2009, Dephub Bangun Kapal Untuk Nias Selatan

JAKARTA — Direktur Lalu Lintas Angkutan Sungai dan Penyeberangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub) Achmad Syukri mengungkapkan, permintaan pemerintah Kabupaten Nias Selatan untuk mendapatkan pelayanan kapal yang lebih besar dengan rute Sibolga-Teluk Dalam (ibukota Nias Selatan, red) baru akan dianggarkan pada 2009.

“Untuk anggaran 2008 sudah penuh dan sudah diajukan sehingga tidak bisa lagi dimasukkan pengajuannya. Yang penting permintaan itu sudah diterima dan akan dimasukkan pada pengajuan anggaran 2009,” kata Syukri kepada wartawan di Jakarta , Selasa (9/10).

Syukri mengatakan, pengadaan kapal itu butuh waktu beberapa tahun karena harus dibuat baru. Menurut dia, saat ini pemesanan mesin kapal saja sudah penuh dan itu butuh waktu sekitar satu tahun.

Karena itu, untuk sementara, Syukri menganjurkan pemerintah Kabupaten Nias Selatan bekerja sama dengan PT Angkutan Sungai dan Penyeberangan (PT ASDP) agar kapal-kapal ferry yang selama ini malayani rute Sibolga-Gunung Sitoli (Kabupaten Nias, red) dapat juga dialihkan melayani rute Sibolga-Teluk Dalam. “Ya, mungkin tidak harus setiap hari, disesuaikan dengan demand (kebutuhan) pelayaran di sana . Mungkin bisa, satu atau dua kali dalam seminggu,” jelas dia.

Beberapa bulan lalu, Pemkab Nias Selatan mengajukan permintaan kapal untuk memenuhi kebutuhan pelayaran dari Teluk Dalam ke Sibolga. Selama ini, rute tersebut hanya dilayari kapal-kapal kayu berukuran kecil dan beresiko karena ombak pada perairan tersebut umumnya besar.

Selain itu, kebutuhan kapal yang lebih besar tersebut untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah dengan akses yang lebih mudah dan cepat ke daratan Sumatera. Selama ini, kalau mau ke Medan harus melalui Gunung Sitoli. Selanjutnya baru naik kapal ke Sibolga.

Dengan adanya transportasi yang memadai tersebut, akan membantu percepatan rekonstruksi Nias Selatan akibat gempa pada 2008. Selain itu, juga akan mendongkrak pemulihan pariwisata di Nias Selatan yang selama ini dikenal dengan daerah-daerah kunjungan wisatanya seperti lompat batu dan pantai Lagundri yang merupakan salah satu pantai dengan ombak terbaik di dunia untuk selancar air (surfing).

Dihubungi terpisah, Manager Humas PT ASDP Winanda mengungkapkan, sampai saat ini belum ada permintaan dari Pemkab Nias Selatan. Namun, menurut dia, karena wilayah Nias Selatan termasuk rute perintis, maka kewenangan ada di tangan pemerintah. “Kalau pemerintah memberi tugas ke ASDP, kita siap. Konsekuensinya, jumlah kapalnya juga harus ditambah,” kata dia.

(etisnehe/investor daily)

Leave a comment ?

17 Responses to 2009, Dephub Bangun Kapal Untuk Nias Selatan

  1. Dephub ,BRR Nias dan Pemda Nias Selatan

    kutipan “Direktur Lalu Lintas Angkutan Sungai dan Penyeberangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub) Achmad Syukri mengungkapkan, permintaan pemerintah Kabupaten Nias Selatan untuk mendapatkan pelayanan kapal yang lebih besar dengan rute Sibolga-Teluk Dalam (ibukota Nias Selatan, red) baru akan dianggarkan pada 2009”

    saya mengenal daerah Nias selatan dan PP. Batu sejak 1963 , sumber daya alamnya kaya terutana hasil laut ,teripang dan kayu dan selanjutnya pada tahun 2002/2003 ,saya berkesempatan balik ke daerah tsb sebagai peneliti pemetaan Kab. Nias ,menemukan daerah tsb lebih terisolir dibandingkan pada tahun 1963. Dimana kapal-kapal ukuran > 50 ton dibangun di P. tello atas inisiatif putra daerah tsb karena didukung oleh kekayaan hasil ikan dan kayu yang diusahakan oleh rakyat tapi disayangkan semasa orde baru , rakyat tdk diperkenankan mengambil kayu alam sedangkan HPH dibenarkan merambah kayu-kayu besi di P. Pini ; P. Masa dsbnya ditambah kekayaan laut dirampok oleh Nelayan asing sejak dulu ( menyaksikan sendiri pada tahun 1967 ). Logis saja , kebijakan pemerintah dan pengawasan laut , membuat perdagangkan di Nias selatan terutama P.P. Batu di miskinkan ,terjadinya migrasi besar-besaran putra-putra potensial meninggalkan daerah itu. Kelihatan berkas peninggalan Budaya: berupa rumah-rumah tradisionil roboh diganti rumah sederhana dan tambak-tambak di pesisir Kota Tello terbengkalai ( water front city ) sejak zaman kolonial daerah ini sdh cukup terbangun oleh kekayaan alamnya . Degradasi peninggalan sejarah dan budidaya laut , ini menunjukan betapa perekonomian Nias selatan terutam P. tello terbengkalai semasa orde baru. Selayaknya pemerintah pusat membantu kembali kebangkitan ekonomi rakyat di daerah tsb , dengan membangkitkan pelayaran ,yang dulu pernah ada . P. Tello – Teluk Dalam -Sibolga supaya perekonomia rakyat bergulir kembali
    tanpa bantuan pemerintah pusat , daerah nias selatan sulit berkembang . sangat mendukung ,ada bantuan pemerintah pusat terciptanya kembali pelayaraan P. Tello- Teluk Dalam -Sibolga PP untuk membantu bergulirnya kembali perekonomian rakyat di daerah tsb. perlu di ingatkan kembali terdapat perbatasan pulau terluar di P.P. Tello yaitu P.Simuk diprioritaskan ketahanan Nasional.

    Dr. Ir. Arwin Sabar,MSc

    Pemerhati pembangunan Nias berkelanjutan
    Ketua Keahlian TPL,FTSL-ITB

  2. Etis Nehe says:

    Salam sejahtera,

    Pak Arwin Sabar yang terhormat,

    Saya sangat surprise dengan tulisan dan penjelasan bapak mengenai Nias Selatan. mengingat latar belakang dan status sebagai pemerhati pembangunan Nias berkelanjutan, alangkah senangnya bila ke depan ada kesempatan yang baik untuk kita berdiskusi beberapa hal terkait Pulau Nias.

    Kami menunggu tanggapan dan informasi yang bisa melengkapi kita bersama untuk merealisasikan pembangunan berkelanjutan di Pulau Nias.

    Tks

    etisnehe@yahoo.com

  3. Etisnehe yth. apabila tertarik , sy mempunyai soft copy tentang peta digital kab. Nias (Kab. Nias utara dan kab. Nias selatan + P.P.tello ) merupakan perbaikan peta rupabumi diperbaharui dengan peta satelit 2000.
    Info tambahan pada tahun 1963 (ketika SR klas 3/4 berkesempatan mengikuti ortu , melihat makam nenek moyang di P.tello) betapa ikan -ikan di pesisir P. tello berlalulalang di garis pantai yang jernih, dimana kumpulan anak ikan mengapung di garis pantai disergap ikan besar karena remnya blon nyangkut di dataran pantai , mengelepak-lepak didarat kemudian kembali ke laut (hal ini sering sekali terjadi) itulah gambaran perikanan massa itu dibandingakan 2003 hal tsb tidak ditemukan lagi. Perekonomian rakyat P. Tello tahun 1963 (banyak putra-putra P.Tello mempunyai Kapal berlayar antar pulau dan ke sibolga ,padang) lebih bergerak dibandingkan 2003. Pada tahun >1800 dari dokumen lama yang ditemukan pada keluarga , orientasi perdagangan (kopra) ke padang sepertinya setelah kemerdekaan P.tello beralih ke sibolga . Dari peninggalan makam , ditemukan bukti P. Tello lebih dahulu perekonomiannya bergerak dibandingkan Kota-kota didaratan Nias sekarang. Banyak ditemukan putra P.Tello lebih dahulu mendapatkan pendidikan PT dibandingkan P. didaratan (seingat saya waktu SR dari nguping pembicaraan ortu )

    itu catatan ingatan masa kecil saya.

    saya bersedia diskusi perihal tentang pembangunan berkelanjutan Nias

    arwisabar@yahoo.com
    Ketua Kelompok keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan
    Fakultas Teknik Sipil dan Lingkunan -ITB

  4. Heriance taslim says:

    Yth : Bapak Arwin

    Pak Arwin, terimakasih atas tulisan Bapak karena memori saya serasa kembali ke kampung kita P.Tello.
    Tentang ikan yang mengelepak-lepak didaratan pada masa saya tahun 70 & 80 an masih cukup sering terjadi; saya dan teman-teman senang sekali kalau ada kejadian ini karena bisa mengumpulkan ikan (namanya budu atau tundeman).
    Pak Arwin benar, mengenai perekenomian di P.Tello; saya juga mendengar dari Orang tua saya dan paman saya bahwa dulunya cukup banyak transaksi dari Penang yang langsung ke P.Tello.

    nama saya Heryance Taslim kelahiran P. Tello tahun 1963; sampai selesai SMP di P.Tello karena SMA tidak ada maka saya melanjutkan ke Padang.
    terakhir di P. Tello saya tinggal di samping pasar yang jual ikan.
    Saat ini saya bekerja di Jakarta
    terimakasih

    Dear Etis Nehe

    saya senang dengan usul anda untuk berdiskusi agar Nias bisa lebih banyak dikenal dan dicintai.
    Terimakasih

    Salam,
    yan Taslim

  5. Dr.Ir.Arwin SABAR,MSc says:

    Dear Yan Taslim

    Saya perkenal diri, sy lahir Gunung Sitoli tahun 1952. Ayah saya kelahiran P. Tello tinggal di jalan Sirao dimana rumah keluarganya di P. tello disebut rumah ujung (terletak paling ujung rupanya dulu ), berupa rumah panggung terbuat dari kayu-kayu besi. Saya berkunjung ke P.tello tahun 1963 dalam rangka mengunjungi leluhur, kemudian datang kembali tahun 1967 bersama ortu dan rombongan muspida kab.Nias ,untuk melihat dan membawa rampasan barang bukti kapal ikan ,yang mencuru /menangkap ikan diperairan P.P.Batu, seperti yan Taslim sy melanjutkan SMA tahun 1968 di Yogya ,kemudian sejak `tahun 1972 S1,S2 bidang enginering di ITB Bandung, mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia – Bank dunia meneruskan S2 dan S3(Ph.D) di Perancis (1986 s/d 1992). Pada tahun 2001 balik ke Nias dan terus P. Tello bermaksud membantu merekonstruksi rumah ujung tsb, ternyata rumah keluarga tsb sudah roboh, digantikan rumah sederhana dari keluarga masih tinggal di P. Tello. Bersama dengan itu balik ke P. tello terjadi peristiwa terulang pencurian ikan ,tertanggap 2(dua) kapal penangkap Ikan kira-kira 30-50 ton berserta Kapal Induknya sekitar 700 ton dilengkapi navigasi modern. ketika kapal tsb di giring ke Pelabuhan Gst. sayang sekali pada malam 31 Des 2001. Kapal induk bisa melarikan diri dengan menenggelamkan kapal pencari 2(dua) kapal ikan 30-50 ton . Sy sangat heran, kapal sebesar itu bisa kabur ya…bandingkan dengan sepeda motor tertanggap di jalan ,ngak bisa kabur. Heran seribu heran, Kapal besi sebesar itu bisa kabur, begitulah sistem pengaman kita.
    Saya tau pasar ikan tapi tidak begitu mengenal keluarga2 di kota P. Tello hanya 2/3 keluarga saja.

    Salam untuk Anda (Yan Taslim).

    Arwin Sabar.

  6. mardongaho says:

    dear pak Arwin Sabar
    pak Arwin Sabar dan temen2 lain dalam topik ini, terlebih dahulu perkenalkan nama saya Mardon Gaho, kelahiran asli Telukdalam, sekarang kul di fak. hukum di salah satu universitas swasta di jakarta, saya sangat sepakat dan tertarik pembahasan pak Arwin tentang Nias yang boleh dikatakan bahkan lebih tahu tentang Nias daripada anak Nias sendiri dan bahkan lebih peduli nias daripada anak nias sendiri….
    dan untuk lebih mentransformasikan isu2 penting seperti ini tentang Nias, saya mengusulkan agar kita menggelar satu gerakan yang mungkin dapat kita mulai dari seminaran nasional ataupun daerah tentang nias, saya siap menjadi partner dalam hal itu…..agar gaung kita lebih keras lagi dan tidak hanya di media cyber saja, agar nias lebih di kenal lagi oleh dunia luar……dan kebetulan saya beserta berberapa temen2 sdh memulainya walaupun dalam bentuk lain yakni membuat buletin “SARAN (seruan generasi nias) akan terbit awal desember yang akan di distribusikan k orang nias sejabodetabek,medan, bandung, dan nias walaupun bentuknya masih dlm bentuk yg sederhana tetapi bagi ku itu suatu karya nyata buat nias minimal……untuk itu saya mohon nantinya pada edisi berikut bapak dan temen lain dapat berpartisipasi dgn mengisi salah satu kolomnya dengan tulisan2 gagasan tentang nias maju ke depan……
    dan untuk itu juga saya ingin meminta alamat pak Arwin (sekiranya berkenan) guna pengirim edisi buletin kami k tangan bapak (gratis koq pak hehehehe)
    terimakasih,ya`ahowu…………
    my e-mail : mardongaho@yahoo.com
    hp 08887715553

  7. Heriance taslim says:

    Yth: Bapak Arwin

    Terimakasih pak Aswin atas sharingnya, Pertama-tama saya bangga dengan Bapak karena sudah ada orang P.Tello yang bergelar Ph.D. Kemungkinan yang Bapak maksud di ujung itu adalah Ujung Batu, memang Ujung Batu terletak di ujung P.Tello; saya waktu masih di P.Tello sering ke Ujung Batu, pemandangannya indah.

    Waktu saya masih di P.Tello saya sering mendengar dari para nelayan bahwa kapal-kapal pencuri itu suka memberi kain atau hadiah2 kecil lainnya bagi para nelayan agar mereka tidak dilaporkan ke pihak berwenang. Perihal kapal asing ditangkap karena mencurian ikan memang sering terjadi tapi penegak hukum kita ya .. begitulah masih jauh dari harapan.

    Saohagölö (terimakasih)

    Ya’ahowu Pak Arwin, Etis & Mardon

    Salam,

    Yan Taslim

  8. Yan Taslim yth

    Kejadian pencuri ikan pada tahun 1967/68 kasus sama , kapal pencuri ikan suka memberi hadiah untuk masy senang, tapi pada saat itu alat keamanan menyamar sebagai nelayan , dengan senyata L.E tuang aduh kuat dengan pencuri ikan . Akhir kapal pencuri ikan terdapat yang kena tembak dan awk yang lain melarikan diri ditolong kapal-kapal pencuri lainnya. mengenai rumah keluarga ortu saya ,masih di Kota tello tapi letaknya runah paling ujung dari pelabuhan belok kiri jalan terus ke arah selatan disitu letaknya rumah paling ujung berupa rumah panggung.

    Salam
    Dr. Arwin

  9. Etis Nehe says:

    Ya’ahowu Pak Arwin,

    Saya ingin berdiskusi khusus dengan Bapak via email pribadi. Tapi, ketika saya kirim email via arwisabar@yahoo.com tapi gagal.

    Boleh minta alamat email lainnya?

    Terima kasih Pak

    etisnehe@yahoo.com

  10. Suri Z says:

    Dr.Ir.Arwin SABAR,MSc (resp. 1): “saya mengenal daerah Nias selatan dan PP. Batu sejak 1963, sumber daya alamnya kaya terutana hasil laut, teripang dan kayu dan selanjutnya pada tahun 2002/2003, saya berkesempatan balik ke daerah tsb sebagai peneliti pemetaan Kab. Nias, menemukan daerah tsb lebih terisolir dibandingkan pada tahun 1963.”

    Kalau kita tengok ke belakang lagi (kurun 1819-1906), kawasan yg disebut Pak Sabar memang tak terisolir. Niaga di kawasan pantai barat Sumatera cukup ramai. Ada 4 jaringan perdagangan di sana: antara pantai dan pedalaman Sumatera, antar kota di tepi pantai, antara pantai dan pulau-pulau lepas pantai, dan antara pantai dgn luar negeri. Perdagangan antar pulau dilakukan saudagar Minangkabau, Aceh, dan Cina. Saudagar Aceh berdagang di kawasan pantai bagian utara hingga p. Nias dan kep. Banyak. Saudagar Minangkabau berdagang di kawasan pantai bagian selatan hingga kep. Mentawai, p. Telo, dan p. Batu. Sedang saudagar Cina ‘bermarkas’ di p. Telo dan p. Batu. Di Telo sudah ada jabatan ‘Letnan Cina’ tanda telah ada lebih dari 100 orang komunitas Cina. Saudagar tersebut ada juga yg punya kapal sendiri. Ekspor dari Nias waktu itu: beras dan budak; dari Nias dan Telo: kelapa, minyak kelapa. Sedang barang impor: tembakau, garam, barang-barang dari besi, bahan makanan. (Gusti Asnan, “Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”, 2007: 165-173).

    Penyediaan kapal perlu dibarengi dgn menumbuhkan gairah produksi komoditi ekspor ‘unggulan’ (misalnya hasil laut seperti yg dilihat Pak Sabar), serta membuka jaringan perdagangan di kawasan ini. Dan diperlukan koordinasi antara pemkab Nias dan Nias Selatan dgn pemkab sekitarnya, agar barang yg diproduksi dapat akses pasar. Sudah siapkah pemkab kita menggairahkan produksi dan melakukan koordinasi?

Reply to Sin Liong ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>