Tanggapan Bapak/Ibu Saro Z terhadap artikel: Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias mengingatkan penulis akan berbagai pengertian “yöu” dan “raya” dalam Bahasa Nias.

“…emang tumbangnya ke utara, bukan ke barat ya Pak Halawa…?”, Saro Z mempertanyakan.

Ketika menulis artikel itu saya sedang teringat akan masa kecil ketika masih tinggal di desa saya. Di sana, saya melihat, sesudah jam 12 matahari “ahole yöu” dan pada sekitar jam 3.00 matahari “aso’a yöu”, tumbang ke “utara”, kelihatannya sang surya seperti berada di atas daerah atau desa lain yang jika dilihat dari desa saya berada pada posisi: “yöu”. Di daerah katulistiwa, posisi matahari jam 15.00 masih cukup tinggi. Nanti, ketika matahari terbenam, posisinya tidak lagi kelihatan seperti berada di daerah itu, melainkan sudah di sebelah barat: aekhula

Penjelasan di atas adalah penjelasan saya pribadi, karena setelah saya menanyakan hal ini kepada seorang tua Ono Niha saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan.

Akan tetapi ada hal yang menarik dari penjelasan yang saya dapat dari orang tua tersebut. Dalam penggunaannya, yöu dalam bahasa Nias ternyata terkait dengan “arah terbenamnya” matahari (ya seperti dalam istilah “ahole yöu” itu tadi, yang tiada lain adalah “barat” dalam konteks arah angin dalam Bahasa Indonesia)

Yöu juga merujuk pada lokasi “hilir”: jadi “Hiza ira yöu” (Itu mereka di bagian hilir). Ada sebuah sungai kecil (mbombo) di desa saya bernama Momölu. Mbombo ini berawal dari arah utara (kurang lebih) dan mengalir ke arah selatan (kurang lebih). Ternyata bagian hilir tetap saja kita sebut: “yöu”, dan bagian hulu kita sebut “raya”.

Yöu ba fasa (Gunungstoli), tidak selalu berarti bahwa Gunungsitoli terletak di bagian utara lokasi orang yang mengucapkan “yöu ba fasa” itu.

Dalam kalangan Gereja BNKP Nias, kalau ada orang yang meninggal maka kita hampir pasti akan mendengar lagu “Miyöu Lala Nidanö” ketika orang yang meninggal diantar ke tempat peristirahatan terakhir, atau pada saat jasad yang bersangkutan ditanam. Di sini jelas, pengertian “yöu” berasosiasi dengan kata “tenggelam”, “meninggal”, “sampai pada akhirnya”. “Ahole yöu” juga bisa diungkapkan untuk manusia dan berkonotasi “sudah tua”, menuju “tenggelam”, sudah melewati masa atau kondisi puncak.

Apakah orang tua zaman dulu tidak dapat membedakan “Utara” dan “Barat” ? Jawabannya spekulatif menurut saya. Memang, ada istilah: yöu, raya, atumbukha dan aekhula. Akan tetapi kata-kata “yöu” dan “raya” tidak selalu berkonotasi “utara” dan “selatan” arah mata angin; melainkan lebih menunjukkan lokasi “awal” dan “akhir”, seperti pada sejumlah contoh di depan. “Yöu” dan “raya” juga lebih sering muncul dalam percakapan dari pada “atumbukha” dan “aekhula”. Para musafir dari “timur” yang mengunjung bayi Yesus dalam Kitab Perjanjian Baru Li Niha terjemahan H. Sundermann disebut sebagai: ere moroi ba gatumbukha luo (para imam dari daerah matahari terbit). “Atambukha” dalam hal ini tentu saja relevan dalam konteks lokasi Nazaret di timur tengah dan daerah timur asal para musafir itu, yang konon adalah daerah Cina.

Bentuk Pulau Nias yang memanjang dari Lahewa (Barat Laut) ke Nias Selatan (Tenggara) barangkali juga mempengaruhi “pemahaman” Ono Niha zaman dulu terhadap penerapan arah angin dalam kehidupan sehari-hari. “Yöu ba Lahewa” dan “raya ba Taludala” sudah merupakan ungkapan sehari-hari Ono Niha, padahal kalau kita berada di tengah-tengah P. Nias, Lahewa tidak pas di Utara dan Telukdalam tidak pas di Selatan.

Ada satu hal lagi. Seingat saya, garis jalan bahkan menjadi patokan paling praktis di desa-desa untuk membedakan “yöu” dan “raya”. Jadi, daerah atau desa-desa yang terletak di sebelah kiri kalau seseorang berdiri di tengah jalan dan “menghadap” ke arah Gunungsitoli akan digolongkan dalam daerah “yöu” dan di sebelah kanan adalah daerah sebelah “raya”. Lucunya, kalau yang bersangkutan berjalan sudah cukup jauh, katakanlah 5 – 10 km dari arah barat ke arah Gunungsitoli, dia akan tetap merujuk kampung tertentu yang berada di sebelah kanan jalan raya tadi sebagai “raya” dan yang di sebelah kiri sebagai “yöu”, walau dalam kenyatannya desa tadi sudah berada di barat relatif terhadap posisi yang bersangkutan sekarang.

Di desa saya, matahari juga seakan terbit dari arah “selatan”, tentu saja karena jalan lurus di desa itu tidak tepat menghadap arah barat-timur. Maka, wajar saja kalau penduduk di sana seakan melihat matahari “ahole yöu” atau “aso’a yöu” ketika waktu telah menunjukkan jam 13.00 atau 15.00 sore.

Semoga informasi ini bermanfaat. Masukan, komentar atau koreksi lanjut sangat diharapkan dari pembaca. Terima kasih buat Bapa/Ibu Saro Z yang telah memancing diskusi tentang ini (e. halawa)

Facebook Comments