Berdasarkan data statistik internal yang diolah pada tanggal 29 September 2008, angka-angka berikut dapat dikemukakan: (more…)
Archive for the ‘Fokus’ Category
Mempertanyakan Komitmen Kabupaten Nias Selatan Menyumbang Rp 22 Milyar Untuk Bakal Propinsi Tapanuli
Monday, October 6th, 2008Harian SIB online tertanggal 23 September 2008 memberitakan dua “berita gembira†menyangkut dukungan Kabupaten Nias Selatan terhadap pembentukan Propinsi Tapanuli. (more…)
HIMNI dan Sikap Penolakan Bergabung Dengan Bakal Protap
Tuesday, April 22nd, 2008Agak melegakan juga bahwa pada akhirnya Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) mengeluarkan sikap: menolak bergabung dengan bakal Propinsi Tapanuli (berita Nias Post, 5 April 2008). Kelegaan kita bukan pada ‘isi’ dari sikap HIMNI, jadi bukan pada sikapnya ‘menolak’. Kelegaan kita terletak pada kenyataan ini: bahwa sebuah organisasi yang mengatanamakan masyarakat Nias memiliki juga kepedulian pada masalah-masalah yang terkait dengan ‘Nias’, dalam hal ini: bagaimana Nias seharusnya menyikapi kelahiran Propinsi Tapanuli. (more…)
Kebenaran Visual Pembangunan Nias
Monday, March 31st, 2008*Mengenang Tiga Tahun Gempa Nias
E. Halawa*
Tiga tahun pasca gempa, Nias bukan hanya pulih dari dampak bencana tetapi telah mencapai kemajuan yang bahkan melebihi banyak kabupaten dan kota lain di Sumatera Utara. … TB Silalahi, Anggota Dewan Pengawas BRR NAD-Nias (Sumber: Waspada Online, 28 Maret 2008) (more…)
Mengapa Kita Menyoroti Terus ?
Tuesday, November 13th, 2007Minggu-minggu terakhir ini, Situs Yaahowu diramaikan oleh berbagai komentar sehubungan dengan tulisan Prof. Ingo Kennerknecht dan P. Johannes Hammerle tentang hasil-hasil penelitian pendahuluan mereka tentang asal-usul orang Nias menggunakan teknologi DNA/genetika. (more…)
Pemekaran Nias …
Monday, September 24th, 2007Keputusan DPRD Sumut minggu lalu (17 September 2007) untuk menyetujui pemekaran Nias merupakan langkah maju ke arah tercapainya perjuangan masyarakat Nias: terbentuknya 2 Kabupaten baru (Nias Barat dan Nais Utara) dan satu Kotamadya (Gunungsitoli). (more…)
P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam
Thursday, September 20th, 2007Tahun 2004, Eva Mariani dari koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, dalam sebuah tulisannya tentang Nias, menjuluki P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture. Para pembaca tulisan ini tentulah faham betul apa maksud dari julukan itu dan mengapa diberikan kepada P. Johannes. (more…)
Apa Kata Mereka ? – Makna Kemerdekaan Bagi Masyarakat Nias
Monday, August 20th, 2007Pengantar Redaksi
Apakah makna kemerdekaan bagi kita masyarakat Nias ? Pertanyaan ini kami kirimkan kepada sejumlah Ono Niha* yang bisa mengakses internet yang kurang lebih merupakan representasi dari masyarakat Nias yang mampu mengadakan permenungan tentang hal-hal seabstrak topik ini. (more…)
Museum Pusaka Nias dan Kesinambungannya
Monday, August 13th, 2007Dalam beberapa kesempatan Pastor Johannes Hammerle, Direktur Yayasan Pusaka Nias, menyampaikan keluhannya akan defisit anggaran yang terus menghantui keberadaan Museum ini. Dalam kesempatan peresmian “Omo Laraga” di Kompleks Museum Pusaka Nias baru-baru ini, Hammerle mengungkapkan bahwa biaya operasional bulanan Museum rata-rata Rp. 40 juta sementara penghasilan hanya berkisar Rp. 10 juta. Pemasukan ini berasal dari karcis masuk kunjungan ke Museum (baca artikel: Dan…“Omo Niha†Itu Diresmikan di Situs Museum Pusaka Nias). (more…)
Nias Meramaikan Ruang Maya
Monday, August 6th, 2007Beberapa bulan terakhir ini kita menyaksikan kehadiran blog-blog Nias meramaikan dunia maya. Sampai tulisan ini diturunkan, ada sekurang-kurang 20 (dua puluh) situs/blog dengan atribut “Niasâ€, yakni situs/blog yang dihadirkan oleh Ono Niha. Barangkali fenomena ini bisa masuk dalam rekor MURI. (more…)
Gunungsitoli, Nias Utara dan Nias Barat
Monday, April 16th, 2007Fokus kali ini mengambil tema “Gunungsitoli, Nias Utara dan Nias Barat†dengan alasan: ketiga daerah ini sedang dalam proses perjuangan untuk menjadi kabupaten-kabupaten baru. Kita sambut proses ini, karena kita yakini pembentukan kabupaten-kabupaten baru di Nias akan membawa peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah itu, mungkin bukan dalam jangka pendek, tetapi katakanlah mulai dari 10 tahun sejak pembentukannya.
Memperjuangkan sebuah kabupaten baru untuk Nias bukanlah hal yang mudah, apalagi memperjuangkan 3 sekaligus (dua kabupaten plus satu kotamadya). Selain harus memenuhi persyaratan administratif minimal yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat, perjuangan pemekaran juga harus melalui suatu proses politik yang panjang dan berliku. Proses itu telah dimulai, melalui berbagai kegiatan para tokoh masyarakat Nias, baik secara bersama-sama maupun melalui jalur-jalur khusus yang ditempuh secara individual. Memang, perjuangan semacam itu haruslah dilancarkan dari sejumlah “front†dengan strategi yang dinamis, disesuaikan dengan kondisi terkini dan proyeksi-proyeksi ke depan.
Perjuangan pemekaran kali ini bukanlah hal yang tak mungkin. Nias Selatan telah menjadi contoh nyata bagi kita semua. Kini Nias sedang “bermimpi†lagi, dan harapan kita: semoga mimpi itu cepat-cepat menjadi kenyataan
Melegakan, bahwa para tokoh masyarakat Nias dari hampir segenap spektrum menyadari bahwa perjuangan kali ini merupakan perjuangan yang harus ditangani bersama. Mereka sadar bahwa tanpa sinergi, perjuangan ini bakal kandas di tengah jalan. Meski mereka datang dari garis atau warna politik yang berbea-beda, mereka toh menunjukkan bahwa mereka adalah Ono Niha. Ke-Ono-Niha-an mereka mempersatukan mereka semua dalam perjuangan besar kali ini. Kita, masyarakat Nias, menyambut baik usaha-usaha yang telah dan sedang dirintis oleh para tokoh kita itu.
Apa yang pertama-tama kita harapkan dari pemekaran Nias ? Jawabannya sama dengan jargon pemekaran di mana-mana: “peningkatan kesejahteraan rakyat” (aspek ekonomi), walau sebenarnya pemekaran diharapkan juga berdampak positif terhadap aspek-aspek lain: ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan (baca:Prospek Otonomi Daerah di Masa Mendatang).
Kita berharap para tokoh masyarakat Nias memahami betul harapan masyarakat Nias itu. Dan kita yakin mereka telah dan sedang berjuang karena didorong oleh amanat masyarakat Nias itu. Dengan kata lain, kita berharap mereka berjuang pertama-tama karena dorongan amanat masyarakat Nias, sedangkan pamrih lain (yang memang amat manusiawi) seperti jabatan dan kekuasaan pasca berhasilnya pemekaran, biarlah mereka menempatkan itu sebagai prioritas terakhir.
Kita, masyarakat Nias tidak boleh hanya berharap. Kita juga harus berpikir dan bekerja keras membantu dan mendukung perjuangan yang telah dimulai oleh para tokoh kita, melalui kontribusi kita masing-masing. Minimal, kita coba berusaha menciptakan suasana sejuk.
Kita tidak boleh larut dalam euforia prematur, di saat-saat kita masih sedang berusaha merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Kita harus “menahan diri” dalam segala hal. Kita sebaiknya menahan diri menyebut “nama”, “mengelus jago”, dan sekali gus “menghajar” pihak-pihak yang kita anggap berseberangan dengan kita. Kita juga sebaiknya tidak terlalu antusias membeberkan berbagai jurus-jurus yang sedang ditempuh dalam proses perjuangan ini. Dalam perjuangan, apalagi dalam perjuangan politik, “transparansi” bukanlah segala-galanya. Bukankah ada waktunya kelak masyarakat Nias meminta “laporan pertanggunjawaban” perjuangan para tokoh itu ? Waktu itu belum tiba. Maka yang sebaiknya kita lakukan sekarang adalah: mendukung, menciptakan suasana sejuk, menahan diri, sambil tetap mengingat-ingatkan mereka yang berada di baris terdepan.
Euphoria prematur itu bisa muncul apabila sinergi tidak dapat diciptakan, terutama di antara mereka yang dipercaya berada di garis depan, di antara para tokoh kita tadi. Arak-arakan perjuangan ini haruslah rapih: setiap orang harus menjaga agar kehadirannya di dalam suatu garis barisan membuat arak-arakan itu semakin mantap hentakan langkahnya ke depan: tidak mendahului, tidak menyeberang ke garis lain, dan tidak berhenti di tengah jalan.
Penting sekali menjaga agar ‘vektor’ perjuangan selalu searah, sejajar, agar resultannya maksimal. Minimal, jangan sampai ada “vektor†yang berlawanan arah sehingga memperlemah daya dorong ke depan.
Euforia prematur bisa menjadi bumerang; yang paling tragis adalah apabila ia menjadi faktor utama pengganjal kesuksesan perjuangan itu sendiri. Kalau itu terjadi, kita semua patut dipersalahkan. (eh)
Semoga masyarakat Nias tetap menjunjung tinggi kearifan.
Nias Telah Mengambil Keputusan: Menolak Bergabung dengan Bakal Protap
Monday, January 29th, 2007Sekali lagi, kita mengangkat kembali masalah yang menyangkut bakal Provinsi Tapanuli (Protap), khususnya berkaitan dengan sikap Nias. Melalui sebuah keputusannya, DPRD Nias menolak Nias bergabung dengan Protap (Waspada 14 Januari 2007). (more…)
Akhirnya Masyarakat Nias Mengeluarkan Sikap: Menolak Bergabung dengan “bakal†Provinsi Tapanuli
Sunday, December 10th, 2006Hari Sabtu malam tanggal 2 Desember 2006, bertempat di Lantai II Kantor Bupati Nias Jl. Pancasila Gunungsitoli, berlangsung pertemuan penting yang barangkali memiliki efek jangka panjang buat Nias secara keseluruhan. (more…)
Enjoy Your Lunch, Brother …
Monday, December 4th, 2006*Sekali Lagi Tentang Gagasan Pembentukan Propinsi Tapanuli
Minggu ke 3-4 bulan November 2006 diwarnai dengan dinamika yang luar biasa tentang “Propinsi Tapanuliâ€. Pada tgl 22 November 2006, Redaksi menerima kiriman berita SIB dengan judul: Terkumpul Rp 1,1 Miliar untuk Perjuangan Propinsi Tapanuli. Ini tentu saja merupakan sebuah langkah maju Panitia untuk merealisasikan gagasannya: terbentuknya Propinsi Tapanuli. (more…)