Indonesia Produsen Utama Biodiesel
[JAKARTA] Indonesia akan menjadi negara penghasil utama biodiesel dunia. Produksi biodiesel di Indonesia yang saat ini mencapai 2 juta kiloliter (KL) per tahun akan segera meningkat menjadi 5 juta KL per tahun. “Jadi, untuk biodiesel memang kita akan leading. Kita akan terus tingkatkan produksi biodiesel, apalagi dengan menurunnya harga minyak sawit, kalangan pengusaha sawit mendorong agar pemanfaatan sawit di dalam negeri untuk produksi biodiesel diperbesar. Tentu ini peluang yang sangat bagus untuk masa depan energi nasional,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro saat memberi keynote speech dalam SP Forum “Quo Vadis Energi Nasional?” yang diselenggarakan Suara Pembaruan di Jakarta, Rabu (3/12).
Konsumsi bahan bakar nabati (BBN) sebagai energi terbarukan (renewable energy) di Indonesia maupun dunia saat ini masih rendah, yakni di bawah 10 persen dari konsumsi total energi. Energi fosil (minyak bumi, gas dan batu bara, Red) diperkirakan masih akan dominan hingga 20-30 tahun ke depan. Guna mendorong pengembangan dan pemanfaatan BBN, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, termasuk aturan mengenai kewajiban pemakaian biodiesel.
Dalam Kebijakan Energi Nasional pemerintah menargetkan pada 2025 pemakaian BBN mencapai 5 persen dalam bauran energi nasional (energy mix). Berdasarkan data Departemen ESDM (Januari 2008) cadangan minyak bumi Indonesia saat ini sekitar 9 miliar barel.
Dengan tingkat produksi sekitar 1 juta barel per hari, diperkirakan akan habis dalam waktu sekitar 20 tahun. Cadangan gas alam, sebesar 188 triliun kaki kubik dan diperkirakan cukup untuk 62 tahun lagi bila produksi berkisar 3 triliun kaki kubik per tahun. Sedangkan, batu bara yang juga bahan bakar fosil namun diharapkan menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi, cadangannya sebesar 90,4 miliar ton, terdiri dari batu bara kalori tinggi dan kalori rendah.
Terkuras
Seiring meningkatnya kebutuhan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan tingkat produksi mencapai 130 juta ton per tahun, diperkirakan batu bara Indonesia akan terkuras habis dalam 120 tahun mendatang. Data tersebut kian mendorong pemerintah untuk serius memulai kembali program pengembangan BBN.
Kebijakan yang mendorong pengembangan BBN, antara lain Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan BBN sebagai Bahan Bakar Lain. Selain itu, Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 mengenai Pembentukan dan Tugas Tim Nasional Percepatan Pemanfaatan BBN untuk Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran (Timnas BBN).
Purnomo mengakui, saat ini Indonesia mengalami masa transisi pengembangan energi. Oleh karena itu, pemerintah akan mengkaji berbagai peluang sumber energi yang potensial dikembangkan. Sambil secara perlahan mengurangi pemakaian energi fosil, BBN, baik biodiesel maupun bioetanol ditingkatkan produksinya.
“Saat ini konsumsi minyak domestik masih terus meningkat, dengan pertumbuhan sekitar tujuh persen per tahun. Pemerintah sekarang berusaha melakukan kegiatan eksplorasi energi, optimalisasi produksi pertambangan energi untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. Pengembangan energi terbarukan memang masih mengalami banyak kendala. Tetapi, karena peluangnya bagus, kita akan terus mendorong energi nonfosil ini untuk dikembangkan secara besar- besaran,” katanya.
Lebih lanjut, Purnomo memaparkan, pemerintah sekarang agresif menggerakkan diversifikasi energi. Pemanfaatan energi nasional saat ini telah mengalami perubahan dari era minyak, kemudian gas, dan menjadi era energi batu bara.
“Beberapa energi alternatif, seperti gas yang terperangkap di dalam lapisan batu bara atau gas metana batu bara (CBM) bisa menjadi energi masa depan kita. Begitu pula panas bumi, yang potensinya mencapai 27.000 MW, dan sekarang belum kita kembangkan secara optimal,” katanya.
Pencairan Batu Bara
Pengembangan gas metana batu bara mempunyai potensi pengembangan yang sangat besar di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Potensi pencairan batu bara menjadi minyak mencapai 1 juta barel minyak per hari. Apabila bisa diwujudkan maka kita akan mendapatkan sumber minyak yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar domestik.
Potensi pengembangan batu bara ini akan membuka peluang investasi industri energi dan pembangunan ekonomi di masa depan. “Peluang pengembangan energi batubara cukup menjanjikan. Terbuka peluang dari pertambangan energi batu bara di Indonesia,” ujarnya.
Namun, peningkatan produksi energi di dalam negeri mengalami tantangan yang sangat besar saat ini. Ada keterbatasan insentif fiskal dan nonfiskal. “Tidak ada lagi perlakuan khusus (lex specialist) bagi industri pertambangan nasional maka kendala peningkatan produksi ini menjadi muncul,” lanjut Purnomo.
Peningkatan energi nasional mengalami tantangan, seperti tumpang tindih lahan, masalah lingkungan, birokrasi perizinan pengadaan, dan pembebasan lahan. Kemudiaan gangguan keamanan di wilayah produksi serta otonomi daerah yang masih bermasalah. [DLS/H-13]
Sumber: Suara Pembaruan