LIPI Jangan Menjadi Museum

Monday, September 8, 2008
By nias

Wapres Jusuf Kalla saat membuka LIPI Expo 2008 awal Agustus 2008 lalu mengingatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan lembaga riset lainnya, agar tak menjadi birokrasi riset yang tidak menghasilkan apa-apa bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.

Kalla juga menyinggung soal riset yang berguna dan kompetitif dimasyarakat, bisa diimplementasikan, murah harganya jika sudah diproduksi, dan cepat untuk diterapkan. ”Kalau hanya gedungnya yang bagus, dan hasilnya tidak ada, LIPI bisa menjadi birokrasi riset dan museum yang menyimpan cerita masa lalu,” sindir Wapres.Jika dicermati, akhir-akhir ini dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di Indonesia memang tanpak semakin menurun pamornya. Era reformasi yang seharusnya menjadi era yang baru bagi perkembangan Iptek ternyata malah terjadi sebaliknya.

Seiring pudarnya begawan Iptek Indonesia BJ Habibie, pudar pula citra iptek kita. Padahal negeri ini dulu sempat membuat kagum para ilmuwan luar negeri lantarankepintaran para ilmuwan kita yang mampu merancang dan membuat pesawat terbang misalnya CN 253, CN 250 dan sebagainya.

Dengan dukungan pemerintahan Soeharto, saat itu iptek mendapatkan posisi yang vital dan strategis ditandai dengan munculnya lembaga-lembaga seperti: LIPI, BPIS, BPPT serta sejumlah BUMN sebagai penyangga perkembangan iptek di Indonesia. Dulu di era Suharto-Habibie, siswa-siswa cerdas Indonesia disekolahkan ke luar negeri dengan biaya negara. Sepulangnya dari luar negeri, siswa-siswa cerdas tadi langsung diposisikan sebagai karyawan lembaga-lembaga pemerintah tersebut.

Namun dengan standar fasilitas yang kurang memadai, tak jarang membuat mereka kurang bergairah mengembangkan keilmuan mereka. Untuk menunjang transfer teknologi tersebut, mau tidak mau pemerintah harus menyediakan peralatan-peralatan berteknologi tinggi. Untuk tujuan itu pemerintah terpaksa mengemis kepada perusahaan-perisahaan luar negeri agar bersedia menyumbangkan alat-alatnya.

”Profit Center”
Hanya saja, orientasi profit yang dikejar perusahaan-perusahaan luar negeri tersebut menjadi tidak nyambung ketika lembaga-lembaga semacam LIPI atau BPPT kemudian terformat sebagai cost center. Kondisi ini membuat banyak perusahaan luar negeri yang enggan bermitra dengan lembaga-lembaga keilmuan kita tersebut. Akibatnya, berbagai aktivitas di lembaga tersebut hampir tak mengalami lompatan yang berarti.

Sementara di Singapura berdiri dengan subur profit centers yang berorientasi bisnis. Profit center tersebut menampung orang-orang cerdas Singapura ataupun orang-orang cerdas bajakan dari negara lain.Mereka digaji dengan sangat tinggi plus fasilitas-fasilitas yang lumayan wah. Selama di laboratorium mereka benar-benar fokus ke objek keilmuan mereka. Pemerintah Singapura sendiri tidak perlu susah-susah mengundang investor untuk diajak bermitra. Justru investor-investor tersebut yang berlomba-lomba menawarkan kerjasama dan menawarkan alat-alat terbaru mereka. Mengapa? Karena inilah bisnis.

Pemerintah plus orang-orang cerdasnya mengelola lembaga mereka secara professional dan mengembangkan hasil keilmuannya untuk diaplikasikan di industri (business oriented). Dan mereka tidak setengah-setengah dalam hal ini.

Orang bilang iptek Indonesia telah kehilangan roh. Lembaga-lembaga tersebut seperti kurang greget untuk mengembangkan iptek dengan penemuan-penemuan yang menyejahterakan rakyat. Persoalan seputar perkembangan iptek di negara kita untuk ke sekian kali terangkat ke permukaan. Banyak usulan dikemukakan dan tindakan dilakukan untuk meningkatkan pengembangan iptek, namun keadaan itu tidak juga berubah.

Karena mungkin kita tidak pernah menyentuh inti permasalahannya. Penelitian adalah jantung perkembangan iptek. Jumlah judul penelitian dalam sepuluh tahun terakhir, sebetulnya meningkat cukup tajam. Dana penelitian mengucur cukup deras diantaranya dari Dewan Riset Nasional. Penelitian pun dilakukan, walaupun mungkin masih terkonsentrasi di lembaga-lembaga penelitian seperti LIPI dan BPPT maupun universitas- universitas.

Motivasi
Lalu apa dan ke mana hasilnya? Ini yang menyedihkan, karena hasil penelitian sering kali berhenti sebagai laporan penelitian, yang ditumpuk entah di mana dan kemudian terlupakan. Seandainya hasil penelitian tersebut bermutu, sudah sepantasnya dipublikasikan di majalah atau jurnal ilmiah dan bila mungkin ditindaklanjuti oleh pihak industri atau instansi lain yang terkait. Tetapi, rupanya hal ini jarang terjadi.

Penelitian bagi kebanyakan peneliti di Indonesia (baik peneliti yang berstatus sebagai pegawai di lembaga penelitian seperti LIPI atau BPPT maupun peneliti di perguruan tinggi) merupakan kegiatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bukan untuk menghasilkan suatu terobosan atau memberikan kontribusi bagi ilmu. Gaji peneliti di Indonesia tergolong rendah, karena itu mereka memerlukan penghasilan tambahan tersebut.

Motivasi lain tentu untuk kenaikan pangkat. Dari laporan penelitian yang ditulis, seorang peneliti akan mendapat 5 point. Bila, ia menulis makalah dari hasil penelitian yang dilakukan dan dipublikasikan di majalah atau jurnal ilmiah, ia akan mendapat 10-15 poin. Bila dibandingkan dengan mengajar satu masa kuliah selama satu semester yang hanya akan mendapat 2 poin, maka kegiatan meneliti akan menyumbang point yang lebih besar.

Karena mempublikasikan makalah di jurnal internasional bukan hal mudah, kebanyakan peneliti mempublikasikan makalah mereka di jurnal lokal yang biasanya dikelola sendiri, diterbitkan sendiri dan dibaca sendiri. Toh poin yang diperoleh tidak berbeda banyak dan mereka tetap bisa naik pangkat, bahkan mungkin menjadi profesor pula. Tak heran jika kemudian, lembaga penelitian di negeri ini akan berhenti sebagai cost center.

Andai kita bisa meniru Singapura dimana lembaga penelitian bisa dikelola sebagai sebuah profit center yang jelas akan berimplikasi pada penyediaan gaji dan fasilitas-fasilitas yang memadai bagi penelitinya, sehingga para peneliti akan berkonsentrasi penuh di laboratorium dan objek keilmuan mereka, maka ini akan mampu mengeksplor segala kemampuan peneliti yang pada akhirnya akan mendongkrak perkembangan iptek kita. (Misriadi – Sinar Harapan, 2 September 2008)

One Response to “LIPI Jangan Menjadi Museum”

  1. 1
    Melayu Boleh Says:

    takkan melayu hilang di dunia.orang melayu memang boleh.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930