Leluhur Bugis Orang Nias

Oleh: Victor Zebua

Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).

Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.

Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.

Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.

Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.

Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”

Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.

Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.

Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.

Elemen Bugis
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).

Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.

Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.

Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.

“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]

Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).

Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.

Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro & Wiradnyana, 2007: 26).

Orang Maruwi
Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.

Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.

Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.

Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).

Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?

Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).

Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja & Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.

Mado Maru
Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).

Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “kegisi monro sore’ lopie’, kositu tomallabu se’ngereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.

Bacaan

  1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Danandjaja, J. & Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004
  7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi & Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004
  8. Koestoro, Lucas Pratanda & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007
  9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005
  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979
  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007
  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007
  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007
  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995
Leave a comment ?

175 Responses to Leluhur Bugis Orang Nias

  1. Jax says:

    Omong kosong, masa anda klaim anda benar 100%

  2. ageex says:

    Duluan mana, Ayam apa Telur????
    si A Jawab : Ayam.
    si B Jawab : Telur.
    si C Jawab : …..bingung??!!

    Demikian juga asal usul orang nias ini…Bpk/Ibu/Sdr/i sekalian, gak akan pernah kita bisa menjawabnya, akan selalu timbul versi yang berbeda-beda. “asal boleh aja usul, tapi usul gak boleh asal”. Jadi ya..saya kira ini semua gak perlu diperdebatkan “wallahu’alam (hanya Allah yang tau siapa manusia yang pertama kali menginjakkan kaki di tano niha”. Saat ini yang penting bagaimana caranya membangun nias itu sendiri (Ekonomi, pendidikan dll). selama ini ja kita lihat sendiri, lapangan kerja di sana sempit bgt…sampk2 banyak yang hengkang dari nias “maaf kata, harus menjadi buruh kerja di tempat lain” demi hidup. Padahal pada kenyataannya, banyak anak2 nias itu yang sudah sukses hidupnya, punya jabatan penting di perantauan, tapi kepeduliannya akan nias itu secara nyata masih kurang. Nias tidak akan bisa maju2..klo yang kita masih sibuk berkutat tentang hal-hal yang sulit untuk dibuktikan.

  3. ageex says:

    jax.. menanggapi sesuatu itu dengan sopanlah!! saya kira, kita semua yang bergabung di website ini adalah orang-orang yang “berpendidikan, dan tentunya berakhlak mulia” tau bagaimana tata cara menanggapi suatu pendapat. Boleh aja anda menyangkal hal yang seperti itu, tapi dengan alasan yang logis lah…gak perlu marah2, coba anda berikan tanggapan anda sendiri disertai dengan bukti2 yang akurat. Saran saya anda harus lebih banyak lagi belajar bagaimana bergabung dalam sebuah forum….klo perlu ikut semacam “kursus etika” gitu..!!

    Jangan permalukan kita “ono niha” dengan cara tanggapan anda yang seperti itu, yang menurut saya kurang sopan n kurang bertanggung jawab.

  4. Jax says:

    Maaf buat semua netter. Soalnya beberapa hari saya tulis komentar dalam berbagai berita tapi tidak dimuat sepertinya di blok oleh redaksi. Komentar yang “tdk sopan” itu saya perkirakan juga tdk akan dimuat. Kalau menelusuri jejak leluhur orang nias sangat berarti bagi saya yang menyukai sejarah, seluruh komentar udah saya baca dan simpan Alangkah baiknya bila dilanjutkan. Hanya kita baiknya tidak memaksakan pendapat kita menjadi kebenaran. Karena setiap orang terbuka utk melakukan kesalahan. Setiap data yg muncul bisa menjadi referensi, terutama pendapat pak Amir yg telah menjadi referensi utama. Thx udah dimuat.

  5. Berbincang-bincang seputar pintar & bodoh teringat sama Pramoedya Ananta Toer dibukunya bertajuk ‘Arus Balik: Sebuah Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad ke-16’ [2001 h.246]. Begini kata maz Pram… “Kesalahan orang-orang pintar adalah menganggap orang lain bodoh dan kesalahan orang-orang bodoh adalah menganggap orang lain pintar.”

    Sampe jeumpa… salam

  6. Maruthe Ghania says:

    Ha3x, bravo mas Pram, eh mas Norododo 🙂

    Dan lama nih gak ikut nimbrung … makin rame aja. Dan makin dogmatis nih …

    Maruthe G.

  7. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Terimakasih Sdr.ku semua di tano niha dan di perantauan,forum diskusi dlm internet ini, khususnya’ Nias Online’ diharuskan org yang intelektual dlm bertanya dan mengemukakkan pendapat.Sdr.Jax,dan Agreex,kita harus berhati-hati dlm menginterpretasi bhs org,supaya jangan tergelincir dlm memberikan pendapat dan saran.Sudah dikatakan sebelumnya bahwa munculnya masalah penelusuran ‘Asal Usul Ono Niha’ dipulau Nias disebakan artikel yg ditulis oleh Voctor Zebua ttg asal Mado Maru merujuk pd Suku Bugis.Saya memberikan commet saya mengkaitkan contoh Versi Islam ttg hafalan Qur’an dan silsilah Nabi adalah sebagai gambaran bagi kita semua supaya wawasan pemikiran terbuka dalam hal menelusuri sesuatu atau berupa sesuatu pada masa beribu-ribu thn yg silam.Terus terang,saya katakan bahwa terjadinya kesimpang siuran menelusuri asal usul org Nias disebabkan karena cenderung mempergunakan sistim ilmiah dgn buku-buku karangan pd masa sekarang.Logikanya, generasi sekarang cenderung mengetahui sesuatu yg nyata dgn melalui sistim penelitian ilmiah.Penelitian ilmiah banyak mengacu pada proses praduga dan kesimpulan dan bisa-bisa pd masa akaan datang kesimpulan tsb dapat berubah disebabka karerna ada penemuan baru yg akurat dan sistematis.Terus terang dikatakan bahwa ‘Asal Usul Ono Niha’ ada dan dpt diketahui dgn sistim menelusuri terombo yg ada dan sejarah yg dituturkan secara sistematis dan estafet(berantai) dari satu generasi kegenerasi berikutnya asalkan tidak ada yg putus antara satu generasi dengan generasi berikutnya,contohnya versi Islam,Al’Qur’an dan silsilah Nabi.Oleh karena itu,suku Nias bermado Marulafau, bukan egois dan menonjolkan diri pada publik,tetapi hanya meluruskan kembali apakah terombo mado Marulafau yg sebahagian dipaparkan dpt mencapai target sasaran atau tidak.Maaf,Org Nias sudah maju baik yg ada di Tano Niha,dan maupun di perantauan,tetapi yg membuat kendala adalah wawasan berpikir,dan pola pikiran,lebih menonjolkan emosi drpd pikiran,intuisi atau naluri.Terombo Mado Marulafau disusun dan ditulis secara sistematis beserta sejarah tuturan ttg terombo itu,dan diperkirakan ditulis sejak Balugu Gandria dlm bahasa leluhur(Nias) dan sampai pd leluhur kami Rajo Bandaharo(BaluguHili) di pulau Bawa/Hinako dan org tua saya hafal terombo dan saya juga mencoba menghafalnya serta tuturan sejarah di dlmnya.Dan supaya kami lebih mengerti dituliskan kembali oleh org tua kami(Mhd.Chatam Marulafau)dlm bahasa Indonesia tanpa mengurangi dan menambah tgg mado Marulafau dan Asal Usul org Nias.

  8. Drs. Siamir marulafau,M.Hum says:

    Terimakasih Sdr,Armend,comment Pak.saro ttg tarombo mado Marulafau, sebenarnya..Tuada Batu Alese(no.23) adalah anak dari Tuada Gowi Isila(no.22).Tuada Batu Aleselah yg memberikan garis keturunan sampai pada Mangaraja gea dan tuada Fau.Untuk Sdr, Faduhusi,Tarombo mado Marulafau, sudah dibandingkan oleh leluhur Marulafau sejak start penulisan tarombo itu kepada tarombo yg sesuai pada masa itu, dan bisa saja timbul perbedaan panjang dan pendek disebakan adanya kelupaan dlm penuturan atau penulisan,tarombo mado marulafau ditulis dgn bahasa leluhur dgn aksara leluhur, kemudian terombo itu ditulis kemabli oleh org tua saya dlm bhs Indo.tanpa menambah dan mengurangi dan itulah yg kami pegang sampai sekarang, dan terus terang kami tidak berani merubah,menambah atau menguranginya karena itu berasal dari leluhur dan takut termakan sumpah.Leluhur mado marulafau hafal terombo dan sejarah ttg terombo itu dari leluhur, kakek kekakek,dan sampai pada org tua saya,yaitu Mhd. chatam Marulafau, dan saya mencoba menghafalnya supaya mana tahu terombonya hilang,ditelan angin atau tsunami.

  9. Drs. Siamir Marulafau,M.Hum says:

    Untuk Sdri Nuraini,comment anda sangat bagus, dalam arti kata mana yg lebih duluan apakah ayam atau telur,dan tentu kita jawab adalah ayam bukan telur(Pelajaran kls V SD) sesuai dgn versi Nabi Adam dan Siti Hawa.Perlu diketahui bahwa nama org tua dari Tuada Daeli tdk disebutkan dlm tarombo Mado Marulafau, tetapi hanya dituturkan Nama Org Tua dari tuada Daeli adalah bermarega Mo, dan Ho……dan marga ini berasal dari Cina yg berimigrasi di p.Nias sekitar 3500 thn yg silam, membentuk satu suku dan kemudian sebahagian pindah kembali ke negeri Cina Bahagian Selatan pada masa itu,dan ada juga sebahagian etnis yg jumlahnya kecil masih tinggal di Pulau Nias yg melahirkan putra pertama ,yaitu : Tuada Daeli Sanau Talinga, dan beranak Tuada Daulu sampai paada mangaraja Gea(no.25) dlm tarombo Mado Marulafau.Dalam sejarah tarombo Mado marulafau, dituturkan bahwa,asal usul nenek moyang org Nias berasal dari Cina Selatan dgn indikasi dan bukti bahwa banyak peninggalan2 mereka berupa peralatan-peralatan berupa arsitektur,umpanya berupa motif kepala Naga terdpt pd gagangan pedang, bagian depan rumah bangsawan,peti mayat dan lain sebagainya,dan yg paling menarik adalah peninggalan benda2 zaman megalitikum, berupa patung-patung, batu-batu besar dll,dan bukan itu saja yang menarik adalah terdapatnya gambar cecak di beberapa batu sesuai dgn yg ada di Sumatera (peninggalan leluhur Batak) yg melambangkan kegigihan dalam mencari hidup,yg merupakan simbol persaudaraan antara org Batak dgn org Nias.Tuturan sejarah berkaitan tarombo Mado Marulafau agaknya mirip dgn tulisan Sdr.. Rido Rinaldin : Resensi Buku Petualangan Antar Budaya Di Nias.Ini juga mengundang keyakinan saya bahwa apa yg dituturkan kepada saya adalah benar, dan kalau kita lihat penampilan org Nias sampai sekarang mirip dgn cina,cantik-cantik dll sebagainya,Terimakasih atas comment anda

  10. sadar giawa says:

    aah-haa.. suda nimbrung online pulak Marute Gahnia,suda siapbelajar dogmanya bang..? tempohari sama abang kutanyak hubungan abang sama chetti >sudagar india minangkabau diabad XIII.atao baragkali abang adapunya hubungandarah sama Dalik >anakraja india hikayatdeli diabad XVII. bang,Marute, ndak dijawabpun ndak apalah manatau agakagak sulitdilacak atao suda ilang disapu goloro terombonya abang. >untuk mas,Norododo Dlaw, adapula kudengardengar pepatah ini,ya’ni.. owõhõwõhõ mbelu gi’a idimbadimba wesunia, ba atuatua i garawi ifalifali ba mbaginia wesu sisiwa wenali.. terimakasi. slamat melanjutkn dikusi.. yaahowu fefu!

Reply to sadar giawa ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>