Briket-Kompor Rakyat Tanpa Minyak

Saturday, January 13, 2007
By katitira

Kelokan kota tua Kathmandu, yang dibangun 14 abad silam, terusik oleh tumpukan sampah di pinggir jalan, gorong-gorong, dan tebing sungai. Bau menyengat merebak ke mana-mana. Belum lagi kondisi sosialnya yang mudah bergolak. Situasi ini membuat Sanu Kaji Shrestha jengkel. “Hampir setiap hari warga Kathmandu harus antre untuk mendapatkan minyak tanah,” kata Sanu, aktivis lingkungan hidup itu, kepada Gatra.

(GATRA/M Agung Riyadi)Sebagai negara yang tergolong miskin, dengan pendapatan per kapita per tahun US$ 1.400, Nepal tergencet oleh kenaikan harga minyak mentah pada tahun-tahun belakangan ini. Maklum, BBM harus diimpor. Tak pelak, harga minyak tanah yang banyak digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil di Nepal ikut membubung. Tapi, setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM, masyarakat bereaksi keras.

Unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM kerap berakhir rusuh.

Tahun 2003, bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Foundation for Sustainable Technologie (FoST). Lembaga ini berupaya secara mandiri turut mengatasi masalah sosial dan lingkungan hidup di Nepal. Uluran bantuan dari lembaga-lembaga asing bukannya tak ada, terutama untuk program perbaikan lingkungan hidup. Tapi Sanu menolak. “Kami tak mau negara terperosok dalam utang. Kami ingin menunjukkan kemampuan sendiri,” tuturnya.

FoST akhirnya melirik potensi yang terkandung dalam sampah yang menumpuk dan mengotori jalan dan sungai di Kathmandu dan kota-kota lain di Nepal. “Sebagian besar sampah itu adalah bahan organik, limbah rumah tangga, dan pertanian sehingga masih bisa diolah,” kata Sanu.

Sekitar 76% penduduk Nepal memang masih menggantungkan hidup dari usaha pertanian, terutama tebu, tembakau, dan gandum. Sektor ini menyumbang 39% pendapatan kotor domestik Nepal yang mencapai US$ 39 milyar setahun. Sektor itu pula yang menyumbang sampah-sampah organik yang mengotori Nepal.

Dengan memanfaatkan sampah untuk bahan bakar, FoST berniat ikut menyelesaikan masalah sampah dan kelangkaan minyak sekaligus. Lantas muncullah ide pembuatan briket sampah, meniru briket batu bara yang lebih dulu dikenal masyarakat Nepal. “Hanya saja, residu dan asap briket batu bara sangat mengotori udara,” kata Sanu.

Lagi pula, cara memproduksi briket sampah itu terhitung mudah. Briket ini pun, ketika digunakan, relatif ramah lingkungan. Tak berasap dan tak beresidu. Lalu mulailah para aktivis FoST memilah-milah berbagai jenis sampah yang mungkin untuk dibuat briket. Sampah-sampah itu antara lain kertas, bambu, serbuk gergaji, ampas tebu, daun, dan sampah organik lainnya.

Sampah-sampah jenis inilah yang dijadikan bahan mentah briket sampah. Caranya, kata Sanu, sederhana. Setelah dipilah, material tersebut dimasukkan ke sebuah tong berisi air yang dipanaskan. Lalu sampah-sampah itu dihancurkan dan diaduk laiknya membuat bubur kertas. Tak ada bahan kimia yang digunakan.

Kemudian bubur sampah tadi dicetak. Bentuknya macam-macam. Ada yang seperti cakram dengan lubang di tengahnya, ada juga yang berbentuk tablet. Ukuran garis tengahnya 5 cm dengan tebal 5 cm pula. Ada juga yang dicetak dengan genggaman tangan. Saat ini, FoST mengembangkan 10 jenis briket sampah.

Untuk pembakaran, FoST juga memperkenalkan kompor khusus yang disebut rocket stove (kompor roket) berbentuk tabung dengan garis tengah sekitar 10 cm. Pada bagian bawahnya dipasang kipas angin bertenaga baterai untuk membantu pembakaran. Dua buah baterai 1,5 volt itu, menurut Sanu, tahan untuk sebulan penuh.

Tahun 2003 itu juga, FoST mengampanyekan penggunaan briket sampah sebagai alternatif pengganti minyak tanah. Para tenaga penyuluh FoST tekun mendatangi rumah-rumah penduduk. Mereka mendidik warga dalam memanfaatkan limbah rumah tangga untuk dijadikan briket sampah untuk memasak. Hanya dalam tempo tiga tahun, hasilnya segera terlihat.

Kata Sanu, kini hampir 80% penduduk Nepal sudah beralih menggunakan briket sampah. Antrean pembeli minyak tanah pun makin jarang ditemukan. Dan yang membuat dia senang, temuan sederhana ini ternyata bisa mengurangi volume sampah di Nepal. “Sungai Bagmati, yang tadinya paling tercemar, kini sudah terlihat bersih,” katanya.

Tahun 2007 ini, tutur Sanu, FoST mulai berpikir untuk membangun pabrik briket sampah untuk kebutuhan industri. “Di sini ada 100 lebih pabrik pembakaran bata. Kami akan memasok untuk kebutuhan itu,” katanya. Briket ini akan dijual seharga US$ 15 per 30 potong seberat 1,5 kilogram. Dengan begitu, ia berharap, pencemaran udara dari pabrik batu bata bisa ditekan.

Selain briket sampah, FoST juga membuat beberapa terapan teknologi sederhana lainnya, semacam kompor, oven, dan alat pasteurisasi bertenaga matahari. “Pokoknya, kita harus bisa mengubah sampah dan barang lain di sekitar kita menjadi energi untuk kebutuhan hidup kita,” kata Sanu mengenai prinsip organisasinya.

Beberapa pekan lalu, Sanu dan FoST berkesempatan memperkenalkan teknologi sederhana itu dalam seminar Better Air Quality (BAQ) di Yogyakarta. Ia sempat mendemonstrasikan penggunaan briket sampah itu. Ternyata bara api yang dihasilkan briket sampah ini memang tak mengeluarkan asap dan residu berbahaya.

Beberapa aktivis lingkungan hidup Indonesia yang menyambangi gerai FoST menyatakan apresiasinya atas usaha mereka. “Mereka bisa membuktikan, tanpa harus berutang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan hidup,” kata Tubagus Haryo Karbyanto dari Kaukus Lingkungan Hidup Indonesia.

Menurut Bagus, Indonesia seharusnya meniru semangat Nepal dalam menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa berutang. Ia sempat menyampaikan rasa kecewanya karena untuk program BAQ di lima kota, termasuk Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya, pemerintah mesti berutang ke Bank Pembangunan Asia sebesar US$ 219 juta. “Utang itu akan membebani rakyat, sementara hasilnya belum tentu maksimal,” tuturnya.

M. Agung Riyadi
Sumber: Gatra Online, 12 Januari 2007

11 Responses to “Briket-Kompor Rakyat Tanpa Minyak”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    Tran Archut Says:

    lebih suka minyak angin daripada kayu putih

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita