*Tanggapan atas Tulisan Pak E. Halawa: “Irasionalitas yang Selalu Mengikuti Gerak Kitaâ€
Oleh: Ollyanus Yarman Zb
Pengantar
Saya merasa begitu senang saat Pak E. Halawa menguraikan lebih banyak lagi tentang irasionalitas dalam tulisan terakhirnya â€Irasionalitas yang selalu mengikuti gerak kitaâ€. Tulisan saya berikut ini juga merupakan sejumlah keraguan atas banyak hal tentang irasionalitas terlebih merujuk pada jawaban Pak E. Halawa atas tulisan saya â€Ir[r] sionalitas dan Kemampuan Berpikirâ€. Sekaligus mencoba menjelaskan irasionalitas dengan pemahaman-pemahaman yang baru.
Tulisan ini pertama-tama bukan untuk menyudutkan atau menyalahkan siapapun namun untuk memahami lebih baik lagi kebenaran tentang irasionalitas. Dengan melandaskan pada pertanyaan, â€betulkah semuanya itu dapat kita rangkum [masukkan] dalam kata â€irasionalitas?â€
Irasionalitas dalam Irasionalitas yang Selalu Mengikuti Gerak Kita
- Tulisan Ini mengangkat difinisi irasionalitas berdasarkan www.http://dictionary.reference.com dan juga dari The Cambridge Dictionary of Philosiphy – CDP yang bisa dibaca kembali dalam artikel Pak E. Halawa.
- Irasionalitas berkaitan dengan kealpaan penalaran yang sehat atau ketidakmampuan atau ketidakmauan menggunakan nalar dalam berpikir, bertindak, bersikap, memandang, dst.
- Iroasionalitas Bung Ollyanus terletak pada â€keinginan untuk segera menggempur, keinginan untuk segera masuk dalam â€medan perang  kelengahan semacam ini termasuk irasionalitas. Dalam pragraf sebelumnya tertulis saya mensinyalir kata â€terburu-buru†pun masuk dalam nominasi irasionalitas.
- Irasionalitas terjadi saat seseorang â€gagal†berusaha secara maksimal untuk mencapai tujuannya.
- Irasionalitas: tak mau berpikir lagi secara logis dan bertanya:â€bukankah uang nilam ini pada akhirnya habis juga?†Kalau saja yang bersangkutan mau atau mampu berpikir secara jernih….â€
- Irasionalitas: saat kehilangan keseimbangan kesadaran, dan tidak lagi berpikir secara logis… keputusan yang â€dimasukkan: ke dalam pikirannya oleh si pembujuk.
- Bung Ollyanus terjebak dalam irasionalitas yang disebut di depan karena merasa ada peluang [berupa ajakan] dan tantangan.
- Orang yang memiliki kadar irasionalitas yang tinggi mudah tunduk pada persuasi dan provokasi.
- Irasionalitas [nyata] terjadi saat dalam kenyataannya â€bualan†salesman tadi tidak menjadi kenyataan: si pembeli HP tetap saja kuper….
- Irasionalitas terjadi saat siapapun tidak â€menyaring†informasi [read between the lines]. Orang yang irasional terpesona dengan bualan salesman tentang enaknya memiliki HP.
Pemahaman tentang irasionalitas dalam tulisan ini [tulisan Pak E. Halawa] dengan beberapa poin yang sudah saya tulis di atas sepertinya telah memberi gambaran yang jelas bahwa semua itu irasional. Namun, rasanya ada sesuatu yang seakan-akan termanipulasi dan menjadi irasional. Secara singkat semua poin terjadinya irasionalitas didasarkan pada [setidak-tidaknya]:
- Pertimbangan nalar yang kurang, tidak matang dan tidak jernih.
- Terburu-buru [disinyalir tanpa kemampuan bernalar] tidak ada maksimalisasi kemampuan
- Unsur eksternal yang dimasukkan
Kerangka Pemahaman Irasionalitas
1. Cara berpikir.
a. Tatkala seseorang menggunakan sebuah frame untuk melihat sesuatu yang terjadi pastinya sebuah pemilahan yang jelas antara A dan yang bukan A. Memang, kita tidak akan pernah bisa membuat sesuatu tanpa sebuah frame. Tetapi sebaiknya kita menyadari bahwa frame ini, cara pandang ini, kerap menutup segala kemungkinan yang ada. Bahkan dalam menanggapi sesuatu kita mempunyai kecenderungan masuk dalam frame ini. Misalkan saja secara sederhana, tulisan “Irasinalitas yang selalu mengikuti gerak kita†didasarkan pada frame “kamus dan kata kamusâ€. Sehingga secara tidak sadar [mungkin ini yang dimaksud irasional berdasarkan tulisan itu] penulis terperangkap, dipengaruhi oleh kata kamus. Bukankah ada yang hilang di sana? kemampuan secara maksimal […knowingly fail to do your best…] untuk berpikir sesuatu selain definisi kamus. Lihat, kita menyerahkan semuanya pada kata kamus dan seluruhnya dijabarkan berdasarkan pada definisi kamus. Adakah sesuatu yang kita dapatkan selain itu? Saya bukan berkata bahwa kata kamus ini salah. Tapi pada cara kita berpikir untuk melahirkan sesuatu yang baru.
b. Dalam cara berpikir selalu saya akan membedakan ada dua kerangka berpikir yang berbeda. Pertama, orang yang mengatakan sesuatu sebagai irasional. Orang ini pastinya masuk dalam kerangka berpikir yang lain dari orang yang dianggapnya bertindak irasional. Ia beranggapan bahwa ia sudah mengetahui semuanya dan akhirnya membedakan tindakan dan sikap sebagai irasional. Yang pada awal dari semua itu, ia telah masuk dalam frame yang ia percayai, ntah itu benar ntah salah, sehingga ia mampu menguraikan semua itu. Dalam contoh salesman dan konsumen, kitalah yang mengatakan tindakan yang terjadi di sana, sebagai irasional. Jadi, orang yang pertama ini telah memakai kacamatanya sendiri [berdasarkan pengetahuannya] untuk mengatakan sesuatu sebagai irasional. Kedua, orang yang melakukan aksi itu sendiri – dalam hal ini kita sebut salesman dan pembeli. Saya meragukan dan mempertanyakan, benarkah pada saat mereka melakukan “aksi†mereka masing-masing masuk dalam kategori irasional? Saya berpendapat, dalam konteks mereka pada saat itu tidak ada tindakan, sikap, berpikir, memandang yang layak disebut irasional. Mengapa? Karena mereka menggunakan daya nalar mereka untuk melakukan sesuatu. Dan di saat itu, istilah ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar, sama sekali tidak ada dalam konteks mereka. Pada akhirnya, yang menyimpulkan bahwa tindakan mereka masuk dalam irasionalitas,sekali lagi, adalah orang yang pertama. Mengapa? Karena ia telah memiliki frame tentang irasionalitas. Tetapi, lagi-lagi, irasionalitas itu sendiri tidak ada dalam kejadian [konteks] orang di pihak kedua [pada saat itu]. Bayangkanlah kita sebagai orang dalam konteks kedua. Pernahkah kita akan berkata bahwa apa yang kita lakukan masuk dalam irasionalitas. Atau jangan-jangan, kita tidak pernah mengenal kata itu?

Lihatlah, di sini terjadi sebuah proses ketertutupan pada cara berpikir kita sendiri. Mendasarkan semuanya pada pengetahuan yang kita miliki, apalagi jika berdasarkan kamus. Padahal ada banyak kemungkinan yang [mungkin] menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada [dalam konteks mereka].
2. Distansi
a. Distansi merupakan sebuah jarak [interval] dua hal, subyek-obyek, atau lebih. Dalam pemahaman yang lebih jauh lagi, distansi kerap masuk dalam sebuah penyimpulan. Misalkan dalam konteks salesman dan pembeli, yang menyatakan bahwa di sana [mungkin] ada irasionalitas adalah orang yang mengamati kejadian itu. Jadi, lihatlah terdapat jarak [minimal atau maksimal] dari konteks kedua dan pengamat. Saat terjadi jarak yang seperti ini, ada kemungkinan kesalahkaprahan kita tentang sesuatu. Husserl – seorang fenomenologi – pernah menuliskan â€saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinyaâ€. Ada sesuatu yang tidak sama. Alasannya adalah kita sendiri telah mempunyai pengetahuan tentang hijau, atau sesuatu yang lain itu.
b. Dalam tulisan â€Irasional yang selalu mengikuti gerak kitaâ€, tertulis bahwa irasional adalah kata sifat, bukan sesuatu melainkan sifat dari sesuatu. Di sini pun terjadi distansi itu. Benar, bahwa semua itu kata kamus, irasional adalah adjective. Sepertinya penulis menyerah hanya sampai pada titik itu. Lihat, yang terjadi mungkin distansi yang sangat minimal sehingga kita tidak berpikir sesuatu yang lain lagi selain kata kamus. Hal ini terjadi dalam wilayah yang sangat umum karena dianggap irasional telah bersatu erat dengan keseharian manusia atau bahkan telah menjadi sifat dari manusia. Maka, irasional menjadi sifat memang. Bandingkan dengan pengertian ini, irasional berarti â€sesuatu†yang tidak diketahui karena kegelapan sesuatu yang tidak dapat dimasuki akalbudi….†[Loren bagus, Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, jakarta, 1996, hlm 370]. Saya sengaja memberi tanda kutip pada â€sesuatu†untuk menyatakan irasional bukan hanya kata sifat tapi juga merupakan sesuatu dari sesuatu. Dalam tulisan Pak E.Halawa tertulis, â€orang yang irasional mengambil keputusan juga, tetapi bukan keputusan yang rasional, melainkan keputusan yang DIMASUKKAN ke dalam pikirannya oleh si pembujuk. Saya sengaja menuliskannya dengan huruf kapital untuk membandingkannya dengan tulisan yang saya garis bawahi di atas.
c. Dalam tulisan Pak E. Halawa ada sebuah pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya : â€Bagaimana mungkin anda memikirkan sesuatu tetapi pada saat yang sama sesuatu itu tidak terpikirkan?†Pernahkah anda melihat seseorang yang sepertinya pernah anda temui sebelumnya? Tapi pada saat itu anda tidak bisa mengingat lagi, kapan, di mana itu terjadi? Jika anda pernah mengalami hal ini atau ada orang lain yang mengalami hal ini, itulah jawabannya.
Saya begitu terkejut sekali, saat penulis â€Irasionalitas yang selalu mengikuti gerak kitaâ€, langsung mengaitkan irasionalitas dengan kesadaran. Pada hal ini adalah dua hal yang sangat berbeda.
- Kesadaran merupakan kompleksitas [keutuhan] manusia. Namun, kesadaran bukanlah sebuah keadaan. Saya mensinyalir kesadaran diartikan penulis sebagai sebuah keadaan yang selalu digempur oleh irasionalitas. Padahal kesadaran adalah sebuah fungsi yang menangkap keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya atau yang mendahuluinya. Dan kalaupun kesadaran dihubungkan dengan irasionalitas, menurut saya, irasionalitas hanyalah salah satu bagian terkecil dari kesadaran. Yang menangkap sesuatu yang pada saat itu mungkin tidak disadari oleh orang lain. Tetapi kita mengatakannya irasional. Saya mengambil contoh tentang teori heliosentris yang dicuatkan oleh Galileo Galilei dari pendahulunya Copernicus. Sebelumnya semua percaya pada geosentris. Dan ketika muncul teori heliosentris banyak orang berkata [mungkin] â€irasionalâ€, gila, tidak mungkin. Maka, GalileoGalilei akhirnya dihukum. Maka, dalam hal ini, irasional bukanlah yang dimasukkan tapi yang dimasuki oleh Galilei.
- Saya mempunyai kesan bahwa sikap buru-buru, bahkan juga bualan yang tidak menjadi kenyataan, masuk dalam irasionalitas. Tentunya, mungkin penulis mengaitkannya dengan kesadaran juga [menurut saya]. Saya akhirnya mendapat kesan bahwa irasionalitas – bahkan dalam tulisan Pak E.Halawa – dianggap sebagai â€proses†negatif dalam hidup manusia. Sehingga, ia menuliskan â€menyadari keberadaan kondisi-kondisi itu sangat menolong kita untuk menekan gempuran irasionalitasâ€. Saya menyebutnya sebagai proses karena pastinya tidak langsung ada begitu saja. Kelihatannya, ini adalah pemahaman dan fungsi kesadaran yang ditempatkan di posisi yang salah. Kesadaran itu tidak pernah menekan, tetapi ada untuk memahami setiap keadaan, agar orang mengetahui ini yang sedang terjadi. Irasionalitas tidak selamanya bernilai negatif dan harus ditekan. Irasionalitas pun bukan hanya dalam konteks ketidakmampuan atau ketidakmauan bertindak, bersikap dengan nalar. Tetapi juga merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang â€dahsyat†yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Dan jangan-jangan, saat kita mengatakan sesuatu itu irasional, mungkin kita sendiri yang tidak mampu berpikir sejauh yang orang lain mampu.
Penutup
Irasionalitas bukan hanya kelemahan namun juga kekuatan yang seharusnya kita pahami lagi. Dalam untaian tulisan di atas saya hendak melihatnya dalam konteks dialogal, mengangkat setiap kemungkinan yang bisa terjadi dan bukan hanya berdasarkan kata kamus. Sekali lagi, bukan berarti kata kamus itu salah, hanya menurut saya kamus selalu berada pada wilayah umum. Selain itu jangan pula lupa bahwa apa yang dibukukan hanya pernyataan bahwa sesuatu dipahami pada saat itu dan ada kemungkinan akan berkembang. Kemungkinan inilah yang hendak saya usung. Karena kerap, apalagi dalam dunia sains yang terjadi adalah menilik suatu hal dari satu bidang ilmu saja, yangboleh saya sebut sebagai monolog observation. Mungkin segalanya benar, tetapi itu tidak mutlak.
Note:
Terimakasih kepada Pak E. Halawa yang telah membantu saya memahami lebih baik lagi. Memberi kritik yang membangun bahkan secara tidak langsung mengajari saya bagaimana menggali,mengerti, memperbaiki sesuatu.
Seorang anak dihukum karena tidak patuh pada orang-tuanya, dikurung dalam kamar. Di kamar itu dia menangis sebentar, mungkin berfikir mengapa dia dianggap salah, atau berfikir orang-tuanya tidak sayang padanya. Anak tersebut melihat pengalamannya secara keseluruhan dari cara pandangnya sendiri, ia berfikir tentang ide dan perasaannya sendiri. Sejauh ini ia hanya berfikir dan bukan merefleksikan, sebab dia tidak mempertanyakan dirinya sendiri apakah hukuman yang diterimanya dibenarkan atau memang seharusnya seperti itu. Emosi (kemarahan dan rasa takut) anak tersebut mencegahnya berpikir keluar dari “pemisahan dirinya dari situasiâ€, dan dia terus melanjutkan berpikir dalam satu perspektif saja.
Namun ketika emosi anak tersebut menurun, ia mulai merefleksi. Sikapnya menjadi bersifat kritis. Dia mengumpulkan dan memperhitungkan beberapa kejadian yang ada, dari cara pandang orang-tuanya yang menghukumnya misalnya. Dia melihat dirinya sendiri dan situasinya dalam suatu pandangan yang berbeda. Refleksi lebih terbuka daripada semata-mata pemikiran saja. Sebab refleksi mengarah pada alternatif penjelasan atas fakta-fakta yang sebelumnya tersembunyi.
Melampaui pemikiran dan bisa mencapai refleksi dalam pengertian yang dipaparkan tentang anak di atas, disebut Edmund Husserl sebagai “reduksi”. Menurut Husserl, untuk mendapatkan suatu dunia kehidupan yang secara langsung dialami (Lebenswelt), maka seseorang perlu menggunakan “metode reduksi†dan memahami karakter dasar kesadaran yang disebut “intensionalitasâ€, yaitu kesadaran mengarahkan dirinya sendiri kepada sesuatu yang bukan kesadaran. Inilah suatu esensi kesadaran yang membentuk suatu makna dan menentukan objeknya sendiri.
Reduksi Husserl bergerak ke dua arah, yakni ke arah “noesis†(suatu tindakan yang diarahkan kepada suatu objek yang dikehendaki), dan ke arah “noema†(suatu objek dari tindakan noetic). Orang menguji kesadaran yang dijadikan sebagai suatu objek dengan menguji tentang keinginannya, perasaannya, dan keyakinannya sehingga bisa masuk dalam suatu pengalaman objek di mana ia mampu merefleksikannya. Konsep intensionalitas kesadaran Husserl adalah bahwa subjek dan objek tidak dapat dipisah-pisahkan dan bersifat interaksi di mana masing-masing hanya dapat dimengerti dari penjelasan yang lain.
🙂 Ada beberapa kesamaran dan bahkan mungkin juga kontradiksi dalam konsep Husserl tentang reduksi. Pada satu sisi dia diharapkan menjadi sebuah jalan untuk menggali sesuatu yang disebut dengan “yang bukan kesadaran†atau “prakesadaran†(yang memiliki validitas universal), namun di sisi lain setidaknya struktur tersebut tidak inheren (melekat) dengan kesadaran, karena konsep intensionalitas menunjukkan sebuah struktur terbuka, yang secara historis dan budaya merupakan produk bermakna dari keberadaan subjek yang hidup. Apakah “refleksi anak yang dihukum itu†bersifat primordial, fundamental dan absolut, atau bersifat historis dan budaya, orang tidak akan pernah yakin, sehingga validitasnya bersifat temporer dan relatif.
Husserl mengembangkan suatu metode filsafat yang secara efektif membagi dan mengisolasikan kesadaran dari keberadaan, yakni dari interaksi sosial yang aktual dan dari keberadaan manusia. Namun Husserl lupa bahwa keterlibatan seseorang dengan keberadaan itulah yang merupakan sumber pokok dari: pikiran, refleksi, kesadaran dan pengetahuan. Pengembangan dan validitas pengetahuan bergantung kepada interaksi manusia dengan lainnya, yang juga terlibat di dalam keberadaan. Karya Edmund Husserl yang disebut Labenswelt tidak pernah menjadi aktual untuk kehidupan manusia di dunia ini.
Mr. Jenk Iskhan, terimakasih atas tanggapan anda dalam tulisan ini. Sangat mencerahkan dan sekaligus memberi bahan perbandingan yang mungkin mampu memacu siapapun dalam menggali diri yang berdinamika dengan fenomena-fenomena di sekitar kita. Consciencia dapat kita katakan sebagai roh [penggerak] dalam ada-nya seseorang/ dalam menanggapi sesuatu. Analogi anak yang dikurung dalam kamar [seperti yang anda ungkapkan di atas] pertama-tama pastinya akan berhadapan dengan tingkat emosi yang begitu terarah pada pembenaran diri, mempertanyakan bahkan cenderung menyalahkan atau menganggap asing [aneh, irasional] sesuatu yang berada di luar dirinya. Persis hal ini yang hendak saya angkat dalam tulisan di atas. Orang selalu berkata-kata, pertama-tama, berdasarkan apa yang sedang dialaminya, apa yang sedang ia pikirkan, apa yang sedang ia ketahui. Maka, tidak heran orang [yang berada di luar dari sesuatu yang sedang, akan, telah terjadi] menampilkan sekian banyak hal yang tidak sesuai dengan pola yang sebenarnya dan seharusnya. Lagi-lagi berdasarkan yang ia ketahui. Dan itu benar, sejauh yang ia ketahui. Misalkan dalam tulisan di atas tentang Gallileo yang mengangkat dan melanjutkan teori geosentris. Gallileo itu sendiri pada dirinya tentu yakin bahwa apa yang ia ketahui adalah benar. Tetapi orang-orang yang berada di luar darinya atau bahkan yang tidak mengerti apa yang diungkapkan Gallileo, mengatakan hal itu sebagai irasional. Yang hendak saya katakan adalah: jangan-jangan orang yang berkata bahwa sesuatu itu irasional, dia sendirilah yang irasional [masuk dalam lingkarannya sendiri].
Mari kita mengatakan bahwa sesuatu bisa irasional tetapi jangan menjauh dari sesuatu itu dengan tetap melihat diri apakah kita sendiri masuk dalam apa yang kita katakan. Labenswelt sangat penting dalam kehidupan seseorang karena merupakan dasar dari pikiran, refleksi, kesadaran dan pengetahuan. Masuk dalam keberadaan seseorang akan menghasilkan reaksi dan aksi yang sangat lain ketimbang anda hanya mengatakan sesuatu tentang seseorang. Kita ambil contoh: Saat perang Vietnam berkecamuk. Ribuan tentara Amerika Serikat tertangkap oleh pasukan Vietcong. Mereka dimasukkan dalam penjara Hoa Lo dan mengalami siksaan yang mengerikan dan dikenal dengan psy-war [perang urat syaraf]. Banyak tahanan mengalami ketakutan, lalu mengalami gangguan jiwa dan kemudian mati menggenaskan. Salah satu yang keluar dari penjara itu John McCain, menceritakan penderitaan yang tiada akhir yang dialaminya di penjara itu selama 5 1/2 tahun. Lihat, para tentara Amerika yang punya kekuatan mengalami ketakutan yang luar biasa. Akhirnya, seperti McCain akan berbicara lain, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dan alami sebelumnya. Bagi anda yang tidak mengalami itu, anda akan mengatakan kekejaman itu seperti McCain dan setuju dengan dia. Tapi anda belum pernah mengalami hal itu. Keberadaan inilah yang sangat menentukan apa yang sedang dan akan anda katakan.
Saya hendak membela sekaligus mencoba mengangkat kemungkinan-kemungkinan lain dari satu tesis yang dilontarkan. Saya mengerti bahwa kita mungkin telah mempertimbangkan kemungkinan sebelum diungkapkan, tetapi hati-hati, kita masuk dalam reduksi dan mengangkatnya sebagai sebuah tesis. Reduksi membuat banyak hal tersembunyi dan cenderung diabaikan.
Terimakasih
Reduksi Husserl, sejauh yang saya tangkap dari Jenk Iskhan, tidak lah “membuat banyak hal tersembunyi dan cenderung diabaikan†sebagaimana terungkap dalam kalimat pamungkas paragraf terakhir Deivine Signor. Justru reduksi merupakan metode untuk memahami “intensionalitas†dalam membongkar “sesuatu yang bukan kesadaranâ€. Atau dalam cerita anak yang dikurung disebut: “alternatif penjelasan atas fakta-fakta yang sebelumnya tersembunyiâ€. Atau, meminjam kalimat Deivine Signor: “membuat banyak hal yang tersembunyi dan cenderung diabaikan, menjadi disadariâ€.
Bagi Husserl, reduksi menuntun tahap refleksi untuk menemukan intensionalitas yang diyakininya punya validitas universal. Namun Jenk Iskhan meragukan validitas dari intensionalitas Husserl itu. Universal kah? Atau hanya bersifat temporer dan relatif saja. Agaknya Jenk Iskhan menemukan unsur spekulatif dalam perspektif Husserl, sehingga dia menulis: “Karya Edmund yang disebut Labenswelt tidak pernah menjadi aktual untuk kehidupan manusia di dunia iniâ€.
Intensionalitas Husserl, hemat saya, paralel dengan “seksualitas Freudâ€. Bagi Sigmund Freud, “alam tidak sadar†(bukan kesadaran) berisi “enersi libidinal dan keinginan yang direpresiâ€. Jalan utama (via regia) yang menghantar manusia ke ketidaksadaran menurut Freud adalah mimpi. Boleh dikatakan, secara metodis mimpi paralel dengan reduksi. Dengan demikian, di alam “bukan kesadaran†(Husserl), atau “tidak sadar†(Freud), atau “prakesadaran†(Jenk Iskhan), sejauh ini kita mungkin bertemu dengan dua hal yang harus dipilih, yaitu “intensionalitas†(Husserl) atau “seksualitas†(Freud).
Jadinya, menarik sekali diskusi kita. Apakah “bukan kesadaranâ€, “tidak sadarâ€, dan “prakesadaran†merupakan alam atau entitas yang sama? Apakah “intensionalitas†dan “seksualitas†adalah konsep yang identik? Lebih jauh lagi, bila diskusi ini merujuk hanya pada perspektif Husserl, maka kita tidak lebih dari “anak yang dikurung yang sedang menangis sambil berpikirâ€. Namun ketika perspektif Freud (dan mungkin perspektif lainnya) kita pertimbangkan, kita mulai menjadi “anak yang dikurung yang emosinya telah reda, dan dia mulai merefleksiâ€.
Manusia dalam tahap refleksi mampu (dan mau) berpikir tentang berbagai kemungkinan perspektif. Namun kiranyanya hanya satu perspektif lah yang muncul ketika dia mengungkapkan atau melakukan sesuatu. Kualitas “ungkapan atau perilaku†itu merupakan produk (atau tergantung) dari “pikiran, refleksi, kesadaran, dan pengetahuan†seseorang. Benarkah? Bagaimana menurut Anda?
Signor: “Mr. Jenk Iskhan, terimakasih atas tanggapan anda dalam tulisan ini. Sangat mencerahkan dan sekaligus memberi bahan perbandingan yang mungkin mampu memacu siapapun dalam menggali diri yang berdinamika dengan fenomena-fenomena di sekitar kita.”
Aku, Jenglot, sempat tercerahkan oleh pernyataan ini.
Signor: “Reduksi membuat banyak hal tersembunyi dan cenderung diabaikan.”
Aku, Jenglot, melihat angkasa yang tadinya cerah tiba-tiba mendung, dan tak melihat birunya langit lagi. “Reduksi Husserl” ala Signor seakan menutupi langit tadi dengan awan-awan ketidakpastian tentang pengertian “reduksi Husserl”.
Sinumana: “Reduksi Husserl, sejauh yang saya tangkap dari Jenk Iskhan, tidaklah “membuat banyak hal tersembunyi dan cenderung diabaikan†sebagaimana terungkap dalam kalimat pamungkas paragraf terakhir Deivine Signor.”
Aku, Jenglot, kembali melihat setitik sinar biru di angkasa, yang semakin membesar yang seakan menghalau kembali awan-awan keraguan tadi. Namun, aku tak berani melihat angkasa lagi, takut mega mendung itu datang lagi 🙁
Biarlah mataku buat sementara kutujukan pada warna hijau yang menghiasi pinggir-pinggir halaman Situs Yaahowu ini, sekaligus berusaha menikmati “hijaunya” hijau ini 🙂
Wah…, diskusi ini sangat kaya. Saya ingin menyumbang informasi sedikit tentang reduksi Husserl yang saya baca di buku Harry Hammersma (“Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modernâ€, 1983).
Supaya kita dengan intuisi kita dapat menangkap hakekat obyek-obyek, dibutuhkan tiga “reduksiâ€. Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicaraâ€.
Reduksi kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada. Dan, reduksi ketiga: menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus, untuk sementara, dilupakan.
Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala sendiri dapat memperlihatkan diri, dapat menjadi “fenominâ€.
Semoga bermanfaat, Yaahowu! 🙂
Reduksi merupakan peruncingan dari suatu hal seperti yang dituliskan oleh #3 Sinumana dalam kalimat : “Manusia dalam tahap refleksi mampu (dan mau) berpikir tentang berbagai kemungkinan perspektif. Namun kiranyanya hanya “satu perspektif” lah yang muncul ketika dia mengungkapkan atau melakukan sesuatu. Sengaja “satu perpektif” saya kutip sebagai loncatan awal dalam menunjukkan hanya satu hal yang akhirnya diangkat dalam reduksi. Pertanyaannya: “kemanakah kemungkinan dan perspektif yang lain?” Ini yang pada akhirnya saya katakan bahwa reduksi membuat banyak hal tersembunyi dan cenderung diabaikan. Masih sangat baik jika kemungkinan dan perspektif yang lain itu [yang tidak diangkat/dipilih dalam reduksi] tetap dijadikan sebagai bahan pembanding. Tetapi jika kemungkinan dan perspektif itu di”museum”kan atau diabaikan, bukankah ia menjadi tidak berguna. Padahal, segala hal, baik yang kita pilih maupun tidak, tetap merupakan entitas [an sich] yang ada secara ontologis.
Pada tingkat pemilihan perpektif atau kemungkinan yang hendak diungkapkan atau dinyatakan [dipilih] dapat disamakan bahwa reduksi mengandung intensionalitas tersendiri yang terus membongkar dan membangun satu piramida kesimpulan. Di sana, memang reduksi mengandung tingkat refleksi yang mencoba mengkonfigurasikan dan memikirkan segala kemungkinan. Tetapi, intensionalitas yang kita bicarakan sebelumnya tidak dengan gampang kita samakan dengan seksualitas Freud. Sebab, seksualitas Freud baik yang disebabkan oleh thanatos merupakan insting yang membawa pada tingkat agresi, self-destruction, cruelty, yang pada akhirnya dibalut oleh lust yang mengarah pada any form of pleasure. Arahnya menjadi sangat berbeda. Intensionalitas Husserl mengarah pada pemilihan yang [ter]baik, sedangkan intensionalitas seksual Freud mengarah pada pleasure.
Reduksi pun tidak pernah bisa paralel dengan mimpi dalam gerbong pemikiran Freud. Freud menampilkan tripartite [id, ego, super ego]. Bawah sadar manusia, menurut Freud, sangat mempengaruhi tingkah laku manusia. Bahkan segala hal yang tidak bisa diungkapkan secara gamblang akan terekam di bawah sadar. Suatu ketika saat rekaman ini sudah mencapai ambang “batas” Ia akan dilontarkan dalam mimpi. Namun, mimpi hanyalah salah satu cara [secara tidak sadar] meluapnya hal-hal yang ditekan dan masuk dalam bawah sadar. Jadi, perlu kita lihat kembali bahwa yang keluar dari mimpi pada akhirnya bukan hanya energi libidinal yang tertekan tetapi segala banalitas yang direpresi. Sangat berbeda dengan reduksi. Reduksi dihasilkan secara sistematis dari pemilihan atas fenomena-fenomena yang ada. Maka, intensionalitas Husserl tidak identik dengan seksualitas freud.
Reduksi Edmund Husserl merupakan sebuah “metode†sebagaimana ditulis Jenk Iskhan (resp. # 1): “Menurut Husserl, untuk mendapatkan suatu dunia kehidupan yang secara langsung dialami (Lebenswelt), maka seseorang perlu menggunakan ‘metode reduksi’ dan…â€. Sumbangan informasi dari Laso (resp. # 5) juga menunjukkan bahwa reduksi Husserl merupakan metode dalam menangkap hakekat obyek, sehingga gejala atau fenomena (yang tersembunyi) dari sesuatu obyek “dapat memperlihatkan diriâ€
Tulisan Deivine Signor (resp. # 6) di paragraf terakhir: “Reduksi dihasilkan secara sistematis dari pemilihan atas fenomena-fenomena yang ada.â€, menunjukkan bahwa “reduksi†dipahaminya sebagai sebuah “produkâ€. Tampaknya terminologi “reduksi†Husserl telah dimodifikasi Deivine Signor, dari sebuah metode menjadi sesuatu produk.
Demikian pula, “fenomena†(dari sesuatu obyek), yang bagi Husserl “tersembunyi†(dan dengan metode reduksi diharapkan dapat “memperlihatkan dirinyaâ€), bagi Deivine Signor “fenomena†itu telah tersedia (dalam pikiran?), lalu dipilih (salah satu) dan lainnya “tersembunyi (disembunyikan?) dan cenderung diabaikanâ€.
Lebih jauh lagi, “pemilihan†(tepatnya “yang dipilihâ€) menurut sinumana (resp. # 3) dalam: “Manusia dalam tahap refleksi mampu (dan mau) berpikir tentang berbagai kemungkinan perspektif. Namun kiranya hanya satu perspektif lah yang muncul ketika…†adalah “perspektifâ€. Bukan “fenomena†sebagaimana dimaksud Deivine Signor dalam paragraf terakhirnya.
🙂 Agaknya Deivine Signor telah rancu melihat terminologi “reduksiâ€, “fenomenaâ€, dan “perspektifâ€. Saya kuatir Jenglot (resp. # 4) “tambah bengong†aja, dan tetap setia menatap “hijaunya†hijau yang menghiasi pinggir-pinggir halaman Situs Yaahowu ini. Benarkah? Bagaimana menurut Anda?
Setelah selesai membaca semua diskusi di atas, saya langsung teringat pada kutipan Ollyanus Yarman atas pendapat Husserl: Husserl – seorang fenomenologi – pernah menuliskan â€saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinyaâ€. Ada sesuatu yang tidak sama. Alasannya adalah kita sendiri telah mempunyai pengetahuan tentang hijau, atau sesuatu yang lain itu..
Dengan itu saya hanya sekedar mengatakan bahwa bila kita mengikuti pendapat Husserl tersebut maka “apa yang kita tuliskan/kemukakan tentang irrasionalitas & rasionalitas” dalam forum ini, sesungguhnya tidak sama persis dengan aslinya. Kemudian pada akhirnya kita sampai pada apa yang dikatakan oleh Rene Descartes: “Cogito Ergo Sum“. Bukankah apa yang dikatakan Husserl itu sesungguhnya pengembangan atas pandangan cartisian.
Merujuk pada pandangan itu, akupun tak yakin dengan apa yang telah, sedang dan akan dikemukakan tentang topik ini. Sebab: Husserl – seorang fenomenologi – pernah menuliskan â€saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinyaâ€. Ada sesuatu yang tidak sama. Alasannya adalah kita sendiri telah mempunyai pengetahuan tentang hijau, atau sesuatu yang lain itu.. Itu juga berarti bahwa “apa yang kita tuliskan/kemukakan tentang irrasionalitas & rasionalitas” dalam forum ini, sesungguhnya tidak sama persis dengan aslinya.
Bila Thukul Arwana “kembali ke laptop”, maka Edmund Husserl mengajak kita “kembali ke benda”. Husserl bilang: “Zu den Sachen selbst” [Kembalilah ke benda-benda].
Fenomenologi dalam pemikiran Husserl tidak sebangun dengan “Ja pense, donc je suis” [Cogito, ergo sum] milik Renatus Cartesius [Rene Descartes]. Bagi Husserl objek adalah pusat. Bagi Descartes subjek adalah pusat. Implikasi masing-masing tentu berbeda pula.
Saat ini diskusi kita tengah merefleksi pemikiran Husserl untuk menggali makna “irasionalitas” yang [mungkin masih] tersembunyi. Jadi, masih relevan juga adanya.
Zai: “Dengan itu saya hanya sekedar mengatakan bahwa bila kita mengikuti pendapat Husserl tersebut maka “apa yang kita tuliskan/kemukakan tentang irrasionalitas & rasionalitas†dalam forum ini, sesungguhnya tidak sama persis dengan aslinya.”
Aku, Jenglot, sependapat dengan Zai, tentu saja kalau kami sama-sama mengikuti “pendapat Husserl†yang diuraikan Signor dalam tulisannya.
Namun aku masih menaruh kesangsian, apa benar Husserl, ketika membicarakan “hijau†merujuk pada “hijau yang asli†seperti dikemukakan Signor ? Barangkali yang sangat kompeten menjawab pertanyaan ini adalah Signor sendiri.
Maka aku, Jenglot, bertanya kembali kepada Signor: “Signor, adakah hijau yang asli ? Kalau ada, tunjukkan kepada kita semua, yang sedang ambil bagian dalam diskusi ini.”