*Sebuah wawancara dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht*

Catatan Redaksi: Pada tanggal 10 Agustus 2007 Situs Yaahowu mengirim 9 pertanyaan kepada Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Institut Ilmu Genetika Universitas Munster, Jerman, berkaitan dengan penelitiannya tentang asal usul orang-orang Nias (lihat artikel: Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen). Bahan wawancara disusun oleh E. Halawa dari Situs Yaahowu dan M.J. Daeli, seorang sesepuh Nias dan kontributor lepas artikel di Situs Yaahowu. Kedua pewawancara menghargai berbagai sumbangan dari para pengunjung Yaahowu dalam bentuk berbagai komentar terhadap beberapa artikel yang berhubungan dengan topik ini.

Prof. Ingo Kennerknecht, sudah 5 tahun sejak P. Raymond Laia, webmaster Situs Nias Portal mewawancarai Anda. Sudah 4 tahun sejak Anda mengunjungi Nias untuk tujuan penelitian asal-usul orang Nias berdasarkan teknologi DNA dan ilmu genetika manusia. Bisakah Anda menceritakan kemajuan dari riset yang sangat menarik ini ?

Sudah banyak riset tentang genetika manusia yang dilakukan di Asia yang memberikan ide kasar tentang penelusuran asal-usul manusia di benua ini dan benua Australia secara umum. Namun, kajian-kajian terhadap populasi tunggal masih tetap merupakan tantangan besar. Contoh-contoh kajian yang seksama adalah kelompok-kelompok yang mendiami pulau-pulau Andaman dan bagian-bagian dari Papua New Guinea. Hasil-hasil ini masih menjadi bahan diskusi. Sekarang, kami ingin mengkaji apakah jumlah data yang semakin bertambah ini memungkinkan kami melacak asal-usul masyarakat Nias. Ini merupakan penelitian sangat awal dan masih berlangsung.

Dalam wawancara dengan Nias Portal, Anda mengungkapkan kelegaan karena orang-orang Nias yang pada mulanya enggan berpartisipasi dalam penelitian akhirnya mendukung Anda dengan memberikan darah mereka untuk penelitian ini. Apa yang Anda bisa beritahukan pada masyarakat Nias dan apa manfaat penelitian ini bagi mereka ?

Seperti dilukiskan oleh Sykes buku terlarisnya: “The seven daughters of eve”, yang menjadi tunas ibu-ibu Eropa juga Asia tenggara – dan barangkali orang-orang Nias suatu waktu kelak akan mengetahui dari mana mereka berasal. (Catatan: Kalimat asli – lihat versi Inggris – kurang jelas, penerjemah mengalami kesulitan menerjemahkannya secara baik). Pertanyaan dari mana kita dan akhirnya dari mana saya berasal adalah pertanyaan setua bangsa manusia. Pada titik inilah ilmu genetika dan warisan budaya bertemu. Kajian ini didasarkan atas populasi, bukan pada individu. Karenanya, dengan bantuan para pendonor darah, masyarakat Nias akan mendapat manfaat secara keseluruhan.

Dalam wawancara dengan Nias Portal Anda mengatakan: “Tujuan utama penelitian sampel DNA orang Nias adalah untuk menyelidiki asal-asal usul masyarakat Nias dan sejarah penyebaran mereka ke seluruh Pulau Nias.” Adakah tujuan-tujuan lain dari riset ini selain dari itu ?

Apakah kami mampu menelusuri sejarah penyebaran orang-orang Nias ke seluruh pulau masih merupakan sebuah pertanyaan terbuka. Saat ini seseorang hanya bisa membedakan antara penduduk India, Cina Tengah dan Asia Tenggara, misalnya, dengan metode-metode genetika molekuler – dan ini hanya mungkin secara statistik dan secara praktis tidak untuk seorang individu. Kelompok-kelompok tunggal dianggap sebagai khusus atau terpisah (distinct) jika mereka datang dari daerah-daerah yang sangat terpencil tanpa pertukaran dengan kelompok-kelompok etnik di sekitarnya. Tujuan lain adalah menjelaskan secara detil inborn errors (kelompok-kelompok penyakit genetik yang melibatkan kekacauan metabolisme) dan diseksi genetiknya. Laju penyakit-penyakit konjenital (penyakit yang ada sejak lahir) sama di seluruh dunia tetapi etiologi (kajian tentang penyebab) dan manifestasi klinis dari penyakit-penyakit ini berbeda di antara suku-suku.

Bagaimana Anda menjelaskan kepada kaum awam hubungan antara genetika penduduk dan tradisi lisan ? Salah satu dari tradisi lisan menyebutkan bahwa masyarakat Nias diturunkan dari langit. Bagaimana Anda mengaitkan ini dengan ilmu genetika populasi ?

Karena kini tiada lagi keraguan bahwa manusia modern berasal dari Afrika, maka jelas bahwa pengertian dari “langit” dalam konteks ini adalah dari dunia luar (Pulau Nias).

Anda sangat terkesan dengan Desa Sifalagö Gomo sebagai calon terkuat “kampung nenek moyang” orang Nias yang mendarat di Nias dari daratan Asia. Bisakah Anda menjelaskan logika hipotesis ini ? Akan lebih masuk akal untuk membayangkan nenek moyang orang Nias menemukan sebuah lokasi dekat pantai di mana mereka mendarat lalu membangun permukiman di sana. Mengapa menurut Anda mereka memutuskan pergi ke Sifalagö Gomo dan bermukim di sana ?

Pertama-tama, ini sesuai dengan tradisi lisan dan mite yang secara berulang-ulang merujuk desa Sifalagö Gomo. Ketika saya berada di daerah ini, saya sangat terkesan dengan daerah terpencil yang indah dan subur, dilintasi oleh Sungai Gomo, dan dilindungi oleh gunung-gunung. Di zaman dulu ketika hutan-hutan masih lebat sungai-sungai memberikan akses leluasa ke desa terpencil ini. Dalam suatu foto satelit kualitas tinggi saya secara kebetulan menemukan bahwa Sifalgö Gomo memenuhi seluruh kriteria sebagai permukiman yang baik: tidak terlalu jauh dari laut, berada di lembah besar, terlindung secara aman di balik sebuah pegunungan dan memiliki akses yang baik ke Sungai Gomo yang menembus secara dalam rintangan pegunungan. Dalam masa Hia, saya akan memilih lokasi ini sebagai pilihan pertama pada saat-saat yang berbahaya.

Walau tidak sederas proses asimilasi yang terjadi di kota-kota besar, masyarakat Nias sedikit banyaknya telah mengalami asimilasi dengan kelompok-kelompok etnis lain. Fakta ini menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan 620 (atau 785?) sampel darah orang-orang Nias yang dikoleksi. Apakah sampel darah ini sungguh-sungguh mewakili distribusi populasi masyarakat Nias ? Bagaimana Anda bisa memastikan bahwa sampel-sampel itu berasal dari orang Nias “asli” ? Bagaimana Anda mendefinisikan Ono Niha “asli” dan bagaimana Anda membedakannya dari yang telah berasimilasi ?

Pertanyaan ini mengarahkan kita pada kesulitan penelitian ini. Berbeda dengan populasi
neolitik terpencil penduduk Andaman, banyak etnisitas sudah seharusnya bermukim di Nias selama ribuan tahun. Jadi selain identitas budaya mereka, sangat sulit memastikan apakah seseorang disebut Ono Niha atau bukan ditinjau dari sisi genetika. Karena percampuran ini, warisan genetis dari zaman sangat purba “larut” tetapi tidak mesti hilang. Karena itu tujuan penelitian ini adalah mencari penanda kuno putatif dalam pool genetik modern. Dengan bertambahnya penanda dari seluruh Asia, pada suatu waktu nanti kami seharusnya bisa menelusuri rumpun-rumpun yang berbeda dalam suatu populasi.

Sudahkah Anda mempublikasikan hasil-hasil penelitian sejauh ini, walau hanya dalam bentuk temuan-temuan awal ?

Pada tahun 2006 sekelompok orang dari kalangan dunia internasional dengan minat yang sama di bidang warisan budaya dan kesejahteraan penduduk Pulau Nias berkumpul di Wina, Austria. Hasil dari pertemuan tersebut adalah terbentuknya sebuah jaringan dengan nama: “Nias island research network”, yang dapat diakses melalui: http://www.nirn.org/. Di sana bisa ditemukan data ilmiah pendahuluan dari penelitian ini.

Penelitian sering diasosiasikan dengan penemuan. Ini berkaitan dengan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) para penemu. Apakah Anda berniat mengurus hak paten dari apa yang Anda telah temukan sejauh ini ? Sejauh mana HAKI dibagi bersama di antara pihak-pihak yang terlibat: Anda, P. Johannes Hammerle (Museum Pusaka Nias), Dr. Idaman Zega (Dinas Kesehatan Kabupaten Nias), orang-oran Nias yang menyumbangkan darahnya dan bahkan Pemerintah Indonesia ?

Penelitian ini dilakukan dengan subjek-subjek sukarela yang mendapat penjelasan penuh dan memberikan persetujuan tertulisnya. Kami juga telah mendapat persetujuan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias melalui Dr. Idaman Zega, dari Bupati Nias Binahati Baeha, SH, dan dari Komite Etika lokal Universitas Munster, Jerman. Kami telah menyatakan bahwa tidak ada kepentingan komersial dan tidak ada hak paten yang akan diajukan. Segera setelah kami telah memiliki data sahih, kami akan mempublikasikannya dalam bentuk tulisan-tulisan ilmiah sesuai dengan standar-standar internasional dan akan bisa diakses oleh setiap orang yang berminat.

Selain dari dukungan Museum Pusaka Nias dan Dinas Kesehatan Nias, apakah Anda mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kementrian Riset dan Teknologi) untuk penelitian yang menarik ini ?

Sampai sekarang biaya-biaya penelitian yang sedang berlangsung hampir semua berasal dari uang penelitian dasar yang diberikan Universitas kepada saya. (brk)

*Terjemahan bebas ini diusahakan oleh E. Halawa. Koreksi atas terjemahan ini dapat disampaikan kepada Redaksi melalui: nias.online@gmail.com.

Facebook Comments