CHICAGO (AFP) – Para peneliti Amerika berhasil mengembangkan sebuah metode untuk memproduksi gas hidrogen dari bahan organik biodegradable yang berpotensi menyediakan bahan bakar yang melimpah dari sumber energi bersih ini. Demikian menurut sebuah hasil penelitian yang dikeluarkan hari Senin, 12 Novermber 2007.

Teknologi baru itu memberikan harapan untuk memproduksi gas hidrogen secara murah dan efisien dari biomassa terbarukan seperti selulosa atau glukosa dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan, bahan untuk pembuatan pupuk dan memproduksi air minum yang bersih.

Sejumlah sistem transportasi sedang beralih ke mesin-mesin berbahan bakar hidrogen sebagai alternatif bahan bakar gas, tetapi hingga kini gas hidrogen masih diproduksi dari bahan bakar fosil seperti gas alam.

Metode yang digunakan oleh para insinyur dari Pennsylvania State University mengkombinasikan bakteri penghasil elektorn dengan pengisian listrik kecil dalam sel bahan bakar mikrobial untuk menghasilkan gas hidrogen.

Sel bahan bakar mikrobial bekerja melalui aksi bakteri yang bisa mengantarkan elektron-elektron ke suatu anoda. Elektron mengalir dari anoda melalui sebuah kawat ke katoda yang menghasilkan arus listrik. Dalam proses itu, bakteri-bakteri mengkonsumsi bahan-bahan organik dalam bahan biomassa.

Getaran eksternal listrik membantu menghasilkan gas hidrogen pada katoda.

Di masa lalu, proses yang dikenal dengan elektrohidrogenesis memiliki efisiensi produksi hidrogen yang sangat rendah. Para peneliti dari Pennsylvania State University berhasil mengatasi persoalan ini dengan memodifikasi unsur-unsur reaktor secara kimiawi.

Dalam sejumlah percobaan di laboratorium, reaktor mereka menghasilkan hidrogen mencapai hampir 99% dari produksi maksimum teroritis dengan menggunakan asam aetik (aetic acid), produk tak berguna dari suatu fermentasi glukosa.

“Proses ini menghasilkan 288% lebih energi dalam hidrogen dari pada energi listrik yang ditambahkan ke proses,” kata Bruce Logan, gurubesar teknik lingkungan Pennsylvania State University.

Teknologi tersebut kini sudah layak secara ekonomi yang memberikan hidrogen nilai tambah dibandingkan dengan biofuel alternatif, kata Logan.

“Fokus energi saat ini adalah pada etanol, tetapi etanol yang ekonomis dari selulosa masih berkisar 10 tahun lagi,” kata Logan.

“Pertama, anda harus menguraikan selulosa menjadi gula lalu bakteri akan mengkonversikannya ke etanol.”

Salah satu terapan langsung dari teknologi ini adalah memasok hidrogen yang digunakan dalam sel bahan bakar mobil untuk menghasilkan listrik yang memutar motor. Ia juga bisa digunakan untuk mengubah potongan-potongan kayu untuk digunakan sebagai pupuk. (AFP/brk)

Facebook Comments