunami 4,4 miliar dollar AS dialokasikan membiayai lebih dari seribu proyek.

Total bantuan yang dijanjikan dari berbagai sumber 7,5 miliar dollar AS terdiri 2 miliar dollar AS dari donor multilateral, 1,6 miliar dollar AS dari donor bilateral, 1,8 miliar dollar AS dari NGO, dan 2,1 miliar dollar AS dari Pemerintah Indonesia (tidak termasuk kontribusi pemerintah daerah).

Di Pulau Nias, sedikitnya 1.500 keluarga tinggal di tenda pengungsian. BRR NAD-Nias hingga akhir tahun ini baru membangun 94 unit rumah pre-fabrikasi.

Bantah terlambat
Dalam kesempatan lain, Direktur BRR Kuntoro Mangkusubroto membantah pembangunan perumahan dinilai lambat. Jangan ngomong lambat, kemampuan kita membangun rumah ini melebihi kemampuan Perumnas yang hanya 16.500 unit per tahun, katanya.

Diakui Kuntoro, masih banyak pengungsi yang tinggal di tenda-tenda karena sedang menunggu rumah yang belum jadi. Hal itu terjadi karena ada lembaga yang menjanjikan pembangunan rumah namun tidak ditepati.

Kuntoro menjelaskan faktor utama kelambatan pembangunan rumah adalah kapasitas institusi yang terbatas karena ketersediaan sumber daya manusia. Faktor lain, bahan baku misalnya kayu kini susah dicari. Belum lagi transportasi yang masih putus.

Faktor keamanan juga menjadi salah satu penghambat, kata Kuntoro. Banyak pihak-pihak berseragam yang justru menghambat. Terhadap kondisi demikian, kami hanya bisa melaporkan kepada pihak terkait, katanya.

Kuntoro menambahkan, di saat ribuan pengungsi masih tinggal di barak, ratusan barak dan rumah sementara untuk pengungsi di Aceh Besar hingga kini telantar karena tak ditempati.

Sementara itu, tiga anggota DPRD Sumut asal Nias dalam pertemuan dengan Konsul Jenderal AS di Medan Paul S Berg, Kamis (15/12), mengatakan proses rekonstruksi dan rehabilitasi Kepulauan Nias pascagempa butuh bantuan dan dukungan dunia internasional. Pemerintah dikatakan tidak memiliki dana cukup untuk pembangunan pascagempa sekaligus mengejar ketertinggalan di Nias. (amr/aik/bil/ham)

Sumber: KOmpas Online, Jum’at, 16 Desember 2005

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2005
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031