Diduga Membunuh – Anak Korban Gempa Nias Diancam 15 Tahun Penjara

Thursday, October 15, 2009
By susuwongi

JAKARTA – Kepolisian Resort Jakarta Timur telah menetapkan M sebagai tersangka pembunuhan atas ibu angkatnya Etty Rochyati dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Saat ini M ditempatkan ditempat khusus dengan perlakuan khusus di Polres Jakarta Timur.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Hasanudin mengatakan, M dikenai pasal 44 ayat 3 Undang-Undang 23/2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. M diduga melakukan penganiayaan fisik hingga menimbulkan korban jiwa. “Ancamannya 15 tahun penjara,” kata dia seperti dikutip dari situs berita Detik.com. Sebelumnya, kepada polisi, M yang berusia sekitar 10 tahun itu mengaku sebagai pelaku pembunuhan terhadap ibu asuhnya itu.

Hasanudin menjelaskan, selama pemeriksaan, M didampingi psikolog anak dari Komisi Nasional Perlindungan Anak. Selain itu, kata dia, Polri juga akan memeriksa orang yang membawa M dari Nias beberapa tahun lalu. Hal itu untuk memastikan apakah M benar-benar anak korban gempa dan tsunami Nias atau bukan.

Menurut penuturan suami Etty Rochyati, Amir Hamzah, M diberitakan dibawa ke Jakarta tiga tahun lalu oleh seorang anggota TNI, 2004 paska gempa dan tsunami Aceh-Nias. Orangtua M juga diduga telah meninggal dunia. Pada saat ditemukan di kampungnya, M dalam keadaan linglung bahkan tidak tahu namanya sendiri.

Di Jakarta, anak itu kemudian diberi nama M. Di berita lain, insial M itu merupakan singkatan dari nama Musyid. Sebelum menetap bersama keluarga Amir Hamzah, M mengaku mendapat perlakuan kasar sehingga kabur dari keluarga yang mengasuhnya sebelumnya. Namun, Amir membantah bahwa di keluarganya pun, M mendapat kekerasan serupa.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi usai menjenguk M di Polres Jaktim mengatakan, Polri perlu memeriksa saksi lain untuk menemukan titik terang latarbelakang pembunuhan itu. Sebab, kata dia, anak tersebut merupakan korban kekerasan. “Orang tua asuh, baik yang lama mau pun yang baru perlu dimintai keterangan lagi,” kata dia seperti dikutip dari VivaNews.com
.
Saat diperiksa di Polres Jakarta Timur, M sempat mengungkapkan kepada Kak Seto mengenai kerinduannya dengan keluarganya di Nias. Sebab, ayahnya sudah meninggal sedangkan keberadaan ibu dan keluarganya tidak jelas. M juga mengaku sering dihina dan direndahkan. M juga bahkan dijauhkan dari kenangan dengan keluargannya dimana bila dia menanyakan orangtuanya, keluarga angkatnya tidak pernah memberi tanggapan.

“Rasa rindu yang tidak tersalurkan tersebut berubah menjadi dendam dan sakit hati. Saya juga akan mendampingi M karena M sebelumnya menjadi korban kekerasan dan perlu dilindungi,” papar dia.

Sehari sebelumnya, Kak Seto juga mengungkapkan, mengacu pada UU Pengadilan Anak, M tetap harus menjalani pengadilan. Namun, menurut dia, hukuman yang diberikan harus bersifat edukatif. Meski tindakan M tersebut tidak dapat dibenarkan, namun pada dasarnya M membutuhkan perhatian.

“Dia korban tsunami Nias, kemudian dibawa ke Jakarta, dia sering mendapat perlakukan kasar. Dia juga disuruh melakukan pekerjaan berat. Jadi dia rindu kampung halaman di Nias, mau pulang tetapi dia sudah sebatang kara,” terangnya. Kak Seto juga mengungkapkan, selama diperiksa, M mendapat perlakuan baik dari polisi. (Dirangkum dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

October 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031