Studi di Luar Negeri Secara Mandiri: Tekad dan Kerja Keras

Oleh: Heru Martinus

Hallo semua,

Saat ini saya mau share sedikit mengenai pengalaman saya studi di Jerman, baik mulai dari persiapan, maupun waktu menjalankannya. Mungkin, bisa menjadi bahan masukan sebagai dalam pertimbangan buat temen2 semua yang mungkin punya rencana studi di luar negeri.

Pertama-tama saya mau sedikit kenalin ttg diri saya. Saya, Heru, lulusan dari Universitas Atma Jaya, jurusan Teknik Elektro, angkatan 99.

Saya berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi lanjutan master. Awalnya saya juga hanya tahu, ingin studi lanjutan yg cukup murah, dan lumayan berkualitas. Dan akhirnya memutuskan ke Jerman, dan gak tahu mau cari ke kota mana.Saya cuma tahu kalau saya mau lanjutin kuliah di jurusan Elektro atau Informatik.

Dan dengan modal sedikit tekad dan sedikit ambisi (ini agak hiperbolis sih…. :-D), dan sedikit modal bahasa jerman pas2an (les bahasa Jerman super dasar 😉 ) , dan sedikit modal untuk ke warnet, cari2 info, akhirnya saya berhasil menemukan website http://www.das-ranking.de/che8/CHE yang mendaftar kualitas uni2 terbaik di Jerman, yg tentunya gak 100% bisa dipercaya (karena pada dasarnya kualitas universitas-universitas di Jerman hampir sama rata, karena dimodali oleh pemerintah), tapi paling tidak, ini bisa jadi referensi buat saya yang waktu itu masih buta total tentang kondisi di Jerman. Dan akhirnya jatuhlah keputusan untuk kuliah di Universitas Karlsruhe. Biarpun pilihan ‘dah dijatuhkan, tapi sayangnya studi di Atmajaya masih berjalan :-p, jadinya masih terus berusaha lulusin kuliah di Indonesia, dan juga kursus bahasa. Dan, tentu saja menabung.

Saya mendaftar dengan sertifikat bahasa Jerman ZMP (Zentrale Mittelstufenprüfung), dan ijazah dari Atmajaya dengan nilai pas2an. Untuk pendaftaran, saya dibantu temen. Singkat cerita, akhirnya saya diterima. 🙂 Gott sei Dank (=syukur kepada Tuhan).

Dan tiba masa2 deg2an apply visa. Yang akhirnya setelah 6 minggu, akhirnya dapet juga tuh Visa yang dibutuhkan.

Sesampai di Jerman meskipun bermodal ZMP (tingkat menengah, yang seharusnya dah cukup tinggi), ternyata begitu sampai, saya kalang kabut dengan bahasanya…. heheheh… maklum, agak dodol dalam hal bahasa… Belum lagi adanya perbedaan kultur yg cukup besar yang membuat berbagai perasaan muncul bercampur aduk. Takut, ketidakpastian, ingin berusaha, semangat, sedih, dsb…. Tapi, untungnya masih ada Tuhan yang selalu memberikan pertolongan dan pimpinanNya dalam masa2 adaptasi ini.

Disingkat lagi ceritanya, akhirnya mulailah saya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dari sisi kultur, maupun bahasa. Proses ini tentunya gak singkat, perlu beberapa bulan, kadang2 ada juga orang2 yang perlu 6-12 bulan. Ada juga yg hanya beberapa minggu, tentunya berbeda2. Buat saya pribadi, syukur kepada Allah yang menyediakan temen2 persekutuan yg bener2 jadi sumber kekuatan buat saya, secara moral, maupun secara psikologis.

Dan karena keterbatasan dana support dari ortu, mulailah saya nekad dengan bahasa jerman pas2an, saya apply kerjaan di universitas, yg pada saat itu masih sedikit orang indonesia yang saya kenal yang pernah apply kerjaan seperti itu (yg disebut HIWI (Hilfskraft der Wissenschaftler)). Syukur sekali lagi kepada Allah yg selalu memelihara. Saya dengan bahasa Jerman pas2an, dikasih kerja di universitas itu. Dengan gaji pas2an, jadilah saya mulai membiayai studi saya sedikit demi sedikit (sebenernya biaya hidup sih :-D).

Ada sedikit yang mau saya share mengenai belajar di Jerman ini. Di Indonesia, kecenderungan saya adalah belajar, yang penting bisa lulus, bahkan cenderung gak belajar. Sayangnya di Jerman ini, rumus itu gak berlaku. Dengan masalah bahasa, ditambah bahan yang biasanya cukup seabrek-abrek (banyak banget), mau gak mau saya untuk pertama kalinya menyediakan waktu 2 minggu bahkan satu bulan sebelumnya untuk mengikuti sebuah ujian…

Dan sampai akhirnya sekarang studi saya sudah hampir selesai, dengan di antaranya sempat sibuk kerja di dapur, sampe akhirnya sekarang kerja2 sambilan di kantoran, saya dah bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri, sepenuhnya.

Singkat kata, yang mau saya tekankan. Memang studi di Jerman gak mudah, tapi memungkinkan. Studi di Jerman memang berat, tapi bisa dilalui. Yang paling penting menurut saya adalah, jelas bagi kita kenapa mau ke Jerman, dan apa yang mau dikejar. Jangan cuma supaya sok keren2an. Tapi harus jelas kalau kita mau studi. Tapi apa yg mau dicapai. Dan syarat2 lain tentunya menyusul kalau dah punya dasar tersebut. Seperti siap hidup susah, siap berjuang, siap hidup sebagai orang rendahan, siap kerja keras.

Kalau itu dah punya, don’t worry, tinggal ambil langkah pertama. Untuk step2nya, tentunya berbeda2 setiap orang dgn yg lainnya, tergantung status studi terakhir, dan program studi yang mau diambil. Tapi kalau masalahnya adalah dana, menurut saya gak perlu kuatir. Asal punya dana tiket ke Jerman (dulu sekitar 4-5 jt) dan sedikit kebaikan dari tetangga sekitar untuk jaminan keuangan, dan plus dana 1-2 bulan di Jerman (sekitar 6-10 juta tergantung gaya hidup). Cari info tiket termurah dan bukan disaat musim libur panjang, dimana tiket bisa puluhan juta rupiah harganya. Dan yang gak kalah penting adalah, koneksi, kenalan yang bisa bantu kita untuk masalah paling utama. Biaya terbesar adalah cari dan menyewa tempat tinggal…. 🙂

Namun kenyataannya, pergumulan aku soal dana lebih pada saat hidup di Jerman, bukan sebelum berangkat.

Setelah itu, dengan sedikit tekad, kemauan, dan “keberuntungan” (dgn kata lain, pemeliharaan dari Allah), kita pasti bisa bertahan hidup kok di Jerman ini.

Mengenai biaya studi, jangan terlalu kuatir, karena relatif murah jika dibandingkan dengan kuliah di Jakarta. 1 semester biasanya sekitar 500€, coba bandingkan di Jakarta, yang biasanya sekitar 4-5 jt per semester, tapi tanpa kejelasan apa yang dipelajari.

Yah, untuk sementara, itu aja dulu pengalaman yang bisa saya bagikan. Maaf kalau kurang bisa lebih detil lagi. Tapi buat yang pengen tahu lebih detilnya, silahkan hubungi secara pribadi per email melalui redaksi. Pastinya kalau bisa saya bantu, akan diusahakan dengan senang hati.

Salam,

Heru Martinus
München-Jerman

About the author

katitira


Leave a comment ?

56 Responses to Studi di Luar Negeri Secara Mandiri: Tekad dan Kerja Keras

  1. ridwan says:

    wah..keren jg tuh pengalamannya..kayaknya ini jln keluar klo ga dapat beasiswa…..

    boleh minta ym ato emailnya mas heru ga? klo udah berhasil kan bisa nuntun kita2 yg mau nyusul ke jerman..hehehe

    thx

  2. maschalid says:

    saya sangat tertarik dengan cerita mas heru, tolong minta alamat emailnya dong! kebetulan saya ingin kuliah ke luarnegeri dengan cari kerjaan disana. tapi saya dulu lulusan kuliah IAIN. gimana dong? tapi gimana kalo di england ada gak sih yang memiliki modal nekad seperti mas heru!!! please jawab ya….. thanks

  3. Kristi Gracia says:

    saya juga berencana kuliah di Jerman, tapi saya tidak fasih bahasa jerman, karena di sekolah tidak belajar bahasa jerman, apakah saya bisa lulus dan masuk sekolah yang baik di sana dengan bahasa yang sama sekali tidak dimengerti? ataukah di sana ada kursus bahasa sebelum masuk sekolah? Saya mau tanya universitas dan jurusan apa saja yang ada, terakhir mas Heru pertanyaan saya, biaya hidup di sana tinggi gak? karena tabungan saya kurang lebih 100 juta, apakah cukup?
    pliz, ya mas.. tlong jawab pertanyaan saya karena saya sudah lama menggumuli ini. terima kasih.
    GBU..

  4. ridwan says:

    saya rasa….forum ini ga bermanfaat deh..soalne..mas heru nya pasti ga dapt info klo ada comment di sini………lagian ga ada pemberitahuan melalui email kepada member apabila ada comment atau pesan yg masuk………tolong utk adminnya supaya hal ini dipikirkan….sia2 aja kita ngasi comment tapi ga ada yg balas….thx……..salam buat om victor zebua……kapan qt ngadain seminar lagi om?? hehehehe

  5. Tety Novriyanti Telaumbanua says:

    Maaf, Heru memang kemungkinan tidak baca comment disini, tapi akan saya bantu hubungi. Daftar Universität atau Hochschule di Jerman ada di kolom pendidikan. Sebaiknya klo ke Jerman sudah belajar bahasa Jerman dari Indo. Memang ada beberapa Fach yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Tapi saya pikir, klo memang tinggal beberapa tahun di Jerman lebih baik belajar bahasa Jerman.

    Tidak pernah ada istilah terlambat untuk belajar, termasuk belajar bahasa Jerman. Yang penting ada kemauan dan segera mulai, cari kursus dan belajar sendiri. Kefasihan berbahasa Jerman tentu baru dicapai kalau sudah lama tinggal disini. Ada beberapa kemungkinan, bisa hanya mengikuti Grundstufe di Indo dan melanjutkan kursus disini. Saya sendiri seperti itu. Hanya memang biayanya lebih mahal, dan lebih banyak hal yang harus dilakukan untuk proses studi.

    Untuk pendaftaran ke Uni harus sudah lulus ujian DSH (Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang) atau Test DAF (Deutsch als Fremdsprache) atau di Goethe Institus ada: ZOP(Zentrale Oberstufenprüfung) atau KDS (Kleinen Deutschen Sprachdiploms) atau GDS (Großen Deutschen Sprachprüfung) . Klo mau praktis lebih baik selesaikan kursus di Indo, dan apply Uni dari Indo. Bagi yang lulusan SMU harus mengikuti Studienkollegs, itu bisa di Jerman, tapi ada juga di Indo.

    Pendaftaran ke Uni sendiri ada proses Bewerbung dan Immatrikulasi, dan sebaiknya menghubungi/ mengenal Profesor di Uni yang dituju. Beasiswa mungkin saja diperoleh, tapi tidak semua bisa mendapatkan beasiswa, ada syarat yang harus dipenuhi.

    Untuk pengurusan Visa pertama berangkat ke Jerman, setidaknya memiliki 7200 euro di tabungan, itu ditunjukkan pada saat menyerahkan permohonan Visa di Kedutaan, dan nanti pada saat perpanjangan Visa di Jerman. Juga harus ada undangan resmi dari Jerman, bisa dari kursus/ Studienkollegs atau Uni.

    Kebanyakan Uni di Jerman harus membayar uang kuliah kr. 620 euro/semester. Biaya hidup tergantung gaya hidup Student itu. Juga tempat tinggal, karena mencari Wohnung di Jerman cukup sulit dan harus memohon beberapa waktu sebelumnya. Hanya standard biaya hidup Student biasanya 500 euro/bulan, bisa lebih atau juga kurang. Untuk bekerja sampingan/ student Arbeit kebanyakan hanya boleh kalau sudah Immatrikulasi.

    Saya pikir klo ingin studi di Jerman setidaknya sudah memiliki kepastian biaya hidup untuk setahun, dan tahun berikutnya masih bisa berusaha. Selain itu tentu juga perlu cukup tekun mencari Info seputar kehidupan di Jerman. Uni di Jerman semua bagus, tergantung jurusan yang ingin dituju dan kemungkinan diterima di Fach mana.

    Semoga comment saya cukup membantu.

    Salam,

    Tety T.

  6. Redaksi says:

    Sdr. Ridwan,

    Komentar Anda di Buku Tamu berbunyi: “ah .. payah … comment ku malah di delete”.

    Menurut kami, komentar ini berlebihan dan dibuat-buat. Komentar yang dihapus persis sama dengan komentar Anda sebelum kementar Bu Tety di atas. Mengapa harus dimasukkan dua kali ?

    Membaca sajian dalam situs seperti Yaahowu ini hendaknya hanya dianggap sebagai langkah awal untuk mencari informasi lebih lanjut. Alasannya banyak. Situs semacam ini dikelola oleh Tim Redaksi yang bekerja secara sukarela. Situs komersial saja barangkali jarang yang mau “menyediakan” fasilitas komunikasi antara pembaca dan penyumbang artikel.

    Para penyumbang tulisan seperti Pak Heru juga tidak bisa kita harapkan melayani setiap pertanyaan dari para pembaca artikelnya. Mengirim tulisan saja sudah sangat kita syukuri, meminta lebih dari itu, kiranya agak berlebihan.

    Kalau tak salah, Anda dari dari latarbelakang informatika. Rasa-rasanya Anda jauh lebih beruntung dari pembaca yang lain, karena anda tahu apa artinya yang disebut “lautan informasi di dunia maya”. Untuk mendapatkannya, Anda tinggal berselancar ke mana-mana dengan kiat-kiat pencarian yang khusus.

    Mengandalkan informasi terbatas seperti di Situs Yaahowu ini justru memberi kesan, Anda belum memanfaatkan potensi/kompetensi informatika yang Anda miliki secara optimal. Semoga kami keliru 🙂

    Terima kasih kepada Bu Tety yang ikut membantu dengan informasi baru.

    Redaksi

  7. Heru Martinus Salim says:

    Hallo,

    maaf jika baru saya balas sekarang.

    Mungkin banyak yg sudah dijelaskan oleh Tety mengenai info2 kehidupan di sini.

    Mengenai bahasa, saya setuju sekali dengan Tety kalau sebaiknya memang menguasai bahasa jerman.

    Mungkin ada yg perlu diluruskan mengenai bahasa ini. Seringkali kita (termasuk saya) beranggapan bahwa kalau di luar negeri (negeri orang bule), berarti semuanya bisa berbahasa inggris. Sayangnya gak segampang itu, karena gak semua orang mempelajari bahasa inggris atau ada yg mempelajari tapi jarang mempergunakannya. Jadi saya rasa untuk membandingkan bisa juga dibandingkan dengan di indonesia. Meskipun ada yg bisa berbahasa inggris, tentu aja banyak juga yg gak bisa berbahasa inggris. Jadi buat saya pribadi, syarat bahasa ini wajib hukumnya, apalagi kalau kita bukan cuma mau sekolah, tp juga sambil cari kerja. Bayangkan, sulit sekali kalau kita kerja di restoran, tp pakai bahasa inggris (yg kerja di restoran, terutama dapur, blom tentu org yg punya kesempatan sekolah tinggi), belum lg dgn istilah2 tertentu.

    Jadi sekalipun ingin ambil program bahasa inggris, rasanya bahasa jerman tetap diperlukan. Dan perlu diingat, kalau kita ambil program bahasa inggris, biasanya programnya asal jadi, karena kurikulumnya gak diatur dengan baik2, tapi hanya asal campur aduk dari beberapa institut, diambil mata kuliah2 yg berbahasa inggris. Dan biasanya program yg berbahasa inggris hanya mempunyai pilihan yang terbatas. Jadi sulit buat dapet yang optimal kalau kita gak bisa menguasai bahasa Jerman.

    Untuk studi, sangat minimal diperlukan kemampuan setara ZD, biarpun sebenernya ini kurang sekali. Saya sendiri waktu ke jerman dengan modal ZMP, sampe jerman, cuma bisa bengong2… :-p Tapi memang pada akhirnya kita bisa belajar sedikit demi sedikit di Jerman. Sebagai info perbandingan harga. Kursus di Goethe institut jakarta, untuk mencapai ZD, perlu biaya 5-6 juta, dalam jangka waktu tergantung programnya (intensif/semi intensif/ekstensif). Sedangkan di jerman setau saya dengan program intensif perlu sekitar 6 bulan untuk mencapai ZD, dengan biaya sekitar 150-200€ per bulan (itu dah termasuk kursus yang murah). Tapi kursus di jerman memiliki keuntungan kita bisa langsung praktek.

    Kalau menurut saya, sebaiknya ZD di indonesia, lalu lanjutkan dengan program mittelstufe di Jerman.

    Dan saya setuju dengan Tety kalau sangat ideal kalau kita sudah dapet zulassung (tanda diterima) dari universitas pada saat kita masih di indonesia, karena biasanya kalau begitu universitas menyediakan kursus dengan harga yang sangat murah. Tp biasanya sekali lagi, minimal kita perlu setingkat ZD.

    Kalau mengenai jurusan, tergantung yang diinginkan. Sangat banyak, jadi sulit juga buat saya sebutin… 😀

    Di sini kalau program master biasanya jurusannya sangat spesifik. Sebagai info, waktu saya sampai di sini dgn zulassung program elektrotechnik, saya harus pilih 1 jurusan di antara 21 jurusan yang ada di fakultas elektrotechnik. Buat cari info, bisa dilihat di http://www.das-ranking.de/che8/CHE . Di website tsb kita bisa melihat peringkat sekolah berdasarkan jurusan. Tp sekali lg, kualitas universitas di jerman tidak berbeda jauh satu dgn yang lainnya. Semua tergantung kebutuhan atau interest kita punya. Yang perlu kita kenal lebih adalah pembedaan antara Universität dengan Fachhochschule. Untuk info ini, kalau ada yg tertarik, mgkn ada yg bisa jelasin, atau bisa hubungin saya lg.

    Dan mengenai biaya hidup, itu sangat relatif. Sangat berbeda satu dengan yang lain. Ada yang bilang 300… Ada yg bilang 500… Ada yg bilang 600, dsb…

    Dan seperti yg jg disinggung oleh Tety, harga tempat tinggal akan sangat menentukan biaya hidup.

    Mungkin saya akan coba merincikan kira2 biaya2 yg diperlukan.

    Pertama mengenai biaya tempat tinggal. Biaya tempat tinggal ini sangat tergantung dari kota di mana kita akan studi. Kota tertentu punya rata2 harga tempat tinggal 200.. Ada juga yang sekitar 150… Atau kalau di kota besar, rata2 250… Dan untungnya, bagi student (mahasiswa), ada yg namanya Studentenwohnheim (asrama mahasiswa) yang biayanya biasanya di bawah biaya tempat tinggal rata2. Sebagai perbandingan di kota Karlsruhe, harga kamar rata2 200-250€ tergantung ukuran. Tapi di studentenwohnheim tempat saya tinggal, hanya 160€…

    Sedangkan sebagai student, biaya asuransi wajib adalah 57€… Kalau kita datang belum sebagai student, kalau gak salah sekitar 25-30€… Tapi perlu diingat, kalau bukan sebagai student, kita gak punya ijin kerja, kecuali kerja gelap…. 🙂

    Biaya hidup (keperluan makan, badan,dsb) sangat tergantung satu org dengan yang lainnya. Tapi kalau pengen seminimal mungkin, rekor yang pernah saya capai sekitar 30€ per bulan. Tapi itu bener2 minimal sekali, dengan syarat setiap hari masak sendiri di rumah, dan mempertimbangkan apa aja yang mau dimasak. Tapi kalau mau hidup “normal” dengan sekali2 pergi makan di luar, rasanya 50€ per bulan adalah wajar. Dan kalau mau hidup agak santai diperlukan 100€ per bulan…. Buat yang gak bisa masak, gak perlu kuatir. Karena kalau dah di sini mau gak mau pasti jadi bisa masak…. :-p

    Biaya tiket sangat tergantung satu kota dengan yang lainnya. Di München, harus beli tiket bulanan :-(, untuk student 1 bulan 36€. Sedangkan yang di Karlsruhe tiket per semester sekitar 90-100€(sekarang sih katanya naik lagi)… Atau ada di bbrp kota yang biaya tiket dah termasuk biaya pendaftaran universitas, jadi gak perlu pengeluaran ekstra.

    Mengenai biaya hidup per bulan, supaya objektif, saya coba rincikan biaya makan di sini.

    Sekali makan di kantin mahasiswa… 1,50 – 2,50€
    Sekali makan di luar kantin (tempat umum) … 2,50 – 5,00€
    Sekali masak di rumah… 0,50 – 1,00€
    Jadi untuk masing2 silahkan dihitung kira2 kebutuhan hidup yg diperlukan….
    Untuk cuci baju sekitar 1,00€… Bahan cuci baju dsb kira2 5€ untuk 6 bulan…

    Jadi sebagai pertimbangan…

    Misalkan kita pertama kali datang bukan dengan status student, dan rencana jadi student dalam 1 tahun ke depan, berarti kira2 biaya per bulan adalah:
    – biaya kamar…. 200€
    – biaya asuransi… 30€
    – biaya makan, dsb… 50€
    – biaya tiket…. 40€ (harga tiket rata2 non-student)

    Total 300€… Tapi sekali lg, ini termasuk minimal…. Kalau mau “hepi-hepi”, rasanya perlu ekstra sekitar 50€, jadi total 350€…

    Jadi biaya total 1 tahun adalah 350€x12 = 4200€, atau sekitar 54 juta rupiah…

    Ditambah biaya kursus sekitar 6 bulan, ditambah kira2 800€ (kira2 10 juta)…

    Kalau datang lgsg sebagai student
    – biaya kamar… 180€
    – biaya asuransi.. 57€
    – biaya makan… 50€
    – biaya tiket 20€ (harga tiket rata2 untuk student)

    Total kira2 310… Tp dengan keuntungan bisa dapet kerja….

    Biaya 1 tahun kira2 360€ x 12 = 4320€, atau sekitar 57 juta rupiah… Dan biasanya kursus untuk student jauh lebih murah…

    Untuk bekerja, sebagai pertimbangan, saya pernah kerja di universitas hanya dengan 40 jam per bulan, mendapatkan 300€. Dan dengan pengeluaran per bulan sekitar 260-270€, saya masih bisa menabung sekitar 30€ per bulan. Dan keuntungan kerja di universitas adalah waktu kerja yang tidak mengikat sehingga tidak mengganggu studi kita…

    Untuk waktu sebelum mendapat kerja, ambil worst case, setelah 6 bulan baru dapat kerja… Jadi siapkan 6 bulan tanpa kerja…

    Jadi kalau menurut perhitungan tersebut sih, seharusnya 100 juta cukup untuk biaya hidup 1 stgh tahun… Dan sangat mencukupi untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan kerja di sini.

    Perlu diingat, pada awal kedatangan mungkin akan “mengambur2kan” uang karena biaya2 tak terduga, seperti perpanjangan visum, adaptasi untuk mengenal gaya hidup murah di jerman, jalan2, dsb… Mungkin bisa ditambahkan “pemborosan” biaya sekitar 500€….

    Tapi bagi yang punya dana di bawah itu pun, gak usah berkecil hati, saya sendiri total menghabiskan modal sekitar 5000€, karena akan tergantung gimana kita mengatur… Dan tentunya gak lepas dari bagaimana kita mau bersandar kepada Tuhan. Karena Dialah yang memegang hari2 kita.

    Satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Hidup di jerman sangat perlu bagi kita untuk terus keep informed dalam segala hal. Kita harus selalu aktif dalam mencari informasi, kalau tidak, kita akan ketinggalan informasi dan kita sendiri yang rugi. Orang jerman beranggapan, kalau gak mau cari, salah sendiri. Semua informasi pasti sebisa mungkin diusahakan mudah untuk ditemukan. Kebanyakan dari orang2 yang baru dateng ke sini, saat dikasih tau mengenai ada beberapa hal yg seharusnya lebih murah, biasanya hanya bisa menyesal karena sebelumnya kurang mencari informasi…

    Begitu aja kira2 yang bisa saya share…. Mudah2an cukup memberikan gambaran… Mungkin ada temen2 lain yang di jerman untuk memberikan info, ataupun yg gak setuju dgn info yg saya kasih di sini… Karena ini benar2 pandangan subjektif dari saya pribadi 😉

    Alangkah baiknya kalau ada masukan2 dari temen2 yang lain…

    Salam,

    Heru

  8. ridwan yg dulu ridwan says:

    hai semuanya…..

    thx buat mas heru……u r so friendly & kindly :D…….

    jarang lo yg seperti Anda….mau membagikan info dg sabar dan bahkan langsung menghubungi kita lewat email 🙂 …..semoga sukses terus….

    buat admin: ridwan minta maaf……..maksd gw bkn spt itu…..mgkn waktu itu lg stress2nya……hehehe…..so….penggunaan kata2nya ga tepat………….mgkn krn gw terbiasa testing website……so kritikannya seperti itu klo ada yg kurang……..hehehehe…sorry yach….klo bisa dihapus aj deh comment ku……

    “…..Semoga kami keliru…..” Anda benar kok 🙂

    thx

  9. rio says:

    Buat mas heruuu
    maju trus..
    pantang menyerah…
    dan slalu berdoa buat Tuhan
    tolong juga balas ke e-mail aku yachh mas
    makasih buat semuanya
    GBU

  10. owannesta says:

    Halo Mas Heru,

    Dulu waktu terima zulassung dari kampus berapa lama ya selisih hari/bulan dari tanggal deadline, masalahnya saya apply program master WS’07 di Pforzheim awal bulan juni 2007 (deadline 15 juli 2007) dan sampai saat ini (4 September) saya belum terima kabar apakah saya diterima atau tidak padahal awal kuliah adalah bulan Oktober. Kemudian saya cek juga di DHL juga sudah diterima paket aplikasihnya (sudah di confirm bahwa mereka sudah menerima paket aplikasinya). Tolong share ya mas pengalamannya. Trims.

Reply to Jimmy H.S ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>