Leluhur Bugis Orang Nias

Oleh: Victor Zebua

Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).

Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.

Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.

Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.

Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.

Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”

Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.

Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.

Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.

Elemen Bugis
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).

Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.

Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.

Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.

“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]

Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).

Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.

Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro & Wiradnyana, 2007: 26).

Orang Maruwi
Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.

Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.

Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.

Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).

Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?

Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).

Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.

Mado Maru
Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).

Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “kegisi monro sore’ lopie’, kositu tomallabu se’ngereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.

Bacaan

  1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Danandjaja, J. & Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004
  7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi & Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004
  8. Koestoro, Lucas Pratanda & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007
  9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005
  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979
  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007
  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007
  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995
Leave a comment ?

175 Responses to Leluhur Bugis Orang Nias

  1. Drs.Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Yaahowu talifuse,sebenarnya diskusi ini sangat menarik bagi kita semua,khususnya yai’ta’Ono Niha’ karena titik terang “Asal Usul Ono Niha ” sudah nampak dengan adanya penelusuran berdasarkan ‘Tarombo’ atau surat Ngaete disertai dengan sejarah tuturan dari generasi kegenerasi sampai pada masa kita sekarang ini dan ditambah dengan fakta dan pembuktian peninggalan nenek Moyang dan Leluhur org Nias pada masa dahulu,yaitu berupa tanda,motif pada setiap versi peninggalan mereka.Contohnya : tegi Laowemaru di Pulau Hinako dan Gua Laowemaru di Gunung Sitoli merupakan peninggalan Leluhur org Nias ,Yaitu Tuada Lowemaru(Bugis). Ini menunjukan bahwa asal usul org Nias datang dari seberang lautan ,terutama dari daratan Asia,Yaitu Cina Selatan(Yunan) sekitar 3500 thn yg silam secara bertahap dgn berbagai etnis suku bermarga “Mo,Go, dan Ho’ dan ada Juga sebahagain dari Pulau Formosa (Taiwan)..merujuk pada tuturan sejarah terombo Mado Marulafau.Lantas pada abad ke 9 sekitar 1200 thn yg silam lahirlah putra Nias bernama ‘Daeli’ berasal dari etnis suku Ho berdiam di Talu Idanoi dan sampai menurunkan keturunan pada Mangaraja Gea(no.25) dalam versi tarombo Mado Marulafau, dan menurunkan keturunan 9 orang yaitu : Farasai, Mangaraja Embo, Gomi,Wewe Sesolo,GarinaLowe,Fau,Nuza niha,Owo,dan SauseLama,(yg kawin dgn Tuada Ho Ana’a) dan menurunkan garis keturunan pada Tuada Laoya(Mado Hia), yg beranak sembilan ,dan seterusnya berkembang dan berdiam di seluruh daerah pulau Nias, terutama di GOMO(Gomo adalah nama wilayah yg ditempati oleh satu etnis yg nenek moyangnya bermarga Go dan Mo),dan salah satu wilayah pusat kebudayan termasuk teluk Dalam dan BawaMataluo.Adapun marga atau mado yg lain seperti Chaniago, Tanjung , dan lain-lain yg mengikat tali perkawinan pada keturunan leluhur org Nias dihitung Mado Nono Alawe dan sudah menjadi Org Nias bersatu padu menjadi penduduk org Nias.Itulah tujuan dan maksud diskusi pada forum ini dgn catatan mempererat hub. silaturahmi antara sesamanya ,khusus suku Nias yang nantinya menjadi pillar membangun Nias kedepan.

  2. tz harefa says:

    …..Perlu diketahui bahwa terombo mado Marulafau ditulis pada zaman Balugu Gandria sejak mendirikan mado Marulafau di Awa’ai sekitar 13 generasi sampai pd masa sekarang .dan Beliau hafal terombo sampai pada kakek saya dan org tua saya,Mhd.Chatam Marulafau…..

    …..asal usul org Nias datang dari seberang lautan ,terutama dari daratan Asia,Yaitu Cina Selatan(Yunan) sekitar 3500 thn yg silam secara bertahap dgn berbagai etnis suku bermarga “Mo,Go, dan Ho’ dan ada Juga sebahagain dari Pulau Formosa (Taiwan)..merujuk pada tuturan sejarah terombo Mado Marulafau…..

    1. berarti 13×65 = 835 th lalu udah ada tulisan Balugu Gandria. [kayak apa aksara Nias itu?]
    2. berati leluhur dulu hafal nama generasi anakcucu sesudahnya. [Beliau hafal terombo sampai pada kakek saya dan org tua saya,Mhd.Chatam Marulafau]
    3. klo boleh tau mado Tuada Daeli siapa : Mo, Go atau Ho?
    4. yg dari formosa siapa?

    ada lg leluhur yg datng klo menrt Bp HAM Zebua cs …..asal usul org Nias dari Tanah Arab namanya Tuha Ara Daulu yg dirikan kerajaan di Hili Sinalinali. katanya pulAK Tuada Daeli keturunan dari Tuha Ara Daulu + – 12 genersi….. ada pulak yg bilang …. asal usul org Nias dari Hia Walangi Azu di Sifalago Gomo [Melacak Mitos n BAtu] keturunanya tersebar keseluruh Nias…..

    alamak… karna bnyak pendapat itu jdnya bnyak pulak yg terheran-heran… 🙂

  3. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Yaahowu, Pak,Tz Harefa,Comment anda bagus sekali terimakasih. Kita harus tahu bahwa jarak antara satu generasi kegenerasi berikutnya diperhitungkan 25 thn .Kalau 13 generasi berarti 13×25 = 325 thn.Kalau anda bertanya ttg aksara apa Nias itu, sayapun tidak tahu.Yg penting kita tahu informasi Balugu Gandria mendirikan suku Marulafau di Awa’ai pada masa itu dan sekalian menuturkan pada Tuada Belu Sanereyawa(N0.35)ttg Silsilah baik secara lisan maupun tulisan dgn bahasa leluhurnya,yaitu Bahasa Nias apakah mempergunakan aksara Nias atau arab melayu Austronesia.Memang saya yakin bahwa leluhur dulu hafal terombo dan sejarah ttg sisilah terombo itu dan terbatas hanya sampai pada masa mereka hidup dan tidak mungkin Balugu Gandria mengetahui sampai kegenerasi bawahnya atau pada generasi kami.Tuturan silsilah ini baik secara lisan maupun tulisan sampai pada Balugu Hili (Rajo Bandaharo),leluhur Marulafau dan sampai pada org tua saya, dan saya dan saya lanjutkan menuturkannya baik secara lisan maupun tulisan.Saya pun tidak tahu siapa leluhur-leluhur di atas seandainya org tua saya tidak menuturkan silsilah ini kepada saya .Inilah yg disebut tuturan secara estafet dan berisnad atau secara berantai,artinya tidak putus-putus.Tentu dalam hal ini, Balugu gandria juga mendapat tuturan dari leluhurnya …dan terus sampai pada Tuada Fau..Gea ……………..dan seterusnya.Nah, pertanyaan Bpk ttg mado Tuada Daeli,.siapa ?Yg saya paparkan di forum ini bukan pendapat dan karangan,tetapi informasi dari sejarah tarombo mado Marulafau yg dituturkan pada saya,dan org tua Tuada Daeli adalah berasal dari etnis suku Cina apakah bermarga Mo,Ho atau Go tidk dijelaskan.tetapi asumsi saya kemungkinan berasal dari marga Ho.Hemat saya, Tuda Ho Ana’a yg kawin dgn SauseLama.Tuada Ho Ana’a cenderung memakai marga nenek Moyangnya, yaitu Ho, dan juga Tuada Hia memakai marga Hia Ho pada akhir namanya.Kalau Bpk bertanya ttg yg dari Formosa siapa ? Ini juga berupa informasi dlm sejarah terombo kami,Formosa adalah sebuah pulau yg penduduknya orgTaiwan dan serumpun dgn Cina bagian selatan dan mereka berimigrasi di pulau Nias secara bertahap dan juga tidk dijelaskan secara terperinci pd sejarah terombo Mado Marulafau.Dari mana kita tahu bahwa asal usul “Ono Niha berasal dari Cina’?Berdasarkan tanda, motif,yg ada pada peninggalan nenek moyang tsb Moyang apakah dia berupa aksara, sesuatu yg bermotif kepala Naga,dll sebagainya. Terimaksih.

  4. tz harefa says:

    …..Keturunan asli orang Nias Dari Mado Daeli Sampai pada Kami sekarang ini sebanyak 40 keturunan dan apabila diperhitungkan 40 x 65 umur manusia berarti 2600 tahun yang silam….

    Angka hitung 65 thn sy mengikut pernyattan itu, rupanya sudah diganti metodanya toch sekarang mengikut cara-cara hitung bp Sin liong n Bp Umbu s. 25 thn tiap generasi.

    Org-org tetua n leluhurnya dahulu pun kepada Bp Haji AM Zebua cs mentuturkan pulak diatas Tuada Daeli ada bapaknya, kakeknya dstnya percis yg dibilang jd ancestor itu awal dari Tuha Ara daulu yg datang dari Arab ke luaha Noyo lalu dirikan kerjaan di Hili Sinalinali. Urutanya : (1) Tuha Ara Daulu – (2) Tuha Aolomatanõ – (3) Tuha Eno’otanõ – (4) Tuha Mobaletanõ – (5) Tuha Madiwatanõ – (6) Tuha Mangemohitanõ – (7) Langi Sara’Ana’a – (9) Lowalangi Kura’a – (10) Tuha Sahuwagana’a – (11) Tuha Alizuzu – (12) Sirao Simeziwa Tuha – barulah diurut (13) Daeli Sanau Talinga – (14) ….. dstnya. Kerna yg tuturkan dari leluhur mangkanya dibilang dia umanõ – amanah mengacu kata di Arab. Siapa tau aksara Nias itu bisa aksara Arab tidak hurup kanji tiongkok tp aksara tsb udah terkubur disapu tsunami barangkali. Klao mslh megalit di Arab pun hebat kali dia punya megalit samalah dgn p.Nias. sunat, patriachat, memingit kaum wanita, mengijon, minum tuak/kharm sama pulak kabilah Arab dgn suku Ono Niha.

    …. mangkanya terheran-heran kt sama-sama klaim tuturan leluhur tp garis keturunan nenek moyang ada perbedaan atau dari Arab atau bisa pulak dari China. Alamak!

  5. Drs. Siamir Marulafau,M.HUm says:

    Terimakasih Pak Tz Harefa,nampaknya urutan terombo yg anda tulis ini tidak terurut secara sistematika,.. Urutan no.8 mana ???.Harus diingat bahwa Tuada Daeli sebagai leluhur yg pertama berbeda dgn Mado Daeli dari versi terombo Mado Marulafau;dan jika pernyataan Bpk (13)Daeli Sanau Talinga dan seterusnya ….siapa ??? Tolong dituliskan secara jujur generasi keberapa terombo yg Bpk paparkan ini ditulis ??? Yg anda tuturkan ini ada dlm terombo Mado marulafau.Yg saya tuliskan terombo mado marulafau di forum ini hanya satu garis masih banyak lagi yg belum saya tuliskan menyangkut mado lain. Harus diingat bahwa banyak manusia yg memiliki nama yg sama tapi wujud yg berbeda disertai dgn sifat, karakteristik,latar belakang ilmu yg berbeda dan usia yg berbeda.”Org -org tetua n leluhurnya dahulu pun kepada Bp Haji AM Zebua cs menuturkan diatas …….”kal. ini meragukan .Siapa leluhurnya dahulu ..???kok kepada Bpk Haji AM Zebua…?Heran Kok bisa tahu Bpk .Haji AM Zebua menuturkan diatas Tuada Daeli ada Bapaknya.,dan seterusnya, apakah karena Beliau sudah pergi ke arab naih Haji ? Apakah karena saya mengatakan bahwa penulisan terombo mado Marulafau mempergunakan aksara Arab melayu ?Terombo tidk bisa dituliskan dan dituturkan secara semberono, tidk boleh putus tuturannya.saohagele

  6. tz harefa says:

    Bp Haji AM Zebua cs tak salah; rupanya kurang ketik difihak sy: ….. (7) Laewolo Tuha Orudua Zihõnõ – (8) Langi Sara’Ana’a….. dstnya. No (14)….. dan seterusnya….. sampe anak-anak dari (26) Tuha Bahili (Gea) percis terombo yg dibilang bp Saro…. kerna mirip tak sy ketik lg. Daeli Sanau Talinga fo’omonia Nuni Nikindrõ-kindrõ. Tuha Bahili/Gea fo’omonia Siwulu Holi. Nahh…. mslh tuada n fo’omonia itu orgnya sama atau hanya nama yg mirip wujudnya berbeda kalok mau diperbanding? Info lain disilakan Bp liat tulisn Bp HAM Zebua “Umanõ” yg kata sambutanny oleh Bp Nazaruddin T ketua DPR Kab Nias n bp Hanati Nazara SH bupati Nias pd waktu itu thn 1982 tak terkait info terbaru Bp Siamir mslh aksara Arab melayu. Terimasih

  7. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Sdr. Harefa,Tz, aneh ..sdr. mengatakan ‘keturunan asli org Nias dari mado Daeli sampai pada kami sekarang ini sebanyak 40 keturunan.Sedangkan sdr. bermado ‘harefa’ kok merujuk pada mado Daeli ???Coba sdr. jelaskan darimana mado “Harefa” dan berapa jarak keturunan mado haref dari Tuada Daeli(Leluhur yg pertama),dan siapa Tuada Daeli Sanau talinga?Apakah sama tuada Daeli yang pertama dgn Tuada Daeli Sanau Talinga atau Mado Daeli?Siapa Tuha Bahil(Gea) ?? Apakah Tuha Bahili (Gea )ini sama dgn Mangaraja Gea(no.25) versi mado Marulafau ??? Kayaknya rancu.Perlu diingat bahwa Bapaknya Tuada Daeli itu berasal dari Cina suku Ho,(Tertutur dalam sejaraah terombo mado Marulafau dan kemungkinan bermarga Ho) tidak ada kaitan dgn Arab.Diperkirakan leluhur Nias memiliki aksara Nias dengan bahasa leluhur Nias tetapi kemungkinan pemakaian bahasa Nias kuno dan aksaranya menghilang karena pengaruh zaman Belanda.Maka sampai sekarang bhs Nias itu mempergunakan aksara melayu bukan aksara bahasa Arab.Terimakasih.

  8. tz harefa says:

    …..Keturunan asli orang Nias Dari Mado Daeli Sampai pada Kami sekarang ini sebanyak 40 keturunan dan apabila diperhitungkan 40 x 65 umur manusia berarti 2600 tahun yang silam….. Hal ikhwal tsb khan kata bp Siamir dicomentator ke2 tgl 20 januari 2009 jam 10,52 masak lupa sama tulsan Bp sendri?? Mangkanya sy pake hitung 65 thn kpd 13 genrasi balugu Gandria percis hitungnya bp itu….. ee-eh rupanya suda ganti ikut pendpatan bp sin Liong n Umbu setiap generasi 25 thn waktu Bp tuulis 30 april 2009 jaam 1,21 ….. Kita harus tahu bahwa jarak antara satu generasi kegenerasi berikutnya diperhitungkan 25 thn…. mslah Daeli n Gea + fo’omora klaulah termbo punya bp nama-nAma mereka sama berarti sama pulaklah wujudnya?? Didlm umanõ leluhur Ononiha 1 saja : Tuha Ara Daulu ma Tuha Bawondrege Gõlia ngambatõnia ya’ia gaweda Sowulugeu Danõ Yawa datang dari Arab ma’uwu mereka nama Daeli bukan Chineese tak ada kaitan dgn dynasty tang tp menrut umanõ keturunan kabilah Arab. Perlu diingat umanõ takbisa diubah takut kualat. Tp sipat manusiawi kadang pulak berUbah taroklah macam asal usul ini Awal Mula dari Arab menjd China Entah kena apa beubah kt pun dibikin terhern-heran?? Kayaknya cmn bebrapa bulan sama tulisan sendiripun kt lupa macam mana pulak kpd amanah ratus/ribu tahunan dari leluhur?? Maap klau tulisan sy sikit ada tersinggung hati sampe besua lain diskusrsi. Trimakasih

  9. Tommy says:

    Menarik info Pak Tz Harefa memang hingga kini dlm catatan sejarah yg pertama melaporkan ttg Nias adalh pedagang Arab dari teluk persia bernama Solayman yg tahn 851 masehi ke Nias dia bukan orang keturunan Chinese.

  10. Rizki H says:

    Maaf nimbrung nihh… bwt mas Tommy itu indikasi historis bhw bangsa Arab udah mencapai Nias paling gak 851 M. Sulayman dan navigator Ibn Wahab berlayar ke Khanfu (Canton sekarang) via Çriwijaya pulangnya mampir di Nias. Terkait perjalanan tsb dicatat Abu Zaid Hasan diterjemahkan Gabriel Ferrand. Klo generasi Daeli udah 47 berarti 47×25 = 1175 setara 2009-1175 = thn 834 M, bisa ketemu dong Daeli dan Sulayman. Tapi emang kayaknya blm terdengar ada gak naskah mendukung pendapat bhw org Chinese mencapai Nias pra 851 M seblm Sulayman??

Reply to Rizki H ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>