Dyandra K: Surat Terbuka Itu Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Jembatan Mejaya (Foto: Dyandra Kusumawardani, Kompasiana.com)

NIASONLINE, Jakarta – Dyandra Kusumawardani, membenarkan bahwa dirinya adalah penulis artikel berjudul ‘Surat Terbuka untuk Pemerintah Daerah dan Warga Nias Selatan – Sumatera Utara…’ di Kompasiana.com.

Dyandra mengatakan, tulisan itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya langsung di Pulau Nias, khususnya di Nias Selatan.

“Itu semua saya tulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi. Saya sudah beberapa kali ke Nias. Pertama kali pada bulan Juni 2010 dan terakhir di bulan November 2012,” ujar dia menjawab konfirmasi Nias Online melalui alamat pesan di Kompasiana.com, Kamis (6/12/2012).

Meski begitu dia mengatakan bahwa tulisan itu bertujuan positif. Yakni, harapan adanya perubahan pada sikap warga Nias Selatan. Juga dari sisi Pemerintah Daerah agar lebih intens dalam pembenahan warganya.

Menurut dia, perubahan itu diperlukan mengingat akibat berbagai kejadian yang dialami para pekerja itu, membuat banyak kontraktor tidak mau bekerja lagi Nias.

“Karena mereka menganggap kalau semua warga Nias itu jahat-jahat terhadap pendatang. Mereka tidak perduli kalau Nias itu ada beberapa wilayah dan masyarakatnya juga beragam,” tandas dia.

Dia mengatakan, pembangunan jembatan di sana adalah untuk tujuan yang baik. Yakni, untuk meningkatkan dan mempermudah transportasi di wilayah itu.

Sebelumnya, dalam artikelnya, Dyandra menjelaskan berbagai perlakuan buruk yang dialami para kontraktor yang mengerjakan jembatan di Nias Selatan, khusunya di Mejaya dan Sa’ua.

Dia menjelaskan, para pekerja juga sering mengalami ancaman pembunuhan, pencurian hingga pelemparan dengan batu yang menyebabkan adanya pekerja yang semua berasal dari Jawa tersebut bersimbah darah.

Akibat sikap beberapa warga di sekitar proyek itu sejumlah pekerja sampai harus pulang sehingga proyek terlambat diselesaikan. Dyandra menyesalkan sikap warga setempat tersebut, termasuk aparat pemda Nias Selatan.

Dalam artikelnya juga mengatakan, begitu tidak amannya para kontraktor dalam bekerja, sampai-sampai pejabat pemda dan Polres Nias Selatan turun tangan dengan ancaman ‘tembak ditempat’ bagi para pengganggu.

“Sebetulnya sangat disayangkan… dengan kondisi alam yang sangat indah, masih banyak potensi daerah yang bisa di kembangkan untuk bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat… tetapi… dengan karakter mereka, saya tidak yakin daerah itu akan bisa mengalami perkembangan dan kemajuan… Pembangunan karakterlah yang paling utama dan paling mendesak untuk diperbaiki, supaya mereka bisa lebih maju, terbuka dan bisa menikmati hidup dengan bahagia,” tandas Dyandra dalam artikelnya.

Ketika dikonfirmasi mengenai kejadian seperti ditulis dalam artikel itu, Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi membantah keras. Dia dengan tegas mengatakan tidak pernah mendengar aksi-aksi masyarakat di sekitar proyek itu yang melakukan tindakan seperti disebutkan diartikel itu.

“Saya tidak pernah dengar dan buktinya jembatan sudah bisa dipakai dengan baik,” kata dia. (EN)

Leave a comment ?

11 Responses to Dyandra K: Surat Terbuka Itu Berdasarkan Pengalaman Pribadi

  1. prihatin says:

    Sebagai warga Nias, khususnya Nias Selatan, saya berterima kasih atas keterusterangan Mbak Dyandra. Itulah keadaan kami, walau tidak semuanya demikian.

    Perilaku segelintir orang dan tak becusnya pemda mengurus warganya memang akhirnya membuat citra kami terpuruk. Itu sangat tidak enak.

    Berharap mbak Dyandra tidak kapok datang ke Nias Selatan. Berharap pada kedatangan berikutnya, keadaan sudah lebih baik.

    Jangan ragu menulis apa2 yang perlu bagi kami utk diperbaiki, shg mjd lbh baik.

    Tks

  2. Dyandra says:

    @prihatin dan semua pembaca…

    Mohon maaf bila ada pihak-pihak yang tersinggung atas tulisan tersebut… dan tentu saya tidak akan berani menulis, bila memang tidak ada bukti yang konkrit… dan memang betul, sekarang jembatan tersebut sudah bisa dimanfaatkan, tetapi belum sepenuhnya selesai… karena pekerjaan pengurugkan tanah dan asphalt yang masih belum bisa dikerjakan.

    Saya hanya berharap, di Nias Selatan dan Nias pada umum nya akan lebih baik lagi…

    Bila keindahan alam Nias itu bisa di eksplor, dan tentu dengan dukungan pemerintah dan masyarakat… saya yakin Nias akan bisa menjadi “Bali ke-2″…

    Terima kasih

  3. prihatin says:

    Santai aja mbak Dyandra. Bupati tuh asal bantah karena kaget ‘belang’nya ketahuan. Padahal program nomor satunya saat kampanye adalah memberantas korupsi.

    Tapi, kenyataannya, praktik pemerasan berseliweran di depan matanya tp diam saja. Para pekerja di proyek jembatan itu bagian dari korban kebijakan tak jelasnya.

    Smg dia membacanya. Dan sadar.

  4. Keadaan kita di kepulauan Nias secara khusus dan umumnya di Indonesia terkadang (sebagaian warganya) masih berada di persimpangan antara modernitas dan primitif, itu fakta dan tidak perlu ditutup-tutupi. Marilah kita mengakui dan memperbaiki mental tersebut demi kemajuan bersama. Terima kasih

  5. Frans Halawa says:

    Surat terbuka untuk Dyandra,

    Terima kasih karena telah memberikan masukan dan kritikan untuk pengembangan daerah kami nias selatan.

    Pada dasarnya masing-masing daerah memiliki nilai-nilai kehidupan dan budaya, kultur yang berbeda-beda. Oleh sebab itu diperlukan sebuah pendekatan yang berbeda disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat. Kemungkinan, cara pendekatan inilah yang dilupakan oleh lembaga atau perusahaan anda, sehingga menyebabkan gejolak dimasyarakat setempat. Saya ambil contoh dari pernyataan anda: Pihak kontraktor, tidak mempekerjakan warga setempat, karena setiap hari kerjanya mabuk-mabukkan. Saya rasa pernyataan ini sebuah kesalahan karena terlalu menggeneralisasi keadaaan, tidak semua warga setempat kerjanya mabuk-mabukkan. Dinias pada umumnya, minuman keras sudah merupakan bagian dari kultur yang mengakar sejak dulu, hampir sama dengan daerah papua, bali, dll. Hampir semua pesta adat dinias menggunakan minuman keras sebagai hidangan untuk diminum.

    Saya setuju dengan pendapat anda, yang menyampaiakan perlu pembangunan karakter untuk warga nias selatan, tetapi saya rasa hampir seluruh warga negara indonesia memang sebaiknya memerlukan pendidikan karakter, karena moral bangsa kita yang sudah sangat memprihatinkan.

    Sekali lagi, terima kasih atas masukan dan kritikannya. Kami tunggu kedatangan anda dinias dilain waktu.

    Salam dalam bahasa Nias.. Ya’ahowu

  6. dyandra says:

    Utk bpk. Frans…

    Mohon maaf… saya tidak menyampaikan kalau pihak kontraktor tidak memperkerjakan tenaga lokal, ada kok tenaga2 lokal yg bekerja di proyek tersebut, tetapi memang mayoritas pekerha dibawa dari Jawa…
    dan berdasarkan informasi dari para staff proyek dan juga para pekerja, mereka sudah cukup berusaha dengan berbagai cara untuk mendekati warga lokal… tetapi hasilnya tetap tidak bisa maksimal… dimintain uang dan ancaman hendak ditusuk itu sering mereka alami… dan saya rasa hampir 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Saat sekarang memang sudah dicapai kesepakatan damai dengan warga lokal dengan difasilitasi pihak yang berwenang…. dan tentu saja dengan kompensasi…

    Tetapi… apapun kondisinya, saya berharap pekerjaan itu bisa diselesaikan dan juga warga disana bisa berubah, minimal sedikit saja mengurangi kebiasaan mereka untuk minum minuman keras… karena yang pernah saya lihat… bukan hanya disaat ada acara adat saja mereka minum-minum tuak, tetapi dihari2 biasa juga hal itu dilakukan… dan memang betul… tidak semua orang Nias seperti itu… tetapi… itulah pandangan orang luar…

    Semoga kedepan menjadi lebih baik untuk semuanya dan warga Nias bisa menikmati kesejahteraan…

    Salam….

    Dyandra

  7. frans halawa says:

    Dear Dyandra,

    Terima kasih atas tanggapannya. hanya saja saya cuma sedikit mengingatkan ada pepatah mengatakan “Tidak ada asap, jika tidak ada api”. karena sebelumnya banyak proyek yang dijalankan oleh NGO/LSM dinias terutama pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi gempa-tsunami dan hampir semuanyua berjalan dengan lancar.

    Alangkah bijaknya jika anda juga melakukan koreksi terhadap para pekerja atau pihak kontraktor yang ada disana. apakah mereka sudah membaur dengan masyarakat? apakah mereka sudah sesuai dengan nilai-nilai sosial yang dianut daerah setempat? dan masih banyak pertanyaan lain yang perlu diteliti lebih mendalam.

    Sebelumnya saya mohon maaf, saya bukan berusaha membela warga nias karena daerah asal saya. hanya saja, saya ingin melihat masalah ini dari sisi lain. mungkin peribahasa ” dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak” menjadi salah satu acuan untuk lebih bisa menyesuaikan diri dimana tempat kita tinggal.

    Salamku,

  8. P. Telaumbanua says:

    Dear dyandra
    Sy sangat prihatin mmbaca surat ini. Sy harap semua waga nias selatan bisa membaca, mengerti, dan klo benar segera sadar serta berbenah diri. Pemerintah stempat mulai dari aparat desa hinggga kabupaten nias selatan baca-baca surat ini! Jgn sempat merasa biasa2 saja, lakukanlah perubahan di desamu dgn menjamin kenyamanan dan kslamatan pendatang. Buat sdr dyandra, trima kasih atas masukannya buat daerah kami walaupun ini sangat mengganggu bagi org nias yang tahu di seluruh dunia namun sy yakin kami org nias menanggapinya dengan positip. Sy harap artikel ini tidak memicu pandangan negatif dan memunculkan kebencian terhadap etnis kami dimana2 krn “biasanya” manusia suka mengeneralisasi. Buat dyandra (tapi ini hanya sharenya) sy juga cukup lama di perantauan dan mmiliki mlihat pengalaman proyek di daerah lain. Selalu ada2 aja memang sikap warga lokal trhadap pendatang. Mereka mudah marahlah, mencuri, bahkan menyerang, kebanyakan mereka mabuk dulu. Ini krn apa? memang karakter, cara pikir yg masih brwawasan sempit dan pendek. Tp kami perusahaan tidak mau gagal dgn sikap beberapa org sperti itu. Salah satunya cara adalah warga stempt itu kami pekerjakan dan paling jitu preman kampung situ kami rekrut jd satpam kami. Bukan hanya itu, kerja sama dgn perangkat desa bahkan mendatangkan brimob dan TNI utk nge-PAM jg km lakukan. Ini krn apa? Km hanya ingin keamanan dan kmudahan. Sdr dyandra sy tidak sedang berusaha membenarkan sikap warga nias selatan lo.. Mereka itu pasti salah, klo sy polisi itu orng dah sy bui.. Kita pasti prihatin terhadap mental manusia seprti itu, jangankan nias daerah yg masih terisolir oleh laut (****), Jembatan Suramadu aja baut-bautnya pada dicuri orang yg notabene situ pasti lebih maju. Sy sedih dan malu klo karakter sperti ini trutama dari nias. Ini karna apa? Biang keroknya adalah kemiskinan pendidikan. Byk pemerintah2 kita korupsi banyak bentuk baik pusat dan daerah, nominalnya tak tanggung2, mperkaya diri sendiri. Uangnya malah bukan utk bangun karakter bangsa dan lakukan pemerataan sehingga warga pelosok matanya terbuka trhadap cara hidup yg lebih bahagia dan sejauh mana dunia telah modern dan maju. Daerah pelosok yg tdk atau begitu terjangkau pembangunan jd korban. Ini adalah tanggung jwb negara (pemerintah), baca uud 45. Sorry ini sy singgung krn sy setuju dgn pembangunan karakter anda.

  9. Komunitas Mahasiswa Nias Medan says:

    Sabbath Shalom….!!!

    Kalau memang artikel saudara Dyandra benar-benar terjadi dilapangan maka, mari kita sadar dan tahu maluntuk mau maju dalam aspek SDMnya dan bertobat ke jalan Tuhan dgn benar-benar dan sungguh-sungguh, dan ingat pulau NIAS Itu negeri beradat dan berbudaya, yang sudah dikenal di seluruh Nusantara sejak dulu kala.
    So.. mari kita berbenah.

    Tetapi, kalau hal itu hanya untuk mencemarkan nama baik suatu daerah, maka segera kita usut sampai tuntas berdasarkan hukum yang berlaku di negeri ini.

    Salam Berkat, Ya’ahowu…, JESUS CHRIST BLESS US…’

  10. Dyandra says:

    @Komunitas Mahasiswa Nias Medan…

    tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran saya untuk mendiskreditkan atau mencemarkan nama baik suatu daerah… dan kejadian itu memang bisa terjadi dimanapun, bukan hanya di Nias…
    saya menulis itu sebagai bentuk keprihatinan pribadi… prihatin terhadap nasib para pekerja, dan juga prihatin terhadap kondisi warga lokal disana…
    dan betul seperti yang Bpk. Frans… perlu koreksi diri… bukan saja untuk warga lokal, tetapi juga untuk warga pendatang…

    untuk saat ini, sudah terjadi kesepakatan dan pekerjaan bisa dilanjutkan kembali dan dalam tahap akhir penyelesaian… semoga semuanya berjalan lancar sampai akhir proyek…

Reply to Nata Duha ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>