Leluhur Bugis Orang Nias

Oleh: Victor Zebua

Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).

Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.

Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.

Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.

Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.

Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”

Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.

Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.

Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.

Elemen Bugis
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).

Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.

Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.

Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.

“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]

Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).

Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.

Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro & Wiradnyana, 2007: 26).

Orang Maruwi
Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.

Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.

Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.

Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).

Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?

Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).

Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.

Mado Maru
Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).

Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “kegisi monro sore’ lopie’, kositu tomallabu se’ngereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.

Bacaan

  1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Danandjaja, J. & Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004
  7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi & Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004
  8. Koestoro, Lucas Pratanda & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007
  9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005
  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979
  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007
  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007
  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995
Leave a comment ?

175 Responses to Leluhur Bugis Orang Nias

  1. Benny Lase says:

    Bisa minta tolong Pak Sibuea lagi nih ? 🙂

    Pak tz harefa menulis 1 May 2009: “Didlm umanõ leluhur Ononiha 1 saja: Tuha Ara Daulu ma Tuha Bawondrege Gõlia ngambatõnia ya’ia gaweda Sowulugeu Danõ Yawa datang dari Arab ma’uwu mereka nama Daeli bukan Chineese tak ada kaitan dgn dynasty tang tp menrut umanõ keturunan kabilah Arab.”

    Artinya, menurut salah satu hikayat Ono Niha, nenek kami itu (Sowulugeu Danõ Yawa) datang dari Arab.

    Padahal menurut Pak Sibuea: “jadi logikanya orang nias bukan berasal dari arab,atau mesir (mesir bukan arab) tetapi sudah dari sejak zaman dahulu kala beradaptasi secara antropologis dengan nias”

    Terima kasih atas penjelasannya. Mohon sering bersama kami 🙂

    Mauliate dan Horas

    Benny Lase

  2. Keturunan Bugis yang di Nias itu gak dapat ditemukan lg silsilahnya,coz sdh campur dengan semua marga Nias

  3. zul azmi sibuea says:

    @pak Benny Lase,
    pendekatan analisis yang saya gunakan adalah pendekatan etimologis atau asal kata, oleh karena itu tidak akan menjawab segera pertanyaan pak Benny siapa, kapan duluan tiba nias. misalnya seperti bapak RAHMAN HALAWA yang tidak sabar dan buru-buru ingin mengetahui siapa, kapan nias dihuni manusia pertama.
    pesan pertama yang ingin saya sampaikan pada pernyataan diatas adalah : terdapat akulturasi antara pendatang arab (arab bisa datang berkali-kali) dengan penduduk yang sudah lebih dahulu bermukim dinias (tidak ada informasi apakah mereka yang bermukim itu berasal dari cina, arab, atau bugis- ini masih gelap).
    satu hal yang harus dimengerti lebih awal pak Benny dan pak RAHMAN HALAWA , bahwa kebenaran dalam ilmu humaniora tidak pernah mutlak, kita hanya bisa mencari mana yang lebih logis menurut pemikiran kita saat ini, dan kita membiarkan logika itu dikoreksi orang lain untuk memperoleh kebenaran yang lebih sahih, kebenaran yang kita temukan harus kita biarkan dan relakan terbuka untuk dikoreksi.
    bagaimanapun saya keep pertanyaan pak Benny, sambil berolah fikir dengan beberapa referensi mengenai “ono niha dan budayanya ” yang saya miliki.
    saohagoeloe
    zul azmi sibuea

  4. Mario says:

    Logika ”wahai. hayu…u Naaas” bang Zul Azmi Sibuea bs terjadi sekitar seribu th silam waktu saudagar Arab ketemu org di Nias tp akhirnya lari tunggang-langgang ninggalin Nias karna mendengar mangai högö (berita Ajä’ib al-Hind). Kenapa? Bs aja dong ditafsir kapan saja terjadi, karna gak ada penjelasan kapan dan siapa yg bilang ucapan itu. Sulayman yg 851M pun ketemu org di Nias tp dia gak bilang ”wahai. hayu…u Naaas”.

    Bang Zul : “…penduduk yang sudah lebih dahulu bermukim dinias (tidak ada informasi apakah mereka yang bermukim itu berasal dari cina, arab, atau bugis- ini masih gelap).”

    Macam mana pula tau bang Zul ada penduduk sudah lebih dulu bermukim di Nias dari semua org yg telah disebut dlm diskusi ini??? Karna itulah diskusi jd meriah tp ruwet, selalu diselimuti ketidaktahuan dan sok tau padahal hanya menduga-duga: ada yg lebih dulu lg, ada yg lebih awal lg, ada yg kedudukannya lebih pertama atau nomor sada (numero sara). Lalu dicari jawabnya: ada yg bilang mereka itu Ancestornya Daeli, ada yg bilang mereka itu org Arab; kedua pendapat mengklaim tuturan leluhur atau umano yg kalau diingkari kena kualat . Pertanyaan krusialnya: kalau sudah tau siapa yg paling awal lalu untuk apa dia kita ketahui? Apa manfaatnya?

  5. zulfikar zega says:

    Hahahhha… se7-se7 bgt diskusi ini meriah, rame, sekaligus ruwet. nambahin info bang Mario ada lg neeh ‘jawabnya’… ada yg bilang leluhur Nias: ono mbela (niha safusi), nadaoya (niha sebua gazuzu) & lani ewõna (ono niha) … alamak puang 🙂

    ref. http://melayuonline.com/culture/?a=b1B5IC9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=&l=ono-mbela-nadaoya-dan-lani-ew%C3%B6na-leluhur-orang-nias

  6. Benny Lase says:

    Terima kasih Bapak Sibuea. Saya semakin tercerahkan dengan penjelasan Bapak. Terima kasih juga atas perhatian kepada asal-usul orang Nias … kehadiran Anda untuk membawa pencerahan atau sekurang-kurangnya menambah informasi yang membawa kita kepada level pemahaman yang lebih tinggi merupakan suatu kehormatan bagi kami Ono Niha.

    Apakah Bapak pernah membaca buku Asal Usul Masyarakat Nias karangan seorang misionaris Jerman bernama Pastor Johannes? Dalam buku itu ada sedikit persinggungan dengan logika Bapak HAM Zebua yang mengaitkan asal usul orang Nias dengan Arab. Saya sendiri tak memiliki buku itu sekarang (tercecer). Namun, seingat saya, semua logika Bapak HAM Zebua yang diungkap dalam buku itu terpatahkan oleh penjelasan P. Johannes (maaf, saya sendiri sudah lupa detailnya). Seandainya Bapak sudah baca, apakah Bapak simpati dengan logika Bapak HAM Zebua ?

    Saya juga teringat dalam buku itu bahwa seorang bernama Sulaiman mengungkapkan kisahnya tentang penduduk yang dijumpainya di Nias sebagai yang cantik-cantik. Kisah itu, sebagaimana disinggung kawan-kawan di depan merupakan bukti bahwa orang arab dulu pernah berkunjung ke Nias. Tapi itu sekaligus memberi petunjuk kuat kepada kita bahwa Sulaiman (orang Arab) melihat penduduk Nias yang bukan orang Arab. Kayaknya Sulaiman tak berkisah bahwa ia menemukan penduduk yang mendiami Pulau Nias sebagai orang-orang yang memiliki kemiripan dengan orang Arab. Penuturannya mengesankan bahwa ia menyaksikan suatu budaya baru, yang lain dari yang dia temukan di negerinya.

    Maka menjadi tanda tanya bagi saya: apa peran Sulaiman dalam logika berpikir yang mengatakan asal usul Ono Niha dari Arab? Apakah menurut Bapak, kedatangan Sulaiman di Nias lebih memperkuat dugaan bahwa asal mula Ono Niha dari Arab; dan karena tidak ada catatan sejenis tentang kedatangan orang Cina maka kecil kemungkinan Ono Niha berasal dari Cina?

    Mengenai huruf ‘f’, saya bisa menerima logika Bapak. Saya kebetulan punya seorang temen Arab dan setiap kali ia menelfon keluarganya di Mesir (kayaknya Mesir Arab juga lho Pak), gak pernah kudengar bunyi ‘p’ dalam pembicaraannya (bisa jadi karena saya gak tahu bahasa Arab ya). Tetapi dalam Bahasa Nias, ada bunyi yang rasa-rasanya tak pernah kudengar dari percakapan teman tadi: ndr, mb, ng .. yang ini cukup umum dikenal dalam kata-kata Bahasa Nias. Bisa jadi ‘f’ tadi pengaruh Arab, tetapi bagaimana denga bdr, mb, ng itu ? Dari mana pula datang pengaruh ini ke dalam Bahasa Nias? Mengapa pula Nias sampai sekarang tidak memiliki bunyi-bunyi ‘asing’ dari sudut Bahasa Nias yang suka kita dengar dalam percakapan orang Arab?

    (Catatan: saya pernah kenal dengan beberapa pengungsi Vietnam di Pulau Galang dulu; dan setiap kali mereka berbicara di antara mereka, saya seakan-akan mendengar percakapan dalam bahasa Nias, padahal saya tidak mengerti artinya. Di pihak lain, setiap kali saya mendengar percakapan telefon teman tadi, saya selalu merasa ‘asing’ dengan logat, aksen, atau apalah namanya yang keluar dari percakapan teman itu.)

    Soal “ana annaas” dan beberapa kata Arab lain yang Bapak sebutkan di depan, akan saya tanya dulu ya ke teman itu. Nanti kuinformasikan dalam forum ini.

    Agaknya Bapak cukup terpana dengan masalah huruf ‘f’, bagaimana dengan kemiripan sosok? Saya mengatakan, saya lebih cenderung menduga Ono Niha berasal dari daratan Asia karena kemiripan sosok itu, ketimbang datang dari Arab sana. Apakah saya boleh mengedepankan logika itu juga dalam menelusuri asal-usul orang Nias ? Kalau tidak, apa yang salah dalam logika saya kira-kira?

    Sekali lagi, terima kasih atas sumbang saran Bapak; dan tetaplah bersama kami 🙂

    Benny Lase

  7. zul azmi sibuea says:

    @Mario,
    Kalau masalahnya adalah siapa leluhur orang nias pertama, dimana, dan kapan sudah banyak partisipan yang lain mengambil sudut pandang itu, saya kira hampir setiap orang. Saya tidak ingin masuk pada posisi untuk menambah jumlah sudut pandang yang ada itu. Sekali lagi saya nyatakan disini, sudut pandang yang ingin saya geluti adalah etimologis, ini akan membebaskan saya dari pertanyaan eksakt seperti diatas.
    Bagi saya sementara ini dengan etimologis, ingin menjelaskan bahwa terdapat signifikansi keterkaitan antara nias dengan arab, dengan perkataan cukup saya mengatakan bahwa ” terdapat akulturasi antara pendatang arab (arab bisa datang berkali-kali) dengan penduduk yang sudah lebih dahulu bermukim dinias (tidak ada informasi apakah mereka yang bermukim itu berasal dari cina, arab, atau bugis – ini masih gelap).”
    Dengan kalimat didalam kurung diatas, saya ingin menyatakan bahwa saya berposisi sama dengan semua pencari kebenaran mengenai asal-usul leluhur pertama orang nias . Bahkan bapak P. Johannes M.Haemmerle , pun tidak menulis bukunya dengan judul “Asal usul Leluhur Nias” melainkan “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi”.
    Makanya diatas saya sudah bilang jangan buru-buru, mau cepat-cepat ketemu leluhur orang nias, tidak akan bisa dilakukan karena infrastruktur penelitian untuk itu tidak kita kuasai dinegeri ini, artinya pencarian leluhur orang nias tidak dilakukan dengan semangat yang hampir sama dengan penggalian peradaban mesir kuno misalnya, atau babilonia dan hamurabbi misalnya. Dari zaman belanda kebanyakan dilakukan sambil membimbing rohani rohani dalam kegiatan gereja. saya kira kitalah yang menganggap itu berharga, kita yang membuat dan memberi komen lah yang menganggap itu bermanfaat kalau ditemukan, kita yang membuatnya penting.
    Justru karena belum ada penggalian fosil yang intensif itulah maka kemudian bapak kita
    P. Johannes M.Haemmerle , menggunakan fosil “budaya” yang terekam dalam tradisi lisan atau Hoho, senandung mengenai sejarah, mitos, budaya dalam bukunya ” Nidunoe-duneo ba Noeri Onolalu”.

    penjelasan diatas adalah soal frame, soal bentuk soal cara, metodologi. cukup sampai disitu , kemudian ke isi (etimologi).
    Bila dikatakan bahwa gomo adalah mukim yang cukup tua, maka kemungkinan gomo tentu berasal dari kata omo yang artinya rumah. penambahan kata “g” pada omo menjadi “gomo” adalad gejala yang sam dan berlaku diseluruh dunia.
    omo adalah rumah, dimana kita betah dan nyaman tinggal didalamnya. hanya karena kita hidup, nyaman, dan diberkati tuhan maka kita menjadi homo (latin) yang berarti manusia, misdalnya homo erectus, homo sapiens. di daratan eropa kata omo digunakan untuk menyebutkan gedungnya dalam bahasa turunan dari latin seperti itali, spanyol seringkali ditulis dengan “Uomo”, tetapi turunan bahasa yang sekeluarga dengan inggeris menuliskannya dengan “home” yang berarti rumah atau betah. masih kata yang selain bermakna adalah rumah, tempat tinggal, tempat yang nyaman dapat pula berati ladang seperti apa yang dimengerti oleh bahasa sebagai oma dan bahasa batak menyebutnya “hauma” yang berati ladang. Jadi rumah yang berubah menjadi hauma dalam bahasa batak adalah tempat tinggal, tempat betah, tempat berladang didekat-dekat rumah. Dari penjelasan diatas saya melihat akulturasi nias dengan batak, bugis, melayu serta seluruh peradaban sejauh ini tidak mengisolasi nias karena jaraknya sangat terpencil di samudera hindia.
    Berikutnya adalah penyebaran tempat tinggal atau mekarnya pemukiman serta pendirian sebuah kampung yang kemudian disebut “Oeri”. Oeri saya berasal dari bahasa Arab Huriyah, menjadi Uriyah. Kata ini berarti kelompok manusia, dan dalam terminologi moderen berarti negara. kata ini kemudian diadopsi oleh gereja dalam bentuk “Huria Kristen Protestan” misalnya. Huriyah dalam bahasa arab ditandai dengan h dan r, sedangkan h yang ada dibelakang kata hanya penanda kata dalam bahasa untuk benda betina. sedangkan da;am penyebutan seringkali h pertama menjadi melemah dari huriaya menjadi uriya atau ueri saja bagi pronouns atau menurut lidah masyarakat nias.
    jadi demikian bapak-bapak tentang gomo dan ueri.
    saohagoeloe
    zul azmi sibuea

  8. zul azmi sibuea says:

    statement saya yang pertama adalah : “logikanya adalah orang arab menemukan manusia di nias seraya, takjub heran dan takjim sebelum mereka singgah dengan menyebutnya , wahai. hayu…u Naaas”, yang artinya “hei ada orang”.
    jangan disalah artikan bahwa saya mengatakan bahwa “leluhur nias berasal dari arab” , saya hanya bergelut denga kata, pak Johannes Maria Haemmerle dengan semangat yang sama juga bergelut dengan kata, yaitu Hoho atau senandung tradisi lisan. hanya itu deposit atau fosil yang dapat kita gunakan sementara ini.

  9. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Terimakasih Tz,Harefa, Saya mempergunakan hitungan 65×40 =26.00 thn yg silam hanya dalam perkiraan umur manusia pada tulisan saya yg lalu sedangkan perhitungan antara jarak generasi kegenerasi berikutnya pada masa sekarang adalah 25 ke 30 th bukan cenderung pada Bp.Umbu dan Bp, Sin liong.Perhitungan ini juga dibenarkan oleh seorang pakar Sejarah,Bp.Drs.Wara Sinuhaji.M.Hum(Dosen Senior USU).Bbrp pertanyaan yg saya ajukan pada Sdr, ttg Tuda Daeli Sanau Talinga dan Mado Daeli itu blm terjawab. Sedangkan nama-nama leluhur yg anda paparkan ini didasari buku karangan bukan berdasrkan tuturan sejarah dari generasi kegenerasi.Kemungkinan nama-nama leluhur yg anda paparkan ini berada dibawah nama Mado Daeli karena keturunan itu cenderung memakai Tuha…..dst,dalam terombo dan sejarah terombo mado Marulafau kelihatan bahwa ada satu nama lagi yg blm anda paparkan yaitu Tuha Lalai…dst.Sudah dikatakan sebelumnya bahwa diskusi dlm forum ini tdk boleh memakai buku karangan dan pernyataan karang -mengarang.Kalau kita lihat penampilan org Nias tidak ada yg mirip org Arab tetapi mirip org cina,matanya sipit-sipit dll sebagainya.Motif Megalit,patung dan peninggalan leluhur Nias mirip dgn yg ada di Cina tidak mirip dgn yg ada di Arab.Saya cenderung mengakui bahwa org Arab pernah ke Pulau Nias dalam misi mengembangkan Agama Islam sekitar thn 1675 sesuai dgn artikel sebelumnya.

  10. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Dalam forum ini dikatakan bahwa:1. asal usul Orang Nias berasal dari seberang lautan,yaitu dari daratan Asia(Cina)didasari pada motif dan bentuk peninggalan-peninggalan leluhur dahu yg mirip dgn yg ada di Cina, dan org Nias mirip dgn org Cina ,spt Bpk. Ebener Hia,dan Sdr. Yulianus Harefa,USU, dan gadis-gadis Nias juga mirip Cina(Merujuk pada sejarah terombo Mado Marulafau),2.asal usul org Nias berasal dari seberang lautan,yaitu dari Bugis terbukti pada terombo Mado marunduri(oleh Teguh Marunduri)…..Jacob Daeng(no1)………..(Tuada Laowe Maru,no12) yg meninggalkan Gua atau tegi Laowaru Di TureWodo,G.Sitoli dan Tegi Maru di Pulau Hinako.Adapun asal usul org Nias yg berasal dari seberang lautan yg lainnya, seperti org Arab dalam hal mengembangkan misi agama Islam di pulau Nias, dan juga dari Pulau Sumatera,yaitu Org Padang bermarga Tanjung,Chaniago,dll yg mengikat tali perkawinan pada org Nias dan menjadi penduduk Nias dan menjadi org Nias(Bermado Ono alawe) dan sekalian mengembangkan budaya pesisir berupa dendang dan lain sebagainya.Itulah org Nias bersatu padu dan menjadi satu ikatan dan walaupun memiliki keyakinan dan agama yg berbeda-beda tetapi rukun, begitu juga dgn org Nias yg ada diperantauan.Terus terang saya katakan menelusuri asal usul org Nias sangat sulit kalau didasari pada buku karangan dan penelitian berdasarkan logika hanya sebatas kemampuan pd masa sekarang sedangkan yg yg ditelusuri beribu thn yg silam dan hanya dapat diketahui melalui penelusuran berdasarkan terombo dan sejarah ttg terombo itu dari generasi kegenerasi. Terimakasih, wassalam

Reply to Marute Ghania ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>