Leluhur Bugis Orang Nias

Oleh: Victor Zebua

Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).

Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.

Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.

Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.

Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.

Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”

Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.

Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.

Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.

Elemen Bugis
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).

Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.

Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.

Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.

“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]

Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).

Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.

Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro & Wiradnyana, 2007: 26).

Orang Maruwi
Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.

Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.

Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.

Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).

Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?

Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).

Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.

Mado Maru
Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).

Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “kegisi monro sore’ lopie’, kositu tomallabu se’ngereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.

Bacaan

  1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Danandjaja, J. & Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004
  7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi & Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004
  8. Koestoro, Lucas Pratanda & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007
  9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005
  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979
  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007
  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007
  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995
Leave a comment ?

175 Responses to Leluhur Bugis Orang Nias

  1. Umbu S. says:

    Tulis Pak Siamir:

    “Perlu diingat bahwa org tua Tuada Daeli berasal dari Cina Selatan (Yunan) mulai dari nenek moyangnya berimigrasi di pulau Nias sekitar 3500 tahun yang silam.”

    Kalau begitu bukan Tuada Daeli orang pertama di Nias, tetapi nenek moyang tuada Daeli yang sekitar 3500 tahun lalu telah berimigrasi di Nias. Tetapi mengapa Pak Siamir dalam tulisan terdahulu selalu menyebut Tuada Daeli merupakan leluhur pertama orang Nias?

    Penjelasan Pak Siamir kok seperti jadi rancu?

    Ini berita baru dan ini baru berita. Kalau boleh tanya: di buku mana kisah itu ditulis?

    Salam,

    Umbu S.

  2. Sin Liong says:

    Bang Umbu S. menarik sekali “hitungan generasi” Anda (komen #68].

    Di komen #2 Bapak Siamir Marulafau, Drs.,M.Hum menulis: “Marulafau dan asal usul keturunan asli orang Nias karena ada tambo (Terombo). Keturunan asli orang Nias Dari Mado Daeli Sampai pada Kami sekarang ini sebanyak 40 keturunan dan apabila diperhitungkan 40 x 65 umur manusia berarti 2600 tahun yang silam sama dengan usia Dynasti Tang (Cina)…”

    Acuan hitungan Pak Siamir 1 generasi = 65 thn. Di komen #4 saya infokan hitungan 1 generasi lazimnya tiap 25 thn, sementara Dinasti Tang adanya thn 618-907 [Dorothy Perkins 1999]. Kita tak masalahkan generasinya ada 40 [belakangan direvisi Pak Siamir jadi 47], yg diwacanakan angka 65 thn tsb.

    Hitungan generasi bukan soal lamanya usia hidup seseorang [dlm hal ini yg jadi Induk atau awal keluarga], tapi soal kapan dia punya keturunan [= filial] sebut F. Seorang punya anak [= F-1], cucu [= F-2], cicit [= F-3],… dst. Umpamanya si Induk punya anak saat dia berumur 25 tahun [terserah entah sampai berapa lama dia hidup], maka generasi pertamanya muncul dlm tempo 25 tahun.

    Kalau anaknya [F-1] juga punya anak saat F-1 berumur 25 tahun, maka generasi kedua dari si Induk yaitu cucunya [F-2] muncul dlm tempo 50 tahun. Begitu seterusnya yg digambarkan sbb:

    Induk – lahir thn 1900 (umur 25 thn dia punya anak – menghilang terserah kapan)
    F-1 – lahir thn 1925 (umur 25 thn F-1 punya anak – menghilang terserah kapan)
    F-2 – lahir thn 1950 (umur 25 thn F-2 punya anak – menghilang terserah kapan)
    F-3 – lahir thn 1975 (umur 25 thn F-3 punya anak – menghilang terserah kapan)
    F-4 – lahir thn 2000 (umur 25 thn F-4 punya anak – menghilang terserah kapan)
    F-5 – lahir thn 2025 (umur 25 thn F-5 punya anak – menghilang terserah kapan)
    → dan seterusnya

    Acuannya “rerata beranak umur 25 thn”. Nahh… kalau lebih cepat lagi kawin [cepat punya anak], umpama punya anak umur 20 thn, jarak waktu antar generasi pasti semakin pendek [sekalipun usia harapan hidup tambah lama]. Tapi yg lazim dipakai angka 25 thn itulah.

    Hitungan generasi Pak Siamir yg 65 thn itu seolah seseorang berganti generasinya [punya anak] pada umur 65 tahun. Jadi hasil hitungannya bisa panjang dan lama.

  3. Umbu S. says:

    Sin Liong: “Hitungan generasi bukan soal lamanya usia hidup seseorang [dlm hal ini yg jadi Induk atau awal keluarga], tapi soal kapan dia punya keturunan [= filial] sebut F.”

    Saya pikir itu yang saya maksud (atau minimal tidak jauh berbeda):
    1900 – 1950 (generasi yang lahir tahun 1900 – menghilang tahun 1950)
    1925 – 1975 (kurun waktu hidup keturunan generasi yang lahir tahun 1900

    Saya belum membaca cara hitungan generasi yang baku, contoh saya adalah contoh rekaan saya sendiri yang saya pikir tidak jauh beda dari definisi yang baku itu. Dalam contoh saya, keturunan dari generasi yang lahir pada 1900 – 1950 mulai muncul pada tahun 1925 (artinya: dalam usia 25 tahun, generasi 1900- 1950 telah memunculkan generasi barunya).

    Pernyataan saya: “Menurut saya pun, angka hitungan 1 generasi bisa ditambah dari 25 (menurut perhitungan sekarang menjadi 30 tahun, dengan asumsi manusia modern bisa hidup lebih lama)”

    bisa direvisi menjadi:” … dan kawin pada usia lebih tua dari pada para leluhur kita.”

    Hitungan generasi versi Pak Siamir bisa juga benar adanya apabila diandaikan leluhur pertama orang Nias berumur panjang, kayak yang di dalam Kitab Perjanjian Baru, 100 – 120 tahun, bahkan ada yang sampe 900 tahun.

    Salam,

    Umbu S.

  4. Menrt Bapak Drs.Siamir Marulafau,M.Hum [#70] “…Bapak Tuada Daelilah yg berhasil membuka peti tst dan kawin dgn anak Raja itu,kemudian Membawa istrinya itu ke pulau Nias dgn mempergunakan perahu dan berdiam di Talu Idanoi yang kemudian memberi nama anaknya “Daeli” merujuk pada nama Sungai Deli di Sumatera…”

    Wachhh… Nama Deli baru ada abad-17… muncul dlm Daghregister VOC di Melaka April 1641 (ditulis : Dilley, Dilly, Delli, Delhi) merujuk Delhi (India) asal Gocah Pahlawan.

    Menrt Hikayat Deli prahu Muhammad Dalik (putra raja India) karam didekat Kuala Pasai (Aceh) saat Sultan Aceh repot menalukkan musuh Dalik berhasil menumpasnya. Sultan menunjuknya sbg Laksamana Aceh gelar Kud Bintan. Lalu dia diangkat jadi Gocah Pahlawan (pemimpin pemuka Aceh & raja-raja taklukan Aceh) dan akhirnya dibukanya negeri baru di Sei Lalang Percut, jadi wkl Sultan Aceh diwilyh eks Kerajaan Haru utk menumpas sisa pasukn Haru dukungan Portugis & menyebarkn Islam. Th 1632 dia menikahi Puteri Nang Baluan beru Surbakti adik raja Sunggal Datuk Itam Surbakti. Th 1669 anaknya nama Tuanku Panglima Perunggit mendirikan Kesultanan Deli.

  5. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Yaahowu,Pak,Umbu,Comment dan pertanyaan anda bagus sekali.Nah,dlm terombo Mado Marulafau,Tuada Daeli dianggap sebagai leluhur pertama karena Tuada Daelilah org yg start pertama memberikan keturunan dan marga serta mado di pulau Nias walupun ada Bapaknya atau nenek moyangnya berimigrasi di pulau Nias pada waktu itu dan hanya dianggap sebagai ancestor keatas.Kalau soal buku anda tanyakan,perlu dijelaskan bahwa dasar untuk menelusuri ini berdasarkan terombo Mado Marulafau, dan Sejarah tuturan leluhur Mado Marulafau dari satu generasi kegenerasi berikutnya.Ini merupakan tuturan secara berantai dari leluhur kekakek,dan dari kakek ke cucu sampai pada cici,umpanya sampai pada generasi kami sekarang.Contohnya ; tuturan ngaete dari Tuada Daeli ke Tuada Fau(no.26) dan sampai pada leluhur kami di pulau Hinako/p. Bawa,yaitu Tuada Balugu Hili,dan sampai pada Rajo Makuto,dan kakek saya dan sampai pada org Tua saya, Mdd.Chatam Marulafau dan sampai pada saya,dan akan saya tuturkan meninggalkan wasiat dan amanah serta buku terombo dan sejarah akurat mengenai terombo itu pada anak dan cucu saya secara estafet.Maka dalam forum ini,untuk menelusuri asal usul org Nias itu,lebih baik tidak mempergunakan buku-buku karangan karena dikwatirkan akan menyimpang dari garis surat ngaete dan wasiat serta amanah leluhur.Terombo Mado Marulafau mencoba meluruskan kembali apabila ada kesimpang siuran ttg asal usul,keturunan org Nias apalagi saya juga seorang suku Nias asli,dan nampaknya apa yang dikatakan oleh Pak. Saro,dan dkk, ada kemiripan dgn surat terombo kami Mado Marulafau degan catatan surat ngaete pada setia leluhur itu harus sistematis dan tdk boleh direkayasa.Sebagai bukti bahwa Tuda Daeli org pertama di Pulau Nias,gbr.kuburan Tuada Daeli pernah dilihat di Pekan Raya Sumatera Utara,bbrp thn yg silam tetapi sekarang entah kemana itu foto disimpan ???.Saya cari-cari tapi tidk ada yg tahu di sana.Terimakasih.

  6. Drs. Siamir Marulafau, M.Hum says:

    Maaf,Sdr. Norododo, Delli yg anda maksud pada commet anda itu sangat berbeda dgn Daeli yang saya paparkan. Deli yang anda maksud itu bisa saja benar selaras org India Delhi dan suku lainnya datang ke pulau Nias pada abad ke 17.Sedangkan Daeli yang dimaksud pada forum diskusi ini muncul di Pulau Nias pada abad ke 9.Tolong jangan diinterpretasi dgn buku karangan yg menyimpang dari surat ngaete atau terombo dari suatu Mado atau Marga.Saohagele.

  7. Buat Bapak Drs.Siamir Marulafau,M.Hu, klau nama/istilah “Deli” saja baru dikenal abad-17 bagaimana sudah ada yang namanya “Sungai Deli” 3500 tahun silam ketika ‘Bapak Tuada Daeli memberi nama anaknya “Daeli” merujuk pada nama Sungai Deli di Sumatera’? Saya pun bertanya-tanyalah Pak…

  8. sadar giawa says:

    makin hangat dikusi.untuk saudaraku Marute Ghania orangkita berdarah india suda lamatak online.janngan-jangan Marute adapunya hubungandarah sama Dalik anakraja india yang dihikayat deli itu >atao bargkali pulak Maruta sibuk mempelajari ttg dogma dan teori darwin. >untuk bang Norododo betullah sungai sejakdulu suda ada tp diapunya nama Sei Deli baru diabad XVII >darimana pulak bapaknya tuada Daeli smpai dapattahu sungai itu adapunya nama Deli sejak ribuantahun dulu ya? terimakasih.selamat melanjutkan diskusi…yaahowu fefu!

  9. Umbu S. says:

    Bisa jadi tarombo Marulafau ini benar, tetapi penjelasan Pak Siamir semakin membuat saya susah memahaminya.

    Maksud saya begini: kalau sudah ribuan tahun sebelumnya ada manusia di Nias, yaitu ‘ancestor ke atas’ dari Tuada Daeli, itu berarti masuk akal kalau kita berasumsi bahwa Tuada Daeli bukan satu-satunya leluhur yang menurunkan keturunan di Nias. Pastilah ada keturunan lain dari ‘ancestor ke atas’ Tuada Daeli itu, selain Tuada Daeli seorang. Siapa mereka? Apakah mereka ini sebagian dari kita Ono Niha saat ini?

    Mohon penjelasan Pak Siamir.

    Umbu S.

  10. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    yaahowu,Sdr,.Norododo,dan Giawa,hati-hati dgn bahasa org tua kita dahulu,ttg “merujuk pada nama sungai Deli”bukan berarti diberi nama Tuada Daeli oleh Bapaknya berdasarkan nama sungai Deli, apakah nama sungai Deli itu sudah ada pada 1200 thn yg silam atau di abad ke 17, tetapi perahu yang digunakan berlayar ke pulau Nias dihanyutkan melalui sungai Deli,yg dikenal oleh generasi sekarang.Terimakasih

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>