Jalan-jalan Makin Mulus, Perekonomian Masyarakat Nias Tetap Berjalan di Tempat

Friday, March 27, 2009
By nias

Dalam salah satu bagian wawancara dengan Nias Online pada tahun 2007, William Syabandar – Kepala BRR Perwakilan Nias ketika itu – menjelaskan proses RR Nias dengan membeberkan sejumlah angka-angka dalam rupiah seperti terlihat dalam tabel berikut.

Dari angka-angka tersebut jelas kelihatan bahwa misi utama BRR di Nias adalah sungguh-sungguh rekonstruksi (membangun kembali yang telah rusak) dan ‘rehabilitasi’ (memulihkan) dua istilah yang memiliki pengertian yang kurang lebih sama – mengembalikan ke keadaan normal sehingga bisa bergerak kembali seperti sediakala. Ini terlihat dari alokasi dana untuk infrastruktur sebesar Rp 5 trilyun atau 47.6%. Menyusul adalah perumahan dan pemukiman yang menyerap dana sebesar Rp.1.7 trilyun. Kedua mata anggaran berkaitan langsung dengan pembangunan kembali atau pemulihan tadi.

Berapa dana yang ditujukan BRR Nias untuk memberdayakan ekonomi rakyat ? Ditinjau dari angka, cukup besar bagi ukuran Nias, yakni sebesar: Rp. 900 miliar. Kutipan berikut diambil dari Siaran Pers BRR Nias yang ditayangkan Nias Online pada tanggal 28 Maret 2008:

Untuk pembangunan kembali perekonomian dan perdagangan, maka saat ini sedang dilaksanakan pembangunan pasar modern Ya’ahowu di pusat kota Gunungsitoli Nias. Pembangunan pasar ini menelan dana Rp. 20 milyar lebih dan saat ini hampir rampung. Menurut rencana bangunan pasar ini akan diserahkan kepada Pemda Nias pada awal Mei 2008 mendatang. Selain itu, hingga kini setidaknya 72 pasar tradisional dan penunjang yang rusak telah dibangun kembali.

Sebagai bagian dari pengembangan ekonomi adalah pengadaan alat dan mesin untuk industri rumah tangga dan insudustri kecil. Selain itu pemberian modal usaha kepada 480 UKM sebesar Rp.2,4 milyar serta bantuan kepada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar Rp. 6 milyar.

Sektor pertanian berupa intensifikasi padi untuk 500 ha, intensifikasi karet sebesar 250 ha dan ekstensifikasi 74 ha, kakao 250 ha, jagung 250 ha dan cabe 60 ha. Sedangkan sektor perikanan berupa pengadaan peralatan pendukung nelayan, pengadaan 1 buah Tempat Pelelangan Ikan dan pengadaan kapal motor sebanyak 104 unit.
Peternakan juga mendapat perhatian, berupa pemberian bantuan pemberdayaan peternak ayam dan babi serta pembangunan 2 buah rumah potong hewan. Sedang pada sektor pariwisata berupa pengembangan ekowisata pantai Genasi dan Toyolawa, Danau Megoto dan bantuan transplantasi terumbu karang di 2 lokasi.

Infrastruktur irigasi teknis persawahan yang rusak juga dibangun kembali. Sampai dengan Desember 2007 telah terbangun sistem jaringan irigasi teknis di 33 Daerah Irigasi (DI) seluas 7.448 Ha. Pada tahun 2007 juga terbangun 22 DI seluas 2.900 Ha dari dana Asian Development Bank (ADB) dan dana APBN sebanyak 9 DI setara 740 Ha.

Terkait program ini adalah rehabilitasi/normalisasi sungai berupa 12 ruas sungai di Kab. Nias dan 5 sungai di Nias Selatan. Pembangunan pengamanan pantai di 2 lokasi. Pembangunan drainase primer dan sekunder di 3 wilayah (Gunungsitoli, Lahewa dan Teluk Dalam). UNDP turut mendukung sektor ini yaitu berupa membangun jaringan tersier seluas 4.800 ha.

Pembangunan irigasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani sawah Kepulauan Nias dari 1,72 ton/ha menjadi 4,5 ton/ha. Peningkatan produktivitas ini sangat mendukung suksesnya program swasembada beras di Nias yang dicanangkan oleh Pemda Nias.

Masyarakat Nias masih menunggu dampak dari pengembangan ekonomi rakyat tersebut. Namun dari pengamatan Nias Online pada bulan Desember 2008 – Januari 2009, kehidupan ekonomi masyarakat Nias masih tetap seperti sediakala, seperti sebelum gempa Maret 2005. Pengamatan Nias Online di dua kecamatan – Hiliserangkai dan Botomuzõi – menunjukkan masyarakat di sana tetap saja mengandalkan sumber penghasilan tradisional: bersawah dan menyedap pohon karet.

Dari keterangan beberapa orang penduduk sejumlah desa di kedua kecamatan tersebut disimpulkan, dampak RR Nias di bidang peningkatan penghasilan sama sekali tak terasa. Selesainya program BRR di Nias berarti berakhirnya juga sebuah sumber pendapatan musiman penduduk, dan kembalinya penduduk setempat kepada kegiatan ekonomi tradisional: bersawah dan menyadap pohon karet.

Hingga beberapa bulan menjelang akhir tahun 2008, masyarakat di kedua kecamatan masih menikmati tingginya harga karet yang dijual di harimbale-harimbale sebesar sekitar Rp. 10.000 / kg. Menjelang akhir tahun 2008, harga karet merosot tajam mencapai level Rp. 4000 per kg.  Sejalan dengan itu, curah hujan yang terlalu tinggi selama beberapa bulan hingga menjelang akhir tahun 2008 tidak memungkinkan petani mengerjakan lahan sawahnya.

Awena mohanu niha khõda na ifuli zui mõi yawa mbõli gitõ irugi Rp. 10 ribu ma tõra. Iada’a hatõ Rp. 4000; ba bõli mbõra ya’i ba Rp. 4000 – 5000 sadumba. Ba tola na fatete zino bakha ba zi samigu; ba barõ-barõ da’a ba teu manõ …” (Masyarakat kita baru bisa bernafas lega kalau harga karet kembali mencapai Rp. 10 ribu per kilo atau lebih. Sekarang tinggal Rp 4 ribu per kilo sementara harga beras mencapai Rp. 4000 – 5000 per tumba (1.5 kg). Masih mending kalau kemarau beruntun, tetapi dalam bulan-bulan terakhir justru hujan yang lebih banyak …).

Demikian pembicaraan Nias Online dengan salah seorang penduduk di Kecamatan Botomuzõi pada pertengahan Januari 2009 lalu.

Program RR Nias agakya telah mencapai targetnya: memulihkan Nias dari kehancuran akibat gempa Maret 2005. Pemberdayaan ekonomi masyarakat Nias adalah hal berikutnya yang perlu mendapat perhatian khusus, sungguh-sungguh khusus. (eh).

* Sumber: Wawancara Dengan Dr. William Sabandar (2)

** Keterangan Gambar:  (1) Jalan mulus hasil RR Nias di Gunungsitoli, (2) Pohon karet (hafea) yang sudah tak begitu produktif lagi di sebuah desa di Kecamatan Botomuzõi.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031