Pulau Nias Bukan Tempat Pembuangan Bagi Aparat Bermasalah

Tuesday, March 15, 2011
By susuwongi

JAKARTA, Nias Online – Pernyataan Kapolresta Medan Kombes Tagam Sinaga yang akan memutasikan anak buahnya yang terbukti terlibat pungutan liar ke Pulau Nias memancing protes keras dari berbagai kalangan masyarakat Nias, baik di Pulau Nias maupun di perantauan. Pernyataannya itu dianggap sebagai penghinaan dan harusnya Tagam meminta maaf. Protes-protes itu sebagian disampaikan melalui media online, termasuk situs ini, mau pun pernyataan langsung kepada redaksi.

“Pernyataan itu tidak berdasar. Pikirnya Nias itu sama dengan Nusakambangan?” ujar tokoh masyarakat yang juga pemuka agama di Nias Selatan Pdt. Foluaha Bidaya, M. Div., kepada Nias Online di Jakarta, Selasa (15/3/2011).

Menurut dia, bila Polri mau membangun daerah Nias atau daerah terpencil atau daerah berkembang, seharusnya menempatkan polisi yang the best di sana. Jangan yang sedang dibina lalu pembinaannya di Nias.

Protes senada disampaikan warga Nias Utara yang berdomisili di Jakarta, Kolonel Chb (Purn) Ir. Adieli Hulu, MM yang mengaku terkejut dan kecewa dengan rencana Kapolresta Medan tersebut. Dengan pernyataan itu, kata dia, Kombes Tagam telah mengumumkan secara resmi kepada publik bahwa Pulau Nias adalah “tempat buangan”, pengganti hukuman bagi anggota Polri yang melakukan kejahatan kriminal.

“Dengan kata lain Pulau Nias adalah “penjara” bagi anggota Polri, sebagaimana halnya Pulau Nusa Kambangan tempat buangan dan penjara bagi narapidana di Indonesia. Apakah ini kebijakan Kapolresta Medan semata atau kebijakan institusi Polri yang dipimpin Jenderal Pol. Timur Pradopo? Sebagai putra Indonesia asal Pulau Nias, saya minta institusi Polri menjelaskan hal ini,” kata dia.

Menurut Marselino Fau, pernyataan Tagam itu tidak tepat dan tidak baik. Selain tidak mendidik bagi oknum yang bersangkutan, juga sangat merugikan citra Pulau Nias. Dengan kebijakan itu, Pulau Nias dicitrakan sebagai pulau pembuangan bagi oknum-oknum aparat yang nakal. “Dan kalau tugas di Pulau Nias, bisa-bisa yang bersangkutan tidak terkontrol,” ujar pria yang berdomisili di Jakarta tersebut.

Sementara itu, warga Nias Barat yang berdomisili di Jakarta, M. J. Daeli, meminta Kapolri menegur Kapolresta Medan tersebut dan dipublikasikan di media massa. Sebab, pernyataan itu dinilai tidak sopan dan tidak menghargai Pulau Nias. Dia menegaskan, Pulau Nias bukan tempat pembuangan bagi oknum polisi yang memeras. “Mohon Kapolri menegur Saudara Tagam secara resmi dan dipublikasikan melalui media. Hal ini penting agar masyarakat yang sopan tidak menyamaratakan anggota Kepolisian lainnya dengan Saudara Tagam,” kata dia.

Sebelumnya, anggota DPR RI asal Nias Yasonna Laoli menilai pernyataan Kombes Tagam tersebut sebagai penghinaan. Menurut dia, mentalitas seperti itu bukan mentalitas pemimpin yang berorientasi membangun. Melainkan secara sengaja merusak daerah lain. Dia juga mengingatkan, pernyataan Tagam itu sudah menyinggung masalah yang sensitif dan dia harus minta maaf. Anggota Komisi II DPR RI tersebut juga akan menyurati Kapolri terkait pernyataan Tagam tersebut.

Sebelumnya, pada Jum’at (11/3/2011) lalu Tagam memberikan pernyataan yang memutasikan ke Pulau Nias anak buahnya yang terbukti terlibat pungutan liar terhadap para sopir dan mandor di wilayahnya. “Jika terbukti ada oknum polisi melakukan pungli terhadap para supir angkot dan para mandor akan dicopot kemudian dimutasikan tugas ke Pulau Nias” ujar Kombes Tagam seperti dikutip Waspada Online. (EN/*)

20 Responses to “Pulau Nias Bukan Tempat Pembuangan Bagi Aparat Bermasalah”

  1. 1
    banuada Says:

    Ternyata, setelah ditelusuri, pernyataan serupa diungkapkan oleh Kapolda Sumut Oegroseno pada 10 Maret 2011 atau sehari sebelum pernyataan kapolresta medan. Ironisnya, pernyataan yang bernada menghina itu, diungkapkan Oegroseno yang kini menyandang bintang tiga itu jelang hari terakhirnya di SUmut. Dan, beberapa polisi yang bermasalah itu memang sudah dilantik dan ditempatkan di Polres Nias.

    Informasinya ada di sini: http://www.hariansumutpos.com/2011/03/1383/kapolda-saya-pindahkan-ke-nias-biar-tahu-rasa-dia.htm#comment-552

    Banuada

  2. 2
    marni manao Says:

    Sungguh tak berpendidikan ternyata para pemimpin jaman sekarang saya rasa tagam itu salah alamat tadinya masuk sebagai aparat penegak hukum, mungkin kalo dia bukan polisi lebih biadab dari preman kalee,dia pikir nias itu suatu pulau tempat pembuangan sampah apa? kalau memang merasa dirinya mau sebaiknya dirinya saja yg kenias agar lebih jelas melihat dulu ada baiknya pa tagam jangan pancing pisau belati dileher sekalipun anda pegang pistol yang mematikan, kalau pa tagam kurang cakep facenya sebaiknya berkaca dulu baru berkata sesuai face mu

  3. 3
    Drs. W. Nazara M.Hum. Says:

    Kami sangat prihatin jika betul seorang polisi berpangkat kombes dan menjabat sebagai kapolresta Medan mengucapkan atau berpikir bahwa polisi yang melakukan pelanggaran dipindahkan ke Nias. Sanksi atau hukuman bagi polisi yang melakukan pelanggaran seharusnya berupa teguran (lisan/tertulis), penundaan kenaikan pangkat,penurunan pangkat, pemberhentian/pemecatan, pemecatan dan penuntutan, atau hukuman lain sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Sebagai orang Nias yang beberapa kali diminta oleh salah satu POLDA menjadi saksi ahli bahasa asing/Inggris dalam dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh orang asing di Indonesia, saya sungguh mengecam ucapan (jika memang diucapkan seperti diberitakan di media massa)yang menyatakan bahwa polisi yang melakukan pelanggaran dipindahkan ke Nias. Saya pikir sangat logis kalau semua pihak, terutama masyarakat Nias), MENOLAK KEPUTUSAN MENGHUKUM POLISI ATAU SIAPA PUN YANG MELAKUKAN PELANGGARAN DENGAN MEMINDAHKANNYA KE NIAS, KARENA KEPUTUSAN SEPERTI ITU TIDAK SAJA BERARTI MENGHINA TETAPI juga BERARTI MENGHANCURKAN MASA KINI DAN DEPAN NIAS! YA’AHOWU.

    Drs. W. Nazara, M.Hum.
    Penasihat Ikatan Masyarakat Nias Sumatera Barat

  4. 4
    waruwu Says:

    1. Ini artinya PROGRAM PEMBINAAN tdk ada di tubuh KEPOLISIAN RI, tetapi hanya PROGRAM ANCAMAN yang ada dalam tubuh KEPOLISIAN RI ini( apakah ada dasar Hukumnya untuk program tersebut ? ).

    2. Ini juga pertanda bahwa PEMBODOHAN di tubuh Kepolisian Sumut masih berlanjut oleh para Perwira2 thd Bawahannya,Sekaligus menunjukan masih adanya para Perwira tinggi POLRI yang tidak profesional menguasai HUKUM NEGARA RI yang kita cintai ini, terbukti semaunya aja bicara untuk memutuskan hukuman tanpa pertimbangan pembinaan thd anggotanya yang bersalah , apalagi dengan ancaman menggunakan metode mutasi ke daerah tertentu yang mungkin di anggap bukan ATM KEPOLISIAN , tanpa menyadari bhw CONGORNYA ini sudah menyakut SARA/ menyinggung perasaan Masyarakat dan Adat Nias umumnya.

    3. Pendapat saya, polisi-polisi yg tdk mau di bina oleh Kapolda dan jajarannya ini bukannya menjunjung tinggi HUKUM NEGARA MAUPUN HUKUM POSITIF/ADAT NIAS nantinya, tetapi sebaliknya kemungkinan akan menjadi penyebar kasus2 kriminal ( Narkoba,Prostitusi , dll) di tengah2 masyarakat Nias dan mrk sudah ada di tengah2 kita..saat ini.

    4. Oleh karena itu…sebagai Warga Nias ,saya ingatkan kepada warga Nias yang lain , agar waspada thd penegakkan HUKUM NEGARA yang di lakukan oleh KEPOLISIAN RESOR Nias saat ini ,jika perlu HUKUM POSITIF/HUKUM ADAT kita lebih utamakan jika ada kecurangan dari mrk.

    5. Saya rasa Kapolri harus minta maaf atas pernyataan Kapoldasu dan Kapolresta Medan ini…trimakasih….

    Ya’ahowu…!

    Sumber-sumber informasi…:

    http://www.hariansumutpos.com/2011/03/1383/kapolda-saya-pindahkan-ke-nias-biar-tahu-rasa-dia.

    – niasonline.net /waspada

  5. 5
    Marselino Fau Says:

    Kepada Yth,
    Bapak Kapolri
    Jenderal Polisi Timur Pradopo

    Membaca pernyataan bawahan bapak :
    1.Saya sebagai orang Nias sangat kaget bahwa bawahan bapak yang berpangkat 3 bintang dan bunga melati masih mau menggunakan cara-cara melecehkan, menghina dan mempermalukan suku lain untuk menakut-nakuti bawahannya.

    2.Pernyataan tersebut merupakan cermin bahwa bawahan bapak bukan orang yang tepat untuk menjadi pemimpin di tingkat Polda maupun Polres. Cara mereka untuk menyelesaikan masalah tidak kreatif, mereka mengunakan cara-cara yang sangat kerdil dan bodoh yakni menghina dan melecehkan suku lain, mereka menyebarkan permusuhan dengan suku Nias (SARA). Tidak menggunakan otaknya sebagaimana fungsi otak diberikan oleh Penciptanya. Tuhan memberikan otak kepada mereka agar mereka bisa gunakan untuk mendidik bawahannya, tapi nyatanya mereka meneror bawahnnya dengan cara menakuti akan dimutasi ke Pulau Nias yang artinya NIAS dijadikan momok. Cara seperti ini LEBIH TERORIS daripada teroris yang sesungguhnya. Kebijakan tersebut membunuh karakter dan budaya orang-NIAS.

    3. Dalam diri setiap orang nias tertanam prinsip “sokhi mate moroi aila” artinya lebih baik mati dari pada dipermalukan” barangkali ini perlu menjadi perhatian dari bapak kapolri agar lebih bijak dan cepat menanggapi masalah ini.

    4. Untuk Bapak Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo kami orang Nias hanya menuntut agar agar ada permintaan maaf karena pernyataan ini dilakukaan oleh pimpinan polisi di polda sumut dan kemudian mereka diberi teguran berupa mutasi yang layak untuk mereka. Misalnya dimutasi ke Nusakambangan.

    Untuk saudaraku Yasonna Laoli
    Kami berharap agar saudara melakukan tugas menyampaikan tuntutan mewakili orang Nias lewat jalur yang formal dan konsolidasikan dengan orang-orang Nias yang ada di Jakarta mereka siap meluangkan waktu.

    Untuk saudara-saudaraku yang diperantauan dimanapun Anda berada
    1. Mari kita konsolidasikan pikiran dan semangga, melalui forum-farum atau ikatan-ikatan yang sudah terbentuk mari kita suarakan tuntutan kita agar penghinaan dan pelecehan seperti ini tidak terulang lagi.

    2. Untuk saudara-saudaraku yang diperantauan dimanapun khususnya yang tentara dan polisi apakah Anda tidak merasa malu dihina oleh orang yang seinstitusi dengan kalian? Kami menunggu…….

    Untuk saudara-saudaraku yang tinggal menetap di Pulau Nias
    1. Mari bersama-sama bertanya dipolres dan polsek setempat dan sampaikan tuntuan dengan santun tanpa menghina ataupun melecehkan. Perlihatkan bahwa kita orang Nias tidak suka menghina suku lain kecuali dihina lebih dulu.

    2. Satukan pikiran dan semangat “Haram hukumnya menginjakkan kakinya di tano niha bagi orang yang menghina dan melecehkan Pulau Nias”sampai tujuh turunan.

    Untuk Redaksi Nias Online

    Semua tanggapan yang di sampaikan agar dirangkum dan disampaikan/ ditujukan kepada Kapolri, Ccnya kepada Ketua DPR menteri pendidikan dan kebudayaan dan MenPAN mewakili pemerintah, semua Bupati dan Kapolres se- Nias, Gubernur dan Kapolda Sumut.

  6. 6
    banuada Says:

    Ngomong-ngomong, masyarakat Nias kan punya perwakilan beberapa orang sebagai anggota DPRD Sumut. Kemudian, selama ini di Nias dan di Medan ada juga beberapa kelompok mahasiswa dan LSM yang getol demonstrasi soal kasus korupsi atau kasus pilkada.

    Kenapa untuk hal yang sangat serius ini justru pada diam-diam saja ya? Pada kemana nyalinya? Ataukah untuk hal yang menyangkut harga diri ini harus hitung-hitungan?

    Redaksi Nias Online sudah memulainya. Baiknya teman-teman di Nias dan di Medan menindaklanjutinya.

    tks

  7. 7
    yustitus zagoto Says:

    Kepada sdra/i pembaca nias online, terutama artikel “pulau nias bukan tempat pembuangan”. disini saya memahami respon hati dan pikiran sdra/i dalam menanggapi artikel semacam ini. saya sebagai putra bangsa indonesia yang berasal dari pulau nias sekalipun hidup dan berkembang di daerah perantauan serta di didik dalam kehidupan disiplin tinggi sebagai militer tentunya sebagai putra nias tetap memiliki cinta akan tanah air leluhur yaitu pulau nias, teluk dalam nias selatan, bawomataluo tempat saya dilahirkan. saya sebagai masyarakat nias sekaligus sebagai aparat menanggapi hal ini justru bertolak belakang dari jiwa sebagai patriot bangsa lebih lagi sebagai aparat/pimpinan, sebab justru menurut saya dimata dan perasaan beliau pasti akan sama yaitu cinta akan anak buah/prajurit dan juga cinta akan tempat asal dimana dia dilahirkan. ingat kita sudah masuk dalam era reformasi dan otonomi daerah. disamping kita memiliki tugas pokok masing-masing marilah kita membangun daerah kita melalui “marsipature hutanabe”. dalam hal konteks diatas, atas ke khilafan beliau tentu diharapkan permohonan maaf dari beliau terima kasih ya’ahowu.

  8. 8
    Yustinus Wau Says:

    Cinta anak buah bukan berarti NIASKU dijadikan sebagai nusakembangan.
    Pemimpin model seperti komentar no. 7 sudah kuno dan basi alias di hide saja. Yang perlu saat ini adalah pemimpin/ patriot yang berbicara tegas dan bertindak tegas apa lagi Nias sekali lagi ; bukan tempat patriot yang rusak mental.
    NIASKU nyatakan ketegasan pada kombes itu bahwa kalau ada rencana seperti itu bicara dengan baik, sopan, hargai suku serta jangan bicara model di gedung wanita.
    wassalam

  9. 9
    Ononiha Raya Says:

    Ya’ahowu Fefu……

    Pernyataan Kombes Tagam Sinaga sangat menyakitkan dan menghina orang-orang Nias Sedunia…….

    Apalagi pernyataan tersebut telah dilaksanakan dengan dipindahkannya beberapa personil polisi yang bermasalah ke Nias Selatan…..

    Jadi dapat kita simpulkan bahwa polisi-polisi yang ada di Nias Selatan saat ini adalah orang bermasalah dan tidak berkualitas….

    Kami mohon kepada KAPOLDA SUMUT dan KAPOLRI agar segera melakukan pembinaan kepada anak buahnya yang bermasalah terutama kepada Kombes Tagam Sinaga… bukan menyelesaikan masalah dengan memindahkan masalah ke daerah lain……

    Saohagele…

  10. 10
    Drs. Kosmas Harefa, M.Si Says:

    Saya berpikiran bahwa sngat pantas kita semua, siapapun yang merasa berdarah Nias tersinggung atau paling tidak kurang”Srek” dengan pernyataan sang Kapolresta itu …. tapi di sisi lain saya juga ingin mengingatkan kita betapa hal-hal tersebut sesungguhnya menjadi bahan renungan bagi kita sebagai cikal bakal bangkit dan berbuat untuk Daerah kita….yah… Dalam pernyataan tersebut memang memberi kesan bahwa : Seakan NIas itu pantas sebagai tempat pembuangan, tempat orang-orang yang bermasalah……. namun mari kita merenungkan mengapa orang lain berpikiran seperti itu tentang Nias?…. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Marilah kita mulai berpikir positif untuk Nias kita…. Terus terang saya merasa kadang enggan berkomentar atau memberi pikiran tentang Nias kita dan apa saja yang terjadi di sana…. saya ragu, ketika saya ingin menyampaikan pikiran, jangan-jangan ntar saya dimaki-maki oleh sesama sesuku yang lain…. seperti halnya yang sering saya ikuti di sebuah web yang menggunakan nama nias juga, tentu tidak perlu saya sebutkan nama web tersebut….
    Jadi menurut saya, pernyataan politis Bang Yasona, patut kita apresiasi, tapi lebih dari itu biarlah juga hal ini menjadi renungan bagi kita : Emang kenapa Nias, Emang Bagaimana Nias, Emang ada apa Nias? Emang kenapa orang-orang Nias? sehingga harus dikonotasikan negatif seperti itu oleh orang lain?…….

  11. 11
    hikmat salomo Says:

    Ayo… Teman2 yaita Ono Niha sampaikan protesmu atas pernyataan Tagam ini.
    Ini adalah penghinaan dan sekaligus merusak citra dan persepsi orang diluar Nias tentang Tano Niha….
    Mari kita mohon agar mereka minta maaf.
    Satu tekad, kata dan semangat dan berbanggah sebagai orang Niase…

  12. 12
    Mathia J. Daeli Says:

    No.7 yang terhormat ! Sadar atau tidak atas komentar anda itu ? Kepatriotan yang anda maksudkan tidak sesuai dengan kepatriotan militer Pancasila yang membela kehormatan bangsa dan negara. Kita tidak berbicara mengenai religiositas tetapi tentang masalah pergumulan hidup sosial saling mengharghai dan menghormati. Kita juga tidak berbicara terlalu jauh secara primondial. Ini adalah masalah pergumulan hidup sosial. Hidup bermasyrakat dan bernegara bangsa.

    Kalau benar anda seorang militer, saya sarankan supaya segera perbaiki cara bepikir demikian. Kalau tidak maka atasan yang berhak menghukum anda (AMKU) akan menegur dan medisiplinkan anda karena tidak berjiwa ksatria.

    Seorang prajurit seharusnya berjiwa ksatria. Tidak membiarkan kehormatan Negara dihina. Kalau sungguh anda seorang militer, maka anda tau betul Negara ini plural (isme) yang setaraf dan berkedudukan sama. Militer berkewajiban menegakkan itu. Dengan perkataan lain , militer tidak membiarkan satu golongan atau suku atau pribadi pun dihina oleh pihak tertentu termasuk oleh oknum dari institusi kepolisian dalam hal ini .

    Seandainya anda sadar akan kemiliteran anda, akan mengetahui tanggapan-tanggapan yang disampaikan oleh teman-teman dari Nias bukan marah tidak terarah. Membela kebenaran kehormatan Pulau Nias dan tentu kehormatan NKRI. Orang dari suku apa pun dia, yang memiliki harga diri pasti tidak mau dilecehkan tanah leluhurnya atau diperlakukan tidak sopan oleh siapa pun dan pasti bereaksi seperti yang dilakukan saudara-saudaramu dari Nias. Itu normal dalam hidup manusia yang beradab. Maukah anda kalau rumah/tanah kelahirannmu dijadikan tempat pembuangan sampah oleh instansi tertentu ?

    Anda menceritakan anda Ono Niha, kalau tidak lupa kampungmu (kampung kita) maka ada pepatah orang tua yang mengatakan : “AOHA MATE MOROI NA AILA” . Masih ingat…’kan ? atau sudah lupa !? Tetapi tidak kita sekarang tidak demikian. Kita sudah terpelajar dan terdidik.Tanggapan-tanggapan dilakukan dengan terkendali – secara persuasif melalui atasan Jendral bintang tiga emas itu.

    Juga tidak perlu anda mengait-ngaitkan hal ini dengan semangat reformasi, OTDA, dan sejenisnya. Renungkan dan pasti akan … merasa aila sendiri.

    Pada akhirnya saja ajak anda memahami tanggapan dari Ono Niha mengenai hal ini. Tanggapan tidak perlu sama tetapi tidak juga berkomentar seakan-akan lebih baik mendiamkan saja dan berikan pipi kiri untuk ditampar lagi.

    Ya’ahowu

    M. J. Daeli

  13. 13
    Jhon Says:

    Tulisan Pak Yustinus Zagoto kok berantakan gtu y..,apa ini salah satu Polisi yang ditempatkan di Nias karena melakukan suatu kesalahan??

  14. 14
    waris wau Says:

    U-coment 13,
    Aduhh….hhh,aaahh sibapak,belajar juga untuk tdk berantakan,penulisan nama yg di coment harus jelas juga ya bapak.
    coment’no7 atau 8.thanks

  15. 15
    Asaaro Zai Says:

    Komentar Pak Drs. Kosmas Harefa, M.Si (#10) dan Pak Mathias J. Daeli (#12), saya sependapat. Saohagolo

  16. 16
    Ugi Daeli Says:

    Like Mr. Kosmas Harefa !!
    Mari pikirkan kenapa mereka berpikir untuk membuang ke Nias. Damn !! mereka pikir Nias itu terbelakang. Sekarang mari kita bertindak majukan Nias.

    Like Mr. Mathias J. Daeli !!
    Masalah ini merupakan cara pandang pihak lain terhadap Nias. Sadar tidak sadar, Nias dipandang kurang baik oleh mereka. Dan warganya yang harus membela dengan terhormat dan terpelajar.

    Unlike Mr. Yustitus Zagoto !!
    Salah satu insting manusia yang hakiki dari Yang Illahi adalah mempertahankan eksistensinya. Semoga anda bisa mengerti bahwa hal ini bukan sekedar pemakluman semata. Mungkin kita belum semaju mereka tapi kita setara dengan mereka dan karena itu saya menolak pernyataan petinggi-petinggi tersebut.

    To All
    Ayo majukan Nias !!

  17. 17
    waris wau Says:

    Niomasioda “TANO NIHA”ba
    YAAHOWU ndra TALIFUSO

    Tanggapan yang bercorak bahkan coment yg extrim sekalipun,adalah bagian dari sudut pandang yang berbeda-beda,yang tdk pernah akan mengurangi rasa cinta kita pada tanah kelahiran kita”TANO NIHA”
    Dan semua pernyataan apapun dari pribadi TAGAM SINAGA atau atas nama INSTITUSI,menyudutkan(menjelekan) citra NIAS,layak kita bela dan minta pertanggungjawaban dari seorang TAGAM untuk meminta maaf kepada masyarakat nias.
    U-TAGAM SINAGA
    -Jangan pernah menciptakan ketakutan yg berlebihan sebelum mengenal lebih dalam sosok yg menakutkan.
    -Ciptakan komunikasi dalam level manapun secara beretika(adab)
    -Ciptakanlah figur seorang BAPAK dalam memimpin anak buah.

    Yth;Bapak M.J DAELI
    Maaf ya pak,apakah bapak salah seorang perumus naskah ‘PENDIDIKAN MORAL PANCASILA’untuk SD,SMA dulu???? klu benar pak,tidak salah lagi: pak TAGAM harus belajar moral(etika) pada bapak.dibuka pintu ya pak???
    kalau salah diabaikan aja ya pak,kita cari guru etika yang lain……..(xxxxxx…)saohagolo

  18. 18
    Pdt. Bungsu, S.Th Says:

    Ya’ahowu…talifuso..!!
    Salam damai…..SYALOM!buat apa sich kita merasa lebih baik dari orang lain? merasa kita adalah orang-orang yang tak pernah salah? jujur atau tidak kita suka melihat kesalahan orang lain sedangkan dosa kita nyata didepan mata! marilah..ciptakan manusia berkarakter spritualitas benar. Saya kurang setuju pendapat Mathias J. Daeli mengesampingkan religious dan mengedepankan Humanisme. Manusia yg benar adalah manusia yg beriman. jika iman manusianya benar maka pikiran dan mulutnya benar

  19. 19
    budiharefa Says:

    ya’ahowu…………..syalom!!!!!!!
    peryataan pak TAGAM itu jelas sangat menyakitkan hati kita sebagai masy
    arakat nias.hal itu seakan menjelaskan bahwa petugas2 yang sekarang sedang bertugas di nias itu kurang baik.tapi klo boleh baiklah itu sampai disitu aja,gak usah kita pelajari terlalu jauh.aku yakin dia pasti sudah mengerti bahwa dia telah silaf dalam kata.memaafkanNya jauh lebih baik dari pada membencinya.aku yakin ucapan para tokoh2 masyarakat diatas udah cukup untuk mewakili masyarakat nias seluruhnya.aku berpikir begini oleh karna supaya jgn ada silaf kata saling menyinggung sesama para comentar karna hal itu hanya membuat jiwa kurang senang dan aku yakin itu.kita punya latarbelakang yg berbeda jadi tentu saja opini dan pandangan kita pasti tak jauh dari profsi kita.baik kita gunakan perbedaan itu untuk membangun pulau kita tercinta ini dengan bersama-sama.jangan menghimpun kata hanya untuk membahas sepotong {wea-wea} TAGAM,anggaplah seperti itu…….

  20. 20
    Mathias J. Daeli Says:

    Pendeta Bungsu, STh, Yth,

    Saya tidak keberatan anda tidak setuju dengan pendapat saya. Karena prinsip saya : menghargai perbedaan pendapat. Saya tidak memaksa anda dan memang saya tidak memiliki hak untuk memaksa siapa pun dalam hal ini. Pendapat yang saya sampaikan mengenai ini (bukan hanya dalam forum ini)dalam konteks kehidupan manusia yang beradab. Lebih khusus dalam konteks kehidupan negara Pancasila – NKRI.

    Pendeta pasti tidak keberatan bahwa “setiap manusia harus saling menghargai”. Malahan “seharusnya” saling mencintai sama dengan dirinya sendiri. Sekarang saya tanya kepada Pendeta Bungsu :

    1. mengapa anda menghubungkan dosa dengan sikap dan perbuatan oknum kepolisian seperti itu terhadap masyarakat Nias ? Apa pengertian dosa menurut anda ? Apa anda telah memutuskan bahwa itu dosa ? Bukankah dosa itu hanya Tuhan yang menentukan ?
    2. apa sikap dan tindakan anda jika rumah anda dijadikan tempat buangan barang busuk ? Atau, ada oknum yang menjadikan tanah leluhurmu, halaman rumahmu dijadikan tempat buangan barang busuk ? Apakah anda diamkan sikap dan perbuatan oknum yang melakukan itu ? Bagaima anda memmperbaiki sikap dan perbuatan yang tidak manusiawi itu kalau anda diam saja ? Bukankah kita “seharusnya” menegurnya sehingga ia memperbaiki diri dan tidak melakukan lagi.
    3. apakah menurut anda : kesalahan menurut adab manusia sama dengan dosa ? Apakah kesalahan dalam hukum pidana (semua)juga dosa ? Apakah menurut anda : semua pelanggaran terhadap norma dalam kehidupan manusia beradab juga dosa ?
    4. apa yang anda maksud manusia “berkarakter spritualitas benar” sama dengan “beriman menurut agama dan kepercayaan masing-masing”?
    5. menurut anda : apakah ada perbedaan pengertian antara kata “religiositas” dengan “religius” ?
    6. apakah dalam kalimat saya anda menemukan kata “religius” ?

    Tolong renungkan jawaban. Saya senang kalau kita saling “bersumbang-sadap-saran” dengan argumentasi yang membangun. Terima kasih.

    Ya’ahowu

    Mathias J. Daeli

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2011
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031