BRR Nias Terkesan Tidak Punya Hati Nurani

Saturday, June 7, 2008
By nias

Nias (SIB)
BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Perwakilan Nias terkesan tidak mempunyai hati nurani dan “menari-nari” diatas penderitaan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan perumahan bagi warga korban gempa bumi tektonik 2005 di Kecamatan Gunungsitoli Utara belum terwujud.

Demikian Camat Gunungsitoli Utara, Ig.Krispinus Baeha, SH kepada wartawan media cetak dan elektronik ketika meninjau lokasi perumahan penduduk korban gempa bumi tektonik yang terjadi tahun 2005 di Desa Teluk Belukar dan Desa Tetehosi Afia, Kamis (5/6).

Dikatakan,Kecamatan Gunungsitoli Utara terdiri dari 10 desa, terdapat 143 rumah warga yang rusak total belum lagi rumah yang rusak berat dan ringan. Namun sampai saat ini belum ada perhatian serius dari BRR Perwakilan Nias. Padahal tahun 2009 BRR sudah berakhir di Nias.

Memang pada tahun 2006 ada sebagian rumah warga yang sudah dimulai pengerjaannya oleh BRR Nias dengan kontraktor/pemborong pelaksana PT.MN (Mandailing Natal) tetapi tak satupun rumah yang dikerjakan tersebut selesai hanya pondasi saja. Akibatnya, di lokasi sudah ditumbuhi semak-semak sebab hampir dua tahun ditinggalkan begitu saja oleh pemborongnya, sementara BRR Nias terkesan tidak perduli.

Camat Gunungsitoli Utara menilai terlantarnya pembangunan rumah tersebut diduga ada permainan kurang sehat antara BRR dengan kontraktor. Masih kata camat, uang muka untuk mengerjakan proyek tersebut sudah diberikan oleh BRR Nias kepada pemborong sehingga BRR enggan menindaklanjuti pembangunan tersebut.

Pihaknya sudah tiga kali mengirim surat kepada BRR, terakhir bulan Mei 2008 namun tidak mendapat tanggapan. Selain itu camat Gunungsitoli Utara juga menyurati Presiden RI dan DPR yang membidangi BRR NAD-Nias. Diharapkan pihak Presiden dan DPR menanggapi keluhan masyarakat Kecamatan Gunungsitoli Utara.

Salah seorang korban gempa, Rahma Br. Nasution kepada wartawan di pondoknya mengatakan rumahnya rusak total. Tahun 2006 sudah dipasang rangka besi namun sampai sekarang hanya tinggal rangka saja, sampai suaminya Fofogo Laoli meninggal tak kunjung selesai.

Akibat rumahnya tak kunjung diselesaikan, kini ia tinggal sendiri di gubuknya beralaskan lantai tanah, sedangkan anaknya satu-satunya berada di perantauan. Ia mengharapkan melalui media ini supaya pemerintah terkait memperhatikan pembangunan rumahnya dan rumah korban gempa lainnya sehingga tidak menambah beban penderitaannya. (OLS/h) (SIB, 7 Juni 2008)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30