Leluhur Bugis Orang Nias

Oleh: Victor Zebua

Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).

Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.

Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.

Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.

Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.

Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”

Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.

Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.

Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.

Elemen Bugis
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).

Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.

Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.

Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.

“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]

Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).

Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.

Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro & Wiradnyana, 2007: 26).

Orang Maruwi
Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.

Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.

Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.

Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).

Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?

Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).

Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.

Mado Maru
Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).

Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “kegisi monro sore’ lopie’, kositu tomallabu se’ngereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.

Bacaan

  1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Danandjaja, J. & Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004
  7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi & Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004
  8. Koestoro, Lucas Pratanda & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007
  9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005
  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979
  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007
  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007
  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995
Leave a comment ?

175 Responses to Leluhur Bugis Orang Nias

  1. Saro says:

    Rencana Pak Teguh Marundrury mencari dokumen Rapat Hadat Öri Hinako ke kep. Hinako patut diapresiasi. Apalagi berhubungan pencocokan tambo Maru yang dipunyai Bapak, tambo tersebut ditandatangani asisten demang Yo’eli Hulu pada tahun 1937. Sebagai tambahan informasi silsilah Maru telah dicatat 1 generasi sebelumnya. Baloegoe Samaenoe menuturkan silsilah Maroe van de Hinako-Eilanden pada civiel gezabhebber Lavermann pada tahun 1913, Lavermann mencatatnya. Dokumen tersebut dibuat saat Faoedoebawa menjabat tuhenöri, dapat dilacak di KITLV Leiden Belanda. Semoga bermanfaat. Yaahowu!

  2. Trims atas infonya Pak Saro, saya akan berusaha menelusurinya nanti.
    Sepengetahuan saya, bbrp dokumen ttg Kakek Buyut kami (Alm.)Faoedoebawa telah diarsipkan oleh Kakek kami (Alm.)Dalihuku dan skrg kemungkinan besar disimpan oleh saudara sepupu kami diHinako yakni abang Demitrius(A.Viko) Marundruri.
    Hasil temuan sya nanti akan saya coba ekspos pada forum ini kelak.
    Buat Bpk.Victor Zebua, salam kenal dari kami Kel.Besar Ina Fena Marundrury diBekasi/Jakarta.
    Bbrp hari yg lalu Gasiwa kami Kakak I.Juang Zebua sempat menginap dirumah.
    Salam dari Ketua PMHS kami, abang Tiberius Zaluchu. Saya mendapat info ttg anda dari beliau.
    Sampai jumpa..

  3. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Wah, makin hangat,yaahowu Pak.Teguh Marunduri,Pak.Victor Zebua hanya menulis dan mengetahui ttg Mado di pulau Nias berdasarkan Buku A. Wa’omasi,tetapi sangat berbahaya dlm menelusuri Mado -Mado yg ada di pulau Nias.Buku ini punya kelemahan,umpanya,Mado ngaete Duada Daeli,kok bisa muncul Daeli,Gea,Humendru ???.Sistematika silsilah ngaete yg saya paparkan sesuai dan mirip dgn Pak. Saro,dkk.Terus terang saya katakan bahwa terombo yg anda tulis itu adalah benar dan itu juga merupakan leluhur org Nias juga.Perlu diingat bahwa Mado Marulafau berasal dari Fau,anak no.6 dari Tuada Mangaraja Gea,cucu Duada Daeli(no1),bukan Hia,dll.Hia berasal dari Ho Ana’a yg memakai gelar dr leluhurnya bernama ;Fole Ana”a,(no.3),Lesu Ana’a (no.5),Saku Ana’a(no.6).Perlu diingat bahwa Mangaraja Gea memp.9 org anak,yaitu ; Farasi,Mangaraja Embo,Gemi,Wewe Sesolo,Garina Lawo,Fau,Nuza Niha,Owo,SauseLama.Sauselama kawin dgn Ho Ana’a menurukan keturunan mulai dari Laoya{Mado Hia) dan seterusnya.Pokoknya diskusi ini bertujuan mencari kebenaran dari mana asal usul org Nias.Kita harapkan jangan ada karangan atau buku-buku yg menyimpang supaya masalah ini tuntas,dan tidak dikatakan org Nias berasal dari langit, atau sesuatu ungkapan yg tidk baik didengar.

  4. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Asal Usul Org Nias Ditinjau Dari Terombo Mado Marulafau. Dalam terombo Mado Marulafau, dikatakan bahwa asal keturunan asli orang Nias pada mulanya dari Yunan dan bertempat tinggal di Talu Idanoi yang mengembangkan mado, dan marga di pulau Nias. Orang pertamanya adalah Tuada Daeli (no.1) beranak Daulu (no.2) beranak Fole Ana’a (no.3),> Sawanagara (no.4) ,> LesuAna” (no.5), Saku Ana’a (no6). SanajaTano (no.7) > Hulu Ana’a (n.8),> HuluMegia (no.9),> KoroisaLangi (no.10),> LalaiGo’o (no11),> BereHili(no.12),> Laimbahore (no.13),>Tewahore(14),>Fal’o Lauru (15), > Saluabaluo (no16), > Tuhenerihenga (no.17), > Siheneowasa (no.18), > Samatelai (no.19), > Tuhazihene (no.20), > Tuhambiza (no.21), > Gowo Isila (no.22) beranak 2 org: Sawaolowinge (lk) dan BurutiLama (pr), dan Batualese (no.23), > Samate Lauru (no.24), dan Mangaraja Cea (no.25) beranak 9 org, yaitu: Farasi, Mangaraja Embo, Gemi (daeli), Wewesesolo, Garina Lawe, Fau, Nuza Niha, Owo dan Sause Lama. Fau (no.26) beranak Silulauru (no.27) beranak 2 org, yaitu: Tuha Lauru dan Tojo Zole (28),beranak Samenehoya (no.29), > Sobawiluo (no.30), > Samneniha (no.31), > Amadaluolangofi (no.32), > Mojo Suse esi (no.33), > Balugu Gandria (no.34), > Belusanereyawa (35), beranak > Tebumbowe (no.36), > Latanda (no.37), >Tuada Taotohesi (no38), beranak 2 org, yaitu: SawaNagara(no39),dan Siwake(Nenek Marunduri),Tuada SawaNagara beranak 2 org, yaitu: Balugu Ifa no.40),dan Balugu Gaudu.Balugu Ifa beranak 3 org, yaitu: IchuMaru (no.41), Ame (Nenek Sobadei Hawa), dan Kalimawa (Nenek Sangahagi M.Duri). Balugu Gaudu beranak 2 org, yaitu: Gaho dan HiliSebua. Ichu Maru beranak Balugu Hili (Raja Bandahara, leluhur Marulafau di p. Hinako (P.Bawa) no.42) beranak Rajo Makuto (Hene Aro) no.43 beranak 9 org, yaitu; Abdul Aziz (no.44), abd.Hamid, Nuruma, Makia, Sahimudi, M.Hafiz, NurKia, Abd.Kadir, Halima. Abd. Aziz beranak Mhd. Chatam Marulafau no45), > Siamir Marulafau, Drs, M.Hum, Dip. Tesol. (no46) beranak Suryaman Marulafau (no.46) beranak Mhd. Ricky Marlafau (no.47)……

  5. Drs. Siamir Marulafau, M.Hum says:

    Sambungan: Berdasarkan silsilah sistematika di atas, maka sdr. yang memiliki terombo, mado, marga, dll mencoba merujuk pd Ngaete Duada mangaraja Gea (no.25) ke bawah, Supaya kita tahu asal usul leluhur masing-masing sampai menurunkan keturunan mado sebanyak 99 atau lebih.versi Mado Marunduri, khususnya dari Bugis, juga leluhur org Nias yang datang di pulau Nias jauh di bawah leluhur Duada Daeli. Diperkirakan bahwa Tuada Daely sampai pada keturunan kami Mado Marulafau adalah berkisar 1200 th yang silam, yaitu pada abad ke 9 Masehi, yang nenek Moyangnya bearal dari Yunan berimigrasi di P. Nias 3.500 tahun yang silam sesuai dengan sejarah dalam terombo Mado Marulafau dan sesuai dengan artikel/penelitian yg dilakukan sebelumnya oleh Ridho Muliadi, Melacak Batu, Menguak Mitos, 6 Feb,2009} Saohagele Maafefu.

  6. M.J. Daeli says:

    Ira talifuso fefu,

    Baru saya ikuti diskusi ini. Sama dengan yang dialami oleh talifuso fefu, diskusi ini menarik bagi saya. Sejarah keturunan keberadaan Ono Niha memang sampai sekarang belum ada satu pendapat. Bahan tertulis dari salah satu sumber, dibandingkan dengan bahan tertulis sumber lainnya sering tidak sejalan dan bahkan bertentangan. Demikian juga bahan-bahan hasil tuturan seseorang. Tetapi itu hendaknya jangan menjadi alasan untuk menghentikan diskusi ini.

    Terus terang banyak hal yang baru kami ketahui dari diskusi ini.

    Kepada Saudara Siamir Marulafau dan talifuso tano bo’o, adalah baik sekali kalau kita menyampaikan bahan tertulis mengenai hal ini. Misalnya : sura nga’oto, hasil Wondrako, dan lain-lain mengenai asal-usul Ono Niha. Benar-benar bahan yang kita ketahui(sebutkan sumber). Hindari penafsiran dulu dari bahan tersebut.

    Kalau bahan-bahan telah terkumpul melalui Situs ini, kita diskusikan. Saya percaya bahwa Niasonline memberi kesempatan seluas-luasnya untuk itu. Saya sendiri akan menyampaikan bahan mengenai Ori Lahomi dengan Tuada Gomi Daeli dengan hukum-hukumnya yang ditetapkan di Fondako (Fondrako terakhir tahun 1990). Kalau semua pihak setuju, saya mulai menulis pada bulan Agustus 2009 karena bahan-bahan ada di Indonesia. Saya baru kembali di Indonesia pada bulan Juli 2009.

    Menurut saya, seandainya kita tidak berhasil menarik benang merah, karena kesulitan teknis atau alasan lain, namun bahan-bahan itu tetap berguna untuk generasi Ono Niha yang akan datang dan para peneliti. Hal ini jauh lebih baik daripada orang luar mencari bahan sendiri (tidak jarang menurut selera tertentu) dan mempublikasikan setelah ditafsirkan sendiri. Kalau Niasonline membuka kesempatan itu, maka ada baiknya menyiapkan rubrik tersendiri. Terima kasih sebelumnya.

    Untuk berbuat yang baik tidak ada kata terlambat.

    Ya’ahowu

    Mathias J. Daeli
    (Ama Ugi)

  7. Redaksi says:

    Bapak Ama Ugi,

    Terima kasih atas komentar yang menyemangati kita semua, Ono Niha. Kami menyambut baik usulan Bapak tentang rubrik tersebut.

    Diskusi mengenai budaya Ono Niha oleh Ono Niha sendiri akan jauh lebih baik, dan semoga diskusi ini mendorong generasi muda kita untuk lebih mencintai budayanya.

    Buat Bapak/Ibu yang lain, silhakan meneruskan diskusi dalam suasana kekeluargaan / persaudaraan Ono Niha.

    Salam,

    Redaksi

  8. Victor says:

    Ya’ahowu!

    Seandainya diskusi kita ini menambah luas dan dalam pemahaman kita tentang masyarakat Nias, saya merupakan salah seorang yang berbahagia di antara para generasi muda Nias. Saya melihat para orangtua (sesepuh) kita mulai ambil bagian untuk memberi kontribusi perihal topik yang tengah kita diskusikan, untuk selanjutnya dapat dipelajari oleh (dan diestafetkan kepada) generasi penerus masyarakat Nias. Kepada berbagai pihak, terima kasih untuk segala pemikiran, waktu, dan energi dalam merespon artikel ini.

    Buat Bapak Ama Rubeno Marundury dan Keluarga Besar Ina Fena Marundrury di Bekasi/Jakarta, salam kenal kembali. Kita merupakan suatu keluarga besar. Ina Talu Ina Juang Zebua, dan Bung Tiberius Zaluchu, juga keluarga saya. Ketika saya bertugas ke Atambua, saya mengunjungi keluarga Ibu Marundrury di Kupang. Ibu Marundrury bercerita betapa Bapak Marundrury (alm.) senantiasa bangga sebagai Orang Nias. Saya merasakan getaran itu menular pada saya. Kita semua keluarga dan bersaudara!

    Shalom!
    Victor Zebua (Ama Angelin)
    Yogyakarta

  9. sadar giawa says:

    untuk bapak Siamir pada keteranga bapak saya blum begitujelas. >katanya bapak ditanggapan no.#2 sudah sampai pada bapak sekarangini ada sebanyak 40 keturunan. >sedangkan bapak bilang ditangapan no.#54 bapak sudah keturunan no46.kena apa ada terjadi perbedaan?mohon dijelaskan sekalilagi bapak.selamat melanjutkan diskusi.yaahowu.

  10. Saro says:

    Saat disampaikan pembanding mengenai silsilah versi risalat Umanö (1982) yg dikumpulkan Drs. Haji A.M. Zebua dkk. (resp. 38), Bapak Drs. Siamir Marulafau, M.Hum mengutarakan hal itu mirip sekali dengan tarombo mado Marulafau (resp. 39, 53). Akan tetapi buku S. Zebua (Ama Wa’omasi) berjudul ‘Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha’ (1995) dinilai sangat berbahaya dalam menelusuri mado-mado yg ada di pulau Nias karena punya kelemahan (resp. 53).

    Sebagai tambahan informasi ‘risalat Umanö’ disusun oleh Drs. Haji A.M. Zebua, S. Zebua, dan A. Harefa, SH (3 org). S. Zebua (Ama Wa’omasi) turut menulis ‘risalat Umanö’, dan buku ‘Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha’ punya banyak kemiripan dengan isi ‘risalat Umanö’. Semoga bermanfaat dalam ‘sumbang sadap saran’ [istilah ini diperkenalkan oleh Bapak M.J. Daeli]. Yaahowu!

Reply to Jax ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>