Tödö Hia Walangi Adu

Thursday, May 8, 2008
By nias

Victor Zebua

Hia adalah penghuni pertama pulau Nias yang diturunkan Lowalangi dari Surga. Sebelum meninggal, dia berpesan agar setelah meninggal hatinya disimpan dalam satu botol, lalu digantung di langit-langit rumah di bawah atap. Konon hati itu dapat berbicara. Hati Hia dapat meramal suatu kejadian dan menasehati anak-anaknya. Dia memberitahu bila tamu datang, bila hujan tiba, bila ada bahaya, bila ada rezeki, dan bila anaknya berbuat salah. Di pagi hari dia meraung-raung memberitahu matahari telah terbit, tanda agar para anaknya bergegas melakukan pekerjaan masing-masing.

Itulah kurang-lebih inti cerita Tödö Hia (Hati Hia) di sebuah catatan kaki buku “Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia” karya Bambowo Laiya (1979: 54). Cerita tersebut diperoleh Laiya tahun 1971 dari Ina Dalimböwö Hia yang berdomisili di Sifalagö Gomo. Laiya memasukkan cerita itu dalam katagori legenda.

Menurut Danandjaja (1984: 66-67), legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadi pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Mengacu penggolongan legenda versi Jan Harold Brunvand, legenda Tödö Hia ini termasuk personal legends (legenda perseorangan).

Cerita yang sama diperoleh Thomsen dari dua informan, yaitu Tambalina Tuha Ana’a tahun 1935 dan dari Rasoli Hia tahun 1973. Rasoli Hia adalah cucu Tuha Ana’a. Sebagaimana Ina Dalimböwö Hia, keduanya juga berdomisili di Sifalagö Gomo. Selanjutnya diceritakan, Tödö Hia bertengkar dengan menantunya sehingga dia meninggalkan rumah. Dia dibawa banjir besar ke laut, kemudian menyeberang laut menemui putrinya. Thomsen (1976: 15) menyajikan cerita ini dalam bahasa Nias.

“Aefa wa’amate namara Hia, ba labe’e dödönia ba zi sambua guri, ena’ö toröi ia nasa ba nomo ba wame’e menemene chö ndraononia. Ba börö me fa’udu ira dödö Hia ndronga owöliŵa Rairai Huna, andrö ilau mofanö tödö Hia: fao ba molö sebua itörö Gomo, Susua, itörö nasi irugi sijefo chö nononia alawe.”

Rairai Huna adalah nama salah seorang menantu Hia. Beberapa versi cerita menyebutkan nama yang berbeda. Menantu Hia versi Ina Dalimböwö Hia bernama Sonowoli (Laiya, 1979: 54). Menurut versi A.F. Hondrö (Ama Waigi) dari Onohondrö Telukdalam, menantu Hia bernama Rai Salösö (Hämmerle, 1986: 110). Sedang dalam cerita versi Faustinus Fatihuku Giawa (Ama Rafisa) dari Balöhili Gomo, sang menantu bernama Siwori (Hämmerle, 1995: 171).

Meskipun nama menantu Hia berbeda-beda di pelbagai versi, namun alur cerita relatif sama. Sang menantu berselisih atau bertengkar dengan Tödö Hia. Kejadian ini mengakibatkan Tödö Hia pergi. Dia hanyut dibawa banjir besar sampai ke laut, kemudian menyeberang menemui seseorang. Orang yang ditemuinya di seberang adalah putrinya, namun ada versi lain yang menyebutkan Tödö Hia menemui saudarinya.

Empat Generasi
Agaknya Tödö Hia hanyut dibawa ‘angin musim timur laut’ menuju Madagaskar. Setelah melewati Tanjung Pengharapan dan menyusuri perairan di lepas pantai barat Afrika, dia akhirnya tiba di benua Eropa. Laiya (1979:54) menulis lanjutan legenda Tödö Hia versi Ina Dalimböwö Hia sebagai berikut.

“Salah satu menantunya perempuan (istri anak laki-lakinya) bernama Sonowoli merasa bosan mendengar semua nasehat dan perintah si HATI itu. Maka pada suatu hari, ketika hujan lebat tiba dan banjir datang, karena bosan, Sonowöli mengambil botol hati itu lalu mencampakkan ke bandar cucuran atas, sehingga botol hati itu dibawa oleh banjir ke samudera raya. Untunglah, botol hati itu terdampar ke daratan Eropah. Itulah sebabnya, demikian orang Nias, mengapa orang Eropah lebih pandai dan lebih pintar dari orang Nias sendiri karena semua hikmat Hati Nenek Moyang mereka telah berpindah kepada orang Eropah.”

Cerita versi Ina Dalimböwö Hia secara eksplisit menyebutkan Tödö Hia tiba di Eropa. Versi lain juga berindikasi elemen Eropa. Osalinidada Giaŵa (Ama Lö’ahatö) dari Hilimbaruzö Amandraya misalnya, mendendangkan syair “Isaŵa yöu nasi si sagörö, isaŵa yöu nasi sebolo, isaŵa danö hagöri, isaŵa sefo danö hulandro…” (Hämmerle, 1998: 115). Syair hoho ini melukiskan Tödö Hia mendarat di Inggris dan Belanda.

Syair hoho Ama Lö’ahatö tentu diciptakan setelah Inggris dan Belanda dikenal masyarakat Nias, sehingga elemen ‘Inggris dan Belanda’ dapat diakomodasi dalam folklor Nias. Belanda muncul tahun 1639 ketika Gomböni (Kompeni) mulai menjajagi perniagaan di Tanö Niha (Fries, 1919: 126; Harefa, 1939: 121; Zebua, 1996: 73). Inggris hadir tahun 1821 ketika John Prince dan William Jack, atas perintah Stamford Raffles, bertugas di Nias (Zebua, 1996: 92). Sampai di paragraf ini diperoleh sebuah ‘patok duga’ (indikator untuk menduga), legenda Tödö Hia diciptakan ‘setelah tahun 1821’.

Selanjutnya Ama Lö’ahatö menceritakan bahwa Tödö Hia menemui saudarinya yang bernama Silaihörö Ndrawa. Menurut versi Ama Rafisa, nama lain Silaihörö Ndrawa adalah Helemina, yaitu Ratu Wilhelmina dari Belanda (Hämmerle 1995: 172). Mengacu versi Ama Rafisa, hampir dapat dipastikan legenda Tödö Hia muncul pada masa Wilhelmina bertahta. Wilhelmina menjadi Ratu Belanda tahun 1890-1948 (Ricklefs, 2007: 228). Patok duga bergeser dari angka 1821 ke 1890. Artinya, legenda Tödö Hia diciptakan ‘setelah tahun 1890’.

Di pihak lain diketahui pula bahwa tahun 1935 Tuha Ana’a menceritakan legenda Tödö Hia pada Thomsen (1976: 12). Informasi ini menjadi patok duga bahwa ‘legenda Tödö Hia diciptakan sebelum tahun 1935’. Dengan demikian dapat diperkirakan, legenda Tödö Hia yang ‘berisi cerita yang seperti dikenal sekarang’ diciptakan pada kurun waktu 1890-1935 atau sekitar seratus tahun yang lalu.

Tidak mudah memang menentukan satu angka tahun yang pasti bagi penciptaan sebuah folklor. Namun upaya pelacakan tahun yang dikaitkan dengan ‘analisis isi’ legenda Tödö Hia sebagaimana terurai di atas memberi sebuah keterangan penting bahwa legenda Tödö Hia diciptakan empat generasi yang lalu. Usia legenda ini relatif muda dibanding masa hidup Hia Walangi Adu yang mencapai lebih dari 40 generasi yang silam.

Saksi Sejarah
Hia Walangi Adu dikenal sebagai pelopor adu (patung) dalam kebudayaan Nias. Eksistensi adu mencapai momentum puncaknya ketika orang memuja (menyembah) patung, khususnya adu zatua (patung orang tua), sebagai ekspresi kepercayaan tradisional yang disebut molohé adu. Penganut molohé adu percaya bahwa lakhömi (roh) dan mökömökö (jelmaan tubuh) orang tua yang telah meninggal bersemayam dalam adu zatua (Harefa, 1939: 94, 100; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 50).

Karena Hia Walangi Adu adalah tokoh sentral dalam legenda Tödö Hia, boleh jadi ada yang berasumsi bahwa kolektif (masyarakat) pendukung atau pemilik legenda ini tentu para penganut molohé adu. Seyogianya memang elemen yang diwariskan Hia kepada para anaknya adalah lakhömi dan mökömökö. Namun dalam legenda Tödö Hia dia mewariskan hatinya. Dia memilih bersemayam dalam botol ketimbang adu zatua. Isi legenda ternyata melukiskan Hia Walangi Adu mengingkari eksistensi adu zatua.

Tentu mudah dipahami, bila isi legenda mengingkari eksistensi adu zatua, legenda tersebut bukan berasal dari kolektif penganut molohé adu. Pastilah penciptanya kolektif lain. Siapa mereka? Logisnya mereka adalah kolektif yang telah berpaling dari tradisi pemujaan adu. Mereka meninggalkan kepercayaan tradisional ketika agama modern datang dan kemudian terjadi iconoclasm (pemusnahan patung berhala) di seantero Nias.

Kehadiran agama modern, dalam hal ini Kristen, ditandai dengan kedatangan Ernst Ludwig Denninger tahun 1865 di Gunungsitoli (Fries, 1919: 171; Harefa, 1939: 124; Zebua, 1996: 101). Setelah adanya agama Kristen, orang Nias tidak lagi membuat patung (Yamamoto, 1986: 69). Dihubungkan dengan legenda Tödö Hia yang diciptakan 1-2 generasi (tahun 1890-1935) setelah kedatangan Denninger, dapat dipastikan bahwa kolektif pendukung legenda ini adalah pemeluk agama modern.

Legenda Tödö Hia yang ‘berisi cerita yang seperti dikenal sekarang’ dan diciptakan empat generasi yang lalu adalah salah satu folklor Nias yang telah tercatat dalam beberapa karya tulis. Boleh dikata, legenda ini merupakan saksi sejarah ‘perubahan sosial dan keagamaan’ di Tanö Niha pada akhir abad 19 hingga awal abad 20.

Sebuah Varian
Dalam ingatan beberapa orang Nias masih ada cerita tentang Tödö Hia yang isinya berbeda jauh dibanding legenda Tödö Hia yang telah diuraikan di atas. Cerita ini tergolong varian dari legenda Tödö Hia. Varian adalah suatu versi yang mempunyai perbedaan pokok dengan versi-versi folkor lainnya (Danandjaja 1984: 51).

Marinus Baté’é (Ama Tohuzaro)* tidak mengenal legenda Tödö Hia yang ‘berisi cerita yang seperti dikenal sekarang’. Menurutnya, cerita Tödö Hia adalah cerita tentang seorang orang Nias yang memiliki kemampuan lebih. Orang itu mampu menceritakan hal jelek yang akan terjadi. Hal yang diceritakan orang itu selalu terbukti terjadi. Kemampuan ‘meramal dengan jitu’ yang dimiliki orang itu karena Tödö Hia bersemayam dalam dirinya.

Ama Tohuzaro lahir di Padang tahun 1934, sampai sekarang belum pernah menginjak Tanö Niha. Dia memperoleh cerita Tödö Hia dari paman ayahnya (kakek) di Padang. Menurut Ama Tohuzaro, sang kakek mula-mula penganut molohé adu, kemudian ikut dibaptis oleh pendeta Jerman di Padang.

Cerita Tödö Hia secara turun-temurun diceritakan beberapa generasi sebelum sang kakek, sampai kepada sang kakek, kemudian diteruskan kepada anak-cucunya. Artinya, cerita ini hidup ketika masyarakat masih menganut kepercayaan tradisional. Dengan demikian, usia cerita Tödö Hia dari Ama Tohuzaro lebih tua ketimbang legenda Tödö Hia.

Cerita Tödö Hia masih ada dalam ingatan Ama Tohuzaro karena dia dan kakeknya tidak terpapar legenda Tödö Hia. Secara agak spekulatif dapat dianggap bahwa kolektif pendukung atau pemilik cerita ini adalah penganut molohé adu. Tentu diperlukan data dukung yang cukup akurat untuk memperkuat anggapan ini. Sebuah celah terkuak bagi para peneliti yang berminat pada kebudayaan Nias.

Bacaan:

  1. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  2. Danandjaja, J. dan Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  3. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  4. Hämmerle, Johannes M., Famatö Harimao, Yayasan Pusaka Nias, 1986
  5. Hämmerle, Johannes M., Hikaya Nadu, Yayasan Pusaka Nias, Gunungsitoli, 1995
  6. Hämmerle, Johannes M., He’iwisa ba Danö Neho?, Yayasan Pusaka Nias, 1998
  7. Harefa, Faogöli, Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  8. Laiya, Bambowo, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1979
  9. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  10. Thomsen, M.G.Th., Famareso Ngawalö Huku Föna awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) ba Danö Nias, BNKP, 1976
  11. Yamamoto, Yoshiko, A Sense of Tradition An Ethnographic Approach to Nias Material Culture, Thesis, Cornell University, 1986
  12. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996

* Informasi diperoleh penulis dari Ama Tohuzaro tahun 2006 dan 2008.

7 Responses to “Tödö Hia Walangi Adu”

  1. 1
    Uchi Bate'e Says:

    Prinsip riset folklore : transkripsi dr lore (bahan tradisi lisan), penjelasan ttg folk (masyarakat dimana lore itu hidup) dan informannya. Selama ini periset baru bisa mentranskrip lore Nias saja. Folk-nya yg mana tak dijelaskan, padahal orang Nias zaman-ke-zaman atau lokasi-per-lokasi tak mesti homogin. Yg sering lore Nias ditafsir sesuai folk perisetnya. Tp artikel ini melihat lore Nias sesuai folk-nya, suatu langkah maju.

  2. 2
    otomend Says:

    Tadinya saya berpikir legenda Tödö Hia dibuat para misionaris atau pihak kolonial sebagai bagian dari propaganda misi mereka. Tapi terkesan koq tidak tersebar di seluruh Nias hanya di seputaran Gomo saja. Berarti masyarakat Gomo yg membuatnya, mereka kreatif & lentur merespon budaya baru [yg dibawa misionaris dan kolonialis] lewat inkulturasi atau difusi kebudayaan.

  3. 3
    Suri Zen Says:

    Kisah Awuwukha & legenda Todo Hia sama-sama ceritra van Gomo. Sebelum wafat Awuwukha minta teman 5 binu… lantas arkeolog Jajang Sonjaya nulis judul ‘Orang Nias: Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur’… Lain dgn Hia berpesan jika meninggal hatinya disimpan dirumah… nhaah jangan-jangan ada peneliti lain nulis ‘Orang Nias: Mereka Menyimpan Hati Setelah Masuk Kubur’… heheee… bisa runyam neeh… 🙂 Model judul spt itu cerminan generalisasi yg mengabaikan perubahan dinamis dlm masyarakat Nias.

  4. 4
    Santo Zai Says:

    P. Johanes Hammerle seturut pendpatnya legenda Tödö Hia berupa mite. Hubungan dgn asal orang Nias dr orang Cina dibukunya ‘Asal Usul Masyarakat Nias’ hlm 203: …Yang menarik dalam mite ini, ialah hubungan erat dengan seberang. Rupanya tödö Hia merasa nyaman di seberang. Dan hal ini lebih jelas lagi, karena putrinya (saudarinya) ada di seberang, artinya ada hubungan famili. [Bab VI Keturunan Tionghoa, – mengapa tidak?]

    Di artikel ini ngebahas masyarkat pendukung legenda & orang seberangnya Belanda n Inggris. P. Johanes melihat “hubungan famili” dgn seberang guna argumen bagi famili yg diseberang itu orang Cina. Padahal legenda ini blm lama dicipta… Klo gitu famili kita yg org Cina itu belum lama juga donk… Kamsia n Yaahowu!

  5. 5
    saro Says:

    Cerita mirip jg ada, ‘Legend about Batu island’. Namanya bukan Hia, tp Tuwada Loya yg asal Nisel. Hati Tuwada Loya hanyut bersama anak bungsunya sampai ke Batu.

    Setelah keduanya tiba di Batu, “… the heart commanded the young man to put it into a pot and place it over the fire. The boy obeyed and saw how the heart warped immediately. After that Lowalangi sent to him from heaven a woman and together they populated the Batu islands. Even at present from time to time the Niasans still go to settle down on Batu islands. They used to tattoo themselves there, saying that theywere doing it in memory of the warping of Tuwada Loja’s Heart.”

    Sumber: Ubald Marinus Telaumbanua, ‘Evangelization and Niasan Culture’ (1993) p.54-55

  6. 6
    Victor Zebua Says:

    Saohagölö Pak Saro informasinya. Dalam menulis “Legend about Batu island” pastor Marinus merujuk “Die Insel Nias bei Sumatra” (1911: 3-4) karya J.P. Kleiweg de Zwaan [lih. foot-note pastor Marinus]. De Zwaan, sang antropolog Belanda ini, datang ke Nias tahun 1910. Tentu legenda tersebut telah ada di kawasan Batu sebelum tahun 1910.

    Angka tahun itu bisa dihubungkan dengan estimasi saya… “legenda Tödö Hia yang ‘berisi cerita yang seperti dikenal sekarang’ diciptakan pada kurun waktu 1890-1935 atau sekitar seratus tahun yang lalu.” Menilik isinya, legenda ‘Tuwada Loya’ tergolong versi dari legenda Tödö Hia.

    Lebih jauh, informasi perihal Tuwada Loja (Loya) memperkaya pengetahuan kita tentang folklor di Batu. Kita mengenal “Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu” [lih. artikel “Leluhur Bugis Orang Nias”] yang pendukungnya keturunan raja Buluaro dari Bugis. Sementara ‘masyarakat Batu’ yang berasal dari Nias punya legenda sendiri, tokohnya Tuwada Loya tersebut.

    Ya’ahowu!

  7. 7
    ester Says:

    bener kata kak Uchi Bate’e yahh, cerita rakyat kembali ke rakyat siempunya cerita. gak bisa hanya nurutin tafsiran sipeneliti ajah. ntar bs runyam neeh.. kt-kt generasi muda hrs kritis donk..!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031