Medan, (Analisa)

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Kepulauan Nias (Formapnis) menyatakan penolakan tegas mereka jika Kabupaten Nias bergabung ke Provinsi Tapanuli (Protap). Penolakan itu mereka sampaikan dalam aksi unjuk rasa yang mereka gelar di gedung DPRD Sumatera Utara, Kamis, (9/10) pagi.

Pimpinan aksi Bowonama Telaumbanua dalam orasinya menyebutkan, ditinjau dari aspek geografis Kepulauan Nias pada kenyataannya tetap menjadi daratan yang abadi dan berjarak dengan Protap. Kepulauan Nias yang terpisah dan terpencil juga dilingkari oleh samudera luas yang memiliki sejarah, kultural, dan sistem sosial yang pasti berbeda dengan Protap.

“Karena tidak sedaratan dan dipisahkan lautan, janganlah dipaksakan Kepulauan Nias bergabung dengan Protap. Biarkanlah Kepulauan Nias tetap berdiri sendiri,” ujarnya.

Ia mengatakan, konsentrasi pembangunan dan pemberdayaan Kepulauan Nias telah sesuai dengan Undang-Undang N0. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Karenanya elit politik jangan terus memaksakan penggabungan Kepulauan Nias dengan Protap. “Hendaknya dipikirkan apakah penggabungan tersebut representatif atau tidak. Jangan mengklaim bahwa keputusan yang diambil sudah merupakan aspirasi rakyat,” katanya.

Ketua Komisi A DPRD Sumut, AM Siregar, ketika menerima perwakilan mahasiswa mengatakan kabupaten yang direncanakan bergabung dengan Protap hanya Kabupaten Nias Selatan, bukan Kepulauan Nias secara keseluruhan.

Namun demikian, menurut dia, dewan tetap akan menyampaikan aspirasi Formapnis kepada Menteri Dalam Negeri. “Besok (Jumat, 10/10) Komisi A dijadwalkan bertemu Mendagri di Jakarta. Jadi aspirasi saudara-saudara akan kita sampaikan agar dijadikan pertimbangan,” katanya.

Selain itu ia juga menyarankan agar aspirasi tersebut juga disampaikan ke DPRD Kabupaten Nias Selatan. “Biar para wakil rakyat di daerah tahu ada warganya yang tidak setuju penggabungan Kabupaten Nias Selatan ke Protap,” ujarnya. (Analisa Online, 12 Oktober 2008)

Facebook Comments