Anak Nias di Panti Asuhan Maranatha

Monday, March 16, 2009
By Moyo

“Waktu gempa, rumah kami hancur. Kedua orangtua luka-luka, tapi saya tidak luka.” Demikian diungkapkan Ruth ketika ditemui Nias Online awal Maret di Panti Asuhan Maranatha. Ruth salah seorang dari 26 anak Nias yang hampir empat tahun diasuh oleh panti asuhan tersebut, setelah kejadian gempa di Nias. Ruth berasal dari kampung Laowi, desa Silimabanua, kecamatan Lahusa. Ruth lahir Oktober 1993, nama pemberian orangtuanya adalah Gatiana Hulu.

“Di kampung saya kelas-5 SD, sekarang kelas-6. Saya sekolah di SD Negeri Banjarwaru”, kata Gatiana Hulu yang ketika tiba di panti asuhan berumur 12 tahun dan diberi nama Ruth. Saat itu, sesuai kemampuan akademik dan kendala bahasa (karena tidak fasih berbahasa Indonesia), Ruth mulai bersekolah di kelas-3. Hal yang sama juga dialami teman-teman Ruth, turun kelas dua atau tiga tingkat. Mereka didatangkan dari pulau Nias, kemudian disekolahkan, oleh Yayasan Maranatha.

Yayasan pimpinan Parlin Napitupulu tersebut awalnya tidak mengelola panti asuhan. Menurut pengasuh panti asuhan, Sondang Silalahi, tahun 2005 pimpinan yayasan mengunjungi Nias yang dilanda gempa, hatinya tergerak menolong anak-anak Nias korban bencana alam itu. Pihak yayasan lalu membentuk Lembaga Peduli Generasi Penerus. Mengambil tempat di salah satu rumah retreat di Ciawi, jadilah lembaga ini mengelola panti asuhan.

Panti Asuhan Maranatha hanya mengasuh anak Nias korban gempa itu. Seluruhnya 26 orang, 3 putri dan 23 putra, sekarang berumur 9-15 tahun (kelahiran 1993-2000). Mado (marga) mereka: Baene (4 orang), Bu’ulõlõ (3 orang), Gea (2 orang), Giawa (4 orang), Hulu (3 orang), Laia (8 orang), Telaumbanua (2 orang). “Beberapa waktu setelah gempa, tepatnya tanggal 1 Juni 2005, beberapa anak sampai di Ciawi. Secara bertahap teman-temannya menyusul datang dari Medan. Mereka naik pesawat dari Medan”, kata Matius Ginting, juga pengasuh panti asuhan yang berlokasi di Ciawi – Bogor, itu.

“Waktu itu diumumkan oleh pendeta gereja GBI (Gereja Bethel Indonesia, red.) di kampung , ditanya siapa yang mau ikut, mau sekolah. Orangtua saya mendaftar. Saya dibawa ke Medan, diperiksa kesehatan kalau gak ada penyakit TBC”, kata Ruth. Hampir empat tahun berada di panti asuhan, Ruth belum pernah pulang ke Nias. Bapak dan mamaknya pernah menelpon tiga kali, cukup mengobati kerinduan Ruth pada mereka. Di buku catatan Nias Online, Ruth menulis nama orangtuanya, bapaknya Fa’atule Hulu, mamaknya Bafire Jebulo. “Saya senang di sini karena disekolahkan. Sekolah dekat, dari sini hanya berjalan kaki”, ungkap Ruth yang bercita-cita menjadi guru SD. “Di sini kami makan tiga kali sehari, yang masak Bu Sondang dibantu anak-anak”, lanjut anak kedua dari tiga bersaudara keluarga petani ini.

Maria, teman sekamar Ruth, juga memendam rasa rindu bertemu orangtuanya. “Ingin pulang gak boleh, tapi saya ingin di sini karena sekolah”, kata Maria kelahiran September 1993. “Bapak pernah dua kali nelpon”, lanjut Maria yang nama lamanya Kalenihati Baene. Maria anak keenam dari delapan bersaudara, anak dari Fazekhi Baene dan Rimizause Bulelu (nama orangtua Maria yang ditulisnya dalam buku catatan Nias Online). Adiknya, Esther kelahiran Juni 1994, juga ikut bersama Maria, sekamar di panti asuhan. Esther dan Maria sekarang sama-sama kelas-5 di SD Negeri Banjarwaru. Bila Maria bercita-cita menjadi model (peragawati), maka Esther ingin menjadi pendeta.

Beraneka-ragam cita-cita para anak Nias di panti asuhan ini. Selain menjadi guru, pendeta, dan model, ada yang ingin menjadi polisi, tentara, dokter, pilot, astronot, bahkan profesor. Ada pula yang ingin menjadi pembalap atau pemain bola. Sebagian besar masih SD, hanya dua anak yang telah kelas-1 SMP. Daftar jadual kegiatan harian mereka relatif teratur dan kondusif untuk belajar. Menurut Ruth, hanya Sabtu dan Minggu mereka diperbolehkan menonton televisi. Bukan mustahil kelak mereka mampu meraih cita-cita masing-masing.

“Sekolah ke-24 anak di SD Negeri bebas biaya, kecuali untuk pembelian buku. Sedang dua anak yang SMP dibiayai orangtua asuh”, kata Sondang Silalahi. Menurut Sondang, untuk biaya makan, panti asuhan perbulan mengeluarkan dana sekitar Rp. 6 juta. “Pembiayaan didapat dari donatur, memang kami belum memiliki donatur tetap”, tambah Matius Ginting. “Kami berupaya mengasuh mereka sampai besar, bisa mandiri, atau sampai mahasiswa”, lanjut Matius.

Menurut Matius, setelah para anak Nias di panti asuhan besar, kehidupan mereka akan dikembalikan ke anaknya (mereka sendiri), bukan ke orangtuanya. “Kalau orangtua atau keluarga mau minta kembali, untuk apa, dilihat dulu alasannya. Waktu itu ada perjanjian dengan orangtuanya”, tutur Matius ketika ditanya sikap panti asuhan seandainya sekarang orangtua ingin meminta kembali anaknya. “Tapi masih boleh diminta kembali, dengan banyak pertimbangan”, kata Matius Ginting yang lulus Seminari Bethel Medan tahun 2002 ini. Matius Ginting mohon dukungan doa agar visi tercapai, sehingga Panti Asuhan Maranatha selain untuk anak korban bencana alam (seperti sekarang), bisa untuk anak yatim-piatu.

Sesuai UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak (pasal 59, 60), Panti Asuhan Maranatha sedang memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, yaitu korban bencana alam. Suatu niat dan upaya yang mulia. Patut diapresiasi. Relung hati para dermawan diketuk untuk ikut membantu. Namun, perlu diperhatikan hal yang berkaitan dengannya. Menurut undang-undang tersebut, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (pasal 1, butir 1).

Setelah umur 18 tahun, apakah anak Nias di panti asuhan masih disebut anak asuh (pasal 1, butir 10)? Selain itu, pemberian nama baru bagi anak Nias di Panti Asuhan Maranatha tentunya memperhatikan identitas anak (pasal 27). Selain bahasa Indonesia, penggunaan bahasa ibu (bahasa Nias), tentu tetap perlu dikembangkan di antara mereka (pasal 65).

Ketika Bendris Tazuno yang menemani Nias Online mengajak menyanyikan lagu Tanõ Niha, para anak Nias itu cukup semangat bernyanyi. Memang, ada beberapa di antaranya agak lupa beberapa syairnya. Namun lagu itu, dalam pertemuan seperti ini di rantau orang, syairnya terasa menggugah hati. Tanõ Niha banua somasido […] he mukoli dao ba zarõu, ba lõ olifudo sa ia… Di dalam hatinya, Ruth bertekad ingin membangun Nias, dia mohon dukungan doa. Sementara Esther mohon doa agar cita-citanya menjadi pendeta tercapai. (moyo).

Catatan Redaksi: Foto-foto anak Nias di Panti Asuhan Maranatha ditayangkan dalam halaman Nias Dalam Gambar.

5 Responses to “Anak Nias di Panti Asuhan Maranatha”

  1. 1
    Berkat Jaya Lase,AM,d Says:

    Terima kasih buat redaksi niasonline telah menyajikan berita tentang anak – anak nias yang sedang di asuh oleh berbagai Yayasan baik di luar nias maupun di dalam nias itu sendiri.Saya pribadi sangat berterima kasih sekali atas perhatian Yayasan ini kepada anak – anak nias yang telah melanda gempa.semoga jerih payah pengelolah dan para pekerja di yayasan ini dapat di berkati.Kalau boleh saya usulkan ke depan team Niasonline kalau bisa harus ikut mengambil bagian dengan membentuk team untuk membantu anak – anak ini,dengan mencari donatur baik di luar maupun di dalam yang nantinya dana ini kita persembahkan untuk anak – anak nias yang sangat membutuhkan.silahkan nomor rekening di cantumkan di http://www.niasonline.net sehingga bagi kita yang tergugah hatinya untuk membantu langsung saja mentransfer ke nomor rekening yang di sediakan.Besar kecilnya kita menyumbang itu tidak masalah yang penting kita sebagai Ono Niha berperan mendukung mereka untuk mencapai cita – cita yang mereka raih ke depan.Kalau ini terlaksana di harapkan juga agar laporan bisa di tayangkan biar kita tau sejauh mana perkembangan sehingga kita semua saling terbuka,percaya dan tidak terjadi kesalahan kedepan.Saya pribadi bersedia mentrasfer bila program ini berjalan.

    Soahagolo

  2. 2
    Redaksi Says:

    Redaksi Nias Online menyampaikan “Selamat Berbahagia” kepada Pdp. Matius Ginting dan Pdp. Sondang Silalahi (keduanya pengasuh Panti Asuhan Maranatha) yang melangsungkan pernikahan kemarin, Sabtu 4 April 2009 di Bogor. Semoga kehidupan baru dalam penikahan ini mendapat kelimpahan rahmat Tuhan. Amin.

    Redaksi

  3. 3
    ani daely Says:

    syalomm…

    trimakasih banyak saya ucapkan kepada setiap yayasan yang telah bermurah hati mengasuh anak2 Nias yang terkena musibah, semoga sukses truz dalam menjalankan tugas yang mulia itu. GBU

  4. 4
    sorta tobing Says:

    syaloom….. kami dari Yayasan Penerus Bangsa ingin berbagi kasih dengan ono niha di Yayasan Maranatha dalam rangka merayakan sukacita natal, mohon alamat panti asuhan tersebut

  5. 5
    sorta tobing Says:

    Ya’ahowu, saya ketua Yayasan Penerus Bangsa beralamat sekertariat di Gd.Peluru B1/6A Tebet Jakarta juga mengasuh 24 mahasiswa Nias yang melanjutkan pendidikan tingkat SLTA dan perguruan tinggi di Jkt. Awal pendirian yayasan ini juga karena peristiwa gempa tsunami Nias, sehingga kami memberi kesempatan kepada anak-anak Nias yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi terbentur masalah biaya (ekonomi). Saat ini mereka (anak2 asuh) tinggal di Anggrek Cendrawasih VIII Slipi Jkt. Senang sekali apabila kita bisa bertolong-tolongan menanggung beban khususnya membangun dan mengembangkan sumber daya manusia Nias untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat dan daerah Nias.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031